Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi belanja 15 juta di mulai
"Ayo sekarang saya antar kamu pulang. Temanmu sudah menunggu untuk berbelanja," ucap Julian, suaranya sudah kembali normal, tidak serak seperti tadi.
Syren menatap Julian dengan ragu. "Emangnya Pak Bos kuat?" tanyanya, sedikit khawatir melihat pria itu baru saja sembuh dari demam tinggi.
Julian tersenyum miring, lalu berdiri dan merapikan kemejanya. "Kuat, Syren. Karena saya sudah mendapatkan asupan energi dari kamu semalaman," jawabnya santai.
"Idihhh! Jijik!" semprot Syren, wajahnya langsung memerah padam. Ia tidak mau ambil pusing dengan gombalan Julian yang makin menjadi-jadi dan memilih kabur duluan. Syren pun turun dari kamar Julian dengan langkah cepat, meninggalkan sang Bos Peot yang hanya tertawa kecil melihat tingkahnya.
"Ayo naik," ajak Julian.
Syren pun naik ke mobilnya sambil terus berkomat-kamit kesal. Kenapa sih ni orang suka banget bikin hati kecil mungil gue ini terpotek-potek salah tingkah? Entar dia kepedean lagi! batin Syren jengkel.
"Syren," panggil Julian, suaranya sudah kembali normal dan tegas.
"Aaa... apa Pak Bos?" Syren berjengit kaget.
"Kamu nanti jangan dekat sama cowok lain selain saya di mal," perintah Julian dengan nada mutlak sambil mulai menjalankan mobilnya.
"Lah, kok ngatur Pak? Ya terserah saya lah, mau sama cowok... mau sama cewek kek! Emangnya Bapak siapa saya?" semprot Syren, matanya melotot.
"Saya bos kamu, dan kamu calon istri saya. Ingat itu baik-baik," balas Julian santai, seolah dua klaim itu adalah fakta yang paling benar di dunia.
Syren langsung terdiam seribu bahasa. Wajahnya sudah semerah tomat matang, tidak tahu harus membalas apa lagi. Julian benar-benar sudah gila!
Julian semakin menjadi-jadi dengan klaimnya! Syren sudah mati kutu tidak bisa membalas perkataan sang Bos yang super percaya diri itu.
"Mimpi!" jawab Syren ketus, memalingkan wajah ke jendela untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya.
Tak lama kemudian, mobil mewah Julian berhenti tepat di depan pagar rumah Syren. Kedatangan mereka disambut oleh Gaby yang langsung melompat dari teras dengan wajah penuh kemenangan.
"Nahhh... tuh dia yang ditunggu-tunggu pulang juga!" seru Gaby sembari berlari menghampiri Syren yang baru saja turun dari mobil. "Halo Pak Julian! Sudah puas kan bersama Syren seharian ini?" godanya tanpa saring.
Julian tidak marah, ia justru menurunkan kaca mobilnya dan memberikan senyum tipis yang mematikan. "Dah Syren, Mas pulang dulu ya," ucap Julian dengan nada lembut yang sengaja dibuat-buat.
Glek! Syren mematung. "Idihhh najisss amat!" batin Syren meronta. Mendengar kata "Mas" dari mulut Bos Peot itu rasanya seperti tersengat listrik ribuan volt.
Begitu mobil Julian melaju pergi, Gaby langsung menyergap Syren. Ia mencengkeram bahu sahabatnya itu dan menggoyang-goyangkannya dengan heboh.
"Syrennnnnnn! Lo tidur sama Pak Julian seranjang ya?! Ngaku lo! Tadi di telepon suaranya beneran kayak orang baru bangun tidur berdua!" tanya Gaby meledak-ledak.
"Diem peol! Malu dilihat tetangga!" sentak Syren sembari berusaha melepaskan diri. "Gue cuma nemenin dia sakit, nggak lebih! Otak lo mending dicuci pake deterjen deh biar bersih!"
Ardi yang melihat keributan itu dari teras hanya bisa geleng-geleng kepala. "Mbak, mana 500 ribunya? Tadi Pak Bos udah bayar uang sewa Mbak buat semalem kan?" celetuk Ardi yang langsung mendapat lemparan sandal dari Syren.
Syren benar-benar jadi pusat perhatian! Sekarang saatnya mereka mengeksekusi rencana shopping yang tertunda sejak kemarin menggunakan dana kompensasi 15 juta.
"Udah, gue mau mandi dulu!" teriak Syren sembari berlari kencang menuju kamarnya, menghindari rentetan pertanyaan Gaby yang makin liar.
Sementara itu, Lea, Ardi, dan Gaby menunggu di ruang tamu. Suasana mendadak riuh dengan obrolan mereka yang tak kalah heboh.
"Awas aja ye lu, kalau nanti asik pacaran berduaan doang!" ancam Gaby sembari menunjuk Ardi dan Lea dengan tatapan tajam.
"Ye, Mbak Gaby iri ya? Makanya kalau ditaksir cowok tuh jangan galak-galak!" jawab Ardi mengejek, membuat Lea hanya bisa tertawa kecil di sampingnya.
"Ya kan bukan tipe gue! Gue kan milih lah, masa gue nikah sama anaknya Pak RT yang jelek itu?" sungut Gaby, membayangkan sosok pria yang sering mengejarnya.
"Hahaha, Mas Dono?" sahut Ardi spontan.
"Iya tuh! Gila banget tuh orang, masa tiba-tiba ke rumah gue begini: 'Nenggg gelisss, mau nggak ke pasar malem sama Abang?' Idihhh, ciuhhh!" Gaby memperagakan gaya bicara Mas Dono dengan wajah super jijik, membuat Ardi dan Lea meledak dalam tawa.
Di dalam kamar mandi, Syren yang sedang diguyur air dingin justru tidak bisa fokus. Pikirannya masih nyangkut pada kata "Mas" dari Julian dan pesan "Kangen" dari Gio. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, menyadari bahwa hidupnya yang tenang kini berubah jadi drama Korea .
"Fokus Syren, fokus! Malam ini agenda utama adalah menghabiskan 15 juta!" gumamnya menyemangati diri sendiri.
Syren sudah siap-siap "balas dendam" dengan belanja sultan! Gaby dan Ardi juga sudah siap jadi asisten pembawa belanjaan (atau malah ikut numpang jajan).
Syren pun keluar dengan gayanya yang sangat kece. Rambutnya ia gerai indah dan dihiasi jepit rambut pink manis di sisi kanan. Ia mengenakan setelan unik: atasan putih berlengan puff dengan aksen kancing dan pita kecil, serta rok denim asimetris yang dihiasi bordiran hati merah muda dan pita biru, lengkap dengan bros bunga biru besar di pinggang.
"Gue udah siap, ayo berangkat!" seru Syren penuh semangat.
"Wihh, ayo!" sahut Ardi yang sudah siap siaga di samping motor PCX-nya. Ardi segera menaiki PCX-nya itu dengan membonceng Lea yang sudah menunggunya.
Sedangkan Gaby dan Syren memilih pakai motor sendiri-sendiri, mengendarai Scoopy mereka yang kembar. Mereka mengenakan baju yang sama persis, hanya saja Gaby mengenakan atasan dan aksen berwarna biru muda yang kontras dengan oranye dan pink milik Syren.
"Kita jadi kayak kembar, Ren!" seru Gaby sambil tertawa.
"Anak kembar sang CEO China!" balas Syren tertawa kencang, membuat Ardi dan Lea yang sudah di depan ikut terkekeh mendengar candaan konyol itu. Konvoi motor Scoopy dan PCX itu pun melaju meninggalkan perumahan menuju mal terbesar di Jakarta, siap untuk belanja sultan!
Mereka pun sampai di Grand Indonesia dan memarkirkan motornya di area parkir yang ramai.
"Ayo By!" seru Syren dengan semangat membara, langsung menggandeng tangan Gaby menuju ke dalam mal.
Sedangkan Ardi, yang sudah bucin tingkat dewa, dengan romantisnya merangkul pundak pacarnya, Lea.
"Lea, nanti kamu mau beli apa? Biar aku yang beliin," tawar Ardi dengan gaya sok sultan.
"Terserah kamu sayang, aku nurut aja. Yang penting nggak nyusahin kamu kok," jawab Lea tulus, gadis polos yang baik hati itu sama sekali tidak tahu kalau uang yang digunakan kakaknya adalah uang kompensasi dari Julian. Syren yang mendengar itu hanya tersenyum tipis, senang melihat adiknya bisa bahagia.
"Beli apa dulu, Ren?" tanya Gaby, matanya sudah berbinar-binar melihat deretan toko mewah.
"Beli tas dulu yuk!" ajak Syren, teringat rencananya untuk membeli tas branded yang sudah lama ia idam-idamkan.
"Ayukkkk!" sahut Gaby semangat. Mereka berempat pun melangkah masuk ke dalam mal, siap untuk melancarkan misi belanja sultan yang tertunda.
Mereka berempat memasuki mal dengan langkah mantap. Syren dan Gaby langsung menuju area butik mewah yang berjejer rapi.
"Kita ke Gucci dulu, By. Gue mau lihat koleksi Jackie 1961 yang baru," ajak Syren, suaranya terdengar santai, menunjukkan bahwa tempat seperti ini bukanlah hal baru baginya.
Mereka pun masuk ke dalam butik dengan interior mewah itu. Syren langsung disambut ramah oleh staf toko. Matanya menyapu deretan tas dengan penuh minat. Gaby yang di sebelahnya tampak sedikit lebih excited, tapi tetap berusaha menjaga sikap. Ardi dan Lea memilih menunggu di luar toko, sambil melihat-lihat etalase jam tangan.
Syren menunjuk sebuah tas Gucci berwarna beige dengan aksen emas yang elegan. "Boleh saya lihat yang ini?" tanyanya sopan pada staf toko.
Staf toko itu dengan sigap mengambilkan tas tersebut. Syren memegang bahan kulitnya, memeriksa jahitan, dan mencoba menggendongnya di bahu di depan cermin besar. Gerak-geriknya sangat alami, seperti orang yang sudah terbiasa dengan barang mahal.
"Menurut lo gimana, By?" tanya Syren pada Gaby.
"Cantik, Ren. Elegan banget," balas Gaby.
Setelah menimbang-nimbang sebentar, Syren tersenyum pada staf toko. "Oke, saya ambil yang ini."
Mereka keluar dari Gucci dengan Syren yang menenteng tas belanjaan pertama. Total belanjanya langsung menguras beberapa juta dari dana 15 juta yang sudah disiapkan Julian.
"Habis ini kita ke mana, Ren?" tanya Gaby, matanya masih melirik tas baru Syren.
"Ke toko baju dulu. Gue mau cari baju buat ke kantor, yang sedikit lebih profesional tapi tetap ada gayanya," jawab Syren. Mereka pun melanjutkan misi belanja mereka, berpindah dari satu butik ternama ke butik ternama lainnya, membeli beberapa potong pakaian dan sepatu tanpa terlihat norak sedikit pun.
"Gaby, lo mau beli apa? Cepetan, ayo kita beli yang kembaran!" seru Syren bersemangat, mengabaikan label harga yang fantastis di butik desainer lokal yang baru saja mereka masuki.
"Oke deh!" sahut Gaby, matanya tertuju pada sebuah setelan lime green yang dipajang di manekin.
Mereka berdua kompak memilih baju itu untuk dipakai kembaran ke kantor. Modelnya sangat unik: blazer peplum bergaya korset dengan aksen tali temali putih di bagian dada dan rok pensil selutut dengan bordiran bunga-bunga kecil di bagian bawahnya.
"Sekali-kali By, pake rok! Biar kelihatan elegan, nggak kayak tomboy mulu," goda Syren sambil menyenggol Gaby.
Gaby mendengus, tapi tetap setuju. "Yang ini, Mbak, dua!" kata Syren pada staf toko, membuat Gaby terkejut karena Syren membelinya tanpa mencoba terlebih dahulu, menunjukkan jiwa "sultan" Syren yang asli.
"Bayarnya pakai kartu yang ini ya, Mbak," ucap Syren santai sambil mengeluarkan kartu debitnya. Staf toko itu mengangguk ramah, terbiasa dengan pelanggan yang berbelanja seperti Syren.
Ardi dan Lea yang sudah masuk ke dalam toko hanya bisa melongo melihat Syren dengan santainya menghabiskan uang jutaan rupiah hanya untuk dua setel pakaian kantor.
"Mbak gue beneran udah jadi orang kaya lagi," bisik Ardi pada Lea.
Syren sudah all out dengan belanjaan kantornya yang super stylish! Setelan hijau limau kembar itu pasti bakal bikin heboh kantor Aldrin Group besok.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui