Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duel Memperebutkan Cinta
Sonia berdiri di samping Banyu dengan wajah merah padam seperti kepiting rebus. Dia masih mencubit pinggang Banyu (sebagai pelampiasan rasa malunya), tapi dia tidak mendorong Banyu menjauh. Dia justru bersandar di bahu Banyu, secara tak sadar mencari perlindungan.
Pemandangan itu membuat Raka meledak.
"BANGSAT!" Raka membanting mik ke lantai. DENGUNG!
"Gue nggak peduli lo siapa!" teriak Raka tanpa mik, tapi suaranya menggelegar. "Gue anak orang kaya! Bapak gue donatur kampus ini! Gue bisa kasih Sonia masa depan cerah! Emang lo bisa apa?! Lo kerja apa hah?! Paling cuma karyawan gaji UMR!"
Banyu mengorek kupingnya santai. "Duh, klise banget sih. Kalah saing kok bawa-bawa duit Bapak."
Banyu tersenyum tenang. "Gue? Gue cuma Petani. Tiap hari nyangkul di sawah."
"PETANI?!"
Raka tertawa terbahak-bahak, tawa yang penuh penghinaan. "Hahaha! Denger tuh Son! Cowok lo cuma tukang pacul! Lo nolak gue demi gembel tanah?!"
Para penonton mulai kasak-kusuk. Ada yang kecewa, ada yang bingung. Sonia kan primadona, masa pacarnya petani biasa?
Tapi Rina, sahabat Sonia yang ada di barisan depan penonton, tidak terima. Darah Bataknya mendidih melihat Banyu dihina.
"HEH RAKA! Jaga mulut lo!" Rina berteriak lantang, membela sahabatnya.
"Asal lo tahu ya! Petani yang lo hina itu, kemarin di Bandung baru aja transaksi bisnis Enam Ratus Juta Rupiah dalam dua puluh menit! Itu hasil keringet dia sendiri, bukan duit Bapaknya kayak lo!"
DUAR!
Pernyataan Rina seperti bom atom kedua yang jatuh di gedung itu.
"Hah? Enam ratus juta?"
"Dua puluh menit?"
"Itu petani apa tuyul?"
Pandangan mahasiswa pada Banyu langsung berubah 180 derajat. Dari tatapan meremehkan menjadi tatapan penuh kekaguman (dan kalkulasi materi).
Raka terdiam seribu bahasa. Wajahnya pucat pasi. Dia baru saja pamer kekayaan bapaknya, tapi lawannya ternyata Self-Made Millionaire muda. Malunya sampai ke ulu hati.
Banyu hanya tersenyum tipis, tidak membantah ucapan Rina. Dia menarik tangan Sonia.
"Yuk, Son. Cabut. Di sini bau orang sombong," ajak Banyu.
Sonia mengangguk cepat, ingin segera pergi dari pusat perhatian ini.
Tapi Raka tidak rela. Egonya sudah hancur lebur, dia tidak bisa membiarkan Banyu pergi begitu saja dengan kemenangan mutlak.
"BERHENTI!"
Raka melompat turun dari panggung, menghadang jalan mereka. Matanya merah menyala penuh kebencian.
"Lo pikir lo bisa pergi gitu aja setelah ngerusak acara gue?" geram Raka.
"Terus lo mau apa? Mau nangis?" tanya Banyu bosan.
"Lawan gue!" tantang Raka sambil menunjuk matras karate. "Kita duel jantan! Di atas matras! Pake aturan Karate atau bebas terserah lo!"
Banyu menghela napas panjang. "Yaelah... masih aja ngajak berantem. Lo kira ini film action?"
"Kenapa? Takut lo?!" Raka memprovokasi. "Gini aja taruhannya: Siapa yang menang, dia yang pantes jagain Sonia! Yang kalah harus pergi jauh-jauh dan jangan pernah deketin Sonia lagi! Berani nggak lo?!"
Banyu menatap Raka dengan tatapan kasihan.
Duh, ni anak bener-bener minta digebuk. Harimau lagi tidur malah dibangunin. Dikira gue Garfield kali ya?
Banyu melepaskan rangkulannya di pinggang Sonia, lalu menatap Raka dingin.
"Oke. Gue terima tantangan lo."
Banyu maju selangkah, aura intimidasi menyebar darinya.
"Tapi inget satu hal, Bro. Jangan nyesel kalau nanti lo yang malu dua kali lipat."
"Halah, paling lo cuma omdo (omong doang)!"
Raka mencibir melihat Banyu yang santai melepas jaketnya. Di mata Raka, Banyu yang bertubuh biasa-biasa saja bukanlah tandingannya. Raka sudah berlatih Karate sejak SMA, sudah sabuk hitam Dan-1. Dia yakin bisa melumpuhkan petani kampung ini dalam satu serangan.
"Son, tolong pegangin jaket gue," kata Banyu sambil menyerahkan jaket bomber-nya ke Sonia.
Sonia menerima jaket itu dengan wajah cemas. "Nyu... lo yakin? Raka itu juara provinsi lho. Pukulannya keras banget."
"Tenang. Tulang gue dari beton," canda Banyu sambil mengedipkan mata, lalu berjalan santai naik ke atas matras.
Dia bahkan tidak melepas sepatunya, apalagi pasang kuda-kuda. Banyu hanya berdiri tegak dengan kedua tangan di samping, persis orang yang lagi antre sembako.
Sikap "meremehkan" ini membuat Raka mendidih.
"BANGSAT! MATI LO!"
Tanpa aba-aba wasit, Raka langsung menyerang.
Dia melancarkan chudan-zuki (pukulan lurus ke arah ulu hati) dengan kecepatan penuh. Pukulan ini adalah andalannya, yang tadi membuat lawannya di final muntah-muntah.
Semua penonton menahan napas.
WUSH!
Banyu hanya menggeser badannya sedikit ke kiri. Pukulan Raka meleset, hanya mengenai angin.
"Lo mukul apaan? Nyamuk?" sindir Banyu.
Raka makin emosi. Dia memutar badan dan melancarkan tendangan mawashi-geri (tendangan memutar) ke arah kepala Banyu.
PLAK!
Banyu menepis kaki Raka dengan tangan kirinya, santai seperti menepis lalat.
"Masih kurang cepet, Dek. Latihan lagi sana," ejek Banyu.
Raka meraung marah. Dia kehilangan akal sehat. Dia melupakan teknik karate yang indah, dan beralih ke serangan brutal jalanan. Dia melancarkan tendangan depan (mae-geri) sekuat tenaga, mengarah langsung ke dada Banyu.
Kali ini, Banyu tidak menghindar. Dia diam di tempat, membusungkan dadanya.
BUGH!
Suara benturan keras terdengar di seluruh gedung. Kaki Raka menghantam dada Banyu telak.
"BANYU!" teriak Sonia histeris.
Semua orang mengira Banyu akan terpental dan patah tulang rusuk.
Tapi kenyataannya?
Banyu tidak bergeming sedikitpun. Kakinya menancap di matras seperti paku bumi. Tubuhnya bahkan tidak goyah.
Sebaliknya, Raka malah terpental mundur dua langkah karena recoil (gaya tolak balik) dari tendangannya sendiri. Kakinya terasa kesemutan seolah baru saja menendang tiang listrik beton.
Banyu menepuk-nepuk dadanya yang terkena tendangan, seolah membersihkan debu.
"Cuma segitu power-nya?" tanya Banyu dengan nada kecewa yang dibuat-buat. "Pijetan Mbak-mbak spa langganan gue lebih berasa daripada tendangan lo."
Wajah Raka merah padam menahan malu dan sakit. Dia merasa dipermainkan. Egonya sebagai jagoan kampus hancur lebur.
"ANJING! MATI LO!"
Raka kehilangan kendali. Dia melupakan sportivitas. Dia berlari menerjang, lalu melancarkan tendangan kin-geri (tendangan ke arah selangkangan).
Serangan pengecut yang dilarang keras dalam pertandingan resmi. Tujuannya jelas: Menghancurkan masa depan Banyu.
"LICIK!" teriak penonton serempak.
Tapi di mata Banyu yang refleksnya sudah ditingkatkan Cairan Ajaib gerakan Raka terlihat slow motion.
Wah, ni bocah beneran mau bikin gue mandul. Jahat bener, batin Banyu.
Banyu tidak tinggal diam. Saat kaki Raka meluncur ke arah "aset"-nya, Banyu mengangkat kakinya sendiri dan menahan tendangan itu di udara.
TAK! (Benturan tulang kering).
"ARGH!" Raka menjerit kesakitan. Tulang keringnya serasa retak menghantam tulang Banyu yang sekeras baja.
Belum sempat Raka menarik kakinya, tangan Banyu bergerak secepat kilat.
Dia mencengkeram pergelangan kaki Raka, lalu menariknya mendekat. Tangan kirinya mencengkeram kerah baju karate Raka.
"Sekarang giliran gue ya, Dek," bisik Banyu dingin.
Dengan satu gerakan memutar pinggang yang luwes, Banyu mengangkat tubuh Raka yang seberat 70 kg itu ke udara. Seperti memutar karung beras.
WUUUNG!
Banyu memutar tubuh Raka di udara satu putaran penuh (gaya Human Helicopter), lalu melepaskannya ke arah tumpukan matras cadangan di pinggir arena.
"TERBANG LAH KAU!"
Raka melayang di udara tanpa daya, berteriak panik, sebelum akhirnya...
BRAK!
Dia mendarat dengan posisi tidak elit di tumpukan matras. Meskipun empuk dan tidak mematikan, tapi guncangannya cukup membuat isi perut Raka terkocok. Dia mengerang kesakitan, tidak sanggup bangun.
Gedung Bale Santika hening sejenak.
Lalu... meledaklah tepuk tangan riuh.
"GILA! DILEMPAR KAYAK BANTAL!"
"ANJIR, KELAMAAN MACUL JADI KUAT!"
"ITU KEKUATAN APAAN WOY?!"
"FIX! GUE NGE-FANS SAMA MAS PETANI!"
Para mahasiswa khususnya cowok-cowok yang selama ini muak dengan arogansi Raka bertepuk tangan paling kencang. Raka si penindas akhirnya kena batunya.