NovelToon NovelToon
Ta'Aruf Terindah

Ta'Aruf Terindah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelaki yang Datang Bersama Hujan

Hujan turun perlahan di atas hamparan kebun teh Ciwidey, seolah langit sedang menurunkan tasbihnya satu per satu. Kabut menggantung rendah, memeluk perbukitan dengan dingin yang lembut. Di sebuah rumah kayu sederhana yang menghadap sawah kecil dan pohon alpukat tua, Yasmin berdiri di depan jendela, memandangi jalan setapak yang basah.

Namanya Yasmin Salsabila. Usianya baru dua puluh satu tahun. Lahir dan besar di kampung kecil di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang memegang teguh ajaran Islam ala pesantren desa—tenang, lurus, tanpa banyak teori rumit. Baginya, agama adalah tentang adab, bukan sekadar dalil.

Ibunya memanggil dari dapur.

“Yasmin, teh panasnya sudah siap. Nanti tamunya keburu datang.”

Yasmin menoleh. “Iya, Bu.”

Tamunya.

Ia menarik napas dalam-dalam. Sudah tiga hari sejak ustazahnya memberi kabar bahwa ada seorang lelaki yang ingin bertaaruf dengannya. Bukan lelaki kampung. Bukan pula santri dari pesantren sebelah. Lelaki itu datang dari Jakarta. Mualaf. Kaya raya. Dan—kata ustazah dengan nada hati-hati—memiliki darah campuran Maluku dan Belanda.

Namanya Ragnar Aditya van Der Veen.

Nama yang terasa asing di telinga Yasmin.

Ragnar.

Ia mengulangnya dalam hati. Terasa berat, seperti ombak yang menghantam karang.

________________________________________

Di saat yang sama, sebuah mobil hitam mengilap melintasi jalan berliku menuju Ciwidey. Di dalamnya, Ragnar memandangi hamparan hijau yang tak pernah ia lihat selama hidupnya.

Ia biasa melihat gedung-gedung tinggi, kaca-kaca pencakar langit, dan lampu kota yang tak pernah tidur. Ia lahir dari keluarga pengusaha besar di Jakarta. Ayahnya berdarah Belanda-Maluku, ibunya perempuan Ambon yang elegan dan modern. Sejak kecil ia dididik dalam lingkungan kosmopolitan, sekolah internasional, makan malam di hotel bintang lima.

Islam bukan bagian dari hidupnya.

Sampai tiga tahun lalu.

Sampai sebuah kecelakaan di tol Jagorawi mengubah segalanya.

Ia masih bisa mengingat bau bensin, suara klakson, dan darah yang mengalir di pelipisnya. Ia selamat. Tapi sahabatnya, Arsen—lelaki yang paling dekat dengannya—meninggal di tempat.

Di rumah sakit, dalam keadaan setengah sadar, ia mendengar suara seorang perawat membaca doa pelan. Sesuatu di dalam hatinya retak.

Dari situlah pencariannya dimulai.

Kini, di usia tiga puluh dua tahun, Ragnar adalah mualaf yang masih belajar mengeja hidupnya kembali. Ia belajar shalat dengan terbata, belajar wudhu dengan canggung, belajar membaca Al-Qur’an dengan suara yang belum fasih.

Dan hari ini, ia datang ke Ciwidey untuk satu tujuan: ta’aruf.

Ia tak ingin lagi hubungan tanpa arah. Ia sudah pernah mencintai perempuan bernama Clara—model, cantik, ambisius. Mereka hampir menikah. Tapi Clara pergi saat Ragnar memutuskan masuk Islam.

“Aku tidak mau hidupmu berubah jadi fanatik,” kata Clara waktu itu.

Ragnar hanya tersenyum pahit. Yang berubah bukan fanatiknya. Yang berubah adalah hatinya.

________________________________________

Mobil berhenti di depan rumah kayu itu. Hujan tinggal gerimis. Udara terasa dingin dan bersih.

Ragnar turun. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana bahan hitam. Tidak ada jas mahal, tidak ada sepatu kulit mengilap. Ia sengaja memilih pakaian paling biasa yang ia punya.

Seorang lelaki tua keluar dari rumah. Wajahnya teduh, bersarung dan berpeci hitam.

“Assalamu’alaikum.”

Ragnar sedikit gugup. “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”

Ia masih berusaha menyempurnakan makhrajnya.

“Ragnar?” tanya lelaki itu.

“Iya, Pak. Saya Ragnar.”

“Asep. Ayah Yasmin.”

Mereka berjabat tangan. Hangat, meski udara dingin menusuk.

Ragnar menunduk hormat. “Terima kasih sudah menerima saya.”

Asep menatapnya beberapa detik. Pandangan yang tidak tajam, tapi dalam. Seolah sedang membaca sesuatu di balik wajah asing lelaki di depannya.

“Masuklah.”

________________________________________

Yasmin duduk di ruang tengah bersama ibunya. Jilbabnya berwarna krem, sederhana. Tidak ada riasan tebal, hanya wajah alami dengan mata yang sedikit gugup.

Ketika Ragnar masuk, Yasmin tak langsung menatapnya. Ia hanya melihat sepatu hitam yang sedikit basah oleh gerimis.

“Ini Yasmin,” kata ibunya lembut.

Ragnar menoleh.

Dan waktu seakan melambat.

Yasmin tidak seperti perempuan-perempuan yang biasa ia temui di Jakarta. Tidak ada lipstik mencolok. Tidak ada parfum mahal. Tapi ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak—cara Yasmin menunduk, cara tangannya menggenggam ujung jilbab dengan sopan, cara ia tidak berusaha terlihat menarik.

Ia hanya… apa adanya.

“Assalamu’alaikum,” suara Ragnar pelan.

Yasmin menjawab, suaranya lembut, “Wa’alaikumussalam.”

Itu saja. Dua kata yang membuat ruangan terasa berbeda.

________________________________________

Percakapan dimulai dengan formalitas. Tentang pekerjaan Ragnar sebagai direktur di perusahaan keluarganya. Tentang Yasmin yang membantu ibunya membuat kue dan mengajar anak-anak mengaji di mushala kampung.

Perbedaan mereka seperti langit dan bumi.

Ragnar terbiasa berbicara tentang investasi, ekspansi bisnis, dan rapat luar negeri. Yasmin berbicara tentang panen, harga telur naik, dan anak-anak yang masih terbata membaca Iqra’.

Tapi di antara perbedaan itu, ada kesunyian yang anehnya terasa nyaman.

“Apa alasan Anda ingin ta’aruf dengan anak saya?” tanya Pak Asep tiba-tiba.

Ragnar terdiam sesaat.

Ia bisa saja menjawab dengan kalimat aman: ingin menikah, ingin menyempurnakan agama. Tapi ia tahu, lelaki di hadapannya tidak butuh jawaban klise.

“Saya takut, Pak,” katanya akhirnya.

Semua terdiam.

“Saya pernah hidup tanpa arah. Saya pernah mencintai orang yang tidak membawa saya ke mana-mana. Sekarang saya ingin hidup saya jelas. Saya ingin belajar jadi imam, walau saya masih banyak kekurangan.”

Pak Asep menatapnya dalam.

“Dan kenapa Yasmin?”

Ragnar menoleh sekilas pada gadis itu. Yasmin masih menunduk.

“Saya tidak mencari perempuan sempurna. Saya mencari perempuan yang mau berjalan bersama saya. Ustazah bilang Yasmin sederhana, dan saya… saya butuh kesederhanaan itu.”

Yasmin akhirnya mengangkat wajahnya sedikit. Untuk pertama kalinya mata mereka bertemu.

Ada sesuatu yang bergetar di dada Yasmin.

Tapi bukan hanya harap.

Ada takut.

Takut pada perbedaan. Takut pada jarak usia sebelas tahun. Takut pada dunia Ragnar yang begitu asing.

Ia tahu lelaki seperti Ragnar pasti punya masa lalu. Punya perempuan lain. Punya kehidupan yang tak pernah ia bayangkan.

Dan benar saja, Pak Asep bertanya lagi.

“Apakah kamu pernah menjalin hubungan sebelumnya?”

Pertanyaan itu seperti batu yang dilempar ke danau tenang.

Ragnar menarik napas.

“Pernah, Pak. Hampir menikah.”

Yasmin merasakan sesuatu mencubit hatinya.

“Kenapa batal?” tanya Asep lagi.

“Karena saya masuk Islam.”

Hening.

Yasmin menatapnya penuh tanda tanya.

Untuk pertama kalinya ia melihat sisi rapuh dalam diri lelaki tinggi itu. Bukan sosok kaya raya. Bukan direktur. Tapi seseorang yang kehilangan.

Dan entah kenapa, Yasmin merasa… iba.

________________________________________

Di luar rumah, hujan berhenti sepenuhnya. Kabut perlahan naik, memperlihatkan puncak bukit yang tersembunyi sejak pagi.

Tapi di dalam ruangan itu, kabut justru mulai turun—kabut perasaan yang belum jelas bentuknya.

Yasmin belum tahu bahwa kedatangan Ragnar bukan hanya tentang ta’aruf.

Ia belum tahu bahwa keluarga besar Ragnar tidak akan mudah menerima gadis desa tanpa gelar.

Ia belum tahu bahwa Clara belum sepenuhnya pergi dari hidup Ragnar.

Dan Ragnar pun belum tahu bahwa Yasmin menyimpan rahasia tentang masa kecilnya—tentang seorang lelaki asing yang pernah menolongnya bertahun-tahun lalu di Bandung… lelaki yang namanya hampir sama dengan seseorang dari masa lalu Ragnar.

Takdir sedang menulis sesuatu.

Dan hari ini hanyalah awal.

Di antara hujan Ciwidey dan doa-doa yang menggantung di langit, dua hati yang berbeda dunia mulai saling mendekat—tanpa tahu badai apa yang menunggu di depan.

1
Alvaraby
namanya juga novel 🤣
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
bukannya kecelakaan motor????
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
kok mbulet y thor,,,,kan diawal sudah dijelaskan masa lalu yang hampir menikah namanya Clara,,,,awal awal ceritanya bagus pertengahan kok mbulet gini????
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
Clara gak ada nyerah nyerahnya y
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
lanjut,,,,,😍😍😍😍😍😍
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
penasaran lanjut,,,
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
masa SMP udah gak ingat wajahnya Yasmin???
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
kata katanya tertata rapi banget thor,,,, lanjut semangat berkarya 💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!