Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Pemujaan Sang Iblis
Dinding pertahanan yang dibangun Jerome Renfred selama sepuluh tahun runtuh berkeping-keping malam itu. Di bawah temaram cahaya lampu meja kerja yang artistik, Valerie menatapnya dengan keberanian yang sanggup menghancurkan akal sehat pria mana pun. Napas Jerome menderu berat, beradu dengan detak jantungnya yang berpacu liar. Ikatan mistis di antara mereka mulai bekerja, menyalurkan gelombang gairah dan antisipasi dari Valerie langsung ke saraf Jerome, membuat setiap inci kulitnya terasa terbakar.
"Kau tidak tahu apa yang kau minta, Valerie," geram Jerome rendah. Suaranya terdengar parau, menyerupai monster yang baru saja lepas dari kekangan rantai yang selama ini membelenggunya.
Tanpa peringatan, Jerome menyambar tubuh mungil Valerie, membopongnya ke atas meja kerja kayu mahoni yang luas. Ia menyingkirkan dokumen-dokumen penting hingga berhamburan tak tentu arah ke lantai. Jerome mengurung istrinya di antara kedua lengannya yang kokoh, menatap wajah Valerie yang merona hebat.
"Kau bertanya kenapa aku menolakmu semalam? Kenapa aku selalu menjaga jarak?" Jerome mendekatkan wajahnya, membisikkan kejujuran yang paling gelap tepat di telinga Valerie. "Karena aku tidak sehat, Val. Aku sakit. Aku terobsesi padamu sampai ke titik di mana aku lebih suka bercinta dengan fotomu daripada menyentuh wanita mana pun di dunia ini."
Dengan gerakan kasar, Jerome menarik laci rahasia yang selama ini ia kunci rapat. Ia memperlihatkan tumpukan foto Valerie yang diambil secara diam-diam selama bertahun-tahun—satu-satunya pelarian Jerome dari rasa sepi yang menyiksa.
"Keluarga Renfred menganggapku gay. Dunia menganggapku pria impoten atau penderita disfungsi seksual karena aku tidak pernah menyentuh satu pun wanita yang mereka tawarkan," Jerome tertawa getir, sebelum mulai menciumi leher Valerie dengan lapar. "Mereka tidak tahu... bahwa aku hanya menyimpan seluruh milikku untuk satu wanita yang bahkan tidak tahu aku ada. Aku rela dianggap cacat oleh dunia, asalkan aku tetap setia pada bayanganmu."
Napas Jerome yang panas terasa membakar kulit Valerie, namun kata-kata jujur itu tidak membuatnya takut. Sebaliknya, jiwa Valerie bergetar hebat. Pria yang diagungkan sebagai kaisar bisnis yang tak tersentuh ini ternyata serapuh itu di hadapannya. Jerome telah menanggung malu dunia hanya demi menjaga kesetiaannya pada fantasi tentang Valerie.
"Sentuh aku, Jerome," bisik Valerie dengan keberanian yang meluap. Tangannya mulai menarik kemeja hitam Jerome hingga kancing-kancingnya terlepas satu per satu, jatuh berdenting di atas lantai marmer. "Jangan lagi dengan foto. Aku di sini. Nyata."
Jerome tidak lagi menahan diri. Ia mencium Valerie dengan cara yang seolah ingin menelannya bulat-bulat—ciuman yang penuh dengan keputusasaan, rasa lapar, dan pemujaan yang mendalam. Tangan besar Jerome merayap di balik gaun tidur sutra Valerie, membelai kulitnya dengan sentuhan yang membuat seluruh tubuh wanita itu tersengat listrik statis.
Saat Jerome melepaskan seluruh penghalang di antara mereka, ia tertegun sejenak. Matanya yang gelap menatap Valerie dengan tatapan yang nyaris tidak percaya.
"Kau..." suaranya pecah saat ia menyadari sebuah fakta fisik yang tak terbantahkan. "Aiden... bajingan itu benar-benar tidak pernah menyentuhmu?"
Valerie menggeleng lemah, jemarinya menyisir rambut Jerome yang berantakan. "Aku menjaganya untuk pria yang rela mati bersamaku di liang lahat, Jerome. Dan pria itu adalah kau."
Geraman rendah keluar dari tenggorokan Jerome. Mengetahui bahwa dialah pria pertama bagi Valerie membuat obsesi di matanya berkilat seribu kali lebih tajam. Jerome tidak lagi memperlakukan istrinya dengan kelembutan yang hati-hati. Ia mulai menandai setiap inci kulit Valerie dengan gigitan dan kecupan yang posesif, seolah sedang memahat namanya di sana.
Begitu Jerome menyatukan tubuh mereka, rasa nikmat yang luar biasa menghantamnya, bercampur dengan getaran rasa sakit yang syahdu dari Valerie yang kini mengalir deras ke sarafnya melalui ikatan mereka. Jerome mengerang hebat, mencengkeram pinggang Valerie hingga buku jarinya memutih.
"Ah... Val... Valerie!"
Rasa sakit dari ikatan mistis itu tidak lagi terasa seperti siksaan, melainkan seperti bumbu yang membuat setiap sentuhan terasa sepuluh kali lebih intens. Jerome bisa merasakan bagaimana jantung Valerie berdebar selaras dengan jantungnya, bagaimana wanita itu melenguh, dan bagaimana ia menyerahkan seluruh jiwanya.
Jerome bergerak dengan ritme yang menuntut, memenuhi setiap sudut diri Valerie dengan keberadaannya. Ia ingin istrinya tahu bahwa mulai detik ini, tidak ada lagi ruang untuk Aiden atau pria mana pun di dalam ingatan maupun tubuhnya. Jerome ingin Valerie merasakan betapa liarnya pria yang selama sepuluh tahun ini hanya berani mencintainya lewat selembar kertas.
Keringat bercucuran di antara tubuh mereka yang saling bertautan erat. Di atas meja kerja yang dingin, mereka menciptakan api yang jauh lebih panas daripada api yang pernah membakar mereka di kehidupan lalu.
"Kau milikku, Valerie... Milikku seutuhnya," bisik Jerome di antara ciuman panas mereka. "Siapa pun yang berani melihatmu setelah ini, akan kuhancurkan matanya. Siapa pun yang menyentuhmu, akan kuhancurkan tangannya."
Malam itu, obsesi yang dipendam Jerome selama satu dekade meledak dalam sebuah penyatuan yang primitif. Ia tidak hanya mengambil tubuh Valerie, ia mengambil seluruh takdir wanita itu. Saat mereka mencapai puncak bersama, Jerome merasakan rasa syukur yang begitu dalam hingga ia nyaris menitikkan air mata.
Kehidupan kedua ini diberikan bukan untuk Jerome menjadi paman yang baik, melainkan untuk menjadi iblis pelindung yang akan mencintai wanita ini sampai ke liang lahat sekali lagi.
...****************...