Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Archelo duduk mematung di sofa ruang tamu, menumpu kepalanya dengan kedua tangan. Pikirannya kalut, dipenuhi bayangan masa depan yang buram dan rasa berdosa yang menghimpit. Namun, lamunannya pecah seketika saat sebuah rintihan tertahan terdengar dari balik pintu kamar.
"Awh... Sshhh... Argh, sialan!"
Suara Flo terdengar meringis kesakitan, disusul bunyi sesuatu yang terjatuh mungkin botol parfum atau buku di nakas. Archelo langsung berdiri, insting pelindungnya mengambil alih. Tanpa mengetuk, ia membuka pintu kamar dan menemukan Flo sedang terduduk di tepi ranjang dengan wajah pucat, tangannya mencengkeram sprei, dan kakinya tampak bergetar hebat saat mencoba menapak ke lantai.
"Flo! Kau tidak apa-apa?" Archelo mendekat dengan raut cemas yang luar biasa.
Mata Flo yang tajam langsung menghujamnya. "Jangan mendekat, Brengsek! Ini semua gara-gara kau!" bentak Flo, meskipun suaranya sedikit pecah karena menahan perih. "Kau... kau benar-benar tidak punya perasaan, ya? Kau pikir tubuhku ini terbuat dari baja? Kenapa rasanya sakit sekali untuk digerakkan, hah?!"
Archelo membeku di tempatnya, wajahnya memerah padam. "Aku... aku minta maaf, Flo. Aku tahu aku keterlaluan semalam, tapi kau yang terus memintaku untuk tidak berhenti..."
"Diam! Jangan bahas itu lagi!" Flo memotong dengan galak, wajahnya merah padam antara marah dan malu. "Aku benci padamu, Archelo. Aku tidak tahu rasanya akan sesakit ini. Kau benar-benar menghancurkan ku semalam!"
Melihat Flo yang benar-benar tidak bisa berdiri dan terus meringis, Archelo tidak memedulikan makian itu lagi. Ia melangkah maju, lalu dengan gerakan sigap namun sangat lembut, ia menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Flo.
"Lepaskan! Aku bisa sendiri!" protes Flo, namun tangannya secara otomatis melingkar di leher Archelo untuk keseimbangan.
"Jangan keras kepala, Flo. Kau bahkan tidak bisa berdiri tegak," ucap Archelo rendah.
Ia menggendong Flo menuju kamar mandi. Tubuh Flo terasa begitu ringan namun hangat dalam dekapannya. Archelo mendudukkan Flo di atas tutup kloset yang tertutup dengan hati-hati.
"Tunggu di sini. Aku akan membereskan... sisa semalam," bisik Archelo pelan.
Archelo kembali ke kamar tidur. Pemandangan di sana benar-benar menjadi saksi bisu betapa liarnya mereka semalam. Sprei yang berantakan, bantal yang berserakan di lantai, dan noda-noda yang menandakan betapa intensnya penyatuan mereka.
Sambil memunguti pakaian Flo yang tercecer, Archelo tidak bisa menahan memorinya untuk tidak berputar ke beberapa jam yang lalu. Ia teringat bagaimana Flo mencengkeram bahunya, bagaimana desahan gadis itu memenuhi ruangan, dan bagaimana mereka seolah tidak ingin hari berganti pagi. Tanpa sadar, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibir Archelo. Bukan senyum kemenangan yang menjijikkan, melainkan senyum tulus dari seorang pria yang merasa akhirnya memiliki seluruh jiwa dan raga wanita yang ia cintai.
Ia dengan telaten mengganti sprei dengan yang bersih, merapikan bantal, dan menyemprotkan sedikit pengharum ruangan agar aroma pertempuran itu memudar. Setelah semuanya bersih, ia kembali ke kamar mandi.
Di kamar mandi, Flo baru saja selesai membasuh dirinya dengan air hangat, namun ia masih tampak kesulitan untuk mengenakan pakaian. Ia sudah mengenakan kemeja kebesaran miliknya, namun ia kesulitan menyeimbangkan tubuh untuk memakai celana pendeknya.
"Flo? Boleh aku masuk?" tanya Archelo dari balik pintu.
"Masuk saja! Cepat bantu aku sebelum aku jatuh!" teriak Flo kesal.
Archelo masuk dan melihat Flo yang sedang berpegangan pada wastafel. Dengan sabar, Archelo berlutut di depan Flo. Ia mengambil celana pendek kain milik Flo, lalu dengan sangat hati-hati membantu memasukkan kaki jenjang gadis itu satu per satu. Saat ia menarik celana itu ke atas untuk merapikannya, matanya tak sengaja menatap wajah Flo yang sedang menunduk menatapnya.
Archelo kembali tersenyum tipis, teringat betapa manja dan menuntutnya Flo semalam, sangat kontras dengan Flo yang sekarang sedang memarahinya.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?!" Flo menyentak, wajahnya memanas. "Bantu itu yang ikhlas, jangan sambil berpikir mesum terus! Apa kurang semalaman penuh kau meniduri ku hingga pagi, hah? Kau ingin lagi?"
Archelo langsung menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mendadak panas. "Bukan begitu, Flo. Aku hanya... aku hanya senang melihatmu sudah sedikit lebih baik."
"Lebih baik pantatmu!" semprot Flo, meskipun dalam hati ia merasa sangat tersentuh melihat betapa telatennya Archelo mengurusnya. "Jangan pikir satu senyumanmu bisa menghapus dosa semalam. Kau tetap pria jahat yang mengambil kesempatanku saat aku tidak berdaya."
Archelo berdiri, membantu Flo bersandar pada bahunya saat mereka berjalan keluar kamar mandi. "Aku tahu. Aku benar-benar minta maaf, Flo. Aku merasa sangat bersalah. Katakan saja apa yang harus kulakukan agar kau bisa memaafkan ku, atau setidaknya tidak terlalu membenciku."
Flo tampak berpikir sejenak saat Archelo mendudukkannya kembali di atas ranjang yang sudah bersih dan rapi. Ia menatap Archelo yang berdiri dengan raut wajah penuh penyesalan itu.
"Kau ingin menebus kesalahan?" tanya Flo dengan nada menantang.
Archelo mengangguk mantap. "Apa pun."
"Baik. Mulai detik ini, kau adalah pelayanku. Pelayan pribadi Florence Edison selama dua puluh empat jam penuh di apartemen ini," ucap Flo sambil bersedekap, mencoba terlihat berkuasa.
"Kau harus memasak, mencuci piring, membersihkan seluruh ruangan, dan menggendongku ke mana pun aku mau jika kakiku masih terasa lemas. Jangan berani-berani membantah atau pergi dari sini tanpa izin dariku. Paham, St. Clair?"
Archelo menghela napas lega. Hukuman ini jauh lebih ringan daripada diusir atau dilaporkan ke polisi. Ia justru merasa senang bisa menghabiskan waktu seharian penuh merawat Flo.
"Paham, Nona Edison," jawab Archelo dengan nada patuh, ia bahkan membungkukkan badannya sedikit seperti pelayan sungguhan. "Apa perintah pertama Anda?"
"Aku lapar! Masakkan sesuatu yang enak, tapi jangan yang instan. Dan bawa ke sini, aku tidak mau beranjak dari kasur ini," perintah Flo ketus.
Archelo tersenyum lebar kali ini, ia tidak bisa menahannya lagi. "Siap, laksanakan."
Archelo melangkah menuju dapur dengan semangat yang baru. Di dalam kamar, Flo memperhatikan punggung tegap Archelo yang menghilang di balik pintu. Ia perlahan merebahkan tubuhnya di sprei baru yang masih tercium aroma tangan Archelo.
Flo menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Akting marahnya mungkin sempurna, tapi hatinya tidak bisa berbohong. Ia menikmati perhatian ini. Ia menikmati bagaimana seorang pangeran Harvard yang sombong kini bertekuk lutut menjadi pelayannya hanya karena rasa cinta dan bersalah.
"Dasar bodoh," bisik Flo sambil tersenyum ke arah langit-langit kamar. "Tapi kau pelayan yang lumayan tampan, Archelo."
Maka dimulailah hari itu, di mana pewaris tahta St. Clair menghabiskan waktunya dengan celemek di dapur, memasak sup hangat, dan bolak-balik menggendong Flo hanya untuk mengambilkan segelas air atau buku catatan, sambil terus menerima omelan manja dari gadis yang diam-diam telah memenangkan hatinya sepenuhnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰