Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan
Sinar matahari siang terasa hangat di kulit saat Shafira turun dari ojek online di depan rumahnya. Ia memakai masker dan topi lebar, membawa map berisi beberapa dokumen penting.
Kini rumah peninggalan almarhum kedua orang tuanya yang dulu nyaris roboh, kini sedang dalam proses pembangunan. Dinding bata mulai berdiri tegak, tukang-tukang sibuk mondar-mandir dengan semen di tangan, dan suara mesin pemotong keramik sesekali terdengar tajam memecah udara.
"Shafira, ini gambaran plafonnya diubah sedikit ya, biar ruang tamunya nggak terlalu sempit." ucap paman Ilham, tukang sekaligus merangkap menjadi mandor yang mengawasi proyek pembangunan rumahnya.
Shafira tersenyum, membuka mapnya.
"Boleh. Yang penting pencahayaan tetap bagus, dan jangan sampai kelihatan sumpek."
Ia membicarakan material, alur pembuangan air, hingga model dapur yang sesuai dengan sketsa yang ia buat sendiri. Semua dipantau dengan cermat. Ia bahkan sudah menyiapkan desain interior yang akan ia wujudkan sedikit demi sedikit setelah rumah itu berdiri.
Inilah tempat ia akan memulai dari awal.
Tempatnya akan membuktikan jika tanpa bantuan suami dan keluarganya, ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Tak ada yang tahu kalau wanita yang selama ini mereka remehkan ternyata sedang mempersiapkan pelariannya, yang akan ia buka tepat saat semuanya terungkap.
Sesekali Shafira tertawa dengan para tukang, mengelap keringaut dengan tisu. Ia merasa lebih hidup di sini. Lebih bebas.
Di rumah suaminya, ia adalah istri yang tunduk. Di sini, ia adalah pemilik. Tuan rumah. Perempuan mandiri yang sedang membangun masa depannya sendiri, tanpa menunggu siapa pun menyelamatkannya.
Pengkhianatan Aris, sekilas masih menghantui pikirannya. Tapi hari-harinya yang kini padat dengan kontrol bangunan, bisnis online, perlahan mulai menutupi luka itu.
Sudah tiga malam berturut-turut Aris pulang lewat dari pukul sepuluh malam. Kadang ia bahkan pura-pura tertidur di ruang tamu, agar tak perlu berbasa-basi dengan Shafira.
Bukan karena takut. Tapi karena malas.
Ia merasa rumahnya makin tidak nyaman. Shafira memang tetap melayaninya seperti biasa, menyediakan makan malam, menyiapkan handuk, bahkan masih menyetrika baju kerjanya.
Tapi entah kenapa, rasanya hambar. Tidak ada sensasi. Tidak ada greget. Tidak seperti saat ia bersama Fela.
Fela itu berbeda, ceria, manja, tahu kapan harus menggoda dan kapan harus mendengarkan. Dia juga tidak rewel soal uang, tidak banyak menuntut. Bahkan kadang malah mentraktir dirinya makan menggunakan gajinya sendiri.
Mereka sering nongkrong di warung ayam penyet favorit mereka dibelakang kantor, atau sekedar duduk di bangku taman sambil ngopi sachet yang di beli di minimarket.
"Mas, kamu tuh kayak beda banget kalau sama aku." ujar Fela sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Aris.
"Karena kamu itu bisa ngertiin aku. Nggak kayak di rumah." jawab Aris tersenyum.
Di matanya, Fela seperti penyegar yang selama ini tidak ia dapatkan dari Shafira. Walau kadang ia merasa bersalah, tapi itu cepat hilang ketika Fela tertawa manja atau memujinya.
Padahal jauh di dalam hati kecilnya, Aris masih mencintai Shafira. Ia bahkan sering membandingkan, bahwa meski Fela menyenangkan, tapi tidak ada yang bisa merapikan baju dan celana kantornya sebersih dan serapi yang Shafira lakukan. Tidak ada yang bisa memasak sayur asem seenak istrinya itu.
Namun, entah kenapa, otaknya tetap memilih berada di sisi Fela. Pikirannya mulai teralihkan. Pulang ke rumah terasa membosankan. Ia bahkan tidak lagi peduli ke mana Shafira pergi setiap pagi. Ia anggap istrinya hanya sibuk main handphone dan keluyuran kerumah temannya.
"Mas." panggil Fela.
"Hmm?"
"Kamu sayang sama aku, kan?"
Aris mengangguk cepat.
"Tentu dong."
Fela tersenyum, lalu perlahan-lahan duduk tegak, menatap Aris serius.
"Kalau begitu... kapan kamu nikahin aku?"
Aris mengerjapkan matanya, menoleh perlahan ke arah Fela. Tak menyangka Fela akan secepat itu menagih janjinya.
"Aku serius, Mas. Kita udah sering jalan bareng. Aku juga bukan cewek yang main-main. Aku nggak mau jadi selingkuhan kamu selamanya." tambah Fela dengan nada pelan tapi tegas.
Aris menghela napas panjang.
"Iya Fel, Mas tahu. Tapi kamu tahu kan, aku nggak bisa semudah itu ninggalin Shafira. Dia istri sah aku."
Fela menyilangkan tangan di dada dengan wajah kecewa.
"Tapi kamu bilang dia itu ngebosenin. Kamu udah nggak betah di rumah. Terus kamu mau sampai kapan kayak gini terus?"
Aris mengusap tengkuknya. Ia sebenarnya ingin segera menikah dengan Fela. Fela cantik dan menyenangkan, tapi untuk menikah lagi dalam waktu dekat. Ia belum tahu harus mengatur strategi seperti apa.
"Aku butuh waktu sebentar lagi. Aku sayang sama kamu, dan aku serius. Asal kamu sabar, aku akan cari jalan biar kita bisa segera resmi."
Fela menatapnya, setengah percaya, setengah ragu. Tapi kemudian ia mengangguk pelan.
"Oke. Tapi aku nggak mau jadi bayangan terus, Mas. Aku pengen status. Aku pengen jadi istrimu."
Aris mengangguk, padahal dalam hati ia bingung bagaimana menjelaskan semua ini pada ibunya, apalagi pada Shafira.
Malam harinya Aris memastikan Shafira sudah terlelap. Ia segera keluar dari kamar diam-diam.
Tok! Tok! Tok!
"Bu, ini Aris." Aris mengetuk pelan pintu kamar ibunya.
"Apa Ris? Kenapa malam-malam kamu cari ibu?" tanya Bu Ratna, begitu ia membuka pintu.
Aris pun menarik pelan tangan bu Ratna menuju dapur.
"Bu, Aris mau ngomong sama ibu soal Fela. Tadi Fela nanya kapan Aris mau nikahi Fela. Menurut ibu gimana?" tanya Aris berbisik sambil celingukan, memastikan tidak ada yang mendengar percakapannya.
"Ibu setuju kamu nikah sama Fela, dia jauh lebih baik dari pada Shafira, yang hanya menumpang hidup. Fela juga bisa bantu-bantu memenuhi kebutuhan kita nanti dengan gajinya. Malah ibu pengennya kamu cerai aja dari Shafira. Udahlah gak bisa kasih kamu anak, sering melawan lagi. Pasti Shafira itu mandul, makanya sampai sekarang belum hamil-hamil."
Aris pun terdiam memikirkan ucapan ibunya. Haruskah ia menceraikan Shafira? Sebenarnya Aris masih mencintai Shafira, ia juga ingin menikahi Fela, kekasihnya. Kalau istri yang satu ngambek, ia bisa ke tempat istrinya yang lain. Pikirnya
"Nanti Aris pikirkan lagi bu. Aris akan menikahi Fela dulu, kalau menurut Aris Fela lebih baik dari Shafira, Aris akan menceraikan Shafira." ucap Aris percaya diri.
"Ibu setuju, gimana kalau pernikahan kamu dan Fela di adakan dua minggu lagi. Nanti ibu yang siapkan semuanya, yang sederhana saja, kamu juga cuma nikah siri ini."
"Iya Bu, sederhana saja. Besok Aris kasih uangnya ke ibu untuk beli keperluan nikah.
Tanpa mereka sadari sedari tadi Shafira menguping semua pembicaraan Aris dan ibu mertuanya.
Dadanya bergemuruh mendengar pembicaraan suami dan mertuanya. Apalagi ketika ia dihina mandul oleh mertuanya dan sang suami diam saja seakan membenarkan. Padahal mereka tidak tahu siapa yang bermasalah, apakah dia atau jangan-jangan suaminya yang bermasalah.
Meskipun ia sudah tahu kalau suaminya memliki selingkuhan dan kemungkinan akan menikah, tetap saja hatinya terasa sakit. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak menangisi suami laknat seperti Aris.