Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:
• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.
Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.
Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. The Wolves That Wake Up
Wilayah Utara, Benteng Blackwood
Kabut pagi belum sepenuhnya terangkat ketika lonceng peringatan dibunyikan tiga kali—bukan tanda bahaya, melainkan panggilan dewan wilayah.
Para bangsawan kecil, kepala desa, dan komandan garnisun memenuhi aula batu Blackwood. Tidak ada kemewahan. Hanya meja kayu panjang, peta wilayah, dan bendera hitam berkibar tenang.
Duke Kaelen berdiri di ujung aula.
Di sisi kanannya—Anthenia.
Beberapa wajah terkejut.
Beberapa ragu.
Namun tidak ada yang berani bersuara.
“Wilayah kita diawasi,” ujar Kaelen tanpa basa-basi. “Namun Blackwood tidak goyah.”
Ia berhenti sejenak.
“Mulai hari ini,” lanjutnya,
“setiap keputusan pertahanan wilayah akan dibahas dan dijalankan bersama putriku.”
Aula terdiam.
Seorang bangsawan tua dari desa gunung berdehem. “Tuan Duke… apakah ini penunjukan resmi?”
Kaelen menoleh ke Anthenia—memberinya ruang.
Anthenia melangkah maju satu langkah.
“Ini bukan pengambilalihan,” katanya tenang.
“Ini persiapan.”
Beberapa orang saling berpandangan.
“Blackwood terlalu lama bergantung pada satu pilar,” lanjutnya. “Jika pilar itu runtuh—wilayah ikut runtuh.”
Ia menatap mereka satu per satu.
“Aku tidak berniat menggantikan Ayahku. Aku berniat melanjutkan.”
Keheningan berubah menjadi anggukan pelan.
—
Tak lama kemudian, seorang utusan berkuda tiba dari selatan, napasnya terengah.
“Surat dari Kekaisaran!” serunya.
Segel Whiston.
Kaelen membukanya, membaca cepat, lalu menyerahkannya pada Anthenia.
Isinya singkat:
Duke Kaelen Blackwood dan Lady Anthenia Blackwood
diminta hadir di Istana Araluen
dalam tujuh hari.
Atas perintah Kaisar.
Beberapa orang menarik napas.
“Pemanggilan,” gumam seseorang. “Itu perintah.”
Anthenia melipat surat itu. “Atau pengujian.”
Kaelen mengangguk. “Dan kita tidak menolak.”
—
Malam itu, di menara tertinggi Blackwood—
Kaelen berdiri bersama Anthenia, memandang wilayah utara yang gelap.
“Araluen akan mencoba menekanmu,” katanya pelan. “Dengan etiket, politik, atau perang halus.”
Anthenia menatap jauh. “Aku tidak berniat menantang tahta.”
Kaelen menoleh. “Tapi kau juga tidak akan tunduk.”
Anthenia mengangguk. “Aku akan berdiri sejajar.”
Untuk pertama kalinya, Kaelen tersenyum tanpa beban.
“Kalau ibumu masih hidup,” katanya lirih,
“dia akan bangga.”
Angin utara bertiup kencang.
Di selatan, Istana Araluen bersinar seperti emas—indah, namun rapuh.
Dan di utara,
serigala telah bangun.
Pagi berikutnya, Benteng Blackwood tidak seperti biasanya.
Gerbang dibuka lebih awal. Utusan keluar masuk membawa segel wilayah kecil—desa pegunungan, pos tambang, garnisun perbatasan. Semua meminta satu hal yang sama: kejelasan.
Di aula kecil, Anthenia duduk bersama para kepala wilayah. Bukan di kursi Duke—melainkan di kursi batu di sebelahnya. Posisi yang jelas: belum berkuasa, tapi diakui.
“Kami mendengar kabar dari Araluen,” ujar Kepala Desa Frosthollow. “Jika istana menekan Blackwood… apa sikap kita?”
Anthenia tidak langsung menjawab.
Ia membentangkan peta kasar wilayah utara.
“Blackwood tidak akan memulai konflik,” katanya. “Tapi juga tidak akan menyerahkan tanah, pajak, atau prajurit tanpa alasan sah.”
Seorang kepala tambang mengerutkan kening. “Dan jika Kaisar memaksa?”
Kaelen hendak bicara, namun Anthenia lebih dulu mengangkat tangan.
“Maka kami meminta waktu,” ujarnya tenang.
“Waktu adalah hak wilayah yang setia.”
Nada suaranya tidak tinggi—namun tegas.
“Kami tidak memberontak,” lanjutnya. “Kami bertahan.”
Satu per satu, kepala wilayah mengangguk.
—
Namun tidak semua suara sejalan.
Di sudut aula, Lord Marwick—bangsawan kecil yang lama condong ke istana—melangkah maju.
“Lady Anthenia,” katanya sopan namun tajam,
“dengan segala hormat, keberanian tidak selalu berarti kebijaksanaan. Kau muda. Baru kembali dari Araluen. Apa jaminannya kau tidak hanya… simbol?”
Beberapa orang menahan napas.
Anthenia menatapnya lurus.
“Apa kau ingin jaminan?” tanyanya.
Marwick mengangkat dagu. “Aku ingin bukti.”
Anthenia menoleh ke Komandan Rhea. “Pos Sungai Grey.”
Rhea terkejut. “Yang disusupi bulan lalu?”
“Ya.”
Anthenia kembali menatap Marwick.
“Besok pagi, aku pimpin inspeksi langsung. Tanpa pengawalan istana. Tanpa upacara.”
Beberapa wajah berubah.
“Jika pos itu aman,” lanjutnya,
“kau berdiri di belakang Blackwood.
Jika tidak—aku yang bertanggung jawab.”
Aula sunyi.
Marwick menunduk sedikit. “Aku akan menunggu.”
—
Malam hari.
Kaelen mendapati Anthenia sendirian di ruang strategi, memandangi peta Sungai Grey.
“Itu keputusan berisiko,” katanya.
“Aku tahu,” jawab Anthenia. “Tapi keraguan tidak bisa dijawab dengan kata-kata.”
Kaelen tersenyum pahit. “Kau belajar terlalu cepat.”
Anthenia menatap ayahnya. “Karena waktuku tidak banyak.”
Kaelen menghela napas pelan.
“Araluen memanggil,” katanya. “Valerius bergerak. Dan sekarang… wilayah kita mengamatimu.”
Anthenia mengepalkan tangan perlahan.
“Biarkan mereka melihat,” ujarnya.
“Bukan siapa aku—
tapi apa yang bisa kulindungi.”
Di kejauhan, sungai mengalir tenang.
Namun di bawah permukaannya, arus berubah arah.
Kabut pagi menggantung rendah di sepanjang Sungai Grey.
Airnya tampak tenang, hampir jinak. Terlalu jinak.
Anthenia berdiri di atas tebing rendah, mantel hitam Blackwood berkibar tertiup angin. Di belakangnya hanya ada lima orang—Komandan Rhea, dua pengawal wilayah, dan dua prajurit pengintai.
“Tidak ada pasukan tambahan?” tanya Rhea pelan.
“Tidak,” jawab Anthenia singkat.
“Jika ini jebakan, jumlah besar hanya membuat kita sasaran.”
Rhea mengangguk, meski jelas tidak sepenuhnya nyaman.
Mereka memasuki pos Sungai Grey.
Pintu kayu terbuka—tidak rusak, tidak terkunci. Terlalu rapi.
“Pos kosong?” gumam salah satu pengawal.
Anthenia berhenti melangkah.
“Tidak,” katanya pelan.
“Ada orang. Mereka hanya tidak bernapas.”
Semua menegang.
Ia berlutut, menyentuh tanah—bekas gesekan halus, hampir tak terlihat.
“Mayat sudah dipindahkan,” lanjutnya. “Kurang dari dua hari.”
Rhea menatapnya tajam. “Kau yakin?”
Anthenia bangkit, tatapannya dingin.
“Aku tidak menebak.”
—
Mereka bergerak lebih dalam.
Gudang senjata terbuka—setengah kosong. Bukan dijarah, tapi dipilih.
“Ini bukan perampok,” ujar Rhea. “Ini operasi.”
Anthenia mengangguk.
“Dan pelakunya ingin Blackwood terlihat lalai.”
Tiba-tiba—
Swish!
Anak panah menancap di tiang kayu, hanya sejengkal dari wajah prajurit pengintai.
“Kontak!” seru Rhea.
Anthenia tidak mundur.
“Jangan kejar,” perintahnya cepat. “Mereka ingin kita terpencar.”
Dari balik pepohonan, bayangan bergerak.
Enam… tidak—delapan orang.
Bukan seragam istana. Bukan bandit.
“Pasukan bayaran,” gumam Rhea.
Anthenia melangkah maju setengah langkah.
“Target mereka aku,” katanya tenang.
“Bukan wilayah. Bukan pos.”
Rhea hendak menahan, tapi Anthenia sudah menghunus pedang.
Gerakannya—bersih. Tanpa ragu.
Tidak seperti bangsawan.
Tidak seperti gadis delapan belas tahun.
Dua penyerang pertama jatuh bahkan sebelum Rhea sempat memberi aba-aba.
“Formasi sayap!” seru Rhea.
Namun Anthenia sudah berada di tengah.
Ia membaca arah serangan sebelum mereka bergerak—memotong jalur, memaksa musuh bertabrakan satu sama lain.
Satu tebasan.
Satu hentakan.
Satu keputusan tanpa emosi.
Dalam hitungan menit, tanah Sungai Grey sunyi kembali.
Darah meresap ke tanah, bercampur kabut pagi.
Pengawal menatap Anthenia—terdiam.
“Lady…” salah satu dari mereka berbisik. “Sejak kapan…?”
Anthenia menyarungkan pedangnya.
“Sejak dunia berhenti memaafkan yang lemah,” jawabnya datar.
—
Salah satu penyerang masih hidup.
Anthenia berlutut di depannya.
“Siapa yang mengirimmu?”
Pria itu tertawa lemah. “Kau terlalu mahal untuk dibunuh tanpa nama besar.”
Tatapan Anthenia mengeras.
“Valerius,” bisiknya. Bukan tanya—pernyataan.
Pria itu membeku sesaat. Terlambat.
Anthenia bangkit.
“Bakar pos ini,” katanya pada Rhea.
“Kita bangun ulang—dengan saksi.”
Rhea menatapnya penuh hormat.
“Wilayah akan berbicara,” katanya.
Anthenia menoleh ke sungai.
“Biarkan,” jawabnya.
“Serigala tidak meminta izin untuk bangun.”
Di kejauhan, burung-burung terbang meninggalkan pepohonan.
Dan jauh di Araluen—
Seseorang akan segera menyadari:
Anthenia Blackwood bukan lagi bidak.