NovelToon NovelToon
Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Reinkarnasi CEO Ke Dunia Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Cintapertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saundra Handara

Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.

Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BATAS WAKTU

Tiga hari setelah Mei Ling pingsan...

Wei Chen duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan Mei Ling yang pucat.

Dia tidak tidur selama tiga hari. Matanya merah. Tubuhnya lelah. Tapi dia tidak bisa meninggalkan sisi Mei Ling.

Tabib desa sudah datang. Memberi ramuan. Menggelengkan kepala.

"Bersiap-siaplah," katanya. "Waktunya tinggal sedikit."

Wei Chen tidak menerima itu.

Dia terus menggenggam tangan Mei Ling. Berharap keajaiban.

Pintu terbuka. Kakek Tio masuk.

"Nak Wei."

Wei Chen menoleh. Matanya kosong.

Kakek Tio duduk di sampingnya. Melihat Mei Ling yang terbaring lemah.

"Tabib bilang... tinggal beberapa minggu."

Wei Chen mengangguk.

"Kau sudah siap?"

"Tidak." Suaranya serak. "Aku tidak akan pernah siap."

Kakek Tio diam. Lalu, "Ada satu cara."

Wei Chen menatapnya. "Cara?"

"Mungkin... bukan menyembuhkan. Tapi memperpanjang."

"Apa maksud Kakek?"

Kakek Tio menghela napas. "Ada teknik kultivasi kuno. Bukan menyembuhkan kutukan, tapi menekannya. Memberi waktu lebih lama."

"Berapa lama?"

"Mungkin setahun. Mungkin dua." Kakek Tio menggeleng. "Tapi risikonya besar. Kalau gagal, dia bisa mati lebih cepat."

Wei Chen diam. Otaknya bekerja.

"Teknik itu... bisa dipelajari?"

"Bisa. Tapi kau harus pergi ke gunung. Bertemu pertapa tua di sana." Kakek Tio menatapnya. "Dia satu-satunya yang tahu."

Wei Chen menatap Mei Ling. Wajahnya pucat. Napasnya lemah.

"Berapa lama perjalanan ke sana?"

"Pulang pergi, dua minggu."

"Mei Ling tidak punya dua minggu."

Kakek Tio diam. Lalu, "Aku bisa jaga dia. Beri ramuan-ramuan yang bisa tahankan waktunya. Tapi maksimal seminggu."

Wei Chen berpikir keras.

Seminggu. Pergi dan kembali dalam seminggu. Berarti harus cepat. Sangat cepat.

"Aku pergi."

Kakek Tio mengangguk. "Aku sudah duga." Dia berdiri. "Siapkan bekal. Aku beri petunjuk jalan."

 

Sore harinya, Wei Chen sudah siap.

Ransel kecil berisi bekal. Peta sederhana dari Kakek Tio. Dan sebilah pisau untuk berjaga-jaga.

Dia duduk di samping Mei Ling. Memegang tangannya.

"Aku akan pergi sebentar," bisiknya. "Tapi aku janji akan kembali. Dan aku akan bawa cara untuk selamatkan kau."

Mei Ling tidak menjawab. Masih tidak sadar.

Wei Chen mencium keningnya. Pelan.

Pertama kalinya dia melakukan itu.

Lalu dia berdiri. Melangkah keluar.

Di luar, Kakek Tio menunggu.

"Jaga dia," kata Wei Chen.

"Aku jaga." Kakek Tio menepuk bahunya. "Hati-hati di jalan. Banyak bahaya."

Wei Chen mengangguk. Lalu pergi.

 

Perjalanan ke gunung itu berat.

Wei Chen berjalan siang dan malam. Hanya berhenti saat benar-benar lelah. Tidur di bawah pohon. Makan bekal seadanya.

Kaki melepuh. Tubuh pegal. Tapi dia tidak berhenti.

Di hari ketiga, dia sampai di kaki gunung.

Gunung itu tinggi. Puncaknya tertutup awan. Jalannya curam, berbatu.

Wei Chen mulai mendaki.

Di hari keempat, dia bertemu bahaya pertama.

Seekor serigala besar menghadang di tengah jalan. Matanya merah. Mulutnya berbusa.

Wei Chen diam. Tidak bergerak. Tangannya meraih pisau.

Serigala itu menggeram. Siap menerkam.

Tiba-tiba, sesuatu melesat dari balik pohon. Sebuah batu kecil mengenai kepala serigala. Serigala itu menjerit, lalu lari.

Wei Chen menoleh. Seorang pria tua berjubah compang-camping berdiri di balik pohon.

"Kau beruntung aku lewat," katanya. Suaranya serak.

Wei Chen mengamatinya. "Kau pertapa?"

Pria itu tersenyum. "Pertapa? Orang-orang di desa bilang begitu." Dia mendekat. "Aku Guru Liang. Dan kau pasti Wei Chen."

Wei Chen terkejut. "Kakek Tio yang suruh?"

"Benar." Guru Liang mengangguk. "Dia kirim utusan lebih dulu. Aku sudah tahu kau datang."

Wei Chen menghela napas lega.

"Ikut." Guru Liang berbalik. "Kita bicara di guaku."

 

Guanya sederhana. Hanya tikar, tungku kecil, dan tumpukan buku.

Guru Liang duduk bersila. Wei Chen duduk di hadapannya.

"Aku tahu masalahmu," kata Guru Liang. "Mei Ling. Kutukan keluarganya."

"Aku ingin belajar teknik menekan kutukan."

Guru Liang mengangguk. "Bisa. Tapi kau harus tahu risikonya."

"Apa?"

"Teknik itu bukan menyembuhkan. Hanya menunda. Dan setiap kali dipakai, tubuhnya akan semakin lemah. Suatu saat, tidak akan bisa dipakai lagi."

Wei Chen diam.

"Kau masih mau?"

"Mau."

Guru Liang menatapnya lama. Lalu tersenyum.

"Kau benar-benar cinta padanya."

Wei Chen tidak menjawab.

"Cinta itu aneh." Guru Liang menghela napas. "Dia bikin orang rela lakukan apa saja." Dia berdiri, mengambil sebuah buku tua. "Ini. Pelajari."

Wei Chen menerima buku itu. Membuka halaman pertama.

Gambar-gambar meridian. Aliran qi. Titik-titik tekanan.

"Kau harus kuasai ini dalam tiga hari," kata Guru Liang. "Karena kau harus kembali sebelum dia mati."

Wei Chen mengangguk. "Aku bisa."

 

Tiga hari kemudian, Wei Chen sudah menguasai dasar teknik itu.

Guru Liang mengujinya. Memeriksa. Mengangguk puas.

"Kau cepat belajar. Bakat alami."

"Aku punya motivasi."

Guru Liang tersenyum. "Itu benar." Dia berdiri. "Sekarang kau harus pergi. Waktumu habis."

Wei Chen mengemas buku itu. Berdiri.

"Terima kasih, Guru."

"Jangan terima kasih dulu." Guru Liang menatapnya. "Teknik ini hanya penunda. Kau masih harus cari obat sesungguhnya."

"Aku tahu."

"Kalau begitu, pergi." Guru Liang melambaikan tangan. "Dan jaga gadis itu."

Wei Chen mengangguk. Lalu pergi.

 

Perjalanan pulang lebih cepat.

Wei Chen berlari. Tidak peduli lelah. Tidak peduli sakit.

Dia harus cepat. Mei Ling menunggu.

Hari ketujuh, dia sampai di Desa Qinghe.

Langsung ke gubuk.

Kakek Tio di luar. Wajahnya tegang.

"Bagaimana?" tanya Wei Chen.

"Masih hidup. Tapi..." Kakek Tio menggeleng. "Sudah sangat lemah."

Wei Chen masuk.

Mei Ling terbaring. Wajahnya putih seperti kertas. Napasnya nyaris tidak terlihat.

Wei Chen duduk di sampingnya. Memegang tangannya.

"Mei Ling... aku pulang."

Matanya terbuka perlahan. Samar.

"Chen...?"

"Aku di sini." Wei Chen tersenyum — senyum pertama dalam seminggu. "Aku bawa cara. Kau akan baik-baik saja."

Mei Ling tersenyum lemah. "Aku... bermimpi... kau pergi..."

"Aku tidak akan pergi." Wei Chen menggenggam tangannya erat. "Sekarang, diam. Aku akan lakukan sesuatu."

Dia membuka buku. Membaca ulang. Lalu memejamkan mata.

Tangannya diletakkan di dahi Mei Ling. Merasakan aliran qi-nya.

Kacau. Lemah. Hampir padam.

Wei Chen mulai menyalurkan qi-nya. Pelan. Hati-hati.

Mengikuti petunjuk di buku. Meridian ini. Titik tekanan itu.

Mei Ling mengerang pelan. Tubuhnya bergetar.

"Tahan," bisik Wei Chen. "Sebentar lagi."

Dia terus menyalurkan qi. Merasakan energinya terkuras. Tapi tidak berhenti.

Sampai akhirnya...

Mei Ling menghela napas panjang. Wajahnya tidak sepucat tadi.

Wei Chen membuka mata. Lelah. Tapi lega.

"Mei Ling?"

Matanya terbuka. Lebih jernih.

"Chen..." Suaranya pelan, tapi ada. "Aku... aku masih hidup?"

Wei Chen mengangguk. Tersenyum.

"Kau masih hidup."

Mei Ling menangis. Wei Chen memeluknya.

"Aku pikir... aku pikir aku mati..." isaknya.

"Aku tidak akan biarkan."

Mereka berpelukan. Di luar, Kakek Tio tersenyum. Lalu pergi.

 

Malam harinya, Wei Chen duduk di samping Mei Ling yang sudah tidur.

Tangannya masih digenggam. Tidak mau lepas.

Dia lelah. Sangat lelah. Tapi dia tidak bisa tidur.

Pikirannya penuh.

Teknik ini hanya penunda. Setahun. Mungkin dua. Tapi tidak lebih.

Dia harus cari obat sesungguhnya. Pil pemurni. Bahan langka. 10.000 koin emas.

Waktunya semakin sempit.

Tapi malam ini, Mei Ling masih hidup. Itu cukup.

Dia mencium kening Mei Ling lagi.

Lalu memejamkan mata.

 

Chapter 11 END.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!