NovelToon NovelToon
Mencuri Benih Mafia Mandul

Mencuri Benih Mafia Mandul

Status: tamat
Genre:Single Mom / Anak Genius / Mafia / Anak Kembar / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:858.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Ava Seraphina Frederick (20) memiliki segalanya kekayaan, kekuasaan, dan nama besar keluarga mafia. Namun bagi Ava, semua itu hanyalah jeruji emas yang membuatnya hampa.

Hidupnya runtuh ketika dokter memvonis usianya tinggal dua tahun. Dalam putus asa, Ava membuat keputusan nekat, ia harus punya anak sebelum mati.

Satu malam di bawah pengaruh alkohol mengubah segalanya. Ava tidur dengan Edgar, yang tanpa Ava tahu adalah suami sepupunya sendiri.

Saat mengetahui ia hamil kembar, Ava memilih pergi. Ia meninggalkan keluarganya, kehidupannya dan juga ayah dari bayinya.

Tujuh tahun berlalu, Ava hidup tenang bersama dengan kedua anaknya. Dan vonis dokter ternyata salah.

“Mama, di mana Papa?” tanya Lily.

“Papa sudah meninggal!” sahut Luca.

​Ketika takdir membawanya bertemu kembali dengan Edgar dan menuntut kembali benihnya, apakah Ava akan jujur atau memilih kabur lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Ruang tunggu unit gawat darurat Rumah Sakit Utama Kota terasa dingin dan menekan. Lily dan Ava duduk di kursi plastik yang keras, menunggu dokter memeriksa keadaan Luca yang kini sudah dibawa masuk ke dalam.

Wajah Ava tampak lelah dan penuh kecemasan.

Kenzo duduk di samping Ava, mencoba memberikan kekuatan. Ia memegang bahu Ava, tetapi Ava terlalu fokus pada pintu UGD untuk menyadari sentuhan Kenzo.

Lily, yang sudah berhenti menangis, bersandar pada Kenzo.

“Jangan khawatir, Ava. Luca kuat,” bisik Kenzo.

“Aku tahu, Ken,” jawab Ava, suaranya parau. “Tapi ini kali pertama dia pingsan separah ini. Aku takut sekali.”

Saat suasana begitu mencekam, Lily tiba-tiba mengangkat kepalanya.

“Om Kenzo, Lily lapar,” ujar Lily, polos.

Ava langsung menoleh, nenatap kesal pada putrinya itu.

“Lily! Bagaimana bisa kau memikirkan perutmu disaat seperti ini! Luca sedang sakit parah! Kau tidak lihat bagaimana tubuhmu sekarang? Kau bisa semakin gemuk karena makan terus!”

Lily langsung cemberut, matanya kembali berkaca-kaca. Ibunya selalu memarahi Lily karena terlalu banyak makan.

Memang benar, makan malam itu tidak baik. Tapi, Lily tak bisa berhenti mengunyah.

“Tapi Lily kan tidak bisa mikir kalau perut Lily kosong, Mama. Nanti kalau Luca bangun, dia juga pasti lapar.”

“Kenapa kau selalu menjawab kalau mama bicara?!”

“Lily punga mulut. Makanya Lily jawab, mama.”

Mereka kembali saling sahut tanpa ada yang mau mengalah sama sekali. Melihat perdebatan itu, Kenzo menghela napas. Inilah dinamika unik Ava.

Juga satu-satunya alasan kenapa Kenzo tertarik pada ibu dua anak itu. Ava berbeda dengan wanita di luar sana.

“Sudah, Ava. Jangan memarahi Lily. Dia benar, kita harus kuat. Dan Luca pasti lapar saat bangun nanti,” kata Kenzo lembut. Ia kemudian beralih menatap Lily. “Ayo, Lily. Om Kenzo akan temani kamu beli makanan. Kamu mau sandwich dan milkshake?”

Lily mengangguk antusias mendengar kata makanan.

“Mau! Tapi Lily mau pudding juga buat Luca! Luca suka pudding cokelat dingin.”

Kenzo tersenyum. “Tentu. Kita beli apapun nanti. Ayo kita cari pudding cokelat dingin. Ava, aku keluar sebentar ya.”

Ava mengangguk. Ia tidak sanggup berdebat lagi. Ia perlu waktu sendirian untuk menenangkan pikirannya yang kacau.

Tak lama setelah Kenzo dan Lily pergi, pintu UGD terbuka, dan seorang perawat keluar.

Bersamaan dengan itu, langkah sepatu mahal yang tergesa-gesa terdengar.

Edgar tiba. Wajahnya tampak panik dan tidak terawat, rambutnya sedikit berantakan, mencerminkan betapa cepatnya ia meluncur ke rumah sakit.

Ava berdiri saat melihat Edgar. Mereka berhadapan di ruang tunggu yang nampak sepi.

“Untuk apa kau datang?” tanya Ava buru-buru mrmalingkan wajahnya. Ia memang menyuruh Kenzo menghubungi Edgar, tapi sia sangka jika Edgar datang secepat ini.

“Luca, bagaimana Luca?” tanya Edgar, langsung ke intinya dan mengabaikan ucapan Ava.

“Dokter sedang memeriksanya,” jawab Ava datar. Ia merasakan amarah dan dendamnya kembali, tetapi Ava tahu ia butuh pria ini sekarang.

“Kenapa bisa separah ini? Kau bilang dia sakit, tapi kau tidak pernah bilang dia bisa sampai pingsan!” Edgar bicara dengan nada menuntut.

“Kalau aku tahu apa sakitnya, dia tidak akan pernah berada di sini sekarang!” Ava membalas.

Selama ini Ava belum sempat memeriksakan keadaan Luca ke dokter spesialis karena kendala biaya. Sebenarnya, bisa saja Ava menghubungi Edward dan meminta uang.

Sayangnya, gengsi Ava terlalu tinggi. Ava tidak mau membebani kedua orangtua mereka yang kaya raya itu.

“Penyakitnya kambuh parah dan dia demam tinggi. Aku tidak tahu harus berbuat apa,” ucap Ava.

Edgar memeluk Ava. “Dia kuat sama sepertimu. Dia pasti baik-baik saja. Percayalah.”

“Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan!” ujar Ava, masih mengingat dengan jelas apa yang Edgar lakukan di kantor tadi siang.

*

*

Sementara itu, Lily dan Kenzo berada di minimarket yang tak jauh dari rumah sakit. Lily menarik keranjang yang cukup penuh dengan sandwich, jus, dan tentu saja, pudding cokelat dingin untuk Luca.

Kenzo, sambil menunggu Lily memilih snack di rak, mencoba mengobrol santai.

“Lily, kau begitu sayang pada Luca? Sampai membelikan banyak makanan untuknya,” ujar Kenzo.

“Tentu saja! Luca kan kembaran Lily! Luca itu pintar sekali, Om Kenzo. Dia yang selalu tahu kalau Mama mau menangis,” jawab Lily.

“Kau juga pintar sekali. Kau tahu banyak hal. Om Kenzo penasaran, bagaimana kauu bisa tahu kalau Edgar itu ayahmu?” Kenzo bertanya dengan hati-hati. Ia penasaran.

Lily terdiam. Ia berhenti memilih keripik kentang. Ekspresi cerianya mereda, digantikan oleh keraguan dan keseriusan yang jarang ia tunjukkan.

“Lily tidak tahu,” bisik Lily, menatap lantai. “Mama tidak pernah bilang. Tapi…”

Lily mendongak, menatap Kenzo dengan mata yang penuh keyakinan.

“Tapi apa?”

“Tapi Luca dan Lily tahu. Dari mata papa. Mata papa itu sama dinginnya dengan mata Luca. Hanya saja, papa punya senyum tipis yang sama persis dengan senyum Lily kalau Lily sedang mau snack banyak-banyak,” ucap Lily.

Kenzo tersenyum kecut. Jawaban Lily, meskipun konyol, justru sangat lucu. Anak-anak melihat detail yang sering diabaikan orang dewasa.

“Mama selalu menatap foto papa dengan tatapan marah dan sedih. Kalau mama tidak punya hubungan dengan pria di foto itu, mama tidak mungkin sesedih itu, kan, Om Kenzo?”

Kenzo menghela napas. Kepolosan Lily justru mengungkap kebenaran yang tak terbantahkan.

“Om Kenzo, kalau papa tidak datang apa Luca akan mati?” tanya Lily dengan tatapan sendu.

Kenzo berlutut, memeluk Lily. “Tidak, Lily. Luca tidak akan mati. Ada Om Kenzo, ada mama, dan sekarang ada papa Edgar. Papa Edgar adalah pria yang sangat kuat. Dia pasti akan membantu kalian.” meski hatinya teriris, Kenzo tetap membanggakan Edgar di depan gadis kecil itu.

Lily mengangguk, hatinya sedikit terhibur.

“Iya. Papa harus membantu Luca. Karena mama tidak punya uang sebanyak papa.”

Lily kembali ke kasir, membawa keranjang yang penuh dengan makanan. Ia telah mengungkapkan semua yang ia tahu.

1
Dessy Rinda
hadeehh jeremy,lsbil bngt kyk abg,sebel dah
Dessy Rinda
hadeehhh jeremy🫣
Uthie
intinya mafia ternyata gampang di bodohi juga 😁
Uthie
lanjut 👍
Uthie
menarik 👍
Uthie
Sy mampir kembali di sini 👍
Yenti Sasmira
👍👍👍👍👍
Pa Muhsid
wkwkwk ngakak Edward jaga pintu beneran nih, yang dibalik pintu ga ikut dijaga pasalnya kabur ke balkon 😱🥱🥱
Pa Muhsid
sepertinya Jeremy si penghianat ya bapak nya cleo
Dinda
emang Ava terluka karena apa, karena hamil anak Edgar, atau karena ditidurin sama Edgar. lah kan dia sendiri di awal pengen benih berkualitas, nyari di klub sambil mabuk, yg nga ngenalin orangnya siapa coba 🤭🤭
Rumi Yati
Terima kasih thor
Sulis Tiyeas
yang namanya jeremy ini bodoh sekali. nggak pantas jd asisten
Meriam Tehupelasury
🥰
Asihfitr
Edward kok gini haduh bikin kesel
Asihfitr
manipulatif pantas dimusnahkan
Asihfitr
Alana sangat mengecewakan paling gara2 dulu sempet dipisahin sama Daniel kan pas hamil
Asihfitr
Ivy kpn dpt hukuman setimpal udh jahat bgt harusnya dari awal yg nikah ma Edgar Ava
Asihfitr
terlalu lemah Edgar diancam si licik Ivy gak bisa lawan mafia BKN si pake trik dong
Asihfitr
ini yg kutakutkan Anak Alana jadi cwek licik, manipulatif, obsesi gak suka fiks gak tahu terimakasih lho pdhl ortu AVA jg ikut ngerawat dari bayi
Dewi Yanti
aku suka istrinya diego🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!