NovelToon NovelToon
Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.

Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Betina Jadi jadian

Arlo masih setia menunggu Ale sampai dia berhenti menangis. Arlo menunggu dalam diam dan hanya mengusap pelan kepala Ale. Sungguh Arlo pun ikut merasakan sakit yang Ale rasakan, bukan keinginan Arlo seperti ini tapi keadaan Mahessa, papa Arlo yang memang membutuhkan Arlo untuk meneruskan perusahaannya. Arlo sendiri juga awalnya menolak tapi karena Mischa sang mama yang sudah mengajaknya bicara akhirnya Arlo juga setuju untuk kuliah di jurusan bisnis seperti yang Mahessa mau.

Mahessa sendiri juga tak pernah memaksa Arlo tapi kesehatannya yang beberapa waktu belakangan menurun memaksanya bersikap seperti ini. Arlo bukan anak pembangkang, dia anak yang menyayangi kedua orang tuanya yang dia akan melakukan apapun agar dia terus bisa berbakti pada kedua orang tuanya. Tapi bukan berarti Arlo juga akan mengubur cita citanya di dunia fashion.

"Mau nangis sampai kapan? Nanti wajahnya jelek," goda Arlo pada Ale.

Ale menegakkan badannya dan melihat Arlo dengan wajah sembabnya. Dia kemudian memeluk tubuh Arlo dengan erat, dan Arlo hanya terkekeh dengan tingkah Ale saat ini.

"Aku egois ya udah diemin kamu?"

Mata Arlo mengerjap berkali kali mendengar panggilan Ale kepadanya. Dia menunduk melihat Ale yang masih memeluknya erat.

"Kamu?" tanya Arlo lagi.

Ale melepaskan pelukan Arlo dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Arlo barusan.

Arlo langsung tersenyum lebar dan menyambar bibir Ale tanpa aba aba yang membuat mata Ale membola sempurnya. Arlo terus mencium bibir Ale sampai Ale membalas ciuman itu. Sampai Ale merasa pasokan oxygennya sudah hampir habis dan Ale memukul pelan dada Arlo.

Arlo menghentikan ciuman mereka dan malah terkekeh ke arah Ale.

"Lucu banget sih, padahal udah sering banget ciuman tapi masih aja kehabisan oxygen gitu," ejek Arlo pada Ale.

Tapi kemudian Arlo mengusap lembut pipi Ale dan membuat Ale yang semula cemberut kembali sendu melihat Arlo.

"Kenapa lagi? Apa yang kamu pikirin hmmm?" tanya Arlo pada Ale.

"Ar, aku egois udah bikin kamu nggak fokus dengan apa yang kamu lakuin, padahal udah jelas itu karena keadaan Om Mahessa yang menurun tempo hari. Bukannya seharusnya aku dukung kamu dan kasih suport biar kamu belajar bisnis dengan cepat bukan malah ngajak diem gini. Maaf Ar, kak Valen bener, kalau aku terus gini aku kemungkinan bakal nyesel kalau kamu udah jengah sama sifat ku." jelas Ale panjang lebar.

Arlo mengusap pipi Ale yang sedikit tirus karena Ale memaksakan diri untuk selalu bekerja lembur menyelesaikan semua design nya.

"Aku nggak apa apa, hanya saja kadang aku ngrasa aku yang egois karena ninggalin kamu sendirian di kampus itu sedangkan aku sama Valen kuliah di kampus yang sama. Tapi aku percaya kamu bisa kuliah di sana dengan baik karena di sana jurusan design dan fashionnya sangat bagus. Jadi ayo setelah ini kita sama sama berjuang dan sama sama melangkah bersama agar apa yang kita mau juga bisa kecapai. Mungkin akan ada saatnya kita akan sibuk dengan kegiatan kita, tapi kamu tahu kan sejak kecil aku udah nandain kamu buat jadi milikku, bukan hanya lelucon anak kecil tapi memang sesuatu yang aku mau juga. Di tambah semakin hari kita semakin dewasa pasti godaan dari sekitar juga akan banyak, kita hanya bisa saling terbuka untuk semua itu agar hubungan kita semakin kuat. Aku nggak bakal jaga diri begitu juga dengan kamu, harus bisa jaga diri ketika aku jauh dan nggak ada di sisi kamu," terang Arlo panjang lebar.

Ale mengangguk dan sruutttt....

"Eh....."

Ale langsung menutup wajahnya karena malu karena dia tiba tiba mengeluarkan ingus nya dan membuat Arlo tertawa terbahak.

"Astaga Al, rusuh banget kamu tuh."

"Cuci muka dulu sana,"

Ale mengangguk dan menuruti apa yang di katakan oleh Arlo, sedangkan Arlo memilih menunggu Ale di sana dan memberitahu Dean agar mengurus ijin Arlo di kampus. Arlo tak mungkin meninggalkan Ale dalam kondisi seperti ini, dan lagi waktunya yang di punya pun sudah terlewat untuk mengikuti penyambutan mahasiswa baru.

Arlo juga sudah memesan makanan untuknya dan juga Ale serta untuk karyawan Ale yang lain.

Dia menunggu Ale sambil memeriksa semua dokumen yang masuk di perusahaan Mahessa, tapi matanya menyipit karena ada satu data yang menurutnya janggal dan berbeda dari laporan sebelumnya. Arlo kemudian menyeringai menatap semua laporan yang di kirim salah satu karyawan sang papa yang memang ini sudah waktunya untuk melaporkan semua data kantor.

"Mau main main ternyata, "batin Arlo.

Arlo kemudian memasukkan ponselnya ke kantong jaketnya, dia lebih memilih membiarkan semua itu sampai dia datang sendiri ke kantor nanti. Dengan begitu dia akan melihat langsung siapa yang mengajaknya bermain kali ini.

**

Sementara itu, Valen dan Dean sudah sampai di kampus yang sudah ramai mahasiswa baru. Tidak ada perpeloncoan seperti berita berita yang ada karena di sini termasuk kampus skala internasional yang akan di fokuskan untuk belajar bukan untuk ajang gaya dan sok senior.

Dean yang keluar dari mobilnya menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana. Mereka memperhatikan apa yang Dean lakukan. Sampai pada Dean mengitari mobilnya itu dan membuka pintu di sampingnya nampaklah Ale yang keluar dari mobil itu dengan wajah datar dan mata yang tajam.

"Wah, itu siapanya?"

"Itu ceweknya mungkin,"

"Kalau bukan ceweknya nggak mungkin kan dia sampai di buka kan pintu,"

Banyak celetukan yang sedang membicarakan Valen dan Dean tapi seperti biasa mereka berdua tidak pernah peduli dengan sekitarnyayang hanya membicarakan mereka tanpa tahu aslinya. Itu untuk menjaga sesuatu yang nantinya tidak sesuai dengan apa yang terjadi.

Dean langsung membawa Valen ke gedung yang akan di jadikan untuk acara penyambutan mahasiswa baru. Di sana Dean sudah di tunggu panitia kampus. Ada salah satu panitia yang memandang Valen tak suka di tambah lagi Dean menggandeng erat tangan Valen. Dean bahkan menyuruh Valen untuk duduk di bangku paling depan yang ada di dekatnya nanti.

Salah satu panitia perempuan itu menghampiri Dean dengan wajah tersenyumnya dan berdiri di depan Dean yang masih mengobrol dengan Valen.

Dean juga tak menggubris panitia itu karena Dean memang tak ada urusan dengannya. Sang panitia itu tentu saja kesal tapi karena dia bersikap profesional dia mendiamkan Dean dan Valen.

Valen sebenarnya tahu tentang wanita yang ada di depannya ini. Tapi dia juga acuh dengan itu dan lebih memilih mengobrol dengan Dean kembali sambil memberitahu tentang Arlo dan Ale yang sudah berbaikan dan menyelesaikan masalah mereka berdua.

Tapi wanita itu yang sudah tak tahan akhirnya membuka suara dan menegur Dean lebih dahulu.

"Maaf kak Dean, di sini hanya khusus untuk tamu undangan dan mahasiswa baru tempatnya ada di belakang bukan di sini," tegur wanita itu.

"Dia tunangan gue dan gue juga sudah dapat ijin buat tunangan gue duduk di sini."

Jawab Dean langsung yang membuat panitia wanita itu menunduk malu di tambah banyak orang yang memperhatikan mereka. Siapa yang tak kenal dengan Dean karena ini memang kampus Dean yang dulu dan sebagian memang sudah mengenal Valen. Jadi sedikit banyak mereka tak ingin menegur Dean dengan apa yang di lakukannya saat ini.

Valen yang memang sejak tadi diam segera membaca name tag yang dia pakai dan di sana dia tahu jika panitia wanita itu hanya panitia pembantu atau panitia tambahan dalam acara itu yang di ambil dari mahasiswa semester satu. Yang berarti masih di atas Valen satu tingkat.

"Dan lagi lo nggak perlu panggil gue kak, karena gue bukan kakak lo," sahut Dean lagi.

Panitia itu semakin menunduk dan akhirnya Valen menyenggol lengan Dean karena kondisinya sudah tak kondusif lagi dan Valen tak ingin terjadi keributan apapun di sana.

"Sayang, acaranya udah mau di mulai,"

Dean mengangguk dan matanya kembali fokus pada acara yang akan di mulai sementara wanita pergi meninggalkan Valen dan Dean untuk kembali ke belakang panggung.

"Ck, dimana mana ada betina jadi jadian,"

to be continued...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!