Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Pembatalan Jadwal
"Koper sudah masuk bagasi, Reza?"
"Sudah, Tuan. Kita berangkat sepuluh menit lagi."
Kairo membetulkan jam tangan, melirik tajam ke arah sofa ruang tengah. Di sana, Elena duduk santai memangku majalah bisnis, ditemani teh dan biskuit. Dia terlihat nyaman, tenang, dan... sangat tidak peduli.
Biasanya, setiap Kairo dinas luar kota, pagi akan penuh drama air mata Sora. Memeluk kaki, merengek, menyelipkan surat cinta norak. Sangat mengganggu.
Tapi pagi ini? Hening.
Elena bahkan tidak menoleh sejak Kairo turun.
"Ekhem." Kairo berdehem keras.
Elena membalik halaman majalah. Srek.
Kairo menghentakkan kaki, berhenti tepat di depan sofa, menghalangi cahaya.
"Aku berangkat sekarang," suaranya menuntut perhatian.
Elena menurunkan majalah sedikit. "Oh, sudah jam tujuh? Hati-hati. Semoga tidak delay."
Kairo tercekat. Tidak ada pelukan? Tidak ada rengekan?
"Kau tidak mau bertanya aku pergi dengan siapa?" pancing Kairo.
"Tidak perlu," jawab Elena santai, mengambil biskuit. "Reza ikut, kan? Dia pengasuh yang baik. Aku percaya dia bisa pastikan kamu tidak salah masuk kamar hotel."
Reza yang berdiri di pintu tersedak ludah.
Wajah Kairo memerah. "Aku ke Singapura untuk akuisisi penting, bukan jalan-jalan."
"Baguslah," Elena mengangguk pelan. "Berarti pulang bawa uang banyak. Ingat, Kairo, aku tidak butuh oleh-oleh tas atau cokelat. Bawa cash saja. Atau transfer. Lebih praktis."
"Uang lagi," desis Kairo sinis. "Di otakmu cuma ada uang sekarang?"
"Tentu saja. Cinta tidak bisa bayar tagihan listrik," balas Elena telak. Dia menutup majalah, tersenyum palsu. "Sudah sana berangkat. Nanti telat."
Sikap acuh tak acuh ini jauh lebih menyebalkan daripada tangisan manja. Kairo merasa tidak dianggap.
"Ayo jalan, Reza!" bentak Kairo kasar, berbalik keluar.
"Permisi, Nyonya." Reza membungkuk.
"Dah, Reza! Jaga bosmu jangan sampai gigit orang!" seru Elena riang.
Blam! Pintu utama tertutup.
Begitu suara mesin mobil menjauh, senyum palsu Elena lenyap. Dia melempar majalah, melompat bangun dengan energi meledak.
"Akhirnya! Si Tiran pergi juga!" sorak Elena, merentangkan tangan. "Tujuh puluh dua jam kebebasan!"
Elena menyambar ponsel, menelepon nomor "Laundry Kilat".
"Halo? Mbak Sarah? Ini saya, Elena... ah, Sora. Unit studio lantai dua puluh itu masih kosong? Bagus. Saya mau lihat sekarang. Saya bayar tunai di muka setahun jika cocok."
Klik.
Elena berlari kecil ke walk-in closet, menarik koper kabin perak dari rak atas.
"Mari kita lihat," gumamnya, membuka koper di karpet.
Dia memasukkan dokumen, ijazah, paspor, buku tabungan, laptop baru, setelan kerja profesional, dan kotak perhiasan darurat. Dia bersenandung lagu Queen, melempar pakaian dalam ke koper.
Apartemen itu akan jadi markas rahasianya. Tempat membangun bisnis konsultan bayangan. Tempat pelarian jika Kairo menggila.
Ziiip. Resleting tertutup mantap.
"Siap. Langkah pertama menuju kemerdekaan."
Di dalam Alphard hitam di jalan tol, suasana membeku. Reza pura-pura sibuk dengan tablet. Kairo duduk bersedekap, menatap jalan macet dengan pikiran tertinggal di rumah.
Ada yang salah. Kenapa Sora bahagia dia pergi? Kenapa senyumnya lebar sekali?
"Reza," panggil Kairo.
"Ya, Tuan?"
"Jadwal Sora hari ini apa?"
"Eh... tidak ada jadwal khusus, Tuan. Salon juga belum ada transaksi."
"Dia tidak ke salon," gumam Kairo. "Dia minta uang tunai. Oleh-oleh cash."
Kecurigaan merayap. Uang tunai tidak bisa dilacak. Apakah wanita itu butuh uang untuk kabur? Atau menemui laki-laki lain?
Pikiran itu menghantam Kairo. Laki-laki lain?
Tanpa sadar, dia membuka aplikasi CCTV Smart Home. Jantungnya berdegup kencang.
Layar ponsel menampilkan feed kamera. Ruang tamu kosong. Dapur kosong. Kairo menekan kamera lorong kamar utama.
Dia menahan napas.
Di layar kecil itu, Elena keluar dari closet. Dia sudah berganti pakaian rapi—kemeja putih, celana bahan hitam, kacamata hitam di kepala. Terlihat stunning dan siap pergi.
Tapi bukan itu yang membuat darah Kairo mendidih.
Itu benda yang diseret Elena.
Koper. Koper kabin perak.
"Dia packing..." desis Kairo, matanya melebar.
Di layar, Elena bersenandung, mengecek jam, mengetik pesan dengan senyum lebar. Senyum orang yang akan bertemu seseorang spesial. Atau senyum orang yang kabur dari penjara.
"Mau kemana kau, Sora?" geram Kairo. "Aku baru pergi sepuluh menit kau sudah menyeret koper?"
Imajinasinya liar. Bandara? Hotel? Pria asing? Rasa posesif gelap meledak di dada. Dia tidak bisa pergi ke Singapura sementara asetnya lepas kendali.
"Pak Ujang!" teriak Kairo.
"Y... ya, Tuan?"
"Kita dimana?"
"Mau masuk Gerbang Tol Cengkareng. Sebentar lagi bandara."
Plang hijau terbaca: Bandara Soekarno-Hatta 2 KM. Di ponsel, Elena sudah menyeret koper menuruni tangga, terburu-buru.
Logika bisnis Kairo mati.
"Putar balik!" perintahnya keras.
Hening.
"Maaf, Tuan?" tanya Reza mencicit. "Putar balik? Kembali ke Jakarta?"
"Iya, bodoh! Putar balik sekarang!" bentak Kairo.
"Tapi Tuan! Rapat akuisisi dengan Investor Singapura jam dua! Proyek triliunan! Tiket sudah check-in! Kita bisa kena pinalti!" Reza panik setengah mati.
"Batalkan," potong Kairo dingin, matanya terpaku pada Elena yang kini menutup pintu rumah. "Jadwal ulang. Terserah."
"Alasannya apa, Tuan? Ini bunuh diri profesional!" Reza hampir menangis.
Kairo mengangkat wajah. Tatapannya gelap, tajam, penuh obsesi irasional.
"Alasannya darurat," jawabnya datar.
"Darurat apa? Perusahaan kebakaran?"
"Lebih parah."
Kairo menunjuk layar ponsel, di mana Elena sedang mengunci gembok gerbang dengan senyum kemenangan.
"Istriku mencurigakan," kata Kairo final. "Dan aku tidak akan membiarkan dia melangkah satu meter pun keluar dari rumah itu tanpa izinku. Persetan dengan rapat. Putar balik sekarang!"
Pak Ujang membanting setir ke jalur darurat. Mobil mewah itu berbalik arah, melaju kencang membelah kemacetan, membawa CEO gila cemburu untuk menangkap istrinya yang hendak "kabur".
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪
suka banget karakter utama ceweknya kuat, pinter,dominan,
sampe bab ini, kairo belum sedominan gavin di cerita sebelah ya Thor, kesannya msh lbh dominan sora/elena
ditunggu next nya, kairo-soraelena sm kuat
semangat Thor