Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
Beberapa minggu terakhir, Dira mulai menyadari sesuatu. Berbeda dari hari-hari biasanya .
Setiap ia datang ke kantor Bagaskara Group, selalu ada hal kecil yang sudah “siap” untuknya.
Minuman favoritnya sudah ada.
Stop kontak dekat sofa sudah dipasangi terminal tambahan.
Bahkan tugas matematikanya yang sempat ia keluhkan… tiba-tiba ada catatan penyelesaian rapi di dalam bukunya.
“Ini tulisan kamu, kan?” Dira mengangkat buku ke arah Albian. Ia mengenal tulisan itu.
Albian yang duduk di meja arsip hanya menjawab singkat, “Kebetulan lihat.”
“Kebetulan?” Dira mendekat. “Kamu ngapalin jadwalku juga kebetulan?”
Albian tidak menjawab.
Tapi tatapannya lembut. Terlalu lembut untuk sekadar teman.
Dan untuk pertama kalinya, jantung Dira berdebar bukan karena marah atau kesal.
***
Sore itu suasana kantor tegang karena proyek yang sempat bocor kembali jadi pembahasan. Elvan terlihat lebih sensitif dari biasanya.
Dira, seperti biasa, masuk tanpa ketukan.
“El— Om Elvan, aku bosen banget di rumah, jadi ke sini aja—”
“Kamu tidak bisa terus ke sini.”
Suara Elvan memotong cepat.
Dira terdiam.
“Ini kantor. Bukan tempat bermain.”
Ruangan hening.
Albian yang berdiri di samping rak arsip menoleh pelan.
Dira mencoba tertawa kecil. “Aku nggak main kok…”
,Elvan menghela napas. “Kamu tidak mengerti situasinya. Jangan ikut campur dalam dunia yang bukan milikmu.”
Kalimat itu.
Bukan nadanya yang keras.
Tapi maknanya.
Dira membeku beberapa detik. Lalu tersenyum tipis—senyum yang dipaksakan.
“Oh. Gitu ya.”
Ia mengambil tasnya.
“Tenang aja. Aku nggak akan ganggu lagi.” Ia melangkah pergi meninggalkan ruangan
Pintu tertutup.
Sunyi.
Albian menatap Elvan lama.
“Itu berlebihan,” katanya pelan.
Elvan tidak menjawab. Tapi rahangnya mengeras.
Dia tahu.
Dia hanya… tidak suka melihat Dira terlalu dekat dengan orang lain.
Dan tanpa sadar, kecemburuan membuatnya melukai.
***
Di parkiran bawah gedung, Dira duduk di bangku beton. Matanya sembab, tapi ia menolak menangis.
Albian datang tanpa suara.
Duduk di sampingnya.
Beberapa menit mereka diam.
“Dia benar,” Dira akhirnya bicara. “Aku cuma anak SMA.”
Albian menggeleng pelan. “Kamu bukan gangguan.”
Dira tertawa hambar. “Tapi aku nggak sepenting itu.”
“Kamu penting.”
Jawabannya cepat. Tegas.
Dira menoleh.
Untuk pertama kalinya, Albian tidak menghindari tatapannya.
“Aku mungkin nggak banyak ngomong,” lanjutnya pelan. “Tapi setiap hari kamu datang, suasana kantor berubah. Kakakku berubah.”
Dira terdiam.
“Dan aku…” ia berhenti sebentar, seperti memilih kata.
“Aku juga berubah.”
Degup jantung Dira makin cepat.
“Aku suka kamu.”
Tidak ada musik dramatis.
Tidak ada genggaman tangan.
Hanya suara rendah yang jujur.
Dira membeku.
“Sejak kapan?”
“Sejak kamu ribut di mobil dan bilang dunia ini terlalu sunyi kalau semua orang dingin.”
Angin sore berhembus pelan.
“Aku tahu kamu mungkin masih melihat ke arah dia,” lanjut Albian tenang. “Aku tidak akan memaksa. Tapi perasaanku bukan bercanda.”
Di lantai atas gedung, dari balik kaca ruang kerja, Elvan berdiri diam.
Ia melihat mereka dari jauh.
Tidak bisa mendengar.
Tapi bisa merasakan.
Dan untuk pertama kalinya, rasa takut muncul di dada CEO dingin itu.
Takut kehilangan.
Ia hanya takut akan kehilangan kedua kalinya.
" Maaf , aku membuat dia sedih " tatapan elvan masih tertuju pada parkiran bawah.
Tok-Tok..
Ketukan pintu terdengar.
" Masuk " ucap elvan kembali duduk di kursi besarnya.
" Maaf bos .Sebentar lagi waktunya kita berangkat " ucap kenzo tiba di depan elvan
" Semunya sudah siap?" tanya elvan
" Sudah bos" jawab kenzo " Dira dimana bos ?" Tak seperti biasanya, dira tak terlihat di sofa ruangan
" Dia pergi " balas datar elvan sambil melangkah keluar ruangan. " Oh ya tunda 20 menit lagi " berhenti sebentar lalu kembali melangkah .
Kenzo masih terdiam sebentar .Yang kemudian ikut keluar
Bersambung.......