Rangga rela banting tulang siang-malam sebagai kuli dan tukang ojek demi membahagiakan istrinya, Laras. Tapi bagi Laras, kerja keras Rangga cuma "recehan" yang memalukan. Puncaknya, Laras tertangkap basah berselingkuh dan malah berbalik menghina Rangga hingga meminta cerai.
Dengan hati hancur, Rangga menjatuhkan talak dan pergi membawa putri kecil mereka, Rinjani, ke Bandung. Di tengah perjuangan hidup dari nol, hadir Syakira—gadis salafi yang tidak cuma membawa kesuksesan pada usaha Rangga, tapi juga menjadi ibu sambung yang dicintai Rinjani.
Saat Rangga mulai meraih kebahagiaan dan kesuksesan, karma datang menjemput Laras. Hidupnya hancur, disiksa suami barunya, hingga menderita penyakit kronis. Laras merangkak memohon ampun, tapi bagi Rinjani, ibunya sudah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AROMA YANG MENGHANCURKAN JIWA
Kertas struk yang remuk itu masih digenggam erat oleh Rangga. Dadanya naik turun, mencoba mencari pasokan udara di tengah sesak yang kian menghimpit. Dia ingin sekali berteriak, mendobrak pintu kamar, lalu menanyakan apa maksud dari "Badru Sayang" itu. Tapi, akal sehatnya menahan langkahnya. Dia menatap pintu kamar yang tertutup rapat, tempat di mana istrinya mungkin sedang tertidur pulas tanpa rasa berdosa sedikit pun. Rangga menghela napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di kepalanya. Dia tidak boleh gegabah. Dia butuh bukti yang lebih kuat, meski hatinya sudah hancur berkeping-keping.
Dengan langkah kaki yang terasa berat seperti memikul beban berton-ton, Rangga menyeret tubuhnya ke arah keranjang cucian di sudut belakang. Dia butuh kesibukan supaya pikirannya tidak makin gila. Dia mulai memunguti satu per satu pakaian kotor milik Laras. Tangannya yang masih kasar penuh bekas oli itu bergerak pelan. Lalu, tangannya menyentuh kemeja kerja Laras yang berwarna putih bersih, kemeja yang baru saja dipakai istrinya hari ini.
Seketika, hidung Rangga menangkap sesuatu yang asing. Sebuah aroma yang menusuk indra penciumannya. Bukan aroma detergen, bukan pula aroma parfum bunga melati yang biasa Laras pakai. Itu adalah aroma parfum pria yang maskulin, mahal, dan tajam sekali. Aroma itu melekat kuat di bagian bahu dan kerah kemeja Laras. Rangga tertegun, dia mendekatkan kemeja itu ke wajahnya, menghirup aroma itu sekali lagi.
Deg. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Bau ini... bukan baunya. Dia cuma tukang ojek yang baunya matahari dan asap knalpot. Dia cuma montir yang baunya oli dan bensin. Bau parfum di kemeja istrinya ini adalah bau pria kelas atas, bau seseorang yang punya banyak uang. Seketika, bayangan Laras yang bersandar di bahu pria lain berputar-putar di kepalanya seperti film horor. Rangga meremas kemeja itu sampai buku jarinya memutih. "Kok kamu tega sekali sih, Ras? Kurang apa pengabdianku selama ini?" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.
Air mata Rangga jatuh lagi, kali ini membasahi kemeja yang aromanya begitu menyakitkan itu. Dia merasa harga dirinya sebagai lelaki sudah diinjak-injak sampai ke dasar tanah. Tapi, dia mencoba menepis pikiran buruk itu. Dia mencoba berprasangka baik. Mungkin cuma tidak sengaja berpapasan di lift? Atau mungkin kemeja ini kena semprot parfum orang lain di kantor? pikirnya berusaha menghibur diri. Meski jauh di lubuk hatinya, dia tahu kalau itu cuma kebohongan yang dia buat sendiri agar jiwanya tidak mati saat itu juga.
Malam itu Rangga tidak bisa tidur. Dia cuma duduk di kursi kayu ruang tamu, menatap kegelapan luar lewat jendela kecil yang kacanya sudah kusam. Pukul dua pagi, pukul tiga pagi, sampai adzan subuh berkumandang, matanya tidak bisa terpejam sedikit pun.
Beberapa hari berlalu dengan ketegangan yang makin menjadi. Laras makin jarang bicara. Dia pulang makin malam, selalu dengan alasan "lembur" atau "meeting dengan klien". Rangga cuma bisa diam, meski hatinya makin perih menatap istrinya yang makin asing.
Sore itu, Rangga sengaja tidak mengambil tarikan ojek di jam pulang kantor. Dia memarkirkan motor tuanya di tikungan gang rumah mereka, di balik tembok toko kelontong yang sudah tutup. Dia ingin membuktikan dugaannya. Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di ujung gang, tempat yang remang-remang dan jauh dari lampu jalan.
Rangga menatap tajam dari balik helmnya. Pintu mobil terbuka, lalu Laras keluar dari sana. Wajahnya tampak cerah, bibirnya yang merah itu mengulas senyum manja yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dia berikan untuk Rangga. Sebelum menutup pintu, Laras membungkuk, melambaikan tangan dengan centil ke arah pria di dalam mobil itu. Pria yang Rangga yakini bernama Badru.
"Ah, jadi begini cara kamu lembur ya, Ras?" gumam Rangga dengan suara bergetar. Dia merasa tangannya sangat dingin. Dunianya seketika menjadi gelap gulita. Rasanya ingin sekali dia mengejar mobil itu, tapi tenaganya seolah habis menguap begitu saja.
Rangga bergegas menyalakan motornya, lewat jalan tikus agar bisa sampai di rumah lebih dulu daripada Laras. Dia masuk ke rumah dengan terburu-buru, lalu duduk di kursi seolah-olah baru saja pulang menarik ojek. Tak lama kemudian, suara sepatu hak tinggi Laras terdengar di teras.
Laras masuk ke rumah dengan wajah ketus seperti biasa. Dia membanting tasnya ke atas meja, tepat di depan Rangga yang sedang mengelap keringat. "Capek banget deh! Kantor makin gila aja kasih kerjaan," keluh Laras sambil mengipasi wajahnya.
"Lembur lagi, Ras?" tanya Rangga pelan, suaranya diusahakan tetap tenang meski hatinya sedang bergejolak hebat.
"Iya lah! Kalau nggak lembur, kita mau makan apa? Emang bisa ngandelin duit ojek kamu yang cuma receh itu? Ah, jangan banyak tanya deh, makin pusing tahu nggak!" bentak Laras sambil menatap Rangga dengan pandangan menghina.
Seketika, suara tangis kecil terdengar dari arah kamar. Rinjani, putri kecil mereka yang berusia lima tahun, terbangun karena suara bantingan pintu dan teriakan Laras. Gadis kecil itu keluar dari kamar dengan mata sembab, mengucek matanya yang merah. Dia menatap ibunya dengan tatapan takut, tubuhnya gemetar kecil.
"Bisa diem nggak sih, Rinjani! Ibu baru pulang kerja, capek! Jangan nambah-nambahin pusing dengan suara tangis kamu yang berisik itu dong!" Laras membentak anak kandungnya sendiri tanpa belas kasihan.
Rinjani makin ketakutan. Dia lari menghampiri ayahnya, lalu memeluk kaki Rangga dengan sangat erat. Tubuh kecil itu menyembunyikan wajahnya di celana Rangga yang masih basah karena keringat dan sisa hujan tadi sore.
"Rinjani sayang, nggak apa-apa kok. Ada Ayah di sini ya," bisik Rangga sambil menggendong putrinya, mencoba memberikan kehangatan di tengah badai emosi yang berkecamuk.
Laras cuma mendengus, lalu melenggang masuk ke kamar mandi tanpa peduli pada perasaan anaknya. Rangga duduk di lantai, memangku Rinjani yang masih terisak. Hati Rangga rasanya seperti disayat-sayat sembilu menatap wajah polos putrinya yang penuh luka batin itu.
"Ayah..." panggil Rinjani lirih. Suaranya kecil sekali, membuat dada Rangga makin sesak.
"Iya, Nak? Kenapa sayang?"
Rinjani menatap mata Rangga dengan tatapan sedih yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak seusianya. "Ayah, kenapa Ibu selalu marah-marah sama kita? Kenapa Ibu nggak sayang lagi sama Ayah dan Rinjani? Apa Rinjani nakal ya, Yah?"
Pertanyaan itu membuat pertahanan Rangga hancur. Air matanya yang sejak tadi dia tahan, akhirnya jatuh mengenai pipi Rinjani. Dia memeluk erat tubuh mungil itu, mencium keningnya berkali-kali. "Enggak, Nak. Rinjani anak baik sekali. Rinjani nggak salah apa-apa. Ibu cuma... Ibu cuma lagi capek kerja," dusta Rangga demi menjaga sisa-sisa citra seorang ibu di mata anaknya.
"Tapi Ayah juga capek kerja kan? Ayah pulang badannya basah, bau keringat, tapi Ayah nggak pernah marah sama Rinjani. Ayah selalu ajak Rinjani main. Kenapa Ibu beda sekali?" Rinjani terus bertanya, menatap ayahnya yang basah kuyup karena keringat dengan penuh rasa iba.
Rangga tidak tahu harus menjawab apa. Dia cuma bisa mendekap Rinjani lebih erat lagi dalam kebisuan yang menyakitkan. Di dalam hatinya, dia berjanji, apa pun yang terjadi nanti, dia tidak akan membiarkan Rinjani menderita lebih lama lagi. Pengkhianatan Laras bukan cuma menghancurkan dia sebagai suami, tapi juga menghancurkan jiwa anak mereka. Dan itu adalah dosa yang paling sulit untuk Rangga maafkan.
Malam itu, Rangga menatap pintu kamar mandi dengan tatapan yang sudah berubah. Tidak ada lagi cinta yang membara, yang tersisa cuma puing-puing kekecewaan yang sudah terlampau tinggi. Dia tahu, sebentar lagi, semua kepalsuan ini akan berakhir.
doa laki laki yang terani Aya juga bisa merubah nasibmu seperti debu
jahat selingkuh dan membiarkan suami dan Anaknya ,,