NovelToon NovelToon
Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Datuk Maringgih: Kubunuh Ayah Mertuaku Demi Republik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."

Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.

"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."

Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.

---

Suara Nurani Halimah

Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.

"Suamiku... kau membunuh ayahku?"

Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:

"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"

Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.

"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: 3 SYARAT

Datuk Sulaiman berdiri di hadapan Datuk Maringgih seperti terdakwa yang tahu vonisnya akan dijatuhkan—bukan dengan teriakan, melainkan dengan kalimat yang dipilih perlahan.

Tak ada kursi.

Tak ada jamuan.

Hanya sunyi yang membuat keringat Datuk Sulaiman terasa seperti pengakuan.

"Datang sebagai kawan lama," suara Maringgih memecah hening, "atau sebagai utusan VOC?"

Satu kalimat. Harga diri runtuh.

Dan di ruang sunyi itu, Sulaiman tahu—ia tidak akan keluar sebagai pemenang.

 

Matahari sudah condong ke barat ketika Sulaiman akhirnya memacu kudanya menuju gudang Maringgih.

Seharian penuh ia habiskan di tepi sungai. Seharian penuh ia bergulat dengan dilema yang tak kunjung usai. Rumah, istri, anak-anak—semua taruhannya. Tapi harga diri juga taruhannya.

Kudanya berhenti tepat di depan pintu gudang. Kali ini tidak ada keraguan. Ia turun, melangkah maju, dan mengetuk.

Tok. Tok. Tok.

Pintu terbuka. Dullah berdiri di ambang, wajahnya datar.

"Masuk, Datuk Sulaiman. Tuan sudah menunggu."

 

Sulaiman melangkah masuk. Kakinya terasa berat, seperti menapak di lumpur.

Di dalam, Maringgih duduk di kursinya. Tapi tidak ada kursi lain. Tidak ada meja dengan dua cangkir kopi seperti biasa. Hanya Maringgih, duduk tenang, dan Dullah yang berdiri di samping.

Sulaiman berdiri di hadapannya. Seperti pengemis yang datang meminta.

Sunyi. Lama. Hanya suara jangkrik dari luar yang samar.

Maringgih menatapnya. Tidak tersenyum. Tidak bermusuhan. Hanya menatap.

"Datang sebagai kawan lama," suaranya pelan, memecah keheningan, "atau sebagai utusan VOC?"

Sulaiman membeku.

Satu kalimat. Tepat mengenai pusat dilemanya.

Ia membuka mulut. Tapi suara tak kunjung keluar.

 

"Atau..." Maringgih melanjutkan, lebih pelan, "...kau datang sebagai algojo yang kehabisan mangsa?"

Sulaiman tersentak. Kata-kata itu menusuk seperti belati.

"Aku... aku datang—"

"Kau datang." Potong Maringgih. "Itu sudah cukup. Tapi aku masih ingin tahu, dengan wajah apa kau berdiri di sini."

Sulaiman menelan ludah. Keringat dingin membasahi pelipisnya.

"Aku datang untuk membeli rempah." Suaranya serak. "Semua stok yang kau punya. VOC butuh pengganti tiga gudang yang terbakar."

Ia mengeluarkan surat dari Batavia. Tangannya gemetar saat meletakkannya di atas meja.

"Ini buktinya."

Maringgih melirik surat itu. Tidak menyentuhnya. Seolah surat itu tidak lebih dari sampah.

"Surat dari Batavia." Suaranya datar. "Van der Berg pasti marah besar. Tiga gudang terbakar, dia kalang kabut, dan kau—kau disuruh jadi kurir."

"Aku bukan kurir—"

"Bukan?" Maringgih mengangkat alis. "Lalu apa? Utusan? Pesuruh? Apa bedanya?"

Sulaiman diam. Tidak bisa menjawab.

 

Maringgih berdiri. Berjalan pelan mengelilingi Sulaiman. Setiap langkahnya membuat Sulaiman semakin tegang.

"Dengar, Sulaiman. Aku ingin kau mengerti posisimu sekarang." Suaranya pelan, tapi tajam. "Kau berdiri di gudangku, minta rempah, karena VOC terdesak. Karena Van der Berg tidak punya pilihan. Karena Batavia mengancam. Tapi kau lupa satu hal."

Ia berhenti tepat di belakang Sulaiman.

"Aku tidak terdesak."

Hening.

Maringgih kembali ke depan, menatap mata Sulaiman.

"Aku punya stok rempah. Banyak. Cukup untuk menutup tiga gudangmu. Tapi aku tidak butuh uang VOC. Aku tidak butuh apa pun darimu."

Sulaiman membuka mulut, tapi Maringgih mendahului.

"Jadi pertanyaannya: kenapa aku harus menjual?"

 

Sulaiman menarik napas panjang. Ia mencoba merendahkan hati.

"Ringih... sembilan tahun lalu kau tolong aku. Kau beri uang tanpa diminta. Aku tidak pernah lupa."

"Tidak lupa?" Maringgih tersenyum. Senyum yang dingin. "Kalau tidak lupa, kenapa kau pukuli rakyatku? Kenapa kau siksa Salim? Kenapa kau tangkap Mahmud?"

Sulaiman menunduk.

"Aku... aku terdesak. VOC—"

"VOC?" potong Maringgih. "Atau perutmu sendiri?"

Sulaiman tersentak.

"Aku tahu semua, Sulaiman." Suara Maringgih turun, tapi justru lebih menusuk. "Selama ini kau beli rempah petani dengan harga murah. Lalu kau jual ke VOC dengan harga tinggi. Keuntunganmu lebih dari tujuh puluh persen. Kau kaya raya. Kau punya dua istri. Rumah besar. Kuda mahal."

Ia menjeda. Matanya menatap tajam.

"Dan kau tega menyiksa kaummu sendiri—demi mempertahankan semua itu."

Sulaiman ingin membantah. Tapi lidahnya kelu.

 

"Kau tahu apa yang paling menyakitkan, Sulaiman?" Maringgih melanjutkan. "Bukan karena kau jadi kejam. Tapi karena kau lupa dari mana kau datang."

Ia mendekat. Satu langkah.

"Dulu kau petani miskin. Bapakmu petani. Kakekmu juga petani. Darahmu darah petani. Tapi sekarang kau injak mereka."

Sulaiman menunduk dalam.

"Aku... aku minta maaf—"

"Maaf?" Maringgih tertawa kecil. Tawa yang tidak ada sukanya. "Maaf tidak mengembalikan darah yang tumpah. Maaf tidak mengembalikan air mata yang jatuh. Maaf tidak menghidupkan kembali harga diri yang sudah kau jual."

Ia kembali ke kursinya. Duduk tenang.

"Tapi aku bukan Tuhan. Aku tidak menghakimi. Aku hanya pedagang."

Sulaiman mengangkat wajah. Ada harapan.

"Jadi... kau mau jual?"

Maringgih diam. Lama.

"Aku mau jual," katanya akhirnya. "Tapi dengan syarat."

 

Sulaiman menegang. "Syarat apa?"

Maringgih mengangkat satu jari.

"Pertama. Kau wajib membeli rempah langsung dari petani dengan harga VOC. Bukan harga rendahanmu. Harga VOC."

Sulaiman memucat. "Itu... itu berarti—"

"Itu berarti kau berhenti jadi pemeras." Maringgih menatapnya. "Keuntunganmu hanya dua persen. Tidak lebih."

"Itu terlalu kecil—"

"Terlalu kecil?" Maringgih tersenyum. "Dibanding apa? Dibanding tujuh puluh persen yang selama ini kau nikmati?"

Sulaiman diam.

"Kau tahu, Sulaiman, dua persen dari jumlah besar tetap besar. Kau masih bisa hidup mewah. Masih punya dua istri. Masih punya rumah besar. Tapi kau tidak bisa lagi jadi raja kecil yang merampok rakyat."

Sulaiman menggigit bibir. Tangannya gemetar.

"Aku... aku setuju."

 

Maringgih mengangkat dua jari.

"Kedua. Mulai sekarang, setiap kali kau beli rempah dari petani, Dullah yang akan mencatat. Aku yang akan mengawasi. Kalau kau curang sekali saja..."

Ia menjeda. Matanya menyipit.

"...aku akan kirim laporan ke Batavia. Bukan ke Van der Berg. Tapi ke Dewan Dagang. Ke Jacob van Hemert sendiri."

Sulaiman membeku.

"Kau kenal Hemert?" Maringgih bertanya, meski sudah tahu jawabannya. "Dia kawanku. Dulu kita berdagang bersama. Sekarang dia duduk di Dewan Dagang."

Hening.

Sulaiman merasa dunianya runtuh. Maringgih tidak hanya menjeratnya, tapi juga mengikatnya dengan rantai yang tak terlihat.

"Ada lagi?" tanyanya lirih.

Maringgih diam sejenak. Lalu tersenyum. Senyum yang sulit diartikan.

"Ada."

Sulaiman menegang.

Tapi Maringgih tidak mengangkat jari ketiga. Ia hanya menatap Sulaiman dengan tatapan yang dalam.

"Tapi belum sekarang."

Sulaiman mengerutkan dahi. "Maksudmu?"

Maringgih bersandar di kursinya. Mengambil cangkir kopi. Menyesapnya pelan.

"Syarat ketiga akan kusampaikan nanti. Setelah perjanjian ini berjalan. Setelah aku lihat kau benar-benar berubah... atau setelah kau langgar salah satu dari dua syarat ini."

Sulaiman membeku. "Itu tidak adil—"

"Adil?" Maringgih tertawa. Kali ini tawanya pahit. "Kau bicara adil? Di hadapan orang yang kau siksa?"

Ia meletakkan cangkir. Menatap Sulaiman.

"Kau datang ke sini dengan tangan kosong. Kau minta tolong padaku. Dan aku memberimu dua syarat yang masih bisa kau penuhi. Syarat ketiga? Itu cadanganku. Jaminanku. Kalau kau curang, aku punya alat untuk menghancurkanmu."

"Aku tidak akan curang—"

"Bagus." Maringgih tersenyum. "Kalau begitu kau tidak perlu takut dengan syarat ketiga. Karena kau tidak akan pernah mengetahuinya."

Sulaiman diam. Tapi di dadanya, kegelisahan mulai tumbuh.

Syarat ketiga. Apa itu? Kapan akan muncul? Apa yang akan diminta Maringgih?

Ia tidak tahu. Dan justru ketidaktahuan itulah yang paling menakutkan.

 

"Dullah."

Dullah maju. Dari lemari ia mengeluarkan dua lembar kertas. Meletakkannya di atas meja.

Perjanjian. Bertinta hitam. Bermeterai. Sah di mata hukum.

"Ini mengikat dua syarat yang sudah kusebutkan," kata Maringgih. "Baca. Pastikan kau paham. Karena setelah kau tanda tangan, tidak ada jalan mundur."

Sulaiman membaca. Setiap kata seperti palu yang menghantam dadanya.

Wajib membeli dari petani dengan harga VOC.

Keuntungan maksimal dua persen.

Pengawasan oleh Datuk Maringgih.

Sanksi jika curang: laporan ke Batavia.

Tidak ada syarat ketiga di kertas itu. Syarat ketiga hanya ada di kepala Maringgih—dan di kepalanya sendiri sebagai ancaman yang menggantung.

Tangannya gemetar hebat.

"Aku... aku tanda tangan di sini?"

"Di sana." Maringgih menunjuk.

Sulaiman mengangkat pena. Tangannya berhenti di atas kertas.

Ia memikirkan Siti. Zubaidah. Usman, Hasan, dan Halimah. Wajah mereka muncul satu per satu.

Kalau aku tanda tangan, aku terikat. Tapi kalau tidak...

Ia teringat ancaman Van der Berg. Rumah. Keluarga. Masa depan.

Pena itu turun.

Datuk Sulaiman.

Tinta menyentuh kertas. Satu per satu. Lembar pertama. Lembar kedua.

Tinta mengering seperti sumpah yang tak bisa ditarik kembali.

 

Maringgih mengambil kedua lembar itu. Memeriksa. Lalu menyerahkan satu salinan pada Sulaiman.

"Simpan baik-baik. Ini pengingat."

Sulaiman menerima dengan tangan gemetar. Ia ingin segera pergi. Tapi Maringgih belum selesai.

"Satu lagi."

Sulaiman menegang.

Maringgih berdiri. Berjalan mendekat. Tatapannya tajam.

"Syarat ketiga... masih menggantung di atas kepalamu. Aku sendiri belum tahu apa isinya."

Sulaiman terkejut. "Apa?"

Maringgih tersenyum. Senyum yang dingin.

"Aku belum memikirkannya. Tapi kau tidak perlu tahu itu. Yang perlu kau tahu: suatu hari, mungkin besok, mungkin bulan depan, mungkin tahun depan—aku akan datang padamu dengan satu permintaan. Dan kau tidak bisa menolak."

Sulaiman membeku.

"Itu... itu gertakan."

"Mungkin." Maringgih mengangkat bahu. "Tapi kau berani ambil risiko? Kau berani menganggap ini gertakan?"

Sulaiman diam.

Tidak, ia tidak berani. Karena kalau Maringgih benar-benar punya syarat ketiga—dan ia menolak—semua bisa hancur.

"Nanti dulu," bisiknya lirih.

Maringgih tersenyum puas.

"Bagus. Sekarang kau mengerti posisimu."

 

Di luar, matahari hampir tenggelam.

Sulaiman melangkah keluar dari gudang. Kertas perjanjian di tangannya terasa berat. Lebih berat dari apa pun yang pernah ia bawa.

Ia menaiki kudanya. Perlahan, kuda itu berjalan meninggalkan gudang.

Tapi pikirannya masih di dalam. Masih pada kata-kata terakhir Maringgih.

Syarat ketiga... masih menggantung di atas kepalamu. Aku sendiri belum tahu apa isinya.

Gertakan. Mungkin gertakan. Tapi ia tidak berani menganggapnya gertakan.

Karena kalau benar itu gertakan, ia selamat. Tapi kalau tidak...

Ia menggeleng. Membuang pikiran itu.

Tapi bayangan syarat ketiga tetap menghantuinya. Sepanjang jalan pulang. Sepanjang malam. Mungkin sepanjang hidupnya.

 

Di balik pintu gudang, Maringgih duduk tenang.

Dullah bertanya pelan, "Tuan, syarat ketiga... apa benar Tuan belum memikirkannya?"

Maringgih tersenyum. Senyum yang sama. Dingin.

"Belum, Dullah. Tapi dia tidak perlu tahu itu."

"Tuan hanya menggertak?"

"Bukan hanya gertak." Maringgih menyesap kopinya. "Ini investasi. Suatu hari, aku akan punya satu permintaan. Maka saat itu tiba, ia tidak bisa menolak."

Dullah mengangguk. Kagum.

"Tuan benar-benar memikirkan semuanya."

Maringgih tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela, ke arah kampung yang mulai gelap.

Di sana, Sulaiman sedang pulang dengan beban baru di pundaknya.

Dan Maringgih tersenyum.

 

[Bersambung...]

1
Ayaelsa
/Smile//Silent//Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!