Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Jalan yang tidak lagi sama
Kepulangan Ishani dari rumah sakit tidak disambut hangat. Rumah itu terasa sama. Tapi juga tidak. Terlalu sunyi. Terlalu banyak kenangan.
Langit datang lebih pagi dari biasanya. Ia berdiri di ruang tamu, memperhatikan dua koper yang sudah setengah terisi di sudut ruangan.
Ishani duduk di lantai kamar, melipat pakaian bayi yang bahkan belum sempat dipakai. Tangannya gemetar. Bukan karena lelah. Tapi karena sadar, ini nyata.
“Kita berangkat lusa,” ucap Langit dari ambang pintu.
Ishani tidak langsung menjawab.
Di luar, suara pagar dibuka. Tetangga. Langkah-langkah pelan. Bisik-bisik.
Ishani sudah mulai terbiasa mendengar namanya disebut dengan nada yang berbeda.
“Cepat sekali ya…”
“Belum empat puluh hari…”
“Dibawa kakak suaminya pula…”
Kalimat-kalimat itu tidak pernah diucapkan di depan wajahnya. Tapi cukup keras untuk sampai ke telinga.
Ishani memejamkan mata.
Langit keluar tanpa berkata apa-apa.
Beberapa menit kemudian, suara pagar terdengar lagi. Kali ini lebih keras.
“Bu Maura ada?” suara seorang ibu terdengar dari luar.
Bu Maura yang sedang menyapu teras terdiam sesaat sebelum menjawab.
“Ada.”
Percakapan terdengar samar dari dalam kamar.
“Ibu mau pindah juga?”
“Tidak.”
“Oh… jadi Ishani saja? Sama Langit?”
Ada jeda.
“Kasihan ya… orang masih berkabung.”
Ishani berhenti melipat baju. Kata kasihan terasa seperti tamparan.
Langit masuk kembali ke dalam rumah. Wajahnya datar seperti biasa. “Mereka tidak akan berhenti,” ucapnya singkat.
Ishani tersenyum tipis. “Aku tahu.”
Malamnya, koper sudah tertutup rapat.
Ishani berdiri lama di depan lemari Biru.
Kemeja-kemeja itu masih tergantung rapi.
Aroma yang sama. Ia menyentuh salah satu lengan baju, lalu menariknya perlahan dan memeluknya.
“Aku tidak pergi untuk melupakan kamu, Mas,” bisiknya lirih.
Air matanya jatuh lagi.
Di ruang tengah, Bu Maura duduk diam. Ponselnya berbunyi beberapa kali.
Grup keluarga.
Notifikasi tak henti-henti.
"Sudah pasti dari dulu dekat."
"Makanya cepat sekali dibawa."
"Anak itu nanti siapa yang tahu…"
Jari Bu Maura bergetar. Ia tidak membalas. Ia hanya menatap pintu kamar Ishani yang tertutup.
“Ibu belum rela,” gumamnya pelan.
Bukan karena ia tidak percaya pada Langit. Tapi karena dunia tidak pernah adil pada perempuan yang ditinggal mati suami.
🌷🌷🌷🌷🌷
Hari keberangkatan semakin dekat.
Ishani duduk di teras sore itu, mencoba menghirup udara terakhir sebelum pergi.
Seorang tetangga lewat sambil tersenyum tipis.
“Semoga betah di Jakarta ya, Nak.”
Nada itu terlalu manis. Terlalu dibuat-buat.
Ishani hanya mengangguk.
Begitu orang itu berlalu, ia merasakan tatapan dari jendela-jendela sekitar. Ia merasa seperti sedang melakukan kesalahan. Padahal yang ia lakukan hanya mencoba menyelamatkan anaknya.
Langit keluar membawa map berisi dokumen medis. “Sudah siap untuk besok pagi?”
Ishani mengangguk.
Sepi.
“Kamu menyesal?” tanya Langit tiba-tiba.
Ishani menatap jalan kosong di depannya.
“Aku cuma takut,” jawabnya jujur.
“Takut apa?”
“Takut suatu hari nanti… anak ini mendengar cerita yang bukan versi kita.”
Langit terdiam.
Gosip tidak pernah punya wajah. Tapi selalu punya kaki. Ia berjalan lebih cepat dari kebenaran.
Malam itu, sebelum tidur, Ishani membuka ponselnya. Satu pesan anonim masuk.
"Tidak semua orang pergi karena cinta. Ada yang pergi karena ingin menggantikannya."
Ishani membeku. Tangannya refleks memegang perutnya. Detak kecil itu masih ada. Masih bertahan.
Dan untuk pertama kalinya sejak memutuskan pindah, ia sadar Jakarta mungkin bukan satu-satunya hal yang harus ia hadapi.
**********
Pagi keberangkatan datang tanpa banyak kata. Tidak ada tetangga atau kerabat yang mengantar. Tidak ada lambaian tangan. Hanya suara koper yang ditarik perlahan dan pintu rumah yang ditutup pelan oleh Bu Maura.
“Ibu nyusul sore nanti sama Ilham,” ujar Bu Maura sambil merapikan gaun Ishani. “Kamu jangan banyak bergerak.”
Ishani mengangguk.
Langit sudah berdiri di dekat mobilnya. Wajahnya tetap setenang biasanya. Ia membuka pintu penumpang depan, memastikan sandaran kursinya sedikit direbahkan.
“Pelan,” katanya singkat.
Perjalanan dimulai tanpa percakapan.
Jalanan pagi masih lengang. Ishani menatap ke luar jendela, melihat kota itu perlahan menjauh.
Langit menyetir dengan kedua tangan mantap di kemudi. Sesekali, matanya melirik ke arah Ishani. Wajahnya pucat.
“Kalau capek bilang,” ucapnya tanpa menoleh.
“Iya.”
Hening lagi.
Namun setiap kali Ishani sedikit mengubah posisi duduk, Langit langsung sadar. Tangannya sudah lebih dulu menyesuaikan kecepatan mobil, menghindari jalan berlubang. Ia menjaga jarak. Tapi tidak pernah lengah.
Dua jam kemudian, Ishani mengerutkan kening. Tangannya refleks memegang perut. Langit langsung menangkap perubahan itu.
“Kenapa?”
“Perutnya… kencang.”
Mobil segera menepi ke rest area terdekat.
Langit turun lebih dulu, memutari mobil, lalu membuka pintu Ishani.
“Pelan.”
Ia membantu Ishani berdiri tanpa benar-benar menyentuh terlalu lama. Mereka duduk di restoran kecil di area peristirahatan itu. Ishani bersandar di kursi, napasnya sedikit tidak teratur. Kontraksi palsu. Tapi tetap membuatnya kesakitan.
Langit duduk di depannya, ragu sesaat.
Lalu, untuk pertama kalinya tanpa berpikir terlalu lama, ia menggeser kursinya mendekat. Tangannya terangkat. Berhenti sepersekian detik. Lalu perlahan menyentuh perut Ishani.
Hangat.
“Hey,” suaranya lebih lembut dari biasanya. “Jagoan Ayah Biru… tenang ya.”
Ishani terdiam. Ishani tidak tahu mana yang membuat dadanya lebih sesak, rasa nyeri itu, atau cara Langit menyebut nama Biru dengan begitu utuh. Tidak ada iri. Tidak ada pengganti. Hanya penghormatan.
“Kasihan ibu kesakitan,” lanjutnya.
Seolah menjawab, ada gerakan kecil dari dalam.
Ishani terkejut. Langit juga. Gerakan itu jelas. Bukan kebetulan. Mata mereka bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada jarak.
Seorang pelayan datang membawa minuman. “Semoga lekas baikan ya, Bu. Bapak perhatian sekali,” katanya ramah. “Jarang loh suami setelaten ini.”
Hening sepersekian detik.
Ishani membuka mulutnya, mungkin untuk mengoreksi. Tapi Langit lebih dulu berbicara, tenang. “Terima kasih.”
Ia tidak membenarkan. Tapi juga tidak menampik. Dan entah kenapa, Ishani tidak protes. Untuk pertama kalinya, Ishani tidak merasa perlu menjelaskan siapa mereka sebenarnya.
Perjalanan dilanjutkan. Langit menyetir lebih pelan dari sebelumnya. Setiap lima belas menit, ia melirik. “Masih kencang?”
“Sudah mendingan.”
Sore menjelang ketika mereka tiba di sebuah perumahan sederhana. Rumah satu lantai. Cat putih yang mulai pudar. Pagar kecil. Tidak besar. Tidak mewah. Tapi rapi.
Langit turun lebih dulu, membuka pintu, membantu Ishani masuk.
Di dalam hanya ada tiga kamar, ruang tamu yang menyatu dengan ruang TV, dapur kecil dengan meja makan, dan satu kamar mandi luar. Kamar terbesar ada di ujung lorong, dengan kamar mandi di dalam.
“Kamu di sini,” ujar Langit.
Tempat tidur sudah tertata. Lemari kosong sudah dibersihkan. Bahkan tirai jendela baru.
Ishani menatap sekeliling. “Kak Langit sudah siapkan ini semua?”
Langit hanya mengangguk singkat.
Sore harinya, Bu Maura datang bersama Ilham membawa beberapa kotak makanan. Begitu masuk, langkahnya terhenti. Matanya menyapu seluruh ruangan. “Langit… rumah ini… Kamu sengaja beli rumah ini, Lang?”
“Iya,” jawabnya tenang. “Aku membelinya lima tahun lalu.”
“Untuk mengulang masa lalu?”
Langit terdiam sejenak. Sorot matanya berubah, seperti mengingat sesuatu yang jauh. “Untuk memperbaikinya,” katanya akhirnya. “Aku tidak ingin semua kenangan hilang. Setidaknya… satu tempat yang pernah utuh, tetap ada.”
“Tidak semua yang retak bisa disatukan kembali.”
Langit tidak menjawab.
Tiba-tiba rumah itu tidak lagi sederhana.
Tapi, menyimpan tawa dua anak laki-laki. Pertengkaran kecil. Dan mungkin… janji-janji yang tak pernah sempat ditepati.
Bu Maura akhirnya mengerti. Langit bukan hanya membawa Ishani ke Jakarta. Ia membawa Ishani ke tempat di mana ia dan Biru pernah menjadi keluarga. Dan mungkin… diam-diam ia mencoba mengembalikan sesuatu yang dulu hancur.
Bu Maura tidak bertanya lagi. Namun sejak saat itu, ia lebih banyak diam.
Malamnya, mereka makan bersama. Sunyi. Hanya suara sendok beradu dengan piring. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Biru pergi, Ishani tidak merasa sendirian. Dan itu justru yang paling membuatnya takut.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!