Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PDKT
Di rumahnya, Mario duduk santai di kursi rotan depan kolam ikan. Asap rokok tipis mengepul, secangkir kopi hitam mengepul di meja kecil sampingnya. Ponselnya berbunyi pesan masuk dari Anggika.
Mario membaca chat itu pelan-pelan, sudut bibirnya terangkat.
“Panik juga ternyata,” gumamnya pelan sambil tersenyum puas.
Tak lama, Aisyah keluar dari dalam rumah sambil menyilangkan tangan di dada.
“Rio, Anggi tadi habis telepon Mama,” ujar Aisyah santai.
Mario mengangkat wajahnya. “Mama ngomong apa?”
Aisyah duduk di kursi seberangnya. “Mama bilang kamu lagi ada tamu cewek cantik, temen kuliah kamu datang.”
Mario terkekeh pelan. “Mama sengaja banget ngomong begitu ya?”
“Mama mau tau dia itu cinta gak sama kamu. Mama gak mau kamu aja yang usaha deket in dia tapi gak ada kemajuan.Gimana nanti kalian mau menikah jika gak ada rasa cinta cuma karena keterpaksaan,” lanjut Aisyah.
Mario menatap layar ponselnya lagi, membaca ulang pesan Anggika.
“Aku lagi pakai trik tarik ulur aja sih, Mah.Mama tentang aja aku pasti bisa menaklukkan hati Anggika yang sekeras batu."
Aisyah menggeleng. “Jangan kebanyakan gaya. Angkat teleponnya, kasian tuh anak nggak bisa tidur.”
Mario menghembuskan napas, mematikan rokoknya di asbak.
“Nggak ah. Nanti aja.”
“Lho kenapa?”
Mario berdiri sambil meraih kunci mobil di meja. “Nanti aku ke rumahnya langsung. Ajak jalan sekalian.”
Aisyah menyipitkan mata. " Nanti malam, kenapa gak sekarang?”
“Biar dia makin kepikiran,” jawab Mario santai dengan senyum penuh arti.
Aisyah tertawa kecil. “Dasar kamu. Cara PDKT-mu memang beda dari yang lain.”
Mario memasukkan ponsel ke saku celana.
“Tunggu aja, Anggi. Kamu nggak bakal bisa tidur malam ini,” batinnya sambil melangkah menuju garasi.
Mario selesai mencuci motor sport-nya sampai kinclong. Ia masuk ke kamar, mandi cepat, lalu keluar dengan kemeja hitam dan celana jeans rapi.
Huda yang sedang duduk di ruang tengah menoleh.
“Mau ke mana malam-malam begini?”
Mario menyisir rambutnya sekilas. “Main, Pah.”
Aisyah muncul dari dapur sambil tersenyum penuh arti.
“Main apaan? Mau ngajak jalan Anggika, dia Mas. ”
Mario pura-pura batuk kecil. “Mama sok tau ihh..."
Huda terkekeh. “Kalau ke rumah calon mertua jangan lupa bawa buah tangan.”
Aisyah menimpali cepat, “Iya, beli martabak. Biar calon mertua makin sayang.”
Huda mengangguk mantap. “Sama sate sekalian. Biar lengkap.”
Mario tertawa lebar. “Siap, Pah! Sekalian aja tukang martabaknya aku ajak pulang biar tiap malam bisa kirim.”
Aisyah menggeleng geli. “Dasar kamu ini.”
Mario meraih helm dan kunci motor.
“Doain aja ya, Ma, Pah.”
“Hati-hati di jalan!” seru Huda.
“Jangan ngebut!” tambah Aisyah.
“Siap, komandan!” sahut Mario sambil berjalan keluar.
Mesin motor sport-nya meraung halus saat dinyalakan. Ia melaju menembus jalan malam, berhenti di gerobak martabak pinggir jalan.
“Bang, martabak manis cokelat kacang dua, martabak telur satu. Cepat ya,” ujar Mario.
“Siap, Mas.”
Tak jauh dari situ, ia juga mampir ke penjual sate.
“Bang, sate ayam dua puluh tusuk, dibungkus. Bumbu kacangnya banyakin.”
Setelah semuanya siap, Mario menggantung kantong belanjaan di setang motornya.
“Oke, Anggika come on Bebe.” gumamnya sambil tersenyum, lalu melaju menuju rumah Anggika.
Motor Mario berhenti tepat di depan rumah Anggika. Ia melepas helm, merapikan rambutnya, lalu mengetuk pagar.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.” Herry keluar sambil membuka pintu. “Eh, Mario?”
“Iya, Pak. Saya bawain martabak sama sate ayam. Katanya Ibu Anggi suka,” ujar Mario sambil menyerahkan kantong plastik.
“Wah, repot-repot amat kamu.” Herry tersenyum tipis. “Masuk dulu, duduk sini.”
Mario menurut, duduk sopan di kursi ruang tamu.
“Anggi lagi tidur dari tadi. Capek kata ,Emaknya .”
“Masih tidur, Pak?” Mario terlihat kecewa.
“Iya. Kamu mau ngajak ke mana malam-malam begini? Rapi banget.”
“Cuma mau ajak jalan sebentar, Pak. Biar nggak bosan di rumah.”
Herry mengangkat alis. “Biasanya malam minggu baru jalan-jalan. Ini masih malam Kamis.”
Mario tersenyum canggung. “Hehe… nggak harus nunggu malam minggu juga, Pak. Yang penting ada waktu jalan berdua.”
Kulsum keluar dari dapur sambil mengelap tangannya dengan celemek.
“Eh, Mas Mario? Baru datang atau sudah lama?”
“Baru saja, Bu. Saya mau ngajak Anggi jalan sebentar,” jawab Mario sopan.
Herry menimpali, “Ini lho, Mario bawain martabak sama sate ayam kesukaan emakmukamu.”
Kulsum tersenyum lebar. “Aduh, repot-repot amat, Rio. Ya sudah, tunggu sebentar, emak panggilin Anggi dulu.”
Ia membawa makanan itu ke dapur, memindahkannya ke piring, lalu kembali lagi.
“Kamu mau minum apa, Mario? Kopi atau teh?”
“Air putih saja nggak apa-apa, Bu.”
“Bentar ya.”
Kulsum berjalan ke arah kamar putrinya dan mengetuk pintu.
“Anggi, bangun! Ada Mario. Keluar dulu sini.”
Di dalam kamar, Anggika yang masih setengah mengantuk langsung terlonjak.
“Mario ngapain ke sini? Dia nggak balas WA-ku dari tadi, bikin kesel. Sampai nggak bisa tidur aku mikirin dia,” gumamnya kesal.
Tanpa banyak pikir, Anggika keluar kamar masih mengenakan daster rumah.
Mario yang duduk di ruang tamu spontan terdiam. Tatapannya sempat terpaku, lalu ia cepat-cepat mengalihkan pandangan karena Anggika tidak menggunakan bhnya.
" Kenapa Anggi gak pakai bh segala sih, bikin gagal fokus aja. " ucap. Mario dalam hati, meneguk ludah susah payah.
“Baru bangun ya?” tanyanya, berusaha terdengar santai meski jantungnya berdetak lebih cepat.
Anggika menyilangkan tangan di dada. “Ngapain ke sini malam-malam? WA-ku aja nggak dibalas.”
Kulsum melirik keduanya bergantian. “Nah tuh, beresin dulu urusan kalian. Emak tinggal ambilin minum.”
Mario menggaruk tengkuknya pelan.
“Aku tadi benar-benar sibuk rapat. Makanya nggak sempat balas chat. Jadi sekalian aja aku kesini buat jelasin dan ngajak kamu jalan .”
Anggika menyipitkan mata.
“Kenapa nggak ngajak cewek yang tadi aja?”
“Cewek apa lagi?” Mario mengernyit. “Mama cuma ngerjain kamu. Dari tadi aku memang meeting sama tim.”
Herry yang masih duduk di ruang tamu langsung menoleh tajam.
“Cewek? Maksudnya apa ini, Rio? Kamu punya perempuan lain?”
“Enggak, Pak, sumpah,” Mario cepat-cepat meluruskan. “Tadi Mama cuma bercanda ke Anggi.”
Kulsum menepuk tangan pelan.
“Sudah, sudah. Anggi, sana ganti baju yang rapi. Kasihan Mario nunggu.”
“Bentar,” gumam Anggika.
Ia masuk kamar, buru-buru memilih pakaian yang lebih pantas, merapikan rambut, dan berdandan tipis.
Beberapa menit kemudian ia keluar dengan penampilan jauh lebih segar.
“Ayo,” katanya singkat, berusaha terlihat santai.
Mario tersenyum kecil.
“Kita pamit dulu, Pak, Bu.”
“Hati-hati di jalan,” pesan Herry.
Di teras, Mario menyerahkan helm.
“Nih, pakai.”
Anggika mengenakannya lalu naik ke motor. Mesin dinyalakan, mereka pun melaju.
“Sebetulnya kita mau ke mana?” tanya Anggika di tengah jalan.
“Nanti juga kamu tahu,” jawab Mario misterius.
Tak lama kemudian motor berhenti. Lampu warna-warni berkelip, suara musik dan tawa terdengar riuh.
Anggika melepas helmnya, menatap sekeliling dengan ekspresi tak percaya.
“Mario… ini pasar malam?”
“Iya,” jawabnya santai.
“Kamu ngajak aku pakai helm, bawa motor ngebut, cuma ke pasar malam?” protes Anggika. “Aku sudah dandan cantik begini!”
Mario menahan tawa.
“Justru itu. Biar semua orang tau calon Lurah dan bu lurah yang cantik ini merakyat.”
Anggika mendengus.
“Gombal.”
“Tapi serius,” Mario menatapnya lembut. “Aku pengin ajak kamu ke tempat sederhana dulu. Biar kalau nanti kita punya acara besar, kamu tetap ingat rasanya senang cuma berdua begini.”
Anggika terdiam sejenak, lalu mengalihkan wajahnya.
“Ya sudah. Tapi kalau nanti eyeliner-ku luntur gara-gara naik komidi putar, tanggung jawab kamu.”
Mario tertawa pelan.
“Kamu tetep cantik kok tenang aja. ”