NovelToon NovelToon
Mustika Terkutuk

Mustika Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Abdul Rizqi

Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sugeng dan Batu Jingga

"Mbekk.... mbekkk..... mbekkk" suara kambing bersahut-sahutan di pagi hari, menandakan mereka sudah lapar dan meminta jatah sarapan.

Sugeng yang mendengar itu dengan senang hati memberi makan mereka dengan rumput-rumput segar yang ada di pojokan kandang.

"Makan yang banyak yah mbekk... biar gemuk-gemuk dan laku mahal.." ucap Sugeng dalam hati.

Setelah memberi makan kambing-kambingnya, Sugeng lalu mengambil sabit untuk di asah.

Sreekk... srekkk.... srekkk... suara sabit yang bergesekan dengan batu asah mulai terdengar, dengan telaten Sugeng kembali mengecek ketajaman sabitnya.

"Geng... sarapan dulu sini.." suara panggilan dari Nenek Ratmi, menghentikan aktifitas Sugeng.

Tanpa menunggu lebih lama, Sugeng pun masuk ke rumah untuk sarapan bareng dengan neneknya.

"Geng... nanti kalau kamu sudah selesai nyari rumput, kamu mancing ya siap tau dapet ikan.." ucap Nenek Ratmi saat mereka sedang makan.

"Hmmm.." Sugeng mengangguk kepalanya.

"Ini ikan asinnya di makan."

"Hmmm hmmmm..." Sugeng menangguk-angguk sambil tersenyum, lalu memakan ikan asin tersebut.

Usia Sugeng kini sudah menginjak 20 tahun, Sugeng memilih tidak melanjutkan sekolah setelah lulus sd karena tidak punya uang. Kambing-kambing yang di miliki Sugeng adalah kambing-kambing hasil pemberian dari pak RT, karena sugeng pernah bekerja merawat kambing pak RT lalu kambing-kambing milik pak RT beranak dan anak-anaknya di berikan kepada sugeng.

Sugeng sudah tak memiliki orang tua, ia hanya memiliki Nenek Ratmi dan seorang kakak perempuan bernama Sekar yang sudah menikah namun sudah bercerai, kini ia tinggal bersama anaknya sendiri di kontrakan desa sebelah tidak terlalu jauh hanya berbeda kecamatan saja.

Setelah menyelesaikan sarapanya sugeng bergegas mengambil sabit dan tali serta karung untuk mengambil rumput, Sugeng mengendarai sepeda alakadarnya, Sugeng dengan penuh semangat mengayuh sepedanya ke arah tepian sungai yang terdapat banyak rumput liar.

Setelah 20 menit perjalanan akhirnya Sugeng sampai di pinggiran sungai, yang ada di bawah jembatan.

Dengan penuh semangat Sugeng mulai memotong-motong rumput dengan sabit yang dia bawa.

Peluh membanjiri tubuh Sugeng karena panasnya matahari di pagi hari, tetapi itu semua tidak membuat Sugeng menghentikan aktifitasnya.

Setelah beberapa menit mencari rumput, Sugeng kemudian mengumpulkan rumput-rumput tersebut, dan di masukan ke karung yang telah di siapkan.

Sugeng kemudian menali 2 karung yang berisi rumput di bagian belakang sepedanya, kemudian sugeng menjalankan kembali sepedanya.

Sebelum pergi Sugeng tidak sengaja melirik rumpun bambu yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, walaupun pagi hari, tetapi di dalam rumpun bambu itu terlihat sangat gelap, seolah sinar matahari tidak mampu menembus ke dalam.

Entah kenapa setiap kali Sugeng mencari rumput di sini, sugeng merasakan hawa ketertarikan, untuk masuk ke dalam rumpun bambu tersebut.

Sugeng menggeleng, kemudian Sugeng mengayuh sepedanya ke arah rumahnya.

Secara perlahan Sugeng mengayuh sepedanya ke arah rumahnya, saat ini Sugeng sedang mengayuh sepedanya di jalan aspal, dengan pinggirannya sawah.

Tiba-tiba dari arah belakang muncul sepeda motor honda pcx dan langsung menghadang arah sepeda sugeng, di belakang sugeng juga berhenti satu sepeda motor cb.

Seorang wanita cantik, berusia sekitar 35 tahun turun dari sepeda motor honda pcxnya, dia adalah Linda, seorang lintah darat di desa bojongbata ini.

Dua orang berbadan tegap juga turun dari sepeda motornya, tanpa basa-basi dua orang itu memukuli sugeng yang baru memarkirkan sepedanya.

Bugh! Bugh! Bugh!

Sugeng meringis kesakitan tanpa suara, Sugeng sama sekali tidak melawan, karena Sugeng sudah tahu bahwa Linda pasti sedang menagih hutang yang belum di bayar oleh Sugeng.

Saat itu umur sugeng 16 tahun Nenek Ratmi terkena demam yang sangat tinggi, Sugeng pun membawa nenek ratmi ke rumah sakit dengan di bantu para warga. tetapi karena saat itu kambing-kambing sugeng belum besar dan masih sangat kecil-kecil sugeng memutuskan meminjam uang kepada Linda, tetapi sayang sekali karena besar bunga yang tidak main-main, membuat Sugeng tidak bisa membayar hutang-hutangnya hingga saat ini.

Setelah beberapa menit dua orang berbadan tegap memukuli Sugeng, merekapun berhenti.

Linda berjongkok, lalu mendekat ke arah telinga Sugeng yang sedang merintih kesakitan.

"Kalau kamu ga bayar hutang kamu, saya akan datang lagi dan terus memukuli kamu.." bisik Linda.

Linda dan dua orang anak buahnya pun pergi dari tempat Sugeng.

Banyak warga yang melihat kejadian tersebut, tetapi mereka semua hanya memandangi Sugeng bahkan ada yang tidak perduli, karena mereka semua sudah tahu bagaimana linda menagih utang.

Secara tertatih dan sambil memegangi perutnya yang terasa sakit, sugeng kembali mengayuh sepedanya.

"Apa aku jual aja yah kambing kambingku, tapi apa kalau kambing kambingku di jual bisa lunasi hutang linda... secara aku hutang sudah sangat lama.. pasti bunganya utangku udah ratusan juta.." gumam Sugeng.

Setelah beberapa saat mengayuh sepedanya, Sugeng sampai di rumahnya.

Sesampainya di rumah sugeng berpura-pura tidak kesakitan, agar neneknya tidak khawatir.

Sugeng kemudian memarkirkan sepedanya dan secara paksa sugeng menaruh karung yang berisi rumput di pinggir kandang.

Sugeng kembali mengayuh sepedanya ke arah sungai di bawah jembatan tadi untuk mencari kayu bakar. Tetapi Sugeng berhenti sesaat, Sugeng masuk dan mengambil joran untuk sekalian memancing di sana.

Setelah mengambil joran Sugeng kembali mengayuh sepedanya, ke arah sungai di bawah jembatan tadi.

Sesampainya di sungai tersebut Sugeng langsung mencari kayu bakar, walaupun tubuh Sugeng sakit semua tetapi Sugeng tidak berhenti ia terus saja mencari kayu bakar.

Setelah merasa banyak mendapatkan kayu bakar Sugeng menali kayu-kayu bakar tersebut, kemudian menali kayu bakar tersebut di bagian belakang sepedanya.

Sugeng kemudian mengambil batang kayu yang cukup besar, sugeng lalu menggali tanah mencari cacing untuk umpan dia mancing.

Sepuluh menit berlalu, Sugeng sama sekali belum mendapatkan ikan, Sugeng mulai bosan menunggu, Sugeng pun berjalan munyusuri sungai, ke arah hilir sampai akhirnya mendapatkan spot yang lumayan bagus meskipun berada di bawah rumpun bambu.

"Pasti dapat banyak nih, di sini.." gumam Sugeng. Sugeng kemudian duduk di pinggiran rumpun bambu lalu memasang umpan kemudian Sugeng kembali memancing.

"Hmm, dapat.." dengan semangat Sugeng menarik joran yang tertarik oleh ikan.

Benar saja seekor ikan lele dengan ukuran yang lumayan besar, berhasil di angkat dari dasar sungai.

"Mantap nih.." gumam Sugeng.

Tak puas hanya dengan satu ikan, Sugeng kembali memasang umpan dan menurunkan kailnya.

Belum genap lima menit joran Sugeng kembali melengkung, dengan penuh semangat Sugeng kembali berhasil mengangkat satu ikan lele lagi, meskipun tak sebesar yang pertama.

"Emang bagus mancing di sini.." gumam Sugeng sambil tersenyum.

Sugeng terus saja memancing ikan di pinggiran rumpun bambu, semakin lama semakin banyak pula ikan yang di dapatkan sugeng.

Setelah mendapatkan ikan yang ke delapan kalinya, Sugeng kembali ingin memasang umpan, namun cacingnya sudah habis.

Tanpa fikir panjang Sugeng kembali mencari batang pohon, dan menggali tanah untuk mencari cacing. Namun setelah beberapa saat mengggali tanah Sugeng hanya dapat satu ekor cacing saja, tak putus asa Sugeng berpindah tempat semakin mendekat ke arah rumpun bambu yang lebat, dengan hati hati Sugeng menyingkirkan daun daun bambu yang sudah mengering dan membusuk. Setelah beberapa saat Sugeng melihat sebuah tanah yang terlihat lembab sugeng berfikir tanah yang lembab pasti terdapat banyak cacingnya.

Dengan cepat Sugeng kembali menggali tanah tersebut dengan cepat, ternyata benar baru beberapa kali Sugeng menggali tanah cacing-cacing menggeliat, mata Sugeng langsung berbinar dengan cepat Sugeng mengambil satu persatu cacing tersebut yang ternyata bukan cuman banyak melainkan ukuranya juga besar-besar.

Setelah mengambil cacing-cacing tersebut, dengan semangat sugeng kembali mengggali tanah dengan batang kayu.

Trang!

Saat Sugeng sedang menggali tanah, batang kayu sugeng mengenai benda seperti besi.

"Loh apa ini.." batin Sugeng. Kening Sugeng berkerut saat melihat adanya sesuatu yang aneh di dalam tanah yang dia gali, karena penasaran sugengpun meluaskan area galianya, yang akhirnya benda yang membuat sugeng penasaran terlihat sempurna, benda itu berbentuk kotak besi kecil yang terbungkus kain berwarna jingga yang sudah kotor akibat tanah.

"Wah jangan-jangan harta karun ini kaya yang ada di tv tv itu.." gumam Sugeng sambil mengambil kotak kecil tersebut.

"Hmmm, buka aja ah. Siapa tahu isinya emas, berlian, atau permata, bisa kaya mendadak aku hehe.." dengan penuh semangat Sugeng membuka ikatan kain berwarna jingga itu.

Setelah beberapa saat mencoba akhirnya ikatan kain berwarna jingga tersebut terlepas juga, dengan jantung dag dig dug sugeng perlahan lahan membuka kotak itu.

"Batu akik...? Kirain harta karun.." Sugeng di buat kecewa ketika melihat isi kotak tersebut adalah sebuah batu berwarna jingga terang.

"Hehe, salah aku juga sih kenapa terlalu berharap.." Sugeng menggeleng kepala sambil tersenyum. Sugeng kemudian melanjutkan menggali tanah dan mangambil satu persatu cacing saking banyaknya cacing yang di dapat sugeng. wadah botol aqua plastik kecil seharga lima ratus perak itu, tidak sanggup menampung cacing yang di dapat sugeng.

Karena masih banyak cacing di tanah Sugeng kembali mengambil kotak besi kecil tadi, dan menaruh cacing-cacing yang tersisa di dalam kotak itu.

Sugeng menegakan punggungnya karena pegal terus berjongkok. Sugeng kemudian mengambil dua wadah berisi cacing tersebut dan kembali lanjut memancing.

Dengan wajah penuh senyum Sugeng terus saja memancing di area tersebut, Sugeng kemudian mengambil cacing yang berada di kotak besi kecil itu.

"Loh.. kok cacingnya pada mati..? Apa karena ga ada tanahnya..?" Batin Sugeng yang merasa kalau cacing-cacing tersebut mati.

Sugeng tidak memikirkanya, bagi dia lebih gampang memasang cacing yang sudah mati sebagai umpan.

Sugeng terus memancing di area tersebut, hingga ia lupa waktu sudah menunjukan pukul setengah dua.

Karena merasa lapar Sugeng mengambil plastik kresek besar yang terdapat puluhan ikan-ikan lele itu, dan akan berjalan pergi.

Tetapi Sugeng menghentikan langkahnya, ketika ia tiba tiba merasakan hawa ketertarikan, pada batu berwarna jingga yang ada di dalam kotak besi itu.

Sugeng berjalan perlahan, lalu mengambil batu jingga itu.

"Keren juga warnanya.. di jadiin batu akik bagus ini.." gumam Sugeng. Entah kenapa semakin sugeng memandangi batu berwarna jingga tersebut, semakin Sugeng merasakan hawa Ketertarikan.

Sugeng memandangi batu tersebut semakin lama, tiba-tiba sebuah dorongan entah dari mana, menyuruh sugeng untuk menggigit batu jingga itu.

Sugeng bagaikan orang gila yang melakukan suatu hal yang ada di dalam benaknya, tidak berlama-lama sugeng menggigit batu jingga tersebut.

Tidak terjadi apa-apa sama sekali.

"Ngapain sih, aku tiba tiba gigit ini batu.." ucap Sugeng.

"Eh...? Ak.. aku, bisa bicara?" Ucap Sugeng kembali.

"Beneran, aku bisa bicara..."

"Hahaha!" Saking senangnya Sugeng sampai tertawa dan berjingkrak-jingkrak.

Setelah beberapa saat Sugeng berfikir bahwa batu yang dia anggap biasa. ternyata adalah sebuah batu yang sangat berharga, yang mampu membuat dirinya sembuh dari bisunya.

Sugeng berbalik, secara tidak sengaja sugeng melirik ke arah air sungai. Mata sugeng melotot ketika mendapati tidak ada pantulan bayangan dirinya di air sungai tersebut, padahal sungai tersebut tidak terlalu kotor.

Degh!

Sugeng merasakan sesak nafas. "aa..apa yang terjadi padaku.." ucap sugeng sambil memukul-mukul tanah.

Sugeng kemudian mengambil kembali batu berwarna jingga tadi. Karena ketika sugeng menggigit batu tersebut membuat dirinya tidak terlihat, sugeng kembali ingin mencoba menggigit batu berwarna jingga tersebut berharap dirinya kembali bisa terlihat.

Tanpa fikir panjang sugeng kembali menggigit batu berwarna jingga tersebut. Sambil menggigit sugeng menatap ke arah air sungai, sugeng membulatkan matanya secara sempurna, begitu melihat sebuah aura-aura berwarna jingga yang terlihat sangat indah, seperti warna langit senja menyelimuti tubuhnya, perlahan lahan aura tersebut menghilang dan nampaklah bayangan tubuh sugeng lengkap dari atas sampai bawah.

Brugh!

Sugeng menjatuhkan lututnya, ia sangat lega mendapati dirinya bisa di lihat, sebelum ini sugeng sangat khawatir jika dirinya tidak bisa di lihat kembali.

1
Tini Nurhenti
se7 geng,kek Q bgt
Tini Nurhenti
lanjut thor
Tini Nurhenti
s7 geng
Tini Nurhenti
hadir thor,nyimak dlu seru thor up nya byk jdi smgat bacanya.😄😄💪💪
bedul: siap, udah 56 bab terjadwal
total 1 replies
Afri
semoga ceritanya bagus .. aku suka yg misteri gini thor
bedul: siap, baca sampe selesai ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!