Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.
Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.
"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"
"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.
Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"
"Kyaraaa!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Doni yang sudah hampir mencapai pintu kamarnya, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Kakinya membeku, sementara pikirannya masih berkutat dengan rencana yang baru saja muncul di kepalanya. Ia mengembuskan napas pelan. "Kalau aku salah langkah, malah bisa-bisa aku yang kelihatan jahat," gumamnya dalam hati.
Ia memandang lurus ke depan selama beberapa detik, lalu menggeleng kecil. Wajahnya tampak berpikir keras. "Tsk ... aku nggak boleh gegabah." Tiba-tiba ia berbalik. Langkahnya yang tadi mengarah untuk membuka pintu, kini berubah. Doni kembali menuruni tangga lagi dengan langkah cepat. "Mending aku obrolkan dulu semuanya sama Mama," gumamnya pelan.
Bagaimana pun juga, ibunya selalu punya ide-ide licik yang sering kali berhasil.
"Mama kan suka punya saran-saran jitu," lanjutnya sambil menuruni tangga.
Sementara itu, di lantai dua, Kyara sama sekali tidak tahu bahwa suaminya sedang memikirkan cara untuk menjatuhkannya.
Ia sedang duduk di atas ranjang dengan ponsel di tangannya. Beberapa menit yang lalu ia baru saja mendownload aplikasi menulis online bernama My Story, sesuai saran Erna.
Kyara baru saja selesai mengisi data diri yang diminta. Nama, email, kata sandi, dan beberapa informasi lain. Begitu semua selesai, layar ponselnya menampilkan satu kolom baru. Kyara membaca tulisan di sana dengan pelan. "Silakan isi nama pena Anda."
Ia mengerjap. "Nama pena?" gumamnya. Kyara menggaruk pelipisnya pelan sambil berpikir. "Duh, apa ya?" gumamnya lagi.
Ia bersandar ke kepala ranjang sambil memandang layar ponselnya. Otaknya mencoba mencari nama yang cocok.
"Nama pena itu penting," pikirnya. Itu akan menjadi identitasnya sebagai penulis di aplikasi tersebut.
"Kyara?" Ia menyebut namanya sendiri.
Namun ia langsung menggeleng. "Ah, itu terlalu jelas," katanya pelan.
Kalau ia memakai nama asli, siapa pun bisa mengenalinya. Entah kenapa, Kyara merasa ingin sedikit menyembunyikan identitasnya. Ia ingin menulis dengan bebas tanpa takut dihakimi orang yang mengenalnya.
Kyara kembali berpikir. Beberapa nama sempat terlintas di kepalanya, tapi semuanya terasa biasa saja. "Hmm ..." Ia menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya menatap langit-langit kamar sambil memutar otak. Tiba-tiba satu ide kecil muncul di benaknya. "Mm ... gimana kalau ... KyNaw?" gumamnya.
Ia langsung menegakkan tubuhnya. "KyNaw ... singkatan dari Kyara Nawasena." Kyara mengucapkannya beberapa kali dalam hati. "KyNaw ... KyNaw." Semakin diulang, semakin terasa unik di telinganya.
Senyum kecil perlahan muncul di wajahnya. "Ya, itu aja deh," katanya pelan, merasa cukup puas. Ia mulai mengetikkan nama itu di kolom yang tersedia.
K-y-N-a-w.
Setelah selesai, Kyara menatap tulisan itu sebentar. "Unik," gumamnya lagi. Ia bahkan sedikit tertawa kecil. "Dan pasti nggak akan ada yang kenal," lanjutnya dengan perasaan lega.
Setidaknya di dunia menulis, ia bisa menjadi seseorang yang berbeda. Seseorang yang bebas bercerita tanpa harus memikirkan pandangan orang lain.
Kyara lalu menekan tombol lanjutkan.
Beberapa detik kemudian, halaman baru terbuka. Di sana terdapat berbagai menu ... mulai dari membaca cerita, membuat cerita baru, hingga melihat panduan menulis.
Matanya berbinar melihat semua itu. "Wah ... banyak juga ya ceritanya," gumamnya pelan. Ia menggeser layar ponselnya perlahan, membaca satu per satu menu yang muncul.
Ada ribuan cerita di sana. Dari berbagai genre: romantis, keluarga, misteri, fantasi, hingga drama rumah tangga.
Kyara tanpa sadar tertarik membaca beberapa judul. Namun kemudian ia berhenti. Matanya menatap tulisan Buat Cerita Baru.
Jantungnya tiba-tiba berdetak sedikit lebih cepat. "Kalau aku nekat nulis ... kira-kira ada yang baca nggak ya?" gumamnya ragu.
Ia menatap tulisan itu lama. Di kepalanya mulai muncul banyak ide kecil ... tentang kehidupan, tentang perasaan, bahkan tentang kisah seorang perempuan yang sering diremehkan orang lain.
Tanpa sadar, sudut bibirnya kembali terangkat. "Coba aja dulu," bisiknya pada diri sendiri.
Mungkin, dari sinilah sesuatu yang baru dalam hidupnya akan dimulai.
"Eh, aku pasang foto profil dulu deh." Kyara masuk ke galeri dan mencari foto kartun favoritnya, yaitu doraemon. Kyara memajangnya sebagai poto profilnya. "Sekarang, tinggal mulai nulis deh!" serunya. "Tapi aku mau lihat-lihat dulu cerita punya orang ah, biar ada kisi-kisi sebagai acuan." Semangatnya berapi-api, seolah ia punya tujuan untuk dicapai.
______
Di kamar sang ibu, Doni duduk berhadapan dengan wanita berusia empat puluh tujuh tahun itu. Hesti sudah berganti baju kini memakai daster corak batik warna hijau tua. Ia menatap anaknya yang nampak gelisah.
"Ma, aku udah mikirin kata-kata Mama tadi di mobil," kata Doni membuka pembicaraan.
Hesti mengangkat alisnya. "Terus?"
"Aku setuju," jawab Doni singkat.
Hesti tersenyum tipis, seperti seseorang yang sudah menduga jawaban itu. "Bagus," katanya santai. "Memang sudah waktunya."
Doni menyandarkan punggungnya ke sofa. Wajahnya terlihat serius. "Aku nggak jadi mempoligami Kyara. Aku akan menceraikan dia saja."
Hesti mengangguk pelan, tampak sangat puas mendengarnya. "Itu keputusan yang benar," katanya tanpa ragu.
Namun beberapa detik kemudian Doni menghela napas panjang. "Tapi ada satu masalah."
Hesti menatap anaknya. "Masalah apa?"
Doni mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Aku nggak mau nanti orang-orang mengira aku yang jahat karena menceraikan Kyara."
Hesti langsung memahami maksud anaknya. Wanita itu menyilangkan tangan di dada sambil tersenyum tipis. "Jadi kamu mau ... semua orang mengira Kyara yang salah?"
Doni mengangguk. "Kalau bisa, orang-orang harus percaya kalau aku menceraikan dia karena dia bukan istri yang baik."
Hesti terkekeh pelan. "Ah, itu sih gampang."
Doni langsung menatap ibunya dengan penuh perhatian. "Gimana caranya, Ma?"
Hesti bersandar santai di sofa, wajahnya tampak penuh perhitungan. "Selama ini kan, Mama sudah menceritakan ke orang-orang kalau si Kya itu bukan istri yang baik. Dia itu pemalas, jorok, boros, pemarah dan nggak mau hamil. Dan selama ini ... para tetangga percaya dengan cerita itu. Meski ada beberapa sih yang nggak percaya. Tapi itu nggak ngaruh, karena sebagian besar orang-orang sini sudah termakan omongan Mama," katanya pelan.
"Syukurlah kalau begitu." Doni tersenyum tipis.
"Jadi, kamu nggak usah khawatir. Serahkan semuanya ke Mama. Tugasmu tinggal ambil lagi tuh kartu debit, dan nggak usah banyak-banyak lah ngasih uang nafkah ke si Kyara. Sewajarnya saja."
"Oke, Ma. Pokoknya, pas nanti aku menceraikan dia ... semua orang harus simpati padaku dan benci sama Kyara. Soalnya aku nggak mau ngasih dia harta gono-gini."
Mata Hesti melotot tajam ke wajah Doni. "Ya jangan dong! Enak aja dia dikasih harta gono-gini. Kerja aja dia enggak. Dari awal menikah sama kamu juga, dia nggak bawa apa-apa. Apa yang kamu punya sekarang ... ya tetep punya kamu. Nggak ada sangkut pautnya sama dia."
"Iya, Ma. Makanya, nama dia harus makin tercoreng ... biar kalau pun nanti aku nggak ngasih harta gono-gini, semua orang nggak akan membicarakan aku sebagai suami yang pelit," tutur Doni.
"Iya, iya. Kamu tenang saja. Itu biar jadi urusan Mama." Hesti menyeringai licik. "Akhirnya ... aku akan segera punya menantu baru," batinnya berseru.