NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Puncak Menara dan Pilihan Sang Iblis

​Kapal induk itu tampak seperti monster baja yang tertidur di tengah gelapnya perairan internasional. Pod pelarian Aruna dan Dante ditarik perlahan oleh derek magnetik masuk ke dalam perut kapal. Di dalam ruang sempit pod tersebut, aroma keringat, darah, dan sisa ASI yang mengering memenuhi udara.

​Dante masih mendekap Aruna dan Leonardo. Napasnya berat, matanya tidak berhenti menatap pintu pod yang perlahan terbuka. Begitu pintu baja itu terlepas, selusin pria bersenjata lengkap dengan seragam abu-abu gelap—pasukan elit pribadi Dante yang paling setia, The Gray Guard—berlutut serentak.

​"Selamat datang kembali, Il Monarca," ucap pemimpin pasukan itu.

​Dante melangkah keluar, kakinya yang gemetar dipaksakan untuk berdiri tegak. Ia menyerahkan Leonardo kepada Aruna yang masih tampak syok. Pergelangan tangan kiri Aruna, yang kini polos tanpa tanda melati, terlihat sangat pucat di bawah lampu sorot hangar.

​"Bawa mereka ke dek medis," perintah Dante. "Siapa pun yang menyentuh mereka tanpa seizinku, kepalanya akan dipajang di tiang kapal."

​Dua jam kemudian, Aruna duduk di sebuah suite mewah di dalam kapal induk. Ruangan ini tidak terasa seperti kapal; lebih seperti hotel bintang lima di daratan. Leonardo sudah diperiksa oleh tim dokter terbaik dan kini sedang tertidur lelap di boks bayi kayu jati yang entah bagaimana sudah disiapkan di sana.

​Aruna mengenakan gaun sutra putih yang bersih, namun pikirannya masih tertinggal di kedalaman laut. Ia menatap tangannya. Tidak ada lagi denyut panas. Tidak ada lagi cahaya merah atau perak.

​"Terasa aneh, bukan? Menjadi manusia biasa lagi?"

​Dante masuk ke ruangan. Ia sudah berganti pakaian—kemeja hitam tanpa dasi, lengannya digulung ke atas. Luka-lukanya sudah dibalut perban, namun aura kejamnya kembali pulih seiring dengan kekuasaan yang kini kembali ke tangannya. Di tangan kanannya, ia memegang hard drive perak yang berisi data dari brankas Adrian.

​Aruna berdiri. "Kau memilikinya sekarang. Seluruh rahasia dunia bawah tanah. Seluruh daftar akun rahasia, nama politisi yang disuap, dan kunci enkripsi bank sentral."

​Dante meletakkan drive itu di meja kopi di antara mereka. "Ini adalah beratnya dunia, Aruna. Dengan benda ini, aku bisa menjatuhkan pemerintahan. Aku bisa membuat pasar saham runtuh dalam satu malam. Aku bisa menjadi penguasa tunggal yang tidak akan pernah bisa disentuh oleh The Consortium atau siapa pun."

​Aruna mendekati Dante. Ia menatap mata abu-abu pria itu yang kini memantulkan ambisi yang sangat besar. "Dan apa yang akan kau lakukan dengan benda itu? Menjadi monster yang lebih besar dari ayahmu?"

​"Aku melakukan ini untuk melindungi kita, Aruna!" suara Dante naik satu oktaf. "Tanpa kekuatan ini, kita akan selalu menjadi pelarian. Kita akan selalu diburu. Leonardo akan tumbuh di dalam bunker dan kau akan mati ketakutan setiap kali mendengar suara helikopter!"

​"Tapi data itu juga yang membuat kita diburu!" balas Aruna sengit. "Dante, dengarkan aku. Selama benda itu ada, Leonardo tidak akan pernah punya ayah. Dia hanya akan punya seorang 'Monarca' yang sibuk menjaga takhtanya. Kau ingin dia tumbuh sepertimu? Menghargai nyawa manusia hanya sebagai angka di layar komputer?"

​Dante terdiam. Ia menatap hard drive itu, lalu menatap Leonardo yang sedang bermimpi dengan tenang.

​"Marco mati untuk memberikanmu waktu, Dante. Dia memilih untuk mengakhiri siklus pengkhianatan itu dengan nyawanya. Jangan biarkan pengorbanannya sia-sia hanya untuk membuatmu menjadi tiran baru," Aruna meraih tangan Dante, menuntunnya ke arah boks bayi. "Lihat dia. Dia tidak butuh miliaran Euro. Dia butuh ayahnya bisa membawanya bermain di taman tanpa harus membawa selusin pengawal bersenjata."

​Dante menarik napas panjang. Tangan yang biasanya stabil itu tampak sedikit bergetar. "Jika aku menghancurkan ini, kita tidak punya perlindungan lagi. The Consortium akan tahu kita sudah tidak punya taring."

​"Tidak juga," Aruna tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini penuh dengan kecerdikan yang ia pelajari dari Dante. "Kau tidak perlu menghancurkannya. Kau hanya perlu mengirimkan satu 'sampel' kecil ke publik. Sebuah pesan bahwa jika terjadi sesuatu pada kita—siapa pun kita dan di mana pun kita—seluruh data ini akan terunggah secara otomatis ke setiap kantor berita di dunia."

​Dante menatap Aruna dengan takjub. "Protokol Dead Man Switch."

​"Ya. Jadikan data ini sebagai perisai, bukan sebagai pedang. Kita akan menghilang, Dante. Benar-benar menghilang. Bukan sebagai Valerius, bukan sebagai Salsabila."

​Malam itu, di tengah Samudera Hindia, sebuah peristiwa digital terbesar terjadi tanpa ada satu pun orang awam yang menyadarinya. Dante, dengan bantuan teknisi kriptografinya, menyebarkan satu dokumen kecil ke server-server utama Interpol dan CIA. Dokumen itu berisi bukti keterlibatan sepuluh bank besar dalam pencucian uang mafia.

​Bersamaan dengan itu, Dante mengirimkan pesan suara pendek ke frekuensi rahasia The Consortium:

​"Data ini sekarang berada di tangan server otonom yang akan aktif jika jantungku, jantung Aruna, atau jantung putraku berhenti berdetak secara tidak wajar. Kami sudah pensiun. Jangan cari kami, dan kami tidak akan meruntuhkan dunia kalian. Sentuh kami, dan kalian semua akan terbakar bersamaku."

​Setelah menekan tombol 'Enter', Dante mencabut hard drive itu, meletakkannya di atas meja baja, dan menghancurkannya dengan satu tembakan peluru tepat di titik pusat memorinya.

​Drive itu berasap, meleleh, dan menjadi sampah logam yang tidak berguna.

​Aruna yang berdiri di belakangnya merasa seolah-olah beban ribuan ton baru saja diangkat dari bahunya. Ia mendekati Dante, memeluk pinggang pria itu dari belakang.

​"Terima kasih," bisik Aruna.

​Dante berbalik, memeluk Aruna erat. "Aku baru saja kehilangan harta karun terbesar di dunia. Tapi kenapa aku merasa sangat kaya?"

​Aruna tertawa kecil, air mata kebahagiaan akhirnya mengalir. "Karena kau akhirnya memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan data, Dante. Kau memiliki kami."

​Di sebuah desa kecil di pesisir pantai Yunani, sebuah rumah putih dengan jendela biru berdiri tegak menghadap Laut Aegea. Tidak ada kamera keamanan yang terlihat secara mencolok, meski ada beberapa pria lokal yang selalu tampak waspada di sekitar dermaga.

​Aruna sedang duduk di teras, memandangi Leonardo yang kini sudah mulai bisa berjalan dengan langkah-langkah kecil yang lucu di atas pasir. Leonardo berteriak gembira saat ombak kecil menyentuh kakinya.

​Dante keluar dari dalam rumah, membawa nampan berisi dua gelas ouzo dan sepiring zaitun. Ia memakai pakaian nelayan biasa—kaos oblong putih dan celana pendek. Ia tidak lagi tampak seperti iblis dari Italia; ia tampak seperti seorang pria yang telah menemukan kedamaiannya.

​"Dia semakin cepat," ujar Dante sambil duduk di samping Aruna.

​"Dia mirip ayahnya," sahut Aruna.

​Leonardo berlari ke arah Aruna, merengek kecil. Meski ia sudah banyak makan makanan padat, Leonardo masih sering meminta "kedamaian" dari ibunya saat ia merasa lelah bermain.

​Aruna memangku Leonardo. Saat bayi itu mulai menyusu, Aruna menatap laut yang biru. Tidak ada lagi rasa sakit di pergelangan tangannya. Tidak ada lagi ketakutan akan penyergapan. Proses menyusui itu kini benar-benar murni—sebuah tindakan cinta antara ibu dan anak, tanpa campur tangan biometrik atau kode rahasia.

​Dante mengusap rambut Aruna, lalu mencium kening Leonardo. "Kau tahu, Silas Chen mengirimiku pesan rahasia kemarin lewat saluran aman."

​Aruna menoleh, sedikit waspada. "Apa katanya?"

​"Dia bilang, dia sudah menghapus seluruh catatan medis kita. Dia sekarang tinggal di Selandia Baru, beternak domba. Dia bilang, Adrian pasti akan kecewa karena kuncinya dihancurkan, tapi ibumu... ibumu pasti akan sangat bahagia."

​Aruna tersenyum. Ia menatap ke langit biru. Di suatu tempat di Jakarta, ibunya mungkin sedang berdoa untuk keselamatannya, tidak tahu bahwa putrinya telah menjadi pahlawan yang menghentikan kiamat ekonomi dunia bawah tanah.

​"Apa kau menyesal, Dante? Meninggalkan kekuasaan sebesar itu?"

​Dante menatap Leonardo yang kini tertidur pulas dalam dekapan Aruna, dengan sisa susu di sudut bibirnya. Ia lalu menatap Aruna, wanita yang telah mengubahnya dari seorang pembunuh menjadi seorang pelindung.

​"Kekuasaan adalah tentang apa yang bisa kau kendalikan, Aruna," ujar Dante sambil menggenggam tangan Aruna. "Dan sekarang, aku mengendalikan satu-satunya hal yang benar-benar berharga di dunia ini. Keluargaku."

​Di bawah matahari Yunani yang hangat, Aruna Salsabila menyadari bahwa perjalanan panjangnya dari seorang gadis yang diculik dari Jakarta telah berakhir. Ia bukan lagi kunci, bukan lagi tawanan, dan bukan lagi sekadar ibu susu mafia. Ia adalah Aruna—wanita yang berhasil menaklukkan kegelapan dengan kekuatan air susunya, cintanya, dan keteguhan hatinya.

​Kapal-kapal nelayan melintas di kejauhan, membawa ikan untuk pasar sore. Hidup terasa normal. Sangat normal. Dan bagi Aruna, normal adalah kemewahan yang paling indah yang pernah ia miliki.

​Di sebuah sudut gelap di Zurich, Swiss, sebuah komputer tua di ruang arsip Bank L’Etoile Noire berkedip satu kali. Sebuah folder tersembunyi berlabel "Proyek Melati - Tahap 2" terbuka secara otomatis. Di dalamnya, terdapat foto seorang bayi yang baru lahir, dengan tanda merah kecil di telapak kakinya yang berbentuk seperti bintang.

​Bukan Leonardo. Bukan bayi Valerius.

​Folder itu memiliki catatan kaki: "Subjek

​Dunia mungkin sudah merasa aman, namun rahasia Adrian Salsabila selalu memiliki lapisan kedua. Namun untuk sekarang, biarlah Aruna dan Dante menikmati kedamaian mereka. Karena suatu saat nanti, bintang itu akan mulai berdenyut, dan sejarah mungkin akan berulang kembali.

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!