Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Cila menggandeng tangan kakek dan neneknya dan membawa mereka ke kamarnya untuk menemaninya bermain. Begitu masuk ke dalam kamar Cila, aroma segar dari pewangi ruangan kamar Cila menguat ke hidung mereka, membuat penat keduanya hilang. Apalagi melihat cucu satu-satunya itu sudah tumbuh menjadi gadis yang aktif dan ceria membuat mereka begitu senang.
"Papah kapan pulang ke sini?" tanya neneknya.
Mendengar kata papah membuat Cila mencebik sebal." Papah sibuk terus, nek. Kemarin Papah udah pulang tapi balik lagi ke kota. Cila bingung mau main sama siapa di rumah. Kalau main sama mbok dan bibi Cila bosen,nek."
"Cila punya teman sekolah kan? Cila kan bisa main sama temennya Cila. Papah sibuk kan buat cari uang supaya Cila bisa beli susu, beli makanan enak, bisa sekolah. Nenek yakin, papah itu sebenarnya gak mau ninggalin Cila kayak gini, papah sebenarnya sayang banget sama Cila." Jelas Nenek seraya mengusap lembut surai Cila.
"Cila punya temen sekolah tapi gak setiap hari main ke rumahnya p. Cila iri sama temen-temen Cila, mereka punya papah dan mamah. Mereka diantar jemput sama mamah atau papahnya, mereka punya mamah yang bisa masak dan dandani meteka. Cila juga pengen kayak gitu, nek. Papah sibuk terus, masa papah lebih mikirin uang daripada Cila?"
"Cila lagi kangen sama mamah ya?"
Cila mengangguk raut cerianya berubah menjadi murung. " Cila sellau doain mamah biar bahagia. Cila kangen sama mamah, Cila pengen ngerasain di peluk sama mamah."
"Cila itu sama persis kayak mamah, dia juga selalu seperti ini kalau kangen sama nenek. Nenek percaya diatas sana mamah Cila juga pasti kangen sama Cila."
"Tapi mamah gak akan pulang lagi ke sini."
"Mamah selalu ada di hati Cila, jadi meskipun Mamah gak bisa pulang lagi, diatas sana pasti mamah selalu perhatikan Cila."
Cila duduk berhadapan dengan sang nenek. Neneknya mengusap lembut pipi gembul Cila, ada kesedihan sekaligus kerinduan setiap kali melihat cucunya itu. Cila sangat mirip dengan mendiang ibunya. Ia merasa kasihan pada Cila karena belum sempat merasakan pelukan jangan satu ibu kandungnya.
"Nenek marah gak kalau Cila tanya sesuatu?" Ucap Cila lirih.
"Cila mau tanya apa? Jujur aja sama nenek."
"Boleh gak kalau Cila punya mamah baru?"
Pertanyaan Cila jelas mengejutkan kakek dan neneknya, keduanya saling tatap. "Maksudnya gimana sayang?"
"Cila mau mamah baru, supaya nanti ada yang temenin Cila main di sini."
"Eum maksudnya papah nikah lagi sama mamah baru?"
Cila mengangguk, ia mengiyakan pertanyaan neneknya jika ayahnya menikah lagi dengan wanita lain. Kakek dan neneknya merasa keberatan, bisa-bisanya Cila menginginkan ibu baru. Melihat ekspresi kakek dan neneknya membuat Cila menunduk ketakutan, khawatir jika mereka tidak setuju dan marah.
"Emangnya papah bilang ke Cila mau nikah lagi? Sama siapa, nak?" tanya nenek.
" Kata papah, papah masih pengen kerja aja. Tapi Cila mau punya mamah baru, Cila pengen ngerasain disayang sama mamah. Nenek marah ya?" ucap Cila dengan lirih.
"Kakek dan nenek gak bisa jawab, biar itu jadi keputusan papah Cila. Tapi, nenek mau papah Cila setia sama mamahnya Cila."
Kakeknya melihat istrinya yang sepertinya kurang nyaman dengan keinginan cucunya. Ia membelai bahu istrinya." Sayang, Cila kan masih kecil. Cucu kita belum paham urusan orang dewasa. Mungkin Cila memang butuh figur seorang ibu. Dari lahir Cila belum pernah merasakan kasih sayang dari ibunya. Wajar saja kalau Cila sekarang menginginkan kehadiran sosok ibu."
" Tapi kan masih ada Farel toh, kita sebagai kakek dan nenek Cila, mbok, bibi yang mengurus Cila. Apa itu kurang? Aku kurang srek kalau sampai ada yang menggantikan sosok putri kita," uajr nenek berbisik.
"Aku tau, posisi putri kita tak akan mungkin tergantikan sebagai seorang ibu kandung. Tapi, kita juga tidak boleh egois. Cila berhak bahagia dengan memiliki ibu sambung."
"Tapi pak, kebanyakan ibu sambung itu lebih mencintai ayahnya dari pada anak sambungnya."
"Ya kita arahkan Farel supaya cari istri yang baik, yang sayang sama dia serta anaknya. Tapi itu semua balik lagi ke Farelnya, hanya dia yang bisa memutuskan."
Nenek menghembuskan napasnya dengan kasar, suasana hatinya jadi buruk. Ia memutuskan untuk keluar dari kamar untuk mencari ketenangan. Sementara Cila ketakutan melihat ekspresi neneknya, menyadari hal itu kakeknya berusaha menenangkan cucunya dengan memeluknya. Cila diam dan merasa bersalah, tidak ada satupun yang mau menuruti permintaannya.
____
"Aku udah lama gak makan rawon, kuahnya bikin nagih banget," ujar Laras ditengah kegiatan makan mereka.
"Kalau mau nambah lagi juga gak apa-apa toh, Ras, mumpung kita lagi di sini." Ujar Rika
"Mbak kok tumben milih warung kecil kayak gini? Di sana ada juga loh restoran yang enak," tanya Laras penasaran.
Vania menghela napasnya." Aku malas makan si tempat mewah kayak gitu, pasti ramai banget kalau aku datang. Lebih enak makan di warung kecil gini, orang-orang jarang ada yang kenal aku. Lagipula menu di warung ini enak dan pemiliknya juga sudah tua, anggap aja kita sebagai pelantara rezeki Mbah nya."
"Owalah aku paham, kalau kayak gini mbak ngerasa bebas dan nyaman ya."
Vania mengangguk, penampilannya sekarang sangat-sangat sederhana berbeda sekali dengan gaya Vania yang sebelumnya. Meski begitu Vania tetap enjoy dan menikmati lembaran hidupnya yang baru ini.
Suhu dingin membuat mereka semakin menikmati rawon hangat yang mereka santap. Di tengah kegiatan makan meteka, ponsel Rika tiba-tiba berdering menandakan ada telepon masuk. Begitu dilihat, ternyata salah satu tim management Vania menghubungi asistennya itu.
Rika meremas ujung bajunya, cemas, saat telepon genggamnya berdering dengan nada khusus yang ia kenal sebagai panggilan dari tim manajemen Vania. Dengan ragu, ia menekan tombol jawab, "Halo, Rika di sini."
"Rika, ada kabar tentang Vania? Mengapa dia belum mengirimkan konten baru? Dan kenapa dia menghilang tanpa kabar?" suara di seberang sana terdengar tidak sabar dan khawatir.
Mendengar pertanyaan itu, Rika menghela napas, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi yang sulit. "Sebenarnya, Vania sedang tidak bisa fokus bekerja. Kami sedang berada di luar kota untuk mengurus beberapa hal penting," jawab Rika, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
"Ada apa? Apakah sesuatu terjadi?" tanya tim manajemen itu, rasa ingin tahu terdengar jelas di suaranya.
Rika menutup matanya sejenak, berusaha mengumpulkan keberanian. "Vania sedang mengurus sesuatu perihal kecelakaan kedua orang tuanya. Ada yang janggal dari kecelakaan itu. Jadi Vania datang ke sini untuk menuntaskan itu semua."
Di seberang sana, terdengar desahan berat. "Oh, kami tidak tahu akan hal itu. Memangnya kecelakaan yang menimpa orang tuanya bukan murni kecelakaan?"
"Bukan mbak, susah juga buat jelasinnya. Tapi Vania minta kasus kecelakaan ini jangan sampai terekspos media. Jadi untuk itu saya mohon mbak tolong memaklumi dan merahasiakan perihal ini ya."
"Tapi bukannya bagus ya kalau kasus ini di ekspos media, siapa tahu dengan begitu kasusnya bisa tuntas secepatnya. Penggemar Vania kan sudah banyak, pasti banyak juga yang bantu dia."
"Justru itu mbak, Vania gak mau ekspos kasus ini karena takut banyak orang yang tahu. Ibaratnya takutnya nanti ada yang memanfaatkan kasus ini untuk kepentingan pribadi, tahu sendiri kan bagaimana netizen dan media kadang suka buat cerita yang berbeda dari aslinya."
Vania yang sedari tadi mendengar pembicaraan mereka pun merebut ponsel Rika." Mbak, pada intinya saya masih butuh ketenangan untuk sementara waktu ini. Nanti saya kabari lagi kalau susah membaik ya Mbak yang cantik." Tanpa basa-basi Vania mematikan sambungan teleponnya.
Mata kedua asistennya terbelalak melihat Vania yang memutuskan sambungan telepon begitu saja dari pihak management.
"Mbak, kamu ini gak takut dipecat dari management?" tanya Laras seolah mengkhawatirkan pekerjaan Vania.
Vania mengangkat bahunya kemudian meneguk minumannya sampai habis.