melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
langkah dibalik senyuman
Udara malam di balkon hotel terasa lebih dingin dibandingkan suasana hangat di dalam ballroom.
Alya berdiri di dekat pagar balkon sambil memandang lampu-lampu kota yang menyebar seperti lautan bintang. Dari tempat itu, gedung-gedung tinggi terlihat tenang, seolah kota ini tidak pernah menyimpan rahasia.
Namun Alya tahu kenyataannya tidak sesederhana itu.
Di dalam ballroom tadi, orang-orang berbicara tentang bisnis, investasi, dan peluang. Tetapi di balik semua senyuman dan gelas anggur yang terangkat, selalu ada permainan kekuasaan yang tidak terlihat.
Agung masih berdiri tidak jauh darinya.
Pria itu menatap kota dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku jasnya.
Beberapa saat mereka hanya diam.
Tidak ada percakapan.
Namun suasana itu tidak terasa canggung.
Alya akhirnya berkata pelan, “Acara seperti ini pasti sering Anda hadiri.”
Agung sedikit menoleh.
“Lebih sering dari yang saya inginkan.”
Nada suaranya datar, tetapi tidak dingin.
Alya tersenyum kecil.
“Banyak orang mungkin berharap berada di posisi Anda.”
Agung menghela napas pendek.
“Banyak orang hanya melihat hasilnya.”
Ia kemudian menoleh lebih jelas ke arah Alya.
“Bukan prosesnya.”
Alya tidak menjawab.
Ia hanya mengangguk pelan.
Untuk beberapa detik Agung memperhatikannya.
Namun bukan dengan tatapan tertarik seperti seorang pria pada wanita.
Lebih seperti seorang pengamat yang mencoba memahami seseorang yang baru ditemuinya.
Alya terlihat tenang.
Cara berdirinya tidak gugup.
Cara berbicaranya tidak berusaha mencari perhatian.
Itu yang membuatnya berbeda dari sebagian besar orang yang Agung temui di acara seperti ini.
Namun rasa itu hanya sebatas kagum sesaat.
Tidak lebih.
Agung memalingkan pandangan kembali ke arah kota.
“Apa yang membuatmu bekerja di bidang investasi?” tanyanya.
Alya menjawab tenang.
“Saya suka memahami bagaimana sesuatu bisa berkembang.”
Agung mengangkat alis sedikit.
“Maksudmu perusahaan?”
Alya tersenyum tipis.
“Bukan hanya perusahaan. Kadang orang juga.”
Agung tertawa pelan.
“Jawaban yang cukup menarik.”
Namun setelah itu ia kembali diam.
Beberapa detik kemudian ia berkata, “Kita sebaiknya kembali. Daniel mungkin mencarimu.”
Alya mengangguk.
Mereka kembali masuk ke ballroom bersama.
Acara makan malam berlanjut dengan lebih santai.
Beberapa tamu mulai berpindah meja untuk berbicara dengan investor lain.
Daniel terlihat cukup puas dengan jalannya acara.
Ketika melihat Alya kembali dari balkon bersama Agung, ia hanya tersenyum kecil.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Namun tatapan matanya seolah berkata bahwa ia memperhatikan semuanya.
Alya kembali duduk di kursinya.
Raka yang berdiri beberapa meter dari meja itu memperhatikan dengan tenang.
Ia melihat Agung berbicara dengan beberapa investor lain setelah kembali dari balkon.
Tidak ada tanda-tanda ketertarikan khusus.
Hanya percakapan bisnis biasa.
Raka sedikit lega.
Ia tidak tahu mengapa perasaan itu muncul.
Mungkin karena ia tahu permainan yang sedang mereka jalankan tidak boleh berubah arah terlalu cepat.
Beberapa saat kemudian Daniel memulai percakapan tentang proyek baru.
“Perusahaan kami sedang mempertimbangkan investasi di sektor energi terbarukan,” katanya kepada para tamu.
Salah satu investor mengangguk.
“Pasar itu sedang berkembang cepat.”
Agung ikut menambahkan pendapatnya.
“Masalahnya bukan pada potensi pasar. Tetapi pada stabilitas kebijakan.”
Percakapan mulai mengarah pada diskusi yang lebih serius.
Alya ikut mendengarkan dengan saksama.
Sesekali Daniel memintanya menjelaskan beberapa data yang ia siapkan.
Setiap kali Alya berbicara, para investor memperhatikannya.
Penjelasannya singkat namun jelas.
Tidak bertele-tele.
Agung beberapa kali menoleh ke arahnya ketika ia berbicara.
Sekali lagi, bukan karena tertarik secara pribadi.
Melainkan karena ia melihat sesuatu yang jarang ia temui pada analis muda.
Ketenangan.
Setelah diskusi selesai, salah satu investor berkata sambil tersenyum, “Analis Anda cukup tajam, Daniel.”
Daniel menoleh ke Alya.
“Saya juga baru menyadarinya.”
Alya hanya tersenyum sopan.
Acara mulai mendekati akhir ketika jam menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.
Para tamu perlahan meninggalkan ballroom.
Beberapa masih berdiri berbicara di dekat pintu.
Alya berdiri bersama Daniel ketika Agung berjalan mendekat.
“Aku harus pergi dulu,” kata Agung.
Daniel mengangguk.
“Terima kasih sudah datang.”
Mereka berjabat tangan.
Agung lalu menoleh ke Alya.
“Senang bertemu denganmu malam ini.”
Alya menjawab dengan tenang.
“Terima kasih.”
Agung mengangguk singkat sebelum akhirnya berjalan pergi.
Langkahnya tenang seperti saat ia datang.
Tidak ada tanda bahwa pertemuan singkat itu meninggalkan kesan khusus baginya.
Namun bagi Alya, semuanya terasa berbeda.
Bukan karena ia mengharapkan sesuatu.
Melainkan karena ia baru saja melewati momen yang dulu tidak pernah ia bayangkan.
Ia berdiri di ruangan yang sama dengan pria dari masa lalunya.
Berbicara dengannya.
Dan pria itu sama sekali tidak mengenalinya.
Perasaan itu aneh.
Seolah masa lalu dan masa kini bertemu di satu titik, tetapi tidak saling mengenali.
Beberapa menit kemudian Daniel berkata, “Kamu bekerja dengan baik malam ini.”
Alya menoleh.
“Terima kasih.”
Daniel menatapnya dengan sedikit penasaran.
“Kamu terlihat sangat tenang.”
Alya menjawab ringan, “Mungkin karena saya hanya menjawab pertanyaan.”
Daniel tertawa kecil.
“Sebagian orang tidak bisa tetap tenang bahkan ketika hanya menjawab pertanyaan.”
Ia menepuk bahu Alya ringan.
“Teruskan seperti ini.”
Ketika Alya akhirnya keluar dari hotel, udara malam terasa lebih sejuk.
Raka sudah menunggu di dekat mobil.
Ia membuka pintu untuknya.
“Bagaimana?” tanyanya.
Alya duduk di kursi penumpang.
“Biasa saja.”
Raka menatapnya sekilas sebelum menyalakan mesin.
“Biasa saja?”
Alya tersenyum kecil.
“Dia tidak mengenaliku.”
Raka mengangguk.
“Itu berarti rencana kita berjalan baik.”
Mobil mulai bergerak meninggalkan hotel.
Lampu kota kembali melewati jendela mobil seperti garis-garis cahaya panjang.
Beberapa menit mereka hanya diam.
Kemudian Raka berkata, “Apa dia mencurigaimu?”
Alya menggeleng.
“Tidak.”
Ia menatap jalan di depan.
“Dia hanya melihatku sebagai orang baru.”
Raka tersenyum tipis.
“Bagus.”
Namun Alya tidak mengatakan satu hal yang ia rasakan malam itu.
Ketika Agung menatapnya di balkon tadi, ada sesuatu di dalam tatapan pria itu.
Bukan ketertarikan.
Bukan juga kecurigaan.
Lebih seperti seseorang yang merasa ada sesuatu yang familiar tetapi tidak bisa menjelaskannya.
Dan Alya tahu satu hal.
Permainan ini baru saja dimulai.
Ia belum melakukan apa pun.
Belum mengambil langkah besar.
Namun roda cerita sudah mulai bergerak.
Dan ketika waktu yang tepat datang nanti…
Pertemuan-pertemuan kecil seperti malam ini mungkin akan menjadi awal dari perubahan besar yang tidak pernah disadari oleh siapa pun.
Termasuk oleh Agung Kusuma sendiri.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.