Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 – Kota dalam Darurat
Pagi datang tanpa cahaya.
Asap masih menggantung di atas kota seperti selimut kelabu yang menolak tersibak. Sirene belum berhenti sejak malam tadi. Gedung-gedung yang rusak berdiri seperti saksi bisu—kaca pecah, dinding retak, dan jalanan dipenuhi serpihan beton.
Status darurat resmi diumumkan.
Layar-layar publik di setiap sudut kota menampilkan tulisan merah besar:
KOTA DALAM DARURAT – STATUS TINGKAT MAKSIMUM
Helios Guard mengambil alih seluruh sistem keamanan.
Raka berdiri di balkon markas sementara Helios yang dipindahkan ke gedung cadangan. Ia menatap kota yang terasa asing.
Kayla berdiri di sampingnya.
“Orang-orang mulai menyebutmu di berita,” katanya pelan.
Raka tidak menoleh. “Sebagai apa?”
Kayla menelan ludah.
“Sebagian bilang kamu pahlawan.”
“Sebagian lagi bilang kamu penyebab semua ini.”
Sunyi.
Raka tersenyum tipis—lelah.
“Masuk akal.”
Damar muncul dari balik pintu otomatis.
“Rapat darurat dimulai sekarang.”
Mereka bertiga masuk ke ruang konferensi taktis.
Direktur Helios berdiri di depan layar besar yang menampilkan peta kota.
Titik-titik merah tersebar di berbagai lokasi.
“Kita kehilangan 3 fasilitas energi, 1 pusat komunikasi, dan 2 gudang persenjataan,” ucap Direktur tegas. “Korban sipil: 47 luka berat. 12 kritis.”
Kayla menunduk.
Raka mengepalkan tangan.
“Makhluk semalam?” tanya Damar.
Direktur memperbesar gambar rekaman pertempuran.
Makhluk batu hitam itu muncul di layar.
“Ini bukan entitas alami. Struktur energinya diprogram.”
Ia menatap Raka. “Eclipse sedang menguji senjata massal berbasis Astra.”
Raka menatap inti merah di rekaman itu.
“Bukan cuma senjata,” katanya pelan. “Itu pesan.”
Direktur mengangguk.
“Dan pesan itu sudah diterima.”
Tiba-tiba layar berubah.
Siaran bajakan muncul.
Simbol lingkaran hitam dengan garis merah.
Eclipse.
Wajah Adrian muncul.
Semua ruangan membeku.
“Warga kota,” suaranya tenang, hampir lembut.
“Kalian baru saja menyaksikan permulaan evolusi.”
Beberapa anggota Helios langsung bersiap menyerang sistem, tapi siaran itu tidak bisa dihentikan.
“Kota ini berdiri di atas kebohongan,” lanjut Adrian.
“Helios menyembunyikan kebenaran tentang Astra. Mereka membatasi potensi manusia karena takut kehilangan kendali.”
Raka menatap layar tanpa berkedip.
Adrian tersenyum tipis.
“Semalam, kalian melihat seorang pemuda bercahaya biru melawan ciptaan kami.”
“Dia adalah bukti bahwa manusia bisa melampaui batasnya.”
Kayla menoleh ke Raka dengan cemas.
Adrian melanjutkan:
“Raka Pratama.”
“Kamu adalah simbol dunia baru.”
“Dan dunia baru tidak bisa dihentikan.”
Siaran terputus.
Sunyi panjang menyelimuti ruangan.
Semua mata kini tertuju pada Raka.
Beberapa tatapan penuh hormat.
Beberapa penuh curiga.
Damar berdiri di sampingnya.
“Kamu nggak sendirian.”
Raka menghembuskan napas pelan.
“Tapi mereka benar tentang satu hal.”
Direktur menyipitkan mata. “Apa?”
“Kebenaran tentang Proyek Astralis.”
Ruangan kembali sunyi.
Raka menatap Direktur lurus.
“Berapa lama lagi Helios mau menyembunyikan semuanya?”
Direktur terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Kalau kami buka semuanya sekarang, kota akan panik.”
“Dan kalau tidak?” Raka membalas. “Eclipse akan buka dengan versi mereka sendiri.”
Kayla melangkah maju.
“Orang-orang pantas tahu kenapa semua ini terjadi.”
Damar menambahkan, “Transparansi bisa jadi senjata juga.”
Direktur memejamkan mata sejenak.
Lalu ia berkata pelan,
“Baik.”
Semua terdiam.
“Kita akan mengumumkan keberadaan Astra dan Proyek Astralis secara resmi.”
“Tapi dengan pengawasan penuh.”
Raka merasa beban aneh terangkat dari dadanya.
“Terima kasih.”
Direktur menatapnya tajam.
“Jangan salah paham. Ini bukan demi kamu.”
“Ini demi kota.”
Siang Hari – Rumah Sakit Pusat
Raka berdiri di koridor yang penuh pasien korban serangan.
Anak kecil dengan perban di kepala menatapnya.
“Itu dia…” bisik seorang perawat.
“Yang bercahaya biru.”
Raka merasa jantungnya menekan dadanya.
Seorang ibu menghampirinya.
“Terima kasih sudah menyelamatkan kami,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Raka membeku sejenak.
“Aku cuma melakukan apa yang harus kulakukan.”
Saat ia berjalan pergi, ia mendengar suara kecil.
“Bang…”
Ia menoleh.
Anak kecil tadi memanggilnya.
“Kakak bakal lindungi kota ini lagi, kan?”
Pertanyaan sederhana.
Tapi beratnya luar biasa.
Raka tersenyum pelan.
“Iya.”
Anak itu tersenyum lebar.
Kayla berdiri di ujung koridor, memperhatikannya.
“Kamu tahu,” katanya saat Raka mendekat, “itu yang bikin kamu beda dari Adrian.”
Raka menatapnya.
“Kamu masih peduli.”
Tiba-tiba komunikator Damar berbunyi keras.
Sinyal darurat prioritas tinggi.
Wajah Damar muncul di hologram kecil.
“Raka, Kayla—kalian harus lihat ini.”
Layar menampilkan rekaman satelit.
Di pinggiran kota—
Sebuah struktur hitam besar mulai tumbuh dari tanah.
Seperti menara.
Energi Astra liar mengalir di sekitarnya.
“Dia membangun sesuatu…” bisik Kayla.
Damar menambahkan, “Struktur itu memancarkan frekuensi yang sama seperti makhluk semalam.”
Raka menatap menara hitam itu.
“Ledakan Kedua cuma pembuka,” katanya pelan.
Kayla menggenggam tangannya.
“Dan ini bab berikutnya.”
Raka menarik napas dalam.
Cahaya biru di nadinya berdenyut stabil.
“Aku bukan eksperimen lagi.”
Ia menatap menara itu dengan tekad.
“Aku pelindung kota ini.”
Langit siang mendadak tertutup awan gelap.
Petir hitam menyambar di sekitar menara.
Dan jauh di dalam bayangan struktur itu—
Sosok Adrian berdiri memandang kota.
“Kota dalam darurat…” gumamnya pelan.
“Bagus.”
Ia menutup matanya.
“Sekarang… kita naikkan levelnya.”
Arc 1 makin memanas 🔥