Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Tiga Tarikan Napas Kematian
"Membersihkan kami dalam tiga napas?" Pemimpin Unit Bayangan itu tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di dinding tebing Lembah Tanpa Nama. "Kau baru saja menerobos ke Tingkat Enam, Li Jian! Kami bertiga berada di puncak Tingkat Enam! Jangan berpikir keberuntunganmu menghancurkan Formasi Pengunci Langit bisa terulang—"
Napas pertama.
Li Jian menghilang. Tidak ada suara ledakan udara, tidak ada debu yang mengepul. Ia hanya lenyap dari pandangan, seolah ditelan oleh cahaya bulan itu sendiri.
Seni Langkah Bintang Jatuh yang dipadukan dengan cairan Qi perak kebiruan dari Mata Air Es Sejati telah mengangkat kecepatannya ke ranah yang tidak bisa dipahami oleh kultivator Kondensasi Qi.
"Di mana dia?!" teriak salah satu anggota Unit Bayangan, panik memutar pedangnya untuk membentuk perisai Qi.
Ia merasakan hembusan angin sedingin es di tengkuknya. Sebelum ia bisa menoleh, sebuah bayangan hitam pekat dengan urat-urat biru yang berpendar menebas dari atas.
Gerhana tidak lagi hanya mengandalkan beban fisik. Dengan bangkitnya Sword Intent (Niat Pedang) kuno di dalamnya, pedang tumpul itu kini mengiris udara dan perisai Qi seolah membelah tahu yang rapuh.
CRAAAASSS!
Tubuh anggota Unit Bayangan itu terbelah dua secara diagonal, dari bahu kiri hingga pinggang kanan. Tidak ada setetes darah pun yang tumpah; urat-urat biru pada Gerhana menyedot panas kehidupan dari luka tersebut, membekukan potongan tubuh itu seketika sebelum jatuh berdebum ke tanah bagai dua bongkahan batu es.
Napas kedua.
Anggota kedua menatap kengerian itu dengan mata melotot. Rasa takut mencengkeram jantungnya. "Mati kau, Iblis!" Ia membuang pedangnya dan melemparkan tiga buah paku beracun yang memancarkan pendaran hijau pekat, langsung ke arah wajah Li Jian.
Li Jian bahkan tidak berkedip. Ia mengangkat tangan kirinya yang kosong. Pusaran Qi perak kebiruan meledak dari telapak tangannya, menciptakan dinding es absolut yang transparan. Ketiga paku beracun itu menghantam dinding es dan langsung kehilangan momentumnya, membeku di udara, lalu hancur menjadi debu.
Melanjutkan gerakannya, Li Jian memutar tubuhnya dan melemparkan Gerhana bagai sebuah lembing hitam.
Pedang tumpul seberat ratusan kati itu melesat membelah udara dengan suara dengungan naga yang marah. BLAAAR! Gerhana menghantam dada anggota kedua dengan telak, membawa tubuhnya terbang ke belakang dan menancapkannya ke dinding tebing batu di pintu masuk lembah.
Dinding tebing retak parah. Hawa Yin ekstrem langsung merambat dari pedang, mengubah pria itu menjadi patung es abadi yang melekat di dinding tebing. Matanya masih terbuka lebar, mengabadikan teror terakhirnya.
Napas ketiga.
Sang pemimpin Unit Pelacak Bayangan kini berdiri sendirian. Kompas giok di tangannya jatuh berderak ke tanah. Kakinya gemetar hebat hingga lututnya saling berbenturan. Dua bawahan elitnya, kultivator Tingkat Enam puncak, tewas seperti serangga yang ditepuk.
"T-Tunggu... Saudara Li... kita bisa bicara..." Sang pemimpin tergagap, tangannya diam-diam merogoh balik jubahnya untuk mencari jimat teleportasi penyelamat nyawa.
Li Jian tidak berjalan mendekat. Ia hanya berdiri di tempatnya, menatap sang pemimpin dengan mata perak yang kosong tanpa emosi.
Di dalam lautan kesadarannya, Yueyin mendengus dingin. "Dia mencoba melarikan diri. Jangan biarkan satu pun anjing sekte ini kembali membawa informasi tentang pedangmu."
Li Jian mengangkat tangan kanannya ke arah sang pemimpin, lalu perlahan mengepalkan jari-jarinya.
"Domain Es Cermin Bintang: Pemakaman Teratai Biru."
Seketika, cairan Qi perak kebiruan di Dantian Li Jian beresonansi dengan sisa energi Mata Air Es Sejati di sekeliling lembah. Udara di sekitar sang pemimpin mendadak padat. Dari bawah tanah tempatnya berpijak, kelopak-kelopak es raksasa berwarna biru kristal menyembul keluar dengan kecepatan kilat, membungkus tubuh sang pemimpin hidup-hidup dari segala arah.
"Tidaaak—!"
Jeritan itu terputus tajam. Teratai es raksasa itu menutup sepenuhnya, memerangkap sang pemimpin di tengah-tengah tekanan absolut. Suara retakan tulang dan daging yang dihancurkan oleh suhu ekstrem terdengar samar dari dalam bongkahan es berbentuk bunga tersebut.
Tiga tarikan napas. Tiga nyawa kultivator elit lenyap tanpa sisa.
Hening kembali menyelimuti Lembah Tanpa Nama.
Li Jian menurunkan tangannya. Ia berjalan santai menuju tebing, mencabut Gerhana yang menancap di dada patung es anggota kedua, lalu mengibaskan sisa kristal es dari bilahnya. Ia mengambil cincin penyimpanan dari ketiga mayat tersebut dengan gerakan yang sangat terlatih.
Xiao Ling, yang sedari tadi berdiri mematung di dekat perapian, menelan ludah dengan susah payah. Ia memang tumbuh di alam liar yang kejam, melihat monster saling memangsa setiap hari. Tapi kekejaman dan efisiensi pemuda di hadapannya ini berada di level yang sama sekali berbeda.
"Kau benar-benar menghitung napasmu," gumam Xiao Ling, separuh kagum, separuh ngeri.
Li Jian menyarungkan pedangnya dan berbalik menatap gadis itu. Auranya kembali tenang, mata peraknya perlahan memudar kembali menjadi hitam legam yang misterius.
"Mereka yang menggunakan kompas giok pelacak biasanya membagi sinyal nyawa mereka dengan markas utama. Matinya mereka bertiga akan segera memicu kedatangan tetua Bina Pondasi ke tempat ini," ucap Li Jian datar. "Ambil herbalmu. Kita pergi sekarang."
Xiao Ling mengangguk cepat. Ia menyambar ransel kulitnya dan busur kayunya. "Makam Pedang Terlarang berjarak tiga hari perjalanan ke arah utara dari sini. Jalurnya dipenuhi rawa beracun dan Binatang Iblis Tingkat Tujuh. Kau siap?"
Li Jian menatap ke arah utara, ke kedalaman Pegunungan Ratusan Iblis yang diselimuti kabut abadi. Tangannya meraba giok hitam di dadanya, merasakan kehangatan samar dari jiwa Yueyin.
"Aku selalu siap," jawab Li Jian.
Keduanya melesat menghilang ke dalam kegelapan hutan rimba, meninggalkan Lembah Tanpa Nama yang kini dihiasi oleh tiga patung es berdarah.
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
semangat & lanjuuuut thor
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏