NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

🏆 JUARA 2 YAAW 2026 PERIODE 1 🏆

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sejak malam itu, sejak ciuman singkat di atas luka benjol yang seharusnya biasa saja, sesuatu di dada Enzo berubah. Ia tidak pernah membayangkan bahwa sentuhan sesederhana itu tanpa hasrat dan tanpa niat apa pun. Namun, bisa meninggalkan bekas sedalam ini. Setiap kali ia melihat Azalea melintas di hadapannya, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Setiap kali wanita itu tersenyum lembut kepada anak-anak, dadanya terasa hangat dengan cara yang asing.

Ciuman kilat yang bahkan tak sampai satu detik, namun seolah membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat-rapat sejak Jasmine pergi.

“Ini tidak seharusnya begini,” batin Enzo sering kali memperingatkan dirinya sendiri. ”Ini hanya kebiasaan dan hanya rasa nyaman.” Namun, tubuhnya selalu lebih jujur dari pikirannya.

Di sisi lain, Azalea juga tidak lebih baik. Ia menyadari perubahan itu. Jantungnya yang kerap berdebar ketika Enzo berdiri terlalu dekat. Gugup yang datang tiba-tiba ketika tangan mereka bersentuhan tanpa sengaja. Rasa hangat yang menjalar di dadanya setiap kali Enzo menatapnya lebih lama dari biasanya. Namun, Azalea memilih diam. Ia menutupi semuanya dengan senyum tenang dan sikap biasa.

Azalea takut. Takut perasaan itu hanya tumbuh di satu sisi. Takut ia kembali berharap, lalu kembali jatuh. Takut melukai diri sendiri dengan perasaan yang belum tentu memiliki tempat.

“Kamu harus sadar diri Azalea?! Siapa dirimu itu,” katanya pada hatinya sendiri. “Belum tentu dia merasakan hal yang sama.“

Hari Minggu pagi, rumah dipenuhi suara riang anak-anak. Mereka bisa bermain sepuasnya di hari libur.

“Daddy!” Erza berlari menghampiri Enzo yang sedang duduk membaca pesan di ponselnya. “Boleh enggak aku sama Elora main ke Timezone sama Mommy?”

Elora ikut berdiri di samping kakaknya, memeluk boneka kecilnya. “Aku mau main mesin kuda, Daddy.”

Enzo tersenyum. Ia sebenarnya ingin ikut. Ia ingin merasakan kebersamaan itu. Tertawa bersama, melihat anak-anaknya bermain, dan melihat Azalea menikmati waktu tanpa beban.

Namun, ponselnya kembali bergetar. Nama rekan bisnisnya muncul di layar. Mereka akan bermain golf, janji yang sudah dibuat jauh hari.

Enzo menghela napas kecil. “Daddy enggak bisa ikut hari ini. Daddy sudah janji sama teman-teman Daddy.”

Wajah Elora sedikit meredup, tapi Azalea segera mendekat. “Tidak apa-apa,” ucapnya lembut. “Mommy sama Kak Erza bisa jaga Elora.”

Enzo menatap Azalea sejenak. Ada rasa bersalah di sana. “Maaf,” katanya lirih.

Azalea tersenyum. “Kita pulang sebelum sore.”

Enzo mengangguk. “Hati-hati.”

Timezone ramai oleh suara mesin permainan dan tawa anak-anak. Erza berlari dari satu mesin ke mesin lain dengan mata berbinar. Elora menggenggam tangan Azalea, melompat-lompat kecil penuh semangat.

“Mommy, Elora mau yang itu!” kata gadis kecil itu menunjuk mesin berwarna cerah.

Azalea tertawa kecil. “Satu-satu, ya.”

Mereka bermain bergantian. Erza membantu Elora memasukkan koin, Elora tertawa setiap kali lampu mesin menyala. Untuk sesaat, dunia terasa ringan.

“Mommy ke toilet sebentar,” kata Azalea setelah beberapa waktu. “Kak Erza jaga adik, ya.”

Erza mengangguk mantap. “Siap.”

Azalea melangkah pergi, meninggalkan dua anak itu di dekat mesin permainan balapan.

Namun, suasana berubah cepat. Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun mendekat. Wajahnya usil, senyumnya mengejek.

“Heh, pipimu gembung, kayak boneka” kata anak itu tiba-tiba, lalu mencubit pipi Elora dengan keras.

“Aduh, sakit!” Elora menjerit, air mata langsung mengalir.

Erza yang sedang bermain pun menoleh mendengar suara adiknya. Dia membeku sesaat, lalu amarahnya meledak.

“Jangan sentuh adikku!” teriak Enzo.

Anak itu bernama Felix, tertawa mengejek. “Huh, dasar cengeng!"

Enzo berjalan cepat ke arah Felix dengan ekspresi marah.

“Kenapa? Adik kamu nangis?” ucap Felix semakin menjadi. Dia menjulurkan lidah kepada Enzo.

Erza mendorong Felix dengan keras. Felix membalas. Dalam hitungan detik, keduanya bergumul di lantai, saling pukul dan tarik baju.

Enzo lebih unggul. Dia memukul kepala Felix berulang kali. Dia sangat marah.

“BERHENTI!”

Suara itu datang bersamaan dengan Azalea yang baru kembali dari toilet. Ia terkejut melihat pemandangan di depannya.

“Erza!” teriak Azalea panik, berlari menghampiri. Ia langsung menggendong Elora yang menangis tersedu-sedu, lalu meraih tangan Erza yang masih berusaha menyerang.

“Cukup! Lepaskan!” titah Azalea dengan tegas.

Beberapa orang tua mendekat. Petugas Timezone ikut menghampiri.

Felix ditarik oleh ibunya yang datang dengan wajah marah. “Kamu kenapa sih?! Pukul anak orang sembarang,” bentaknya pada Erza.

Erza terengah, matanya merah. “Dia cubit adikku sampai nangis dan mengejek kami!”

Azalea berdiri tegak, meski jantungnya masih berdegup kencang. Ia menatap ibu Felix dengan tenang.

“Anak Ibu mencubit pipi anak saya sampai menangis,” ucap Azalea jelas, tanpa meninggikan suara. “Anak saya hanya membela adiknya.”

Ibu Felix terdiam sejenak, lalu menoleh ke anaknya. Felix menunduk karena takut.

Suasana mereda, meski masih tegang. Orang-orang yang berkumpul tadi pun sudah membubarkan diri.

Azalea berjongkok, mengusap rambut Erza. “Kamu benar melindungi adik,” katanya lembut. “Tapi lain kali, bilang ke orang dewasa dulu. Jangan pakai tanganmu untuk melukai orang lain.”

Erza menunduk, air matanya jatuh. “Aku cuma enggak mau Elora disakiti.”

Azalea memeluknya erat. “Mommy tahu.”

Elora terisak di pelukan Azalea. Gadis itu masih gemetar.

Di saat yang sama, jauh di lapangan golf, Enzo tiba-tiba perasaannya tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang salah. Ia melirik ponselnya tanpa alasan jelas.

“Kenapa aku gelisah?” batin Enzo.

Pria itu tidak tahu bahwa di saat itu, putranya baru saja berdiri sebagai pelindung. Bahwa istrinya baru saja menenangkan badai dengan kelembutan dan ketegasan.

Hari itu, tanpa Enzo sadari, Azalea dan anak-anaknya telah mengajarkan satu nilai hidup yang tak pernah ia pelajari di ruang rapat atau meja bisnis. Bahwa keberanian tidak selalu tentang melawan, dan cinta tidak selalu tentang memiliki, melainkan tentang melindungi dengan cara yang benar.

Malam itu rumah kembali dipenuhi cahaya hangat.

Lampu ruang makan menyala lembut, aroma masakan Azalea menguar dari dapur. Enzo baru saja selesai mengganti pakaiannya dan melangkah ke ruang keluarga. Ia mendapati Elora sudah duduk di sofa, kakinya bergoyang-goyang, wajahnya penuh semangat—seolah menyimpan cerita besar yang tak sabar untuk dikeluarkan.

Begitu melihat Enzo, Elora langsung berdiri. “Daddy!” serunya lantang.

Enzo tersenyum kecil. “Iya, kenapa teriak-teriak begitu?”

Elora naik ke sofa, berdiri dengan gaya dramatis. Tangannya bergerak ke sana kemari, matanya membesar.

“Tadi di Timezone ada anak nakal!” cerita Elora heboh. “Dia cubit pipi aku, terus aku nangis, huaaa ... huaaa, gitu!”

Alis Enzo langsung bertaut. Ia berlutut agar sejajar dengan putrinya. “Apa sakit?”

Elora mengangguk cepat. “Sakit, makanya Kak Erza marah!”

Erza yang duduk di kursi makan langsung menunduk, sedikit canggung.

“Kak Erza bilang jangan sentuh adikku!” lanjut Elora sambil menirukan gaya kakaknya. “Terus mereka berantem!” Dia memamerkan aksi tinju dengan kedua tangannya.

Enzo menoleh ke arah Erza.

“Erza?” suaranya datar, tapi sorot matanya dalam.

Erza menggenggam ujung kausnya. “Aku cuma, enggak mau Elora disakiti, Daddy.”

Hening sejenak. Anak dan ayah itu saling pandang.

***

Bismillah, berharap retensi bagus, ya, biar ceritanya full. Jangan lupa like dan komen.

1
Someone
👍💪
Someone
💪💪
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
nah inilah kenapa jangan makan uang haram, atau ngambil suami orang, jadi nggak berkah kan idup nya 🙏☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah setidaknya lea dr keluarga baik2 bukan hasil anak gundik yg ngerebut kebahagiaan keluarga orang kayak yg ngatain 🙏🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bayangin aja udah sejahat apa dia sm lea tp suami nya lea mutasi dia aja masih baik banget di boyong se-nadia & nadin nya 😊
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
udah kalah di duit kalah juga dr dia ngetreat lea di masalalu, kok bisa semantep itu ngajak rujuknya wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kenapa ada manusia manusia modelan begini di muka bumi ini sih wkwk suka banget ngasih kesimpulan dr apa yg di liat trus di omong2in ke orang2 😩 capek2 di buat dr debu sm Tuhan masa fungsi nya cuma ghibah 😌
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ih makasih lho mbak nad udah ngambil cowo medhit nan kikir ini wkwk kalo bisa jangan di lepas ya biar jd ladang pahala mbak nad seumur hidup biayain laki medhit ini 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
sumpah ini kalo enzo ketemu sm reza pasti otak dia bayangin sekecil apa punya reza 🤣😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
random sih tp lucu banget "berdiri mami elsa yg duduk di kursi roda" 😅 bayangin berdiri sambil duduk 🤣
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ternyata oma elsa kalo waras bijak banget, bangga deh oma 😊
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
paham sih enzo ngalamin kayak birthday blue karena ngingetin dia sama hr kematin mendiang isteri, tapi di sisi nya si anak dia juga berhak di rayakan walapun hr lahir nya juga harus membersamai hr meninggal nya ibu nya, toh ga ada manusia di dunia ini yg pengen hr lahirnya juga jd hari kematian orang yg di sayang 🙂🙏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
Aah i see, dia jd trauma sama orang2 dr kampung atau di anggap miskin karena di anggap selalu jadiin "nikah sm orang kaya" sebagai jalan pintas bahkan sampe jd simpenan. Tapi semoga di bisa liat ketulusannya lea sama keluarga dia ☺️
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
yeee bilang aja situ medhit, orang isteri sendiri masa di bilang numpang hidup 😒 lah ibu mu juga numpang idup dong dr bapak mu 😏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
oalah pantesan, akhirnya terjawab sudah pertanyaan ku wkwk
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah jd beneran mertua nya jasmine sm adek nya jasmine ga kenal? 😅 penasaran banget pas nikahan dulu emang si jasmine ga ngenalin keluarga nya apa gimana
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kok kenalan lagi sih emang pas kakak lu dilamar sampe nikahan ni keluarga ga saling kenalan kah? 🤔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
hah gimana sih bukannya ini mama mertua nya jasmine kakak nya lea kan? emang dia pas nikahan jasmine sm enzo ga ketemu sama keluarga menantu nya sampe adek dr menantu nya ga ngenalin? 🤔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo emang si reza sama nadia selingkuh ya udahlah ya tapi masalahnya ini dia pake jabatan nya dia buat bikin orang yg ga ada masalah personal sm dia jd ga bisa kerja, bener2 ya 😒
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
biarin aja bude, coba dia ganti isteri pengen tau rejeki nya masih sama apa enggak 😏 kata orang kan beda pasangan beda rejeki, nah kalo habis ini dia kere brati bener doa isteri nya yg bikin rejeki dia deres 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!