Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Mendadak menikah
"Bel, itu kenapa sepupu lo sama keluarga lo malah pergi semua? Memang ada masalah?" tanya Revan bingung karena semua orang pergi dari tempat itu.
Abel mengacak rambutnya yang telah tertata rapi itu dengan frustasi. "Lo nggak tahu tadi ada kejadian kayak gitu?" tanya Abel keki.
Revan menggeleng, sejak dia memasuki tempat itu memang Revan memilih memejamkan matanya dan mencuri-curi tidur, maklum mata Revan belum bisa dikondisikan setelah semalaman dipakai begadang untuk menyelesaikan proyek dari salah satu kliennya.
"Bajinggan emang!" Tanpa menjawab pertanyaan Revan, Abel memilih menyusul.keluarganya ke ruangan lain.
Sampai tempat itu semua mata tertuju ke Amel yang tampak terbata menjawab pertanyaan orang-orang itu.
"Om nggak akan memaksa kamu, Mel! Kalau kamu yakin dan ingin meneruskan pernikahan kamu dengan Doni, Om nggak akan menahanmu, tapi pikirkan semua baik-baik dulu!" Dengan lembut Tama menepuk punggung tangan Amel yang saling menggenggam itu.
"Amel rasa Amel nggak akan sanggup melanjutkan pernikahan ini, Om!"
Akhirnya Amel menjawab dan jawaban Amel itu membuat Doni dan orang tuanya meradang.
"Kamu mau bikin malu keluargaku, Mel?!" tuduh Doni kesal dengan keputusan itu.
"Maaf Mas Doni, lebih baik Amel malu dari pada Amel meneruskan pernikahan ini dan Amel sakit hati terus!"
"Tapi tamu undangan udah pada dateng, Mel! Aku nggak mau orang-orang ngomongin aku!" ucap Doni dengan suara melengking.
"Kemarin pas Mas Doni berbuat mesumm sama perempuan itu Mas Doni inget malu nggak, Mas!" Amel ikut berteriak marah atas sikap Doni tersebut.
"Aku nggqk ngelakuin itu, Mel!"
"Terus ini siapa? Setan!" Nita kembali menyodorkan video itu kepada Doni.
"Udah deh, Don, tinggal bilang aja iya aja apa susahnya sih!" Kali ini Warni ibunya Nita ikut merangsek Doni agar mau mengakui perbuatannya.
Doni meradang, dia paling tidak suka kalau dipojokin seperti itu.
"Kita batalin aja pernikahan ini sebelum semuanya terlambat!" Dengan berat hati Amel memutuskan untuk mundur.
Wening memeluk Amel yang kembali menangis sesegukan karena nasib yang menimpanya itu.
"Nggak papa batal nikah daripada senngsara seumur hidup!" hibur Wening lembut.
Abel berlari menghampiri Revan. "Van, pernikahan Amel batal!" teriak Abel membuat Revan menatapnya sambil mengeryitkan keningnya bingung.
"Ya udah kita cabut aja dari sini yuk, gue ngantuk banget belum sempet tidur dari semalem!" Revan merentangkan tangannya dan menggeliat pelan.
"Van, tolong nikahin Amel, gue nggak tega lihat dia dipermalukan kayak gini!" pinta Abel pelan dengan suara memohon.
"Eh, maksud lo?" tanya Revan langsung melek matanya.
"Dia gadis yang baik dan tulus, gue kasihan lihat dia jadi bahan omongan kayak gini!" jawab Abel.
"Lo gila ya, nikah itu bukan perkara gampang kayak kita jajan cilok!" omel Revan ketus.
"Please, pahala lo gede lho Van nikahin anak yatim kayak Amel, gue tahu lo mampu bahagiain dia, dan Amel itu kan tipe lo banget, gue tahu itu!"
"Bajinggan lo! Lo suruh gue jadi ban serep?" Revan berkacak pinggang dan siap menganiaya sahabatnya yang suka bertindak absurd itu.
"Please, gue tahu dia masih ori dan belum tersentuh siapa-siapa, beda jauh sama Lula mantan lo itu!" bujuk Abel lagi.
Demi mendengar nama Lula disebut, emosi Revan langsung naik ke ubun-ubun.
Revan jadi membandingkan Lula dan Amel. Memang Amel itu cantik manis gitu, wajahnya tidak membosankan untuk dilihat, apalagi Revan tahu dari cerita Abel bahwa Amel itu baiknya kebangetan. Belum pernah bertemu sih tapi Abel sering memuji sepupunya itu di depan Revan dan Eza.
"Ayok nggak usah kebanyakan mikirnya!" tanpa akhlak Abel menarik tangan Revan menuju ke ruangan tempat Amel dan orang-orang tadi beradu urat.
"Mel, lo nikah aja ama Revan, dia cowok baik dan pasti bisa ngebahagiain lo!" Belum apa-apa Abel langsung mendorong Revan begitu sampai ke ruangan itu.
Tama, Wening dan Sasi sampai melongo dibuatnya. Mereka tahu siapa itu Revan, dia baik, tampan dan terbilang mapan.
"Bel!" tegur Sasi kepada adiknya itu.
"Revan sejak dulu naksir Amel!" ucap Abel membuat Revan ingin menghantam mulut sahabatnya yang bicara sembarangan.
"Tapi, Bel..."
"Aku mau nikah sama Revan!" Entah pemikiran dari mana Amel sampai mengeluarkan statemen seperti itu. Yang jelas Amel sakit hati dengan perbuatan Doni dan Nita itu.
"Mel, aku nggak setuju!" Doni menggeleng pelan.
"Aku nggak butuh persetujuan kamu!" Amel mendengus pelan merasa sakit hatinya begitu dalam terhadap Doni.
Revan menggaruk kepalanya pelan, merasa aneh karena terseret pada permasalahan orang lain seperti ini.
"Tapi..."
"Nanti uang yang kamu keluarkan untuk acara ini bakalan aku transfer balik!" Dengan ketus Amel mengatakan hal itu sambil matanya menatap nyalang ke Doni.
"Mbak, tolong Amel ditouch-up ulang make upnya!" perintah Wening akhirnya.
"Pak, Bapak pakai baju batik Abel aja, biar jas Bapak dipakai Revan!" kata Abel kepada bapaknya.
"Nggak usah, Mas! Saya bawa jas serep kok takut tadi ada yang nggak bawa jas!" teriak MUA sebelum menghilang ke dalam ruangan yang tadi dipakai make up oleh Amel.
Revan dibantu Abel memakai jasnya dan sedikit diolesi cream sama asisten MUA tersebut.
Tak berapa lama make up Amel pun telah selesai diperbaiki. Revan dan Amel berjalan bersisian menuju ke tempat akad meninggalkan Doni, Nita dan keluarganya yang sedang beradu argumentasi itu.
Revan melirik Amel yang berjalan di sisinya, otak pria itu masih sedikit blank dan belum bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf, Pak, tadi ada sedikit masalah!" Tama kembali duduk di samping petugas dari KUA yang tampak bingung karena pengantin prianya telah berganti orang.
"Kok ini pengantin prianya ganti, Pak?" tanyanya bingung.
"Iya, yang bener yang ini, yang tadi salah!" jawab Pak Tama santai.
"Jadi yang Mas Doni tuh ini?" tanya petugas itu.
"Saya Revan!" jawqb Revan.
"Tapi nama yang tercatat di buku kami atas nama Mas Doni!"
"Ganti aja namanya jadi Revan...siapa nama panjangmu Van?"
"Revan Difta!" jawab Revan saat Pak Tama menanyakan nama panjangnya.
"Jadi Revano Difta, Pak!" ucap Tama kembali menatap petugas itu.
"Karena nama pengantinnya berganti dan Mas ini belum melengkapi berkasnya, maka pernikahan ini hanya bisa dilakukan di bawah tangan, nanti setelah Mas ini melengkapi berkasnya baru pernikahannya bisa dicatatkan ke negara!"
"Iya nggak papa yang penting mereka nikah sekarang!" Tama mengangguk menyetujui usulan itu.
"Baik kalau begitu acaranya bisa dimulai sekarang!" Petugas itu pun mengangguk.
Tama mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Revan.
"Revano Difta!"
"Saya!"
"Saya nikah dan kawinkan engkau dengan keponakan saya yang bernama Amelia Putri binti Derry Sudrajat dengan mas kawin berupa uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Amelia Putri binti Derry Sudrajat dengan mas kawin uang sebesar lima ratus ribu rupiah dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi?"
"Sah!"