Kang Yun-seo, seorang pemuda biasa dari dunia modern yang doyan main game, tiba-tiba terbangun di dunia Murim yang penuh intrik dan seni bela diri. Ia dipanggil oleh Hwang Yehwa, ratu iblis yang sekarat akibat pengkhianatan, dan kini kehilangan kekuatannya, berubah wujud menjadi manusia biasa. Untuk bertahan di wilayah manusia yang memusuhi iblis, Yun-seo harus berpura-pura sebagai suaminya. Dengan pengetahuan modernnya, Yun-seo beradaptasi di akademi pedang, menghadapi turnamen, konspirasi gelap, dan bangkitnya kekuatan iblis, sambil menumbuhkan ikatan tak terduga dengan ratu dingin itu. Sebuah kisah isekai penuh aksi, komedi, dan romansa di antara dua dunia yang bertabrakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: PERTARUNGAN DI KASTEL KEGELAPAN
Pedang Naga Iblis menyala merah di tangan Yehwa.
Serangan pertamanya melesat cepat—tebasan horizontal yang memuat 15% kekuatan ratu iblis. Pedang itu melesat, meninggalkan jejak api hitam di udara.
Penguasa Kegelapan bergerak. Tubuhnya menghilang, muncul kembali beberapa meter di samping. Gerakannya seperti bayangan—tidak nyata, sulit ditebak.
"Masih lemah," komentarnya dingin. "15% kekuatan? Kau pikir itu cukup?"
Yehwa tidak menjawab. Serangan kedua, ketiga, keempat—terus menekan. Tapi Penguasa Kegelapan selalu menghindar dengan mudah, seperti menari di antara serangan.
Yun-seo menyaksikan dengan jantung berdebar. Ia tidak bisa diam. Cincinnya bersinar—ia maju, mencoba membantu.
"Jangan!" teriak Yehwa. Terlambat.
Penguasa Kegelapan menoleh ke arah Yun-seo. Satu lambaian tangan, dan bayangan hitam melesat. Yun-seo mengangkat perisai cincin—BRAK!—perisai itu retak, hampir pecah. Ia terpental, jatuh ke dinding.
"Manusia lemah," desis Penguasa Kegelapan. "Apa menariknya ratu iblis padamu?"
Yun-seo bangkit, mulut berdarah. "Dia... istriku..."
Penguasa Kegelapan tertawa. Suaranya menggema di ruangan bawah tanah itu.
"Istri? Ratu iblis menikahi manusia? Ini benar-benar lelucon." Ia melambai lagi, bayangan hitam lebih besar melesat. "Binasa, manusia."
Yehwa melompat, memotong bayangan itu dengan pedangnya. Tapi serangan itu terlalu kuat—ia ikut terpental, jatuh di samping Yun-seo.
Mereka berdua tergeletak, terluka.
Penguasa Kegelapan melangkah mendekat. Di tangannya, Mahkota Naga Iblis bersinar—ia mengambilnya dari altar saat mereka jatuh.
"Dengan tiga pusaka, aku bisa menguasai dunia." Ia menatap Yehwa. "Kau pikir aku takut padamu, ratu tanpa tahta? Lilian sudah membuktikan kau lemah."
Yehwa menggeram. Tapi tubuhnya tidak bisa bergerak—serangan tadi melukai parah.
Yun-seo meraih tangannya. Di saat kritis itu, cincinnya bersinar terang—bukan merah, tapi emas. Cahaya hangat menyelimuti mereka berdua.
Penguasa Kegelapan mengernyit. "Apa—"
Yun-seo tidak tahu apa yang terjadi. Tapi tiba-tiba, ia merasakan kekuatan mengalir dari cincin ke Yehwa. Dan Yehwa—matanya terbuka, merah menyala.
Kekuatannya kembali. Bukan 15%, tapi 50%.
Mahkota Iblis di kepala Yehwa bersinar. Pedang Naga Iblis di tangannya menyala lebih terang. Tubuhnya mulai berubah—rambutnya memutih seperak, tanduk kecil muncul di dahi, sayap hitam terkembang.
Bentuk aslinya kembali—setengah.
"Apa kau pikir," suara Yehwa bergema dengan wibawa ratu, "aku akan kalah oleh bayanganmu?"
Penguasa Kegelapan mundur selangkah. Untuk pertama kalinya, ada ketakutan di matanya.
"Cincin Pemanggil... itu bukan hanya alat transportasi. Itu... segel?"
Yehwa tersenyum dingin. "Cincin itu milikku. Aku yang membuatnya ribuan tahun lalu. Fungsinya bukan memanggil pahlawan—tapi menyimpan kekuatan cadangan." Ia menatap Yun-seo yang terkejut. "Dan manusia ini yang membukanya untukku."
Yun-seo hanya bisa melongo. Ia tidak tahu apa-apa.
Penguasa Kegelapan mencoba melarikan diri. Tapi Yehwa sudah bergerak—cepat, terlalu cepat. Sayapnya mengepak, tubuhnya melesat. Satu tebasan pedang, dan bayangan hitam itu terbelah.
Topeng Penguasa Kegelapan jatuh. Wajah di baliknya—manusia biasa, tua, dengan mata penuh amarah dan ketakutan.
"Kau... bukan apa-apa," kata Yehwa. "Hanya manusia yang kebanyakan ambisi."
Pedangnya diangkat untuk serangan terakhir.
Tapi Yun-seo berteriak, "TUNGGU!"
Yehwa menoleh.
"Dia... mungkin tahu tentang ibu Seo Jung-won."
Yehwa berhenti. Laki-laki tua itu menatap mereka dengan mata melebar.
"Ibu... Seo Jung-won?" gumamnya. Lalu tertawa getir. "Kau mencari wanita itu? Dia sudah mati. Aku yang membunuhnya."
Yehwa dan Yun-seo terkejut.
"Apa?"
"Dia iblis. Pengkhianat." Laki-laki itu terbatuk, darah mengalir dari mulutnya. "Aku tidak akan biarkan iblis hidup... apalagi melahirkan anak..."
Ia jatuh, mati.
Yehwa menatap mayat itu dengan tatapan rumit. Lalu menunduk, mengambil Mahkota Naga Iblis dari tangannya yang kaku.
"Untuk Jung-won," bisiknya. "Dia berhak tahu."
---
Mereka meninggalkan kastel saat fajar menyingsing.
Yehwa kembali ke wujud manusia—rambut hitam, tidak ada tanduk, sayap sirna. Tapi kekuatannya kini 50%—cukup untuk melawan Lilian.
Yun-seo berjalan di sampingnya, masih syok.
"Kau... buat cincin itu?"
Yehwa tersenyum tipis. "Ribuan tahun lalu. Aku lupa. Mungkin karena luka parah saat itu." Ia menatap Yun-seo. "Tapi kau yang dipilih. Mungkin takdir."
Yun-seo menghela napas. "Aku nggak tahu harus bilang apa."
"Bilang apa adanya." Yehwa meraih tangannya. "Seperti biasa."
Mereka kembali ke perkemahan saat teman-teman baru bangun. Cheol-soo menyambut dengan wajah cemas.
"Hyung! Nyonya Hwang! Kalian dari mana? Aku khawatir!"
"Kami... cari kayu bakar," jawab Yun-seo canggung.
Cheol-soo menatap mereka dengan curiga, tapi tidak bertanya lebih lanjut.
Seo Jung-won, dari kejauhan, menatap mereka dengan tatapan berarti. Ia tahu. Tapi ia hanya mengangguk.
---
Perjalanan pulang terasa lebih cepat.
Yehwa memberi tahu Seo Jung-won tentang kematian ibunya. Pemuda itu diam lama, wajahnya tidak terbaca. Lalu mengangguk pelan.
"Setidaknya... aku tahu."
"Maaf," kata Yehwa.
"Bukan salahmu."
Malam itu, Seo Jung-won duduk sendiri di pinggir tebing, menatap bintang. Yun-seo mendekat, duduk di sampingnya.
"Kau baik-baik saja?"
Seo Jung-won tidak menjawab lama. Lalu, "Ibuku iblis. Ayahku manusia. Tapi ayahku bunuh ibuku." Ia tertawa getir. "Aku harus membenci siapa?"
Yun-seo tidak tahu jawabannya. Ia hanya duduk di sana, menemani.
"Di duniaku, ada pepatah: keluarga bukan soal darah, tapi siapa yang mencintaimu." Ia menatap Seo Jung-won. "Mungkin kau bisa buat keluarga baru."
Seo Jung-won menoleh. "Keluarga baru?"
"Teman. Sahabat. Orang-orang yang peduli padamu." Yun-seo tersenyum. "Kayak Yehwa, kayak Cheol-soo. Kayak aku."
Seo Jung-won diam. Lalu tersenyum—sangat tipis, hampir tidak terlihat.
"Mungkin."
--