Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelah Menunggu
Maya tidak tidur semalam duduk di kamar ibunya, menatap langit-langit yang sama sejak masa kanak-kanak. Stiker bintang yang Kinan beri saat kelas enam—masih ada, mengelupas di sudut. Foto mereka berdua di frame kayu, wajah dua anak perempuan dengan gigi ompong tersenyum tanpa beban.
"Gue cinta dia, Nan," bisiknya pada foto itu. "Dari dulu sebelum lo kenal dia. Tapi gue diam karena lo... lo lebih berani, lo yang bilang duluan. Dan gue...ikut bahagia karena lo bisa mendapatkan yang terbaik."
Foto tidak menjawab. Kinan di sana—rambut di kuncir dua, kacamata besar, tawa terlalu keras untuk ukuran tubuhnya yang mungil —Ia hanya menatap ke depan, ke masa depan tidak pernah ia lihat.
Dan saatnya ia harus kembali kerumah Raka sebelum semuanya pergi dan berakhir luka.
\=\=\=
Pagi pagi sekali hari Minggu Maya datang tanpa membawa sapu lidi, bahan masakan, atau tanaman, tapi untuk yang lebih sulit, yang harus ia katakan dan lakukan sejak lama—bukan untuk Raka, tapi untuk dirinya sendiri.
---
Raka membuka pintu dengan mata merah. Ia juga tidak tidur. Brownies Laras masih di meja—tidak disentuh, tapi juga tidak dibuang. Cangkir biru kembali di tangan, teh hangat bukan buatan Maya.
"May," Ia terkejut. "Lo... lo datang?"
"Gue perlu ngomong," katanya dengan cepat masuk menyelip diantara tubuh yang membeku. " Ada yang ingin gue sampaikan tentang diri gue bukan tentang lo."
Mereka duduk di sofa yang sama tempat Kinan pernah tidur siang, kepala di pangkuan sementara Maya duduk di lantai, membaca buku, pura-pura tidak tahu.
"Gue mau lo denger," katanya tenang seperti sudah diputuskan sebelumnya untuk dilepaskan. "Gue mau lo denger, tanpa interupsi, tanpa penjelasan, Tanpa... tanpa lo harus jawab apa-apa."
Raka mengangguk, cangkir biru diletakkan, tangan di pangkuan, siap menerima—atau tidak.
"Gue sayang sama lo, Ra," katanya tulus tidak menuntut. "Bukan karena Kinan, tidak karena dia sahabat gue atau karena rasa belas kasihan."
Raka diam menunduk.
" Gue tahu ini salah, karena itu gue hanya diam. Gue menunggu saat lo bersamanya, gue menunggu saat lo berduka, gue hanya menunggu... sampai gue hancur sendiri."
Air matanya jatuh, membasahi pipinya yang tirus menunjukkan bahwa ia masih manusia rapuh, dan terluka
"Gue pergi minggu lalu bukan karena gue marah lo deket Laras, bukan, gue pergi karena marah dengan diri sendiri, mengapa tidak berani mengatakan lebih awal dan berharap lo akan melihat ini, Tapi ternyata nggak, Lo nggak pernah melihatnya."
Raka ingin membuka mulut, tapi maya mengangkat tangannya untuk berhenti. " Stop Raka, biarkan gue selesai. Sebenarnya gue malu untuk mengungkapkan ini semua, tapi dari pada gue hancur menanggung. " Ia berhenti sejenak mengambil napas, "Gue nggak minta lo jawab, atau meminta lo pilih gue, Enggak. Gue nggak minta apa-apa, Ra. Gue cuma mau lo tahu, itu saja."
Ia berdiri berjalan ke teras melihat tanaman mati di sana menjadi saksi bisu.
"Gue nggak tahu apa yang akan terjadi," katanya pelan menatap bungan lavender kering. "Gue nggak pernah memaksa karena hidup adalah pilihan, dan gue bukan pengemis cinta." Ia berbalik menghadap sepenuhnya."Tapi gue juga punya hak untuk menentukan karena gue bukan pelarian, bukan pengganti sampai lo ketemu yang lebih baik."
Raka menghela napas, dadanya menghentak, wajahnya memutih, tubuhnya terbuka, ditelan dingin tak terelakkan.
"Gue mungkin akan tetap disini, atau bisa juga pergi jauh mencoba membuka hati untuk yang lain." Maya tersenyum getir baru saja melepaskan sesuatu yang berharga di hidupnya, lebih ringan dijiwanya."Gue mengerti, Ra, ini bukan salah lo mungkin waktunya nggak tepat. Atau gue mengkhianati Kinan, sahabat gue sendiri."
Pintu tertutup pelan menutup cerita yang tidak berkesudahan
---
Raka duduk di teras di tanah di antara tanaman mati tidak mengejar. Kali ini, ia tahu—mengejar tidak cukup. Kata-kata tidak cukup dan harus lihat benar-benar melihat orang di depannya tidak pernah ia tatap.
Ponselnya bergetar dari Laras.
Laras: "Gue dengar dari Dika. Maya ke rumah lo. Semuanya baik-baik aja?"
Raka menatap layar. Ingin menjawab, tapi bibirnya terkunci untuk menyusun kata, tangannya kaku untuk menulis. Dan tidak lama Maya Wa
Maya: " Ra..gue minta maaf atas kata kata gue tadi, gue harap Lo baik-baik aja dan bahagia dengan pilihan lo sendiri, demi gue, dan demi sahabat gue yang sudah pergi, " Kinan."
Dua pesan. Dua wanita. Dua cara mencintai.
Raka meletakkan ponsel menatap langit kosong tanpa aroma bunga mawar, tanpa tanda Kinan akan datang.
Atau mungkin, keheningan ini adalah simbol yang bicara: "Mas..kali ini Kinan nggak bisa bantu, karena Kinan tahu cinta mas untuk Kinan seorang."
---
Di Ruang Tunggu, Kinan menatap jendela cemas.
"Dia melepaskan bukan memegang erat, atau memaksa. tapi.. melepaskan."
"Karena dia kuat, lebih kuat dari yang kita pikir. Lebih kuat dari kamu, saat kamu masih hidup."
"Aku iri, tapi juga sedikit bangga karena Maya temenku sejak dulu, dan dia lebih baik."
Ia melihat Maya di perjalanan pulang raut wajah tenang, tidak menangis. Raka di teras, kebingungan, tidak mengejar.
"Tiga orang, tiga cara mencintai. Kamu yang bertahan di luar waktu. Maya yang melepaskan dengan harga diri. Laras yang berjuang dengan strategi. Siapa yang akan menang?"
"Bukan tentang menang, Bu, tapi siapa yang membuatnya hidup. Izin kan aku turun, Bu, sekali ini saja."
Wanita tua itu menggeleng rasa kuatir tinggi.
---
Raka tidak dapat tidur malam ini,
berjalan dari kamar ke dapur, dari dapur ke teras, dari teras ke kamar masih seperti dulu.
"Nan," panggilnya. "Mas butuh kamu, butuh... nasihat mu. Apa yanga harus mas pilih ? hidup, atau yang membuat Mas ingat?"
Tidak ada jawaban bau mawar atau hembusan angin, hanya cermin di lemari memantulkan wajahnya sendiri, kurus, kusam, bingung, hidup, tapi tidak benar-benar hidup.
"Mas nggak bisa pilih," bisiknya pada bayangannya. "Karena mas masih cinta denganmu, Sayang. Dan cinta itu... cinta itu nggak bisa dibagi, nggak bisa dipindahkan dan diobati."
Ia tertidur di lantai kamar dengan bantal di pelukan, nama yang sama terucap di bibir, berulang-ulang, sampai mimpi itu datang.
Perempuan itu duduk di tepi tempat tidur terasa nyata, hangat, dan bukan seperti bayangan.
"Mas...ini Kinan."
Raka tersentak seakan tidak percaya, "Apakah ini mimpi, Nan? Kamu hidup kembali."
" Sayang...Kinan selalu hidup untuk Mas, Kinan tidak pernah pergi."
Laki laki itu menangis, air matanya jatuh membasahi pipi, " Nan, mas bingung dengan diri mas."
" Kenapa sayang ? Pilihan? Carilah
yang... yang benar-benar ada dihati, orang yang penuh keikhlasan, kesabaran bersama mas menggapai hari esok."
"Tapi.. Mas hanya bisa hidup denganmu, Nan, cuma dengan mu."
"Kinan tahu," katanya pelan sembari mengusap kepalanya dengan lembut "Tapi Kinan nggak bisa lagi, suatu masa kita akan bertemu, ya sayang, di sorga."
Mimpi berakhir. Raka bangun dengan air mata di pipi. Dan sesuatu yang baru—sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sejak lama, terlalu lama menatap ke belakang, sementara di depan sudah lelah menunggu.
mampir 🤭