NovelToon NovelToon
Benih Kesalahan Satu Malam

Benih Kesalahan Satu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senimetha

Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elisa-2

Udara panas Jakarta seolah membakar aspal saat Elisa menghentikan motornya di depan sebuah restoran Jepang ternama. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena helm, lalu mengecek ponselnya sekali lagi.

"Pesanan atas nama Bapak Rendy. Sushi Set Premium. Oke, ayo semangat Elisa! Ini ongkirnya setara makan tiga harimu sama Aris," bisiknya menyemangati diri sendiri.

Setelah menunggu sekitar lima belas menit, seorang pelayan keluar membawa tas kertas mewah dengan logo emas. Elisa menerimanya dengan hati-hati seolah barang itu terbuat dari kaca.

"Hati-hati, ya Mbak. Ini pesanan khusus untuk tamu di Grand Aurora," ujar pelayan itu.

"Siap, Mas. Aman pokoknya di tangan saya!" jawab Elisa dengan senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

Di perjalanan, pikiran Elisa melayang pada Aris. “Nanti pulang sekolah, aku belikan Aris susu kotak yang cokelat. Dia pasti senang,”batinnya. Ia tidak menyadari bahwa di gedung tinggi yang ia tuju, sebuah skenario gelap sedang berjalan.

*****

Sedangkan di posisi Kalandra, ia sedang duduk dengan wajah kaku di hadapan seorang pria paruh baya bernama Pak Danu, salah satu rekan bisnis ayahnya yang sangat ambisius. Di sana juga ada dua sahabat Kalandra yang merupakan direktur di divisi berbeda. Gery yang hobi melawak, dan Bimo, yang lebih tenang namun tajam.

"Lan, ayolah. Proyek pembangunan di Bali ini butuh persetujuan cepat. Minum dulu, jangan tegang begitu," ujar Pak Danu sambil menyodorkan segelas minuman berwarna amber.

Kalandra menatap gelas itu dingin. "Saya tidak minum alkohol saat jam kerja, Pak Danu."

"Ah, ini cuma jus buah dengan sedikit soda. Masa kamu tidak menghargai orang tua?" Danu tertawa kecil, meski matanya berkilat licik.

Gery menyikut lengan Kalandra. "Sudahlah Lan, minum saja sedikit. Biar kerutan di dahimu hilang. Kau tahu, kalau kau terus cemberut begitu, para staf wanita di kantor akan mengira kau itu jelmaan patung beton."

"Diam kau, Ger," desis Kalandra. Namun, untuk menghormati rekan ayahnya, Kalandra akhirnya meraih gelas itu dan meminumnya hingga setengah.

Bimo, yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Pak Danu, merasa ada yang aneh. "Pak Danu, tumben sekali Anda sangat bersemangat menjamu kami di sini?"

"Tentu saja, Bimo. Kesuksesan Mahendra Group adalah kesuksesan kita semua," jawab Danu santai.

Beberapa menit berlalu. Kalandra tiba-tiba merasa suhu tubuhnya meningkat drastis. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik.

"Lan? Kamu oke? Wajahmu terlihat merah sekali," tanya Gery, mulai cemas.

"Aku... aku merasa gerah. Aku perlu ke kamar sebentar untuk cuci muka," ucap Kalandra dengan suara yang mulai berat.

"Mau kami antar?" tanya Bimo sigap.

"Tidak perlu. Aku bisa sendiri," tolak Kalandra tegas. Ia berdiri, namun kakinya terasa sedikit lemas. Dengan sisa kesadarannya, ia melangkah menuju lift, tanpa menyadari bahwa Pak Danu memberikan kode kepada seseorang di sudut ruangan.

Disisi Elisa, ia baru saja sampai di lobi mewah Grand Aurora. Ia terpaku sejenak melihat kemegahan lantai marmer dan lampu kristal yang menggantung indah. Dengan langkah canggung, ia mendekati meja resepsionis.

"Selamat siang, Mbak. Saya kurir makanan untuk kamar 1001," ujar Elisa sopan.

Resepsionis itu melihat Elisa dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan sedikit merendah, namun tetap profesional. "Kamar 1001 ada di lantai 10. Silakan gunakan lift khusus tamu di sebelah kiri."

"Terima kasih, Mbak."

Elisa melangkah menuju lift. Saat pintu lift terbuka, ia masuk ke dalam. Di saat yang bersamaan, di lantai yang berbeda, Kalandra juga memasuki lift menuju lantai yang sama.

Kalandra merasa kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya mulai kabur, dan setiap kali ia bernapas, dadanya terasa terbakar. “Apa yang telah di campur di dalam minuman itu?” pikirnya geram. Ia tahu ia dijebak, tapi efek obat itu lebih kuat dari pertahanan mentalnya.

Pintu lift berdenting. Lantai 10.

Elisa keluar lebih dulu. Ia mencari nomor kamar 1001. Koridor itu sunyi, dilapisi karpet tebal yang meredam suara langkah kakinya.

"1001... 1001... ah, ini dia!" seru Elisa pelan.

Ia menekan bel. Tidak ada sahutan. Ia mencoba mengetuk.

"Permisi, paket makanan!"

Tiba-tiba, pintu terbuka sedikit. Rupanya pintu itu tidak tertutup rapat sejak awal. Elisa ragu. "Permisi? Bapak Rendy? Ini pesanannya!”

Karena tidak ada jawaban dan ia takut pesanannya diambil orang jika ditinggal di lantai, Elisa memberanikan diri mendorong pintu lebih lebar. "Pak? Saya masuk ya? Saya taruh di meja ya, pak?"

Di dalam kamar yang temaram, Elisa hanya melihat bayangan besar seseorang yang duduk di tepi tempat tidur dengan napas memburu.

"Pak Rendy? Ini sushi-nya..."

Suara Elisa terhenti saat sosok itu berdiri. Itu bukan Pak Rendy yang ia bayangkan sebagai pria tua. Itu adalah seorang pria muda dengan tatapan mata yang liar dan penuh gairah yang menyakitkan.

Kalandra tidak lagi bisa melihat siapa yang datang. Yang ia tahu, aroma harum dari gadis itu seolah menjadi penawar bagi rasa terbakar di tubuhnya.

"Keluar..." suara Kalandra parau, mencoba mengusir Elisa demi keamanan gadis itu. "Pergi... sekarang!"

Namun, Elisa yang polos justru mendekat karena mengira pria itu sedang sakit. "Bapak kenapa? Bapak sakit? Perlu saya panggilkan dokter?"

Tangan Elisa menyentuh lengan Kalandra yang panas seperti bara api. Sentuhan itu menjadi pemicu ledakan yang tidak bisa lagi ditahan oleh Kalandra.

"Sudah kukatakan... pergi," gumam Kalandra, namun tangannya justru menarik pinggang Elisa dengan kasar hingga gadis itu menabrak dadanya yang bidang.

"Bapak! Apa yang Bapak lakukan?! Lepas!" teriak Elisa ketakutan.

Pintu kamar itu tertutup secara otomatis dengan bunyi klik yang dingin, mengunci takdir mereka berdua di dalam kegelapan.

🍂🍂🍂

Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan ya🙏🏻🙏🏻

1
Edi
semoga si danu cepat ketangkap dan bebi tripel lahir dengan selamat
tamara.nietzsche
Saling dukung ya! The Mansion😍🙏
tamara.nietzsche
Cerita yang kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!