NovelToon NovelToon
'SUAMI BUTA' Ku Yang Kaya Raya

'SUAMI BUTA' Ku Yang Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.

Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,

"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."

Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.

Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,

Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suamiku cemburu

"Kalau kamu mau, aku bisa memperkenalkanmu padanya. Mungkin dia bisa membantu," tawar Juna bersikap sok pahlawan.

"Mataku sudah dinyatakan rusak permanen. Jadi aku sudah tidak butuh pengobatan apapun," ketus Elang dengan tegas menolak, mulai merasa muak meneruskan obrolan ini.

Nila yang menyadari hal itu berusaha menenangkan Elang. "Kamu pasti kedinginan karena nunggu aku pulang kan?" menggandeng lengannya,

Kemudian kembali menatap Juna, "Terima kasih atas tawarannya. Saya hargai niat baik bapak,"

"Ya sudah, kalau begitu.." Juna tersenyum sepat, melangkah pergi ke dalam mobil.

Nila bepikir pria itu bergegas pulang, tapi ternyata Juna kembali membawa buket bunga berukuran besar yang entah kapan disiapkan.

"Untukmu," menyodorkan rangkaian bunga mawar merah.

Nila yang kebingungan berusaha menelaah tujuan Juna. Kenapa dia berani memberikan bunga pada wanita yang sudah memiliki pasangan? "Maaf, pak. Tapi apa maksudnya?"

"Jangan salah paham. Ini sudah tradisi di tempat kerja---senior ngasih bunga buat karyawan baru, sebagai perayaan selamat datang." ucap Juna menyamarkan rencana jahatnya.

"Oh gitu," gumam Nila berhasil dibujuk. Menerima pemberian tadi,

"Ya sudah aku pulang dulu," pamit Juna, kali ini benar-benar pergi.

Setelah memastikan mobil itu menghilang, Nila mengeratkan rangkulannya dan bersiap menuntun Elang. "Ayo,"

"HACIM!" 

"Lho kenapa? Kamu masuk angin," sontak Nila merasa khawatir terbelalak menatap Elang yang baru saja bersin.

"Pasti gara-gara kelamaan di luar."

"Enggak, bukan karena masuk angin---tapi aku alergi sama bunga mawar." dusta Elang sengaja berpura-pura bersin,

Entah mengapa kesal sekali melihat Nila mendapat pemberian dari pria lain. Apapun alasannya dia tak ingin Nila menyimpan benda itu,

"Alergi? Kalau gitu bunganya dibuang saja." lugas Nila merasa kasihan, begitu enteng melempar bunga yang baru saja didapat ke tempat sampah.

Elang tersenyum puas, berhasil menyingkirkan benda yang mengganggu matanya. Mereka berdua pun berjalan masuk ke dalam rumah,

"Jangan harap bunga jelek itu bisa masuk ke dalam."

"Oh ya, tadi aku makan nasi goreng ditraktir Pak Juna. Enak banget, porsinya banyak--sekarang aja aku masih kenyang banget." ucap Nila menata sandal yang baru saja di lepas, menaruh pada rak di balik pintu.

Lanjut berjalan ke ruang tengah,

"Gimana kalau kamu aku pesenin nasi goreng yang aku makan tadi? Buat makan malam. Atau mau aku bikinin aja, aku juga jago bikin nasi goreng.." tawar Nila bersemangat.

"Cuma nasi goreng aja dipamerin." batin Elang menggerutu,

"Hhh, ga usah. Aku bisa pesen makanan sendiri," sahut Elang dengan sinis berjalan menjauh, seakan sedang memperlebar jarak.

"Lho kenapa? Kan bisa nyuruh aku."

Nila menekuk bibir, kebingungan melihat tingkah Elang. Padahal tadi mereka begitu harmonis, kenapa suasananya berubah secepat kilat.

"Ga usah. Kamu istirahat aja, pasti capek habis jalan-jalan sama Juna." 

"Jalan-jalan gimana sih? Aku kan kerja---oh! Jangan bilang, kamu cemburu ya lihat aku sama Pak Juna." tuduh Nila dengan wajah tengil, 

Menebak alasan dari sikap aneh suaminya. Jarang sekali dia melihat Elang bisa berekspresi sebanyak ini, biasanya Elang hanya bisa memasang wajah datar. 

"Gak! Ngapain cemburu." menyahuti singkat,

"Iya deh nggak. Aku buatin makan malam ya?" tawar Nila sekali lagi, kali ini dia mengalah daripada membuat situasi semakin runyam.

"Aku bilang gausah, aku bisa mesen sendiri. Ga mau ngerepotin!" ketus Elang membuang muka,

"Udah dong ngambeknya. Kasian perutmu nanti kelaparan---coba bilang, aku harus gimana biar kamu mau dimasakin?" lugas Nila seperti tengah membujuk anak kecil.

Siapa sangka kalau cara itu berhasil melunakkan hati Elang. "Aku mau kamu jaga jarak 2 meter dari pria lain."

"Hhh?" Nila terkejut sepertinya pria itu benar-benar cemburu.

Tak mungkin memberi syarat semacam itu kalau tidak alasannya, ini pasti karena melihat kedekatan Nila dan Juna.

Apalagi Juna sampai mengantarkan istrinya pulang, yang paling parah dia secara terang-terangan memberikan bunga pada Nila.

"Kamu ga mau?" tanya Elang menunggu jawaban gadis yang masih bungkam.

"Mau--mau, mulai besok aku bakal jaga jarak 2 meter dari pria lain." Nila mengangguk cepat,

Menerbitkan senyum tengil, tak tahan rasanya ingin menggoda Elang. "Kamu cemburu kan?"

"Nggak! Aku cuma ga ingin kamu diam-diam punya hubungan sama pria lain. Mau gimanapun kita masih suami istri," dalih Elang dengan raut datar,

"Kalau udah setahun, baru kamu bebas melakukan apapun."

"Fiks, kamu cemburu sih." gumam Nila mengangguk pelan, tak ingin mendengar alasan apapun.

"Eng--gak!" seru Elang bergumam panjang, 

"Fiks, ini cemburu." ujar Nila sambil beranjak bangun, berjalan ke dapur.

Tersenyum puas melihat reaksi Elang yang pertama kali dilihat. Sepertinya sudah ada harapan dalam hubungan mereka,

 

Pagi hari

Nila memulai aktivitas seperti biasa, menempati kursi dan mulai menata barang bawaan kemudian duduk menghadap komputer.  

"Nila, pelajari berkas ini. Nanti--"

"Eits!" sontak Nila mengelak sentuhan pria yang ingin memegang pundaknya.

Juna terdiam tak meneruskan ucapan, dibuat bingung oleh sikap Nila. "Ada apa?" 

Nila terburu-buru menarik mundur kursinya untuk sedikit menjauh sebelum menyahuti. "Mm, sebenarnya pria semalam itu bukan pacar---tapi suami saya."

"Saya sudah menikah dan dia ga suka lihat saya dekat-dekat pria lain, jadi tolong pengertiannya ya Pak?" pinta Nila mengerutkan alis dengan raut memohon,

Dia benar-benar menjalankan perintah Elang, padahal bisa saja Nila berpura-pura dan tetap bersosialisasi seperti biasa.

"Baiklah, tapi gapapa kan kalau aku ngomong dari sini?" jawab Juna menjaga jarak.

"Iya gapapa." mengangguk singkat,

"Ya sudah ini," Juna tersenyum, memberikan berkas tadi kepada Nila.

Bertindak tenang seakan menghormati keputusan. Juna kembali duduk menempati kursinya,

"Hhh, mau pacar atau suami itu ga penting. Aku akan tetap mencari cara untuk mendapatkanmu," batin Juna menyeringai, tampak sibuk menyiapkan rencana licik. 

Tak lama kemudian Juna kembali bertanya. "Oh ya Nila, besok pulang kerja ga sibuk kan?" 

Nila menoleh dengan tatapan polos, "Hm? Kayaknya nggak, kenapa?" 

"Syukurlah, besok aku mau ngunjungin bazar makanan buat sampel produk. Kamu ikut ya?"

"Tapi aku--" Nila bimbang menanggapi ajakan Juna. Itu berarti besok dia akan pulang malam dan membuat Elang menunggu,

"Ayolah, masa suamimu marah karena hal sepele. Lagian ini penting buat pekerjaanmu, nanti disana kamu bisa lihat aneka ragam produk buat nambah inovasi." dalih Juna berusaha membujuk,

Nila dibuat setuju setelah mendengar pernyataan tadi. Saat ini penting sekali bagi Nila untuk menunjukkan kinerjanya sebagai karyawan baru, "Iya deh, saya ikut." 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!