Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUNTEL MENGINCAR "CAMILAN" JANTUNG BAJA
"Kyuk!" Buntel tiba-tiba menarik ujung jubah Feng. Naga perak itu meneteskan liur menatap ke arah tempat duduk para petinggi sekte. Tepatnya, dia menatap kosong ke arah langit-langit membayangkan Jantung Baja Iblis yang baru saja dibicarakan.
"Heh, lap dulu liurmu," tegur Feng sambil menyodorkan ujung lengan bajunya yang kotor. "Jangan rakus. Kemarin kau sudah makan pedang pusaka, tadi kau ikut numpang makan daging kera. Besok jatahnya cuma camilan."
Buntel mengangguk cepat. Dia berlari ke pinggir arena, memungut sebuah mangkuk besi besar bekas tempat air minum panitia, lalu menggigit pinggirannya seolah bersiap menyambut hidangan baru yang lezat.
Tetua Agung Yue menghampiri Feng dengan langkah gontai. Wajahnya terlihat sangat lelah, seolah umurnya menyusut drastis hari ini.
"Feng, kau benar-benar harus waras besok," ucap wanita anggun itu memperingatkan. "Wang Wei bukan lawan sembarangan. Inti Baja Iblis di dadanya itu didapat dari menaklukkan monster langka di Hutan Kematian. Kulitnya saja bisa mematahkan pedang tingkat dua dengan mudah."
"Kalau dipatahkan pakai palu bisa tidak, Tetua?" tanya Feng polos.
"Ini bukan soal palu! Ini pertarungan resmi bela diri!" Tetua Agung Yue memijat keningnya lagi. "Pokoknya, jangan mati. Sekte sudah rugi banyak karena kerusakan yang kau buat. Kalau kau mati, siapa yang melunasi biaya trauma para panitia?"
Feng mendelik. "Lho, kan utang gedungnya sudah lunas pakai gigi babi?"
"Itu buat gedungnya! Biaya mental orang-orang yang kau buat jantungan belum dihitung!" omel Tetua Agung Yue sebelum berbalik pergi dengan kesal.
---
Keesokan harinya.
Matahari bersinar sangat terik di atas Arena Naga Langit. Namun, panasnya matahari tidak sebanding dengan panasnya suasana di bangku penonton. Sorak sorai hari ini terdengar lebih gila dari kemarin. Bukannya menjagokan siapa yang akan memenangkan turnamen, topik bursa taruhannya malah berubah total.
"Ayo pasang! Rasio satu banding sepuluh!" teriak salah satu bandar judi sekte dari faksi luar. "Apakah Feng akan memasak lawannya hidup-hidup hari ini?!"
"Aku pasang lima ratus koin emas! Feng pasti bawa alat panggangan lagi!" sahut murid lain dengan semangat membara.
Sementara itu, di ruang tunggu peserta, Feng sedang menghela napas menatap sebuah benda di tangannya. Benda itu adalah palu kayu kecil seukuran telapak tangan yang biasa dipakai untuk memecah cangkang kepiting di dapur.
"Cuma ini yang tersisa di dapur kantin," keluh Feng memutar-mutar palu itu. "Semua alat tajam dan palu daging disembunyikan Master Chef. Pelit sekali bapak itu."
SISTEM: PERINGATAN. PALU KAYU TERSEBUT MEMILIKI KEKUATAN SERANG 0,001%. HANYA COCOK UNTUK MEMBUNUH NYAMUK ATAU MEMECAHKAN KEMIRI.
"Iya, saya tahu. Tidak usah diejek," batin Feng kesal. "Hitung-hitung buat gaya saja."
"PESERTA BABAK DELAPAN BESAR, MASUK KE ARENA!" suara wasit menggema memecah lamunan Feng.
Dari gerbang sebelah timur, seorang pria bertubuh sangat kekar melangkah keluar. Tingginya hampir dua meter. Otot-ototnya menonjol kuat seperti akar pohon beringin tua. Berbeda dengan murid lain yang memakai jubah sutra rapi, pria ini bertelanjang dada.
Di tengah dadanya, tertanam sebuah bongkahan logam hitam kemerahan yang berdetak seirama dengan detak jantungnya. Itulah Inti Baja Iblis.
Wang Wei.
Setiap kali kakinya menginjak pasir, tanah arena bergetar pelan. Auranya sangat berat dan menekan napas siapa pun yang berada di dekatnya.
"Tuan Muda Wang Wei!" teriak panitia di pinggir lapangan dengan suara bergetar. "Mari kita periksa ketahanan fisik sesuai prosedur keselamatan sebelum bertanding!"
Dua orang panitia maju membawa pedang baja standar sekte. Mereka saling pandang sebentar, lalu menebaskannya sekuat tenaga langsung ke dada Wang Wei.
TANG! TANG!
Suara nyaring logam beradu terdengar. Dua pedang baja itu patah menjadi dua bagian. Tangan kedua panitia itu sampai gemetar hebat dan berdarah karena efek pantulan yang luar biasa keras. Wang Wei bahkan tidak berkedip. Kulitnya tidak lecet sedikit pun.
"Minggir," usir Wang Wei dengan suara serak. Matanya yang tajam mengunci pandangan ke arah gerbang barat, menunggu musuhnya keluar.
Dari gerbang barat, Feng berjalan keluar dengan sangat santai. Dia menggaruk perutnya yang sudah kempes karena kalorinya habis terbakar kemarin, lalu menguap lebar. Di tangan kanannya, dia memutar-mutar palu pemecah kepiting.
Di belakangnya, Tetua Agung Yue sedang bersusah payah menahan rantai emas di leher Buntel. Naga buncit itu terus meronta sambil membawa mangkuk besinya di mulut.
"Kyuk! Kyuuuuk!" Buntel berteriak tak sabar, memukul-mukul mangkuknya dengan ekor, persis seperti orang kelaparan yang menuntut jatah makan siang di warung.
"Diam di sini, Kadal Rakus!" omel Tetua Agung Yue sambil mengikat rantai Buntel ke pilar beton pengaman arena yang paling tebal.
Feng terus melangkah ke tengah arena. Dia menatap Wang Wei dari atas ke bawah, lalu matanya terpaku pada bongkahan logam hitam yang berdetak di dada pria kekar itu.
"Wah, mengkilap sekali," puji Feng santai. "Mas ini rajin digosok pakai daun rumbia ya dadanya? Sampai bersih begitu."
Urat di dahi Wang Wei langsung menonjol tebal. Kemarahannya mendidih di detik pertama.
"Tutup mulutmu, Sampah Level Nol," geram Wang Wei. Giginya gemeretak menahan emosi. "Kau telah mempermalukan adikku, Wang Gang, di pinggir Hutan Kematian. Kau membiarkan naga jelekmu itu memakan pusaka keluarga kami dan membuatnya jadi bahan tertawaan."
Feng mengangguk paham. "Oh, jadi Mas ini kakaknya si Wang Gang. Pantas saja mukanya mirip, sama-sama boros dan suka marah-marah."
"KURANG AJAR!" Wang Wei maju satu langkah besar. Pasir di bawah kakinya langsung ambles sedalam mata kaki. "Hari ini, aku tidak peduli dengan aturan turnamen. Aku akan mematahkan kedua tanganmu, menghancurkan kakimu, dan membiarkanmu merangkak memohon ampun. Lalu, aku akan mencabut jantung naga peliharaanmu itu!"
Mendengar kata "jantung dicabut", Buntel yang ada di pinggir lapangan mendadak berhenti memukul mangkuk. Naga perak itu memiringkan kepalanya, matanya menyipit sinis. Buntel lalu menyemburkan percikan api kecil dari hidungnya dengan tatapan meremehkan, seolah berkata *'Coba saja kalau berani'*.
"Jangan garang-garang, Mas. Nanti darah tinggi," balas Feng tenang. Dia mengangkat palu kepitingnya. "Lagi pula, saya kemari cuma mau pinjam jantung bajamu itu sebentar. Naga saya lagi pengen ngemil besi murni. Boleh ya?"
Wang Wei tertawa sangat keras. Tawanya terdengar seperti gesekan logam tajam yang menyakitkan telinga para penonton di tribun.
"Mengambil jantungku? Dengan apa? Tubuh tanpa Qi milikmu itu? Atau palu mainan konyol di tanganmu itu?!" ejeknya. "Inti Baja Iblis ini memiliki kepadatan seratus kali lipat dari baja biasa! Butuh kekuatan setingkat Patriark untuk bisa menggoresnya walau sehelai rambut!"
SISTEM MUNCUL DENGAN LAYAR BIRU BERKEDIP MERAH:
ANALISIS TARGET SELESAI.
NAMA: WANG WEI.
KONDISI FISIK: PERTAHANAN BAJA TINGKAT TINGGI. KEPADATAN ARMOR DADA 30 CM.
PERINGATAN KRITIS: JANGAN MELAKUKAN TINJU LURUS ATAU BENTURAN FISIK SECARA FRONTAL. RISIKO TULANG TANGAN TUAN HANCUR MENCAPAI 98%.
Feng sedikit membelalakkan mata. "Wah, Sistem. Tumben kau pesimis. Biasanya kau suruh saya tabrak dan hajar saja."
SISTEM: INI BUKAN SOAL PESIMIS. INI SOAL HUKUM FISIKA MURNI. MEMUKUL GUNUNG BESI DENGAN KEPALAN DAGING HANYA AKAN MENGHASILKAN DAGING CINCANG. TUAN BUTUH PENDEKATAN YANG BERBEDA.
"Pendekatan berbeda yang bagaimana?" tanya Feng panik dalam hati.
SISTEM: KALKULASI TAKTIK SEDANG DIPROSES... SILAKAN BERTAHAN HIDUP SELAMA 30 DETIK SAMPAI PROSES SELESAI.
"Tiga puluh detik?!" Feng menelan ludah. "Lama banget!"
Di pinggir arena, Wasit mengangkat bendera merahnya tinggi-tinggi. Dia bisa merasakan hawa membunuh yang sudah di ubun-ubun antara kedua peserta ini.
"PERTANDINGAN DIMULAI!" teriak Wasit, lalu dia dengan gesit melompat mundur sejauh mungkin agar tidak kena imbas ledakan.
Begitu bendera turun, Wang Wei langsung meledakkan auranya. Hitam pekat bercampur warna merah darah menguar dari tubuhnya. Udara di arena mendadak menjadi sangat padat dan mencekik. Gravitasi di sekitar Wang Wei berlipat ganda, menarik debu dan batu kerikil melayang ke arahnya.
"Mati kau, Bocah!"
Wang Wei sama sekali tidak menggunakan senjata tajam. Dia sepenuhnya mengandalkan tubuh modifikasinya. Pria raksasa itu menundukkan bahunya dan menyeruduk ke depan layaknya badak lapis baja yang sedang mengamuk. Kecepatannya sama sekali tidak masuk akal untuk tubuh sebesar dan seberat itu.
Dalam sekejap mata, dia sudah berada tepat di depan wajah Feng. Bayangan tubuh raksasanya menutupi cahaya matahari, membuat Feng sepenuhnya berada dalam kegelapan yang menakutkan.
Wang Wei menarik tangan kanannya jauh ke belakang. Otot-otot lengannya membengkak hingga uratnya menonjol tajam. Tinju berlapis baja itu meluncur lurus membelah angin, mengarah tepat ke tengah dada Feng. Angin tajam dari tinju itu saja sudah membuat jubah Feng robek di bagian bahu sebelum pukulannya mendarat.
"Mundur, Feng!" teriak Tetua Agung Yue dari pinggir lapangan, suaranya terdengar sangat panik kehilangan keanggunannya.
Namun, gaya gravitasi yang kuat dari aura Wang Wei menahan kaki Feng seperti diikat jangkar kapal. Dia tidak bisa melompat mundur tepat waktu. Tinju musuhnya terlalu cepat dan terlalu berat.
SISTEM: PERINGATAN! BENTURAN FATAL TERDETEKSI! WAKTU KALKULASI TAKTIK TERSISA 15 DETIK!
Feng menggertakkan giginya menahan ngeri. Dia menyilangkan kedua lengannya kuat-kuat di depan dada, mengeraskan seluruh jaringan ototnya hingga batas maksimal untuk menahan hantaman maut itu, sambil berdoa palu kepiting mungil di tangannya tidak ikut patah.
DUAAAAARRRRR!!!
Ledakan udara yang memekakkan telinga langsung menyapu seluruh stadion. Pasir putih arena terangkat tinggi ke atas seperti gulungan ombak badai yang menelan kedua petarung itu.