NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26 - Arah yang Tidak Sama

...Bukan cintanya yang berubah, hanya arah langkahnya yang berbeda. Karena tidak semua yang saling memilih, ditakdirkan berjalan sejauh yang sama....

Happy Reading!

...----------------...

Sore itu tidak berbeda dari sore-sore sebelumnya.

Langit Samarinda menggantung rendah, abu-abu pucat dengan sisa cahaya matahari yang malas tenggelam. Awan bergerak perlahan, seperti ikut ragu menentukan arah.

Angin datang dari arah sungai, membawa aroma air bercampur debu jalanan—bau kota yang terlalu akrab untuk disebut asing, terlalu melekat untuk benar-benar bisa dilepaskan. Hembusannya menyentuh ujung rambut Shaira, membuat beberapa helai terangkat lalu jatuh kembali perlahan di pipinya.

Shaira duduk di bangku panjang di tepi sungai, memeluk tas di pangkuannya. Punggungnya sedikit membungkuk. Lengannya melingkar lebih erat di tas yang ia peluk, jemarinya mencengkeram kain tas tanpa sadar—seolah sedang menahan sesuatu yang tak sepenuhnya ingin ia lepaskan.

Raven berdiri beberapa langkah darinya, bersandar pada pagar besi pembatas. Tatapannya lurus ke depan, mengikuti aliran sungai yang bergerak tenang. Satu tangannya bertumpu di pagar besi, jemarinya mengetuk pelan permukaannya, ritme kecil yang nyaris tak terdengar—kebiasaan Raven setiap kali pikirannya sedang penuh.

Mereka tidak sedang bertengkar. Tidak juga sedang berada dalam euforia bahagia.

Mereka hanya akhirnya duduk di satu titik yang sama—membicarakan hal yang sejak lama sama-sama mereka tahu, tapi terus mereka tunda.

Tentang masa depan.

Tentang pilihan.

Tentang jarak yang pelan-pelan mulai terasa nyata.

Bagi Shaira, rencana itu sebenarnya bukan kabar baru. Ia sudah lama menyadarinya, bahkan jauh sebelum Raven pernah mengatakannya secara terang-terangan. Dari potongan obrolan yang tak sengaja tertangkap telinganya. Dari candaan teman-teman yang terlalu sering diulang hingga perlahan kehilangan nada bercandanya. Dari cara Raven selalu terdiam sedikit lebih lama setiap kali pembicaraan beralih pada kehidupan setelah kelulusan.

Dan dari satu pertanyaan wali kelas yang terlontar di tengah suasana kelas yang riuh.

“Raven, jadi kuliah ke luar pulau nggak?”

Kelas saat itu langsung ramai. Ada yang bersiul jahil. Ada yang menoleh ke arah Shaira tanpa berusaha menyembunyikan rasa ingin tahu. Ada pula yang tertawa, seolah pertanyaan itu hanyalah lelucon ringan yang tak perlu dipikirkan terlalu jauh.

Raven hanya tersenyum kecil. Lalu mengangguk pelan—sebuah jawaban sederhana yang justru terasa lebih pasti daripada kata-kata panjang.

Sejak hari itu, topik tentang masa depan berubah menjadi sesuatu yang hadir diam-diam di antara mereka. Seperti benda yang diletakkan tepat di tengah ruangan—terlihat jelas, mustahil diabaikan, namun selalu mereka hindari. Mereka memilih berjalan mengelilinginya, membicarakan hal-hal lain, berharap suatu hari benda itu menghilang dengan sendirinya.

Namun waktu tidak pernah bekerja seperti itu.

Dan sore ini, di tepi sungai yang terus mengalir tanpa menunggu siapa pun, benda itu akhirnya disentuh.

Beberapa detik berlalu hanya diisi suara air yang menyentuh tepian beton. Shaira menarik napas pelan, menatap ujung sepatunya sebentar sebelum akhirnya membuka suara.

“Jadi,” kata Shaira pelan, memecah sunyi yang terlalu lama dibiarkan, “kita mau ngomongin soal kuliah itu?”

Raven menoleh. Tatapannya langsung mengarah padanya, tanpa usaha mengelak, tanpa berpura-pura tidak mengerti.

“Iya,” jawabnya singkat.

Satu kata.

Pendek. Namun cukup untuk membuka pintu yang selama ini mereka kunci bersama.

“Aku sebenarnya udah tahu,” lanjut Shaira pelan. Ia mengangkat pandangannya, menatap Raven langsung, jujur tanpa berusaha terlihat kuat. “Dari lama.”

Raven mengangguk pelan. Tidak terkejut. Tidak juga lega.

“Aku juga sadar,” katanya. “Kamu tahu.”

“Kita cuma nggak pernah ngomong beneran,” ujar Shaira.

“Iya,” sahut Raven lirih. “Selalu berhenti di tengah.”

Shaira menatap sungai. Airnya bergerak pelan, tak pernah benar-benar diam. Seperti waktu—terus berjalan meski manusia masih sibuk menimbang keberanian.

“Kamu masih kepikiran Jawa?” tanyanya kemudian.

“Iya,” jawab Raven tanpa ragu. “Masih.”

Jawaban itu tidak mengejutkan. Justru karena sudah diduga, rasanya menjadi lebih berat.

“Kenapa?” tanya Shaira. Kali ini bukan untuk membantah, bukan pula untuk memohon. Ia hanya ingin memahami.

Raven menghela napas. “Bukan karena aku pengen pulang kampung,” katanya. “Aku tiap tahun juga pulang.”

Shaira menoleh ke arahnya.

“Cuma… peluangnya di sana lebih besar,” lanjut Raven. Ia menggeser berat tubuhnya, siku bertumpu di pagar, menunduk sebentar sebelum kembali menatap sungai. “Kampusnya, lingkungannya, aksesnya…”

Shaira mengangguk perlahan. Kalimat itu terlalu masuk akal untuk ditolak.

“Kakak-kakakku juga di sana,” Raven menambahkan. “Aku lihat sendiri gimana mereka berkembang. Dan aku jadi mikir... mungkin aku juga bisa.”

Ada rasa bangga yang diam-diam muncul di dada Shaira—hangat, tapi bersamaan dengan itu, muncul rasa sesak yang pelan merambat, seperti dua perasaan yang tak pernah benar-benar bisa berdamai. Raven punya mimpi. Punya keberanian untuk melangkah lebih jauh. Tapi di saat yang sama, ada takut yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Itu bukan soal ninggalin Samarinda,” kata Raven. “Atau ninggalin kamu.”

Shaira tersenyum kecil. “Tapi tetap soal pergi.”

Raven ikut tersenyum pahit. “Iya.”

Angin berembus lagi, membawa suara air yang beradu pelan dengan tepian sungai.

“Aku juga kepikiran Balikpapan,” Raven berkata kemudian. “Masih dekat. Dua jam dari sini.”

Mata Shaira sedikit melebar. Bukan kaget—lebih seperti harapan kecil yang refleks muncul sebelum sempat ia tahan.

“Kalau Balikpapan,” kata Shaira jujur, “rasanya masih bisa dijangkau.”

“Iya,” Raven mengangguk. “Masih satu pulau.”

“Masih bisa ketemu tanpa harus nunggu libur panjang,” lanjut Shaira.

Raven terdiam.

“Kamu nggak yakin,” kata Shaira pelan.

Ia tidak langsung menjawab.

“Aku takut salah pilih,” Raven akhirnya berkata. Ia mengusap tengkuknya pelan, kebiasaan yang muncul setiap kali ia merasa bimbang. “Takut milih yang dekat tapi nyesel karena nggak ambil kesempatan. Tapi kalau milih yang jauh… aku kehilangan banyak hal di sini.”

Shaira menarik napas panjang.

“Aku rencananya tetap di Samarinda,” katanya. “Aku pengen kuliah di sini.”

Raven menoleh, namun tidak tampak terkejut. Seolah jawaban itu sudah lama ia simpan dalam kepalanya.

“Kita beda,” lanjut Shaira. “Bukan perasaannya. Tapi arahnya.”

Kalimat itu menggantung di antara mereka. Tidak menyakitkan, tapi juga tidak ringan—seperti kenyataan yang akhirnya mereka sebut dengan suara keras.

“Iya,” Raven mengaku pelan.

Langit semakin gelap. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya di permukaan sungai yang beriak kecil.

“Aku nggak mau kamu ngerasa aku ninggalin,” kata Raven. “Dan aku nggak mau kamu ngerasa harus ikut atau nunggu.”

Shaira tersenyum tipis. “Aku juga nggak mau jadi alasan kamu berhenti.”

Raven menatapnya lama. Tatapannya lembut, tapi penuh keraguan yang belum menemukan jawaban.

“Aku cuma takut,” katanya.

“Takut apa?” tanya Shaira.

“Takut suatu hari nanti, kita sadar… kita terlalu memaksakan.”

Shaira menggeleng pelan. “Dan aku takut sebaliknya.”

Raven menoleh.

“Aku takut kita terlalu hati-hati,” lanjut Shaira, “sampai lupa memperjuangkan.”

Mereka kembali diam.

Raven akhirnya duduk di bangku di samping Shaira. Jarak mereka dekat, hampir bersentuhan. Ujung lengan mereka sesekali bersenggolan ringan ketika angin berembus, tapi tak satu pun dari mereka menarik diri.

Sore itu berakhir tanpa kesimpulan.

Tanpa keputusan.

Namun sejak hari itu, mereka tahu—masa depan tidak lagi sekadar tentang mereka.

Melainkan tentang arah.

Tentang keberanian untuk tetap melangkah… meski tidak semua arah bisa ditempuh bersama.

...----------------...

Raven — aku membenci jarak yang mungkin akan memisahkan kita.

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!