Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Kastara Hidup Kembali
Di kamar gue malam ini cuma diterangi lampu meja yang remang. Jemari gue diam di atas keyboard, kursor di layar laptop kedap-kedip seolah lagi nunggu gue buat ngambil keputusan. Setelah kejadian di ruang rapat tadi, gue sadar satu hal, Genta sudah pasang badan buat integritasnya, dan gue sudah pasang badan buat dia. Sekarang, saatnya gue memperbaiki apa yang sudah gue hancurin lewat emosi sesaat gue di Bandung.
Gue narik napas panjang, lalu mulai ngetik. Kali ini, nggak ada amarah. Nggak ada niat buat nyindir. Gue cuma pengen ngasih kesempatan kedua yang nggak sempat didapatin Genta di dunia nyata.
“Debu di jalan itu perlahan tertiup angin. Di tengah sunyi yang mengancam, jemari Kastara bergerak pelan. Kacamata yang pecah itu memang nggak bisa kembali utuh, tapi matanya terbuka. Dia melihat langit yang sama, namun dengan rasa yang berbeda. Dia sadar, mati bukan solusi untuk sebuah kesalahan. Hidup dan memperbaiki semuanya adalah satu-satunya jalan yang tersisa. Kastara bangkit, bukan sebagai robot yang sempurna, tapi sebagai manusia yang belajar untuk berdarah.”
Gue menekan tombol publish di aplikasi NovelToon tepat pukul satu pagi. Gue tahu, ada satu orang yang pasti belum tidur dan bakal langsung dapet notifikasinya.
Keesokan paginya di kantor, suasana jauh lebih santai. Pak Wijaya kabarnya "menepi" sejenak setelah laporan yang gue kasih terbukti valid. Tapi bukan itu yang bikin gue deg-degan. Yang bikin jantung gue mau copot adalah kenyataan bahwa Genta baru saja masuk ke ruangan dengan langkah yang nggak seangkuh biasanya.
Gue lagi pura-pura sibuk nyusun hardcopy pas Genta berdiri di depan meja gue. Gue mendongak, siap buat dengerin kritikan soal "plot hole" atau logika medis kenapa Kastara bisa selamat dari tabrakan truk.
Genta diem cukup lama. Dia benerin posisi kacamatanya, matanya nggak berani natap gue langsung. Dia malah ngelihatin tumpukan kertas di samping laptop gue.
"Bab barunya... sudah saya baca," ucapnya pelan. Suaranya agak serak, kayak orang yang baru bangun tidur atau... habis nahan tangis?
Gue nyender ke kursi, mencoba pasang wajah santai. "Oh ya? Gimana, Pak? Secara efisiensi narasi buruk ya? Nggak masuk akal kalau dia selamat?"
Genta menarik napas panjang. Dia akhirnya berani natap mata gue. Ada binar yang beda di sana, sesuatu yang jauh lebih hangat dari biasanya. "Secara medis mungkin sulit dijelaskan. Tapi secara... secara hati, itu bab terbaik yang pernah kamu tulis, Aruna."
Gue tertegun. Genta yang hobi ngeritik diksi gue baru saja bilang itu bab terbaik?
"Terima kasih," lanjutnya, suaranya makin rendah. "Terima kasih sudah membiarkan dia hidup. Dan terima kasih sudah... mengerti."
Gue bisa lihat ujung bibirnya gemetar, kayak ada sejuta kata yang mau dia keluarin tapi ketahan sama rasa gengsinya yang setinggi langit itu. Pria ini bener-bener definisi jaim sampai ke tulang.
"Jangan baper dulu, Pak," goda gue biar suasananya nggak terlalu melow. "Kastara hidup lagi bukan gratisan. Dia harus belajar bikin kopi yang bener dan nggak boleh marah-marah kalau penulisnya telat setor naskah."
Genta mendengus, tapi kali ini dia nggak bisa nyembunyiin senyumnya. Dia ngetuk meja gue dua kali pakai jarinya—gestur yang sekarang gue artiin sebagai 'terima kasih' versi Genta.
"Kembali kerja, Aruna. Jangan mentang-mentang kamu pahlawan di bab ini, kamu jadi kura-kura lagi," katanya sambil balik badan menuju ruangannya.
Gue ketawa kecil melihat punggungnya yang sekarang kelihatan jauh lebih ringan. Gue tahu, lewat bab spesial semalam, gue bukan cuma ngidupin Kastara. Gue juga baru saja ngasih tahu Genta kalau di dunia gue, dia selalu punya tempat untuk pulang, seberapa banyak pun typo yang dia buat dalam hidupnya.
Pagi ini, kopi gue rasanya manis banget. Padahal gue nggak pakai gula sama sekali.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻