Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang di Balik Gelombang
Malam itu, rumah nomor 13 tidak lagi terasa sesunyi biasanya. Bukan karena ada suara orang lain, melainkan karena suara Kara terus menggema di kepala Aira, menghantam dinding-dinding overthinking yang selama ini ia bangun dengan kokoh.
"Takdir itu di tangan Allah, Aira. Bukan di mata kamu."
Kalimat itu terasa seperti jangkar yang mencoba menahan kapal Aira yang selama ini hanyut tak tentu arah. Aira duduk di tepi tempat tidur, menatap tangannya. Benarkah selama ini ia begitu sombong karena merasa sanggup melampaui kehendak pencipta dengan "kesialannya"? Ataukah ia hanya terlalu pengecut untuk menghadapi kemungkinan bahwa ia layak untuk bahagia?
Ia teringat betapa Kara tetap berdiri tegak meski matanya meredup. Tekad laki-laki itu tidak logis—sangat tidak masuk akal bagi seorang Abyasa yang rasional. Tapi justru ketidaklogisan itulah yang mulai meretakkan cangkang ketakutan Aira.
"Sekali saja..." bisik Aira pada kegelapan. "Bolehkah aku mencoba percaya?"
Keesokan harinya, sore yang tenang membawa mereka kembali ke taman belakang sekolah, dekat sebuah kolam kecil yang jarang dikunjungi siswa lain. Di sana, permukaan air ditutupi oleh daun-daun teratai yang lebar, dengan beberapa bunga yang mulai mekar di antara bayang-bayang pohon besar.
Kara duduk di bangku semen, memejamkan matanya sejenak untuk meredakan denyut di kepalanya. Saat ia mendengar langkah ringan mendekat, ia tidak perlu membuka mata untuk tahu siapa itu. Aroma teh melati yang samar selalu mendahului kehadiran gadis itu.
Aira duduk di sampingnya, memberikan jarak yang cukup, namun tidak lagi sejauh biasanya.
"Kamu datang," gumam Kara. Ada nada lega yang tak tersamarkan dalam suaranya.
"Aku cuma ingin memastikan kamu tidak menabrak pohon lagi saat jalan ke sini," jawab Aira pelan, mencoba menutupi rasa cemasnya dengan nada datar.
Kara terkekeh, lalu perlahan membuka matanya. Pandangannya masih kabur, namun ia bisa melihat siluet Aira yang sedang menatap kolam teratai di depan mereka. "Teratai itu..." Kara menunjuk ke kolam. "Mereka tetap cantik meskipun akarnya tertanam di lumpur yang gelap. Persis seperti namamu."
Aira menoleh kecil. "Kamu tahu arti namaku?"
"Aku tahu 'Lawana' artinya samudera. Tapi 'Kasyaira'?" Kara menatapnya dengan pandangan yang berusaha fokus. "Itu terdengar seperti sajak yang belum selesai."
Aira terdiam sejenak, memainkan jemarinya. "Ibuku yang memberikannya. Kasyaira... itu diambil dari kata Kasya yang artinya pelindung atau tempat berteduh, dan Shaira yang berarti penyair atau pembawa berita baik. Lawana adalah samudera. Jadi, secara harfiah, namaku adalah 'Tempat berteduh di samudera yang membawa berita baik'."
Aira tertawa pahit, suaranya bergetar. "Ironis, bukan? Seseorang yang namanya berarti 'berita baik' justru menjadi pembawa berita duka bagi semua orang di sekitarnya."
"Nggak, Aira. Nama itu nggak salah," potong Kara dengan suara yang dalam dan mantap. "Samudera itu memang luas dan seringkali menakutkan bagi mereka yang hanya melihat dari permukaan. Tapi bagiku, Lawana bukan tentang tenggelam. Lawana adalah tentang kedalaman yang menjaga rahasia-rahasia indah yang tidak bisa dilihat oleh orang biasa."
Kara bergeser sedikit lebih dekat, membuat Aira menahan napas.
"Kasyaira Lawana... bagiku, kamu adalah rumah yang tenang di tengah badai. Kamu bukan pembawa sial. Kamu adalah tempat di mana aku belajar bahwa hidup itu bukan soal hitungan angka yang selalu pas, tapi soal bagaimana kita tetap bertahan di tengah ketidakpastian."
Aira menatap mata Kara yang masih kemerahan. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat ketakutan di sana. Ia melihat penerimaan yang tulus. Rasa hangat yang aneh mulai menjalar di dada Aira, perlahan mencairkan es yang sudah bertahun-tahun membeku.
"Kara... matamu... benar-benar nggak apa-apa?" tanya Aira, kali ini dengan suara yang lembut, memberi ruang bagi rasa pedulinya untuk keluar.
"Kalau harganya untuk melihat teratai sepertimu mekar adalah sedikit kabur di mataku, aku tidak keberatan, Aira," jawab Kara sambil tersenyum tipis. "Lagipula, aku mulai menyadari... melihat dengan hati ternyata jauh lebih jelas daripada melihat dengan mata."
Di bawah naungan pohon dan di atas riak kolam teratai, Aira akhirnya menyerah. Ia tidak menyerah pada kutukan, melainkan menyerah pada ketulusan laki-laki di sampingnya. Ia membiarkan dirinya duduk lebih dekat, membiarkan bahu mereka hampir bersentuhan, dan untuk sore itu, samudera dan matahari akhirnya menemukan titik temu yang damai.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰