Vera merantau ke kota dan bisa di katakan bawa dia jarang pulang ke rumah karena memiliki hubungan yang tidak baik dengan Pak Darto Ayah kandung dia sendiri, namun kali ini Dia terpaksa harus pulang ketika mendengar kabar bahwa Bu Elma telah meninggal dunia.
semula Vera menganggap bahwa kematian Bu Elma adalah kematian yang biasa, namun beberapa malam saja dia tinggal di rumah itu malah menemukan keanehan yang tidak biasa.
benarkah Bu Elma meninggal karena sesuatu yang tak kasat mata?
mampukah Vera untuk mengungkap masalah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Bertengkar hebat
Braaaaak.
"Apa lagi itu?!" Vera kaget di dalam kamar karena dia sedang menunggu Dina tapi malah mendengar suara yang begitu berisik.
"Ayah gila! Ibu baru saja meninggal dunia dan sekarang justru bersama dengan wanita lain Ayah di sini." suara Dina menggema di dalam rumah.
"Wanita lain?" Vera mendengar teriakan sang adik dan dia juga agak bingung.
"DIAM!" Darto membentak keras karena dia tidak menerima kritik dari Dina.
"Aku tidak akan pernah tinggal diam karena yang kau lakukan ini sudah sangat keterlaluan sekali." ujar Dina dengan air mata berderai.
"Anak bangsat, kau tidak tau apa apa sehingga lebih baik diam!" Darto menyambar kain sarung untuk menutupi tubuh dia yang bugil.
Sementara wanita muda yang tadi dia gauli masih ada di atas ranjang dengan raut wajah biasa saja seolah sama sekali tidak kaget atau bahkan merata takut dengan keributan yang sedang terjadi ini, Dina tentu saja semakin emosi karena dia tidak terima bila Darto akan bersikap seperti ini.
Mungkin ini perasaan Vera sejak dulu ketika dia mengetahui bahwa Darto memang sering bersama dengan wanita lain dan dia juga kerap menyakiti istri sendiri, namun saat itu semua orang tidak percaya dan mengatakan Vera melakukan itu semua hanya karena dia adalah anak yang keras kepala dan tidak mau diatur.
Sekarang Dina justru menyaksikan sendiri bahwa kelakuan Darto memang sangat bejat karena dia bersama dengan wanita lain di malam kedua istrinya meninggal dunia, jangan kan tanah di kuburan itu kering bahkan saat ini mungkin saja arwah Elma masih ada di dalam rumah karena memang Baru malam kedua dia meninggal.
Bila Darto memang pria yang benar maka dia tidak mungkin melakukan ini semua karena jelas memiliki perasaan dan juga rasa ibadah dalam hati terhadap istri dia sendiri, namun Darto tidak peduli dengan perasaan iba karena yang penting dia bisa mendapatkan kepuasan tersendiri bersama dengan wanita lain dan jauh lebih mudah.
Vera yang mendengar keributan itu segera keluar dari dalam kamar meninggalkan Arum yang sedang menggigil karena adik bungsu mereka memang sedang sakit seperti itu akibat di gigit oleh sesuatu, padahal Vera sudah tidak sabar untuk menuju rumah sakit tapi malah terdengar keributan seperti ini sehingga dia harus segera keluar.
Begitu Vera keluar dari dalam kamar maka dia menyaksikan secara langsung bagaimana Darto dan Dina sedang melakukan perdebatan sengit, Vera masih belum melihat di dalam kamar itu ada seorang wanita yang tengah berbaring menunggu Darto kembali lagi untuk menggauli dia di atas ranjang mewah ini karena dia memang orang berada.
"Usir wanita itu dari dalam kamar sekarang!" Dina kembali berteriak dan menunjuk di dalam kamar.
"Ada apa, Din?" Vera menatap Dina yang sudah menangis.
"Dia membawa seorang wanita dan sekarang mereka bermesraan di atas ranjang kamar itu." Dina mengadu kepada Vera.
"Astaga, dari dulu hingga sampai saat ini kau belum juga bisa berubah dan tidak ada kesedihan sama sekali tentang istri yang meninggal dunia!" Vera menatap sinis ke pada Darto.
"Tutup mulut kalian berdua dan segera masuk ke dalam kamar masing-masing!" bentak Darto karena dia merasa ketenangan ini sudah terganggu.
"Ada apa ini?" Erna keluar dari dalam kamar karena dia juga mendengar keributan.
"Bagaimana cara kerjamu mengurus mereka karena sampai mengganggu kesenangan yang sedang aku lakukan?!" Darto menatap Erna dengan tatapan tajam.
"Kalian semua segera masuk dalam kamar masing-masing, mari tidur karena ini sudah malam." Erna menarik tangan Dina agar dia masuk ke dalam kamar lagi.
Wuuutttt.
Dengan sangat kasar Dina menarik tangan dia sendiri karena dia tidak mau untuk masuk ke dalam kamar, alias Dina masih ingin berdebat dengan Darto setelah melihat dia membawa wanita lain dan sampai saat ini Dina masih membutuhkan kejelasan dari Darto Kenapa dia bisa bersikap setega itu kepada Elma yang baru meninggal dunia.
"Bibi harus melihat ke dalam kamar itu bahwa di sana ada seorang wanita!" Dina menyangka bahwa Erna tidak tahu.
"Percuma juga kau mengatakan kepada dia karena mereka sudah kerja sama dengan sangat baik." Vera berkata cuek dan justru dia menyambar kunci mobil.
"Dina, ini akibatnya bila Kau terlalu dekat dengan Vera dan sekarang kau sudah mulai bersikap kurang ajar!" Erna malah menyalahkan Vera.
"Bibi yang tidak tahu apa-apa dan sekarang malah menyudutkan Kak Vera seperti itu!" Dina sangat tidak terima.
"Terserah saja dia mau berkata apa karena aku tidak perlu membersihkan nama juga, maukah sampai jungkir balik mengatai aku namun aku tetap tidak akan peduli." Vera menatap Erna sesaat dan dia segera masuk ke dalam kamar.
"Kau lihat itu, Dina! dia adalah gadis yang kurang ajar dan Bibi minta kau jangan terlalu dekat dengan dia." Erna berusaha untuk melarang sang keponakan.
"Gila, kalian semua sudah tidak waras lagi!" Dina juga ikut kesal.
Baru sekarang dia menyadari bagaimana sikap Vera bisa berubah menjadi keras kepala dan kadang terkesan kurang ajar terhadap orang yang ada di dalam rumah ini, pasti dulu Vera juga mengalami hal seperti ini ketika Mayang meninggal dunia dan saat itu usia Vera juga masih begitu muda.
"Mas aku minta maaf atas kegaduhan yang sudah terjadi ini." Erna menatap Darto yang sedang emosi.
"Secepatnya kau harus segera menyuruh Vera pergi dari rumah ini agar tidak ada masalah yang datang lagi." tegas Darto.
"Dina juga sudah mulai terpengaruh karena dia melihat perbuatanmu di dalam kamar tadi kan." Erna berkata pelan.
Darto tidak menjawab lagi karena dia segera masuk ke dalam kamar untuk menyelesaikan permainan yang sudah dia mulai bersama dengan wanita muda itu, tinggal Erna yang ada di luar kamar karena dia memang sedang berusaha mengatur strategi agar Vera segera pergi dari rumah ini dan dinas serta arung tidak akan terkena pengaruh dari gadis yang pembangkang itu.
"Hahhh baru pulang dua hari saja dia sudah membuat masalah seperti ini." keluh Erna sambil menatap ke sana kemari.
"Kalian mau ke mana membawa Arum malam-malam begini?" Erna agak kaget karena Vera menggendong Arum keluar dari dalam kamar.
"Bukan urusan kau lagi, lebih baik kau masuk ke dalam kamar itu dan bergabung dengan Darto untuk memulai percintaan!" Vera menjawab dengan sangat ketus.
"Jaga bicara mu itu, Vera!" Erna sangat tidak terima mendapat ucapan seperti itu.
"Kakak tidak berkata salah karena kau dan dia memang sama saja!" Dina juga menyambung ucapan Vera.
Erna tertegun karena dia tidak menyangka kalau Dina juga akan berkata demikian setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Vera tadi, jadi hati Dina memang sudah terpengaruh dengan Vera dan Erna beranggapan bahwa dia harus segera mengusir Vera dari rumah ini agar tidak ada lagi keributan yang akan terjadi.
Semakin di biarkan saja maka nanti yang ada posisi dia bisa tersingkir dari dalam rumah dan rahasia besar yang tersimpan rapi selama ini akan terbongkar, ini Erna masih tidak tahu bahwa ada orang lain yang siap membantu Vera untuk mencari tahu tentang masalah yang sudah terjadi di dalam rumah ini.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
😍
keangkuhan mu ga seberapa ver di banding rombongan ratu ular👻🥰👍