Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telapak Kehampaan Retak!
Ye Chenxu melangkah keluar dari kegelapan gua, berdiri di samping Luo Yan. Aura Pembentuk Intinya kini jauh lebih padat, menekan udara di sekitarnya.
"Aku sudah menduganya," jawab Ye Chenxu dingin. "Begitu ibuku bebas, mereka kehilangan alat tawar terakhir. Sekarang, satu-satunya cara mereka mempertahankan martabat adalah dengan membakar seluruh dunia hanya untuk menemukan satu orang."
Luo Yan menatap Ye Chenxu dalam-dalam, matanya menyimpan kekhawatiran yang jarang ia tunjukkan.
"Kau sadar apa artinya ini, kan? Raja Wilayah ... sosok seperti Cao Tianxu ... mereka tidak akan lagi duduk di singgasana. Mereka akan turun tangan sendiri."
Ye Chenxu menatap cakrawala yang memerah, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang penuh dengan tantangan maut.
"Aku justru menunggu itu. Jika aku harus menghancurkan Paviliun Darah, aku harus memulainya dari kepala ularnya."
Keesokan harinya, Luo Yan menerima pesan darurat melalui jimat transmisinya. Wajahnya memucat.
"Pasukan Paviliun Darah telah menemukan markas rahasia utama Paviliun Senyap," lapornya dengan suara gemetar. "Mereka menyerbu Lembah Besi Hitam. Mereka tidak menahan tawanan, tapi membantai semua orang."
Ratusan kultivator intelijen dan pembunuh bayaran yang setia pada Luo Yan tewas hanya dalam satu jam pertama pertempuran. Lembah itu kini menjadi tungku pembakaran bagi rekan-rekannya.
Luo Yan mengepalkan tangan hingga kukunya menusuk daging.
"Ini peringatan untukmu, Chenxu. Mereka tahu kita berhubungan. Mereka membantai orang-orangku hanya untuk memaksamu keluar dari persembunyian."
Ye Chenxu berdiri, auranya meledak hebat hingga dinding gua retak.
"Mereka ingin aku keluar?" ia bertanya dengan suara yang sangat rendah namun mematikan. "Kalau begitu, aku akan memenuhi undangan itu dengan bunga yang berlumuran darah."
Setelah terjadi penyerangan, kini Lembah Besi Hitam telah berubah menjadi pemandangan neraka. Tanah yang biasanya hitam kini becek oleh darah segar.
Formasi pertahanan yang hancur berkilauan di udara, sementara teknik-teknik elemen meledak di setiap sudut, menciptakan raungan dan jeritan yang memekakkan telinga.
Ye Chenxu melangkah masuk ke pusat kekacauan itu tanpa keraguan sedikit pun. Ia tidak lagi menggunakan Langkah Sunyi, sebaliknya, dia melepaskan seluruh aura Pembentuk Inti miliknya.
Gelombang tekanan hitam terpancar dari tubuhnya, membuat kultivator tingkat rendah dari Paviliun Darah langsung ambruk dengan paru-paru yang terasa terhimpit.
"Dia muncul! Bayangan Kehampaan ada di sini!"
Teriakan panik dan antusiasme yang haus darah bergema. Ribuan mata kini tertuju padanya. Namun Ye Chenxu tidak berhenti. Menggunakan Langkah Kehampaan Tipis, tubuhnya mengabur, melintasi jarak puluhan meter dalam sekejap mata.
Ia menembus formasi musuh seperti pisau panas menembus mentega. Telapak tangannya menghantam udara.
"Telapak Kehampaan Retak!"
Ledakan energi hitam murni meletus di tengah kerumunan. Tiga ahli Pembentuk Inti yang mencoba menghalangi jalan langsung hancur berkeping-keping bersama inti spiritual mereka. Namun, balasan dari Paviliun Darah datang secepat kilat.
Seorang ahli Transformasi Roh tahap awal menerjang dari langit, pedang besarnya diselimuti api darah yang membelah udara. Ye Chenxu mengangkat lengannya untuk menangkis, namun kekuatan fisik lawan terlalu besar.
Ia terlempar menghantam pilar besi, tulang rusuknya retak, dan darah segar memuncrat dari mulutnya.
Sambil menahan rasa sakit, Ye Chenxu memutar tubuhnya di udara, memaksa intinya berputar hingga mencapai batas limit.
"Langkah Bayangan Kehampaan!"
Ia menghilang tepat sebelum pedang kedua memenggal lehernya, lalu muncul secara mustahil di belakang punggung sang Transformasi Roh. Pisau energi yang tajam terbentuk di telapak tangannya, menusuk ke arah titik buta lawan.
Namun, Transformasi Roh itu adalah veteran perang. Ia meraung, memutar tubuhnya dengan kecepatan luar biasa, dan menghantamkan lututnya tepat ke dada Ye Chenxu.
Benturan itu begitu keras hingga Ye Chenxu merasa jantungnya hampir berhenti berdetak.
Dunia di sekitar Ye Chenxu seolah-olah mulai berputar dan memudar. Suara pertempuran di sekelilingnya menjauh, digantikan oleh denging di telinga dan detak jantungnya sendiri yang tidak beraturan. Ia tergeletak di tanah, menatap langit yang memerah.
Di tengah ambang kekalahan itu, Roh Dewa Kehampaan kembali berbicara dengan nada dingin yang memaksa.
"Gunakan fragmen hukum yang kau serap tempo hari. Jangan hanya meminjam kekuatannya, paksa ia untuk membentuk domainmu sendiri. Sekarang atau kau akan menjadi debu di lembah ini!"
Ye Chenxu menggertakkan gigi, memaksa sisa-sisa energi di Dantiannya untuk mengalir ke arah fragmen hukum yang tertanam di intinya. Fragmen itu bergetar hebat dan mengeluarkan frekuensi yang membelah ruang.
Pola baru terbentuk di dalam pikirannya—sebuah jurus sederhana namun memiliki daya rusak yang mengerikan.
"Domain Retak Mini!"
Seketika, udara di sekeliling Ye Chenxu dalam radius lima meter runtuh ke dalam. Tekanan ruang menjadi tidak masuk akal, menciptakan efek vakum yang menghimpit segala materi.
Ahli Transformasi Roh yang baru saja akan memberikan pukulan terakhir mendadak terhenti.
Ekspresinya berubah dari kemenangan menjadi teror murni saat ia menyadari bahwa ruang di sekelilingnya sedang merobek dagingnya.
Dalam satu tarikan napas, tubuh ahli Transformasi Roh itu terkoyak-koyak oleh distorsi ruang, hancur menjadi kabut darah yang menyembur ke segala arah.
Keheningan singkat namun mencekam menyelimuti medan tempur. Semua orang berhenti bergerak, menatap pemuda yang berdiri di tengah kawah distorsi itu dengan napas terengah-engah.
Jauh di atas bukit yang menghadap ke Lembah Besi Hitam, seorang pria misterius mengenakan topeng emas menyaksikan seluruh kejadian itu melalui cermin proyeksi energi.
Aura seorang Raja Wilayah mengalir samar namun stabil di sekitarnya.
"Menarik ..." gumamnya, jari-jarinya mengetuk sandaran kursinya. "Bocah ini ... dia bukan lagi sekadar bidak yang digerakkan oleh nasib. Dia mulai membentuk nasibnya sendiri."
Ia mengangkat tangannya sedikit, memberikan isyarat kepada bawahannya yang berdiri di belakang.
"Suruh pasukan Paviliun Darah untuk mundur. Jangan buang lebih banyak nyawa ahli hari ini."
Bawahan itu terkejut. "Tapi Tuan ... kita hampir menangkapnya! Kenapa membiarkannya hidup?"
Pria bertopeng emas itu tersenyum dingin di balik topengnya.
"Jika dia mati sekarang, permainan ini akan menjadi terlalu membosankan. Aku ingin melihat sejauh mana ia bisa memanjat. Lagipula ... biarkan Cao Tianxu yang merasa pusing dengan kerugian ini."
Malam akhirnya turun, namun Lembah Besi Hitam tidak lagi sunyi. Lembah itu kini menjadi pemakaman massal yang dipenuhi mayat dan senjata yang patah.
Darah mengalir di antara celah-celah batu seperti sungai kecil yang mengerikan.
Ye Chenxu duduk terengah-engah di atas bongkahan batu runtuh, jubahnya compang-camping dan tubuhnya dipenuhi luka sayat maupun lebam.
Namun, matanya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Kultivasinya telah stabil sepenuhnya di ambang Pembentuk Inti Tahap Menengah.
Luo Yan mendekat perlahan, langkahnya masih sedikit goyah karena cederanya sendiri. Ia menatap Ye Chenxu dengan campuran rasa hormat dan ngeri.
"Mulai hari ini, Ye Chenxu ... namamu akan mengguncang seluruh Dunia Bawah. Tidak akan ada lagi tempat untukmu bersembunyi sebagai orang biasa."
Ye Chenxu menatap langit Dunia Bawah yang kini perlahan kembali kelabu. Ia memikirkan ibunya, memikirkan Luo Yan, dan memikirkan jalan berdarah yang masih membentang di depannya.
"Ini baru pembukaan, Senior Luo Yan," bisiknya, suaranya tenang namun mengandung janji kehancuran. "Perang yang sebenarnya ... baru saja dimulai."
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya