Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benalu
Yumna yang sedang mengambil roti tawar tiba-tiba menghentikan tangannya. Ia menyadari sesuatu yang mencolok. "Lho, Mas... telinga Mas kenapa?"
"Kenapa?" tanya Evander dingin, suaranya lebih serak dari biasanya.
"Itu... telinga yang sebelah kanan. Kok merah banget? Terus kayak ada bekas... eh, Mas habis digigit nyamuk raksasa ya? Atau Mas habis kejepit pintu?" Yumna mencondongkan tubuhnya ke arah meja, mencoba mengamati telinga Evander lebih dekat.
Evander refleks memundurkan kursinya. "Jangan dekat-dekat."
"Ih, beneran Mas! Itu merah banget kayak stroberi matang. Sini aku liat, siapa tahu infeksi. Mas kan kulitnya sensitif kayak bayi," Yumna masih berusaha meraih telinga itu.
"Yumna, berhenti," geram Evander sambil menangkap pergelangan tangan istrinya. Matanya menatap tajam ke dalam mata Yumna. "Kamu benar-benar tidak ingat apa yang kamu lakukan semalam setelah kita sampai di rumah?"
Yumna mengerjapkan mata berkali-kali. Otaknya berputar mencoba memutar memori semalam. "Semalam? Anu... seingatku aku ketiduran di mobil pas kita lagi bahas berita viral itu. Terus... eh, kok aku bangun-bangun udah di kasur ya? Mas yang gendong aku?"
"Menurutmu siapa lagi? Robot Vera?"
"Wah, Mas baik banget!" Yumna tersenyum lebar. "Makasih ya sudah digendong. Tapi itu nggak ngejawab kenapa telinga Mas merah begitu. Apa Mas jatuh pas gendong aku? Mas keberatan ya? Makanya, Mas, jangan kebanyakan makan gengsi, biar kuat gendong istri."
Evander melepaskan tangan Yumna dengan kasar, lalu ia berdiri. Ia mendekat ke arah Yumna, membungkuk hingga wajah mereka sejajar. "Telinga saya merah karena semalam ada 'predator' tengil yang mengira telinga saya adalah permen Yupi. Dia menggigitnya, mengulumnya, dan... membuat saya harus mandi air dingin jam dua pagi."
Yumna tertegun. Detik pertama, ia bingung. Detik kedua, ingatannya tentang mimpi permen kenyal itu muncul. Detik ketiga, wajahnya berubah semerah tomat rebus.
"A-aku... aku gigit telinga Mas?" cicit Yumna dengan suara yang mendadak hilang.
"Bukan cuma gigit. Kamu menikmatinya," bisik Evander dengan seringai tipis yang sangat berbahaya. "Jadi, sebagai kompensasi atas gangguan tidur saya semalam, hari ini kamu harus ikut saya ke kantor pusat. Kita akan melakukan konferensi pers untuk meluruskan berita viral itu."
Yumna menelan ludah. "Konferensi pers? Tapi Mas, kalau aku khilaf lagi pas ada kamera gimana?"
Evander merapikan kerah baju Yumna dengan gerakan perlahan yang terasa sangat intim. "Kalau kamu khilaf di depan kamera, saya pastikan berita besok pagi bukan lagi soal warisan, tapi soal betapa agresifnya Nyonya Moreno di depan publik. Paham?"
Yumna hanya bisa mengangguk kaku. Aduh Yumna, mulutmu emang harus disekolahin! Kenapa juga harus telinga si Kulkas yang dimakan!
Gedung pusat Moreno Group pagi ini sudah dikepung oleh lautan wartawan. Lampu flash kamera menyambar-nyambar seperti petir di siang bolong. Yumna yang berjalan di samping Evander merasa seperti narapidana yang hendak dieksekusi, padahal penampilannya sangat memukau dengan dress brokat modern dan kalung berlian yang semalam diberikan Kakek.
"Mas... tanganku dingin banget," bisik Yumna saat mereka berdiri di balik tirai panggung aula.
Evander tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih tangan Yumna, lalu menautkan jari-jarinya di sela jari wanita itu. Genggamannya sangat kuat dan hangat. "Tetap di samping saya. Jangan bicara kecuali saya beri kode. Mengerti?"
Yumna mengangguk kaku. Saat mereka melangkah keluar, kebisingan itu memuncak.
"Pak Evander! Benarkah ini pernikahan kontrak demi mengamankan posisi Anda di dewan direksi?"
"Nyonya Yumna, apa tanggapan Anda mengenai tuduhan gold digger yang viral semalam?"
Evander duduk dengan tenang, sementara Yumna duduk di sampingnya sambil berusaha tidak terlihat seperti orang yang ingin kabur lewat pintu belakang. Mahesa, sang asisten, membuka sesi tanya jawab.
Seorang wartawan dari media online yang paling berani berdiri. "Pak Evander, ada bukti foto yang menunjukkan istri Anda sedang menatap perhiasan keluarga Moreno dengan cara yang tidak biasa. Banyak yang berasumsi bahwa ini hanyalah pernikahan transaksional. Apakah Anda bisa membuktikan bahwa ini murni karena cinta?"
Evander terdiam sejenak. Ia melirik Yumna yang tampak tegang, lalu kembali menatap ke depan dengan sorot mata yang mengintimidasi.
"Pernikahan transaksional?" Evander mengulang kalimat itu dengan nada rendah. "Di dunia saya, semua hal memang bisa dianggap transaksi. Namun, untuk wanita di samping saya ini..."
Evander tiba-tiba menarik kursi Yumna agar lebih dekat dengannya. Di depan puluhan kamera yang menyala, Evander meletakkan tangannya di tengkuk Yumna dan mencium kening istrinya dengan sangat lama dan penuh perasaan, setidaknya itu yang terlihat di lensa kamera.
"Saya tidak perlu membuktikan apa pun pada dunia. Tapi jika Anda bertanya soal perhiasan itu..." Evander melepaskan ciumannya dan menatap wartawan itu tajam. "Perhiasan itu tidak ada artinya dibanding senyuman istri saya saat dia tidur. Dan jika dia menatap berlian itu, itu karena dia sedang berpikir apakah berlian itu cukup kuat untuk saya jadikan mainan baru baginya."
Aula mendadak hening. Yumna sendiri hampir copot jantungnya. Mainan baru? Gila, akting Mas Kulkas level Oscar!
"Satu hal lagi," tambah Evander, suaranya naik satu oktav. "Siapa pun yang menyebarkan fitnah tentang istri saya, tim hukum Moreno Group sudah mengantongi identitas kalian. Kami tidak akan segan untuk menyelesaikan ini di pengadilan."
Tiba-tiba, seorang wartawan lain berteriak, "Tapi kabarnya Anda tidak pernah terlihat mesra sebelumnya!"
Yumna, yang entah dari mana mendapatkan keberaniannya (mungkin karena efek 'telinga stroberi' semalam), tiba-tiba angkat bicara. Ia mendekat ke mikrofon.
"Maaf, Mas Wartawan," ucap Yumna dengan senyum manis namun pedas. "Suami saya ini memang tidak suka pamer di depan umum. Dia tipe pria yang lebih suka menunjukkan kemesraannya... di tempat privat. Ya kan, Mas Sayang?"
Yumna sengaja menyentuh telinga kanan Evander, telinga yang tadi pagi masih merah, sambil memberikan kedipan manja.
Evander tersentak kecil, namun ia segera menguasai diri dan merangkul pinggang Yumna lebih erat. Para wartawan pun sibuk memotret momen "intim" tersebut. Konferensi pers yang tadinya panas, mendadak berubah jadi ajang pamer kemesraan yang bikin baper satu gedung.
Suasana yang tadinya mulai mencair mendadak beku ketika seorang wartawan senior dari media gosip terkenal berdiri. Pria itu memperbaiki letak kacamatanya, menatap Yumna dengan pandangan merendahkan dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Pertanyaan saya bukan untuk Pak Evander, tapi untuk Nyonya Yumna," ujarnya dengan nada sinis yang menggema di seluruh ruangan.
Semua kamera kini menyorot wajah Yumna yang mendadak tegang.
"Nyonya Yumna, publik tahu latar belakang Anda. Anda hanya seorang staf biasa dari keluarga yang... katakanlah, sangat sederhana. Bahkan beredar kabar bahwa rumah orang tua Anda di gang sempit pun masih menunggak pajak. Pertanyaannya adalah: Apakah Anda tidak merasa seperti benalu di keluarga Moreno? Atau mungkin, Anda sudah menyiapkan skenario perceraian agar bisa membawa lari harta gono-gini yang jumlahnya bisa menghidupi tujuh turunan keluarga Anda?"
Keheningan yang mencekam menyelimuti aula. Pertanyaan itu bukan lagi sekadar mencari informasi, tapi sebuah hinaan terang-terangan yang mempertanyakan harga diri Yumna dan keluarganya.
Yumna merasa wajahnya memanas. Jari-jarinya yang bertautan di bawah meja mulai gemetar. Kata "benalu" itu menusuk tepat di ulu hatinya, mengingatkannya pada semua hinaan yang pernah dilontarkan Cindy dan keluarga Desta dulu.
Evander yang duduk di sampingnya sudah akan berdiri dengan rahang mengeras, siap untuk menghancurkan karier wartawan itu detik ini juga, tapi Yumna tiba-tiba menahan lengan suaminya.
diajarin lah biar c,Yumna nya rada anggunan kalo di bentak mulu bukannya anggun yg ada malah ciut...