NovelToon NovelToon
Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Dari Sampah Menjadi Penguasa Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Pemain Terhebat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jullsr red

Di bawah langit kelabu yang digelayuti takdir dan dendam yang belum terbalas, Lin Zhantian melangkah memasuki babak baru dalam perjalanan kultivasinya. Setelah menanggung penghinaan panjang yang menggerogoti martabat keluarganya, ia kini berdiri di ambang perubahan besar—bukan lagi sebagai pemuda lemah yang dipandang rendah, melainkan sebagai bara api yang tersembunyi di balik abu.

Bab ini menyoroti pergulatan batin Lin Zhantian saat ia menyadari bahwa kekuatan sejati tidak hanya lahir dari teknik dan energi spiritual, tetapi juga dari tekad yang tak tergoyahkan. Di tengah tekanan klan, tatapan sinis para tetua, serta bayang-bayang kejeniusan para rivalnya, ia menemukan secercah peluang—sebuah warisan kuno yang seolah memilihnya sebagai penerus.

Namun, jalan menuju kejayaan tidak pernah sunyi dari ujian. Energi liar yang mengamuk di dalam tubuhnya hampir merobek meridiannya, menguji batas ketahanan fisik dan jiwanya. Dalam kesunyian malam, saat semua orang terlelap dan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jullsr red, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 — Tingkat Keempat Penempaan Tubuh

Di dalam sebuah gua pegunungan yang sejuk dan sunyi, di mana udara terasa lembap oleh embun yang meresap dari celah-celah batu purba, seorang pemuda terbaring santai di dalam sebuah kolam batu alami. Air kolam itu tidak jernih sepenuhnya—di dalamnya berkilau samar cairan merah pucat yang memancarkan aura hangat dan misterius. Pemuda itu adalah Lin Zhantian.

Tubuhnya yang masih belia tenggelam setengah dalam cairan tersebut, sementara wajahnya memperlihatkan ketenangan yang jarang terlihat pada anak seusianya. Kelopak matanya terpejam, napasnya panjang dan teratur. Ia merasakan setiap tetes cairan merah yang menempel di kulitnya perlahan-lahan meresap melalui pori-pori, menyusup masuk ke dalam daging dan tulang, menyentuh otot-otot yang sebelumnya terkoyak oleh latihan keras tanpa ampun.

Cairan itu bukan sekadar air biasa.

Ia adalah sari kekuatan.

Setiap helainya seperti api lembut yang membelai, namun juga palu tak kasatmata yang menempa. Otot-otot yang sebelumnya terasa nyeri dan letih kini seperti disiram embun musim semi setelah kemarau panjang. Tulang-tulangnya yang terhimpit tekanan latihan berat kini kembali kokoh, bahkan lebih padat daripada sebelumnya.

Tubuh Lin Zhantian, yang selama berhari-hari dilatih hingga batasnya, kini menyerap cairan itu dengan rakus, bagaikan makhluk kelaparan ribuan tahun yang akhirnya menemukan santapan suci. Setiap serat tubuhnya bergetar halus, meminum esensi yang terkandung dalam cairan merah itu tanpa menyisakan sedikit pun.

Tiba-tiba—

“Dengung!”

Permukaan kolam bergetar ringan.

Di saat yang sama, alis Lin Zhantian berkerut. Dari balik kulitnya muncul sensasi aneh—bukan sekadar hangat, melainkan rasa gatal bercampur nyeri yang menjalar dari ujung kaki hingga ubun-ubun.

Matanya terbuka seketika.

Ia terkejut.

Namun detik berikutnya, keterkejutan itu berubah menjadi sorot kegembiraan yang membara.

Di permukaan kulitnya, serpihan-serpihan tipis mulai terkelupas. Lembaran kecil kulit lama rontok satu demi satu, mengambang di atas air sebelum tenggelam perlahan.

Pengelupasan kulit!

Itulah tanda nyata seseorang telah menembus Tingkat Keempat Penempaan Tubuh!

Akhirnya… ia sampai juga di tahap ini.

Sudut bibir Lin Zhantian terangkat, dan ia menjilat bibirnya perlahan, menahan gejolak emosi yang hampir meluap. Dalam sembilan tingkat Penempaan Tubuh, tiga tingkat pertama hanyalah dasar—sekadar memperkuat fisik luar. Namun mulai tingkat keempat, tubuh benar-benar mengalami transformasi. Setelah kulit lama terkelupas, kulit baru yang tumbuh akan sekeras kayu dan sepadat batu.

Kekuatan fisik meningkat tajam.

Daya tahan terhadap pukulan berlipat ganda.

Perbedaan antara tingkat ketiga dan keempat bagaikan jurang antara anak kecil dan petarung sejati.

Serpihan kulit lama terus berguguran hingga akhirnya bersih seluruhnya. Lin Zhantian bangkit dari kolam, menggulung tubuhnya sebentar sebelum melompat ringan ke tepian batu. Ia mengangkat tangannya dan mengusap lengan sendiri.

Sentuhan itu terasa berbeda.

Permukaan kulitnya kini halus, namun di balik kehalusan itu tersembunyi kekerasan yang kokoh. Seolah-olah ia menyentuh batu giok yang dipoles sempurna.

Perasaan puas menyelimuti batinnya.

Namun ia tidak larut terlalu lama.

Dengan napas teratur, ia segera memasang kuda-kuda dan mulai mempraktikkan jurus Tongbei Quan. Gerakan demi gerakan mengalir seperti arus sungai deras. Setiap pukulan memecah udara, menghasilkan suara desir yang lebih kuat daripada sebelumnya.

“Whuush! Whuush!”

Angin dari tinjunya menyapu debu di tanah, bahkan mengguncang dedaunan kering di sudut gua.

Ketika rangkaian jurus selesai, ia menarik napas panjang dan menurunkan kedua tangannya perlahan.

Senyum puas tersungging di wajahnya.

Perbedaan kekuatan ini bukan ilusi.

Ia benar-benar telah melampaui dirinya yang lama.

Pandangan Lin Zhantian beralih ke kolam batu. Ia menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum kecil.

“Terima kasih,” gumamnya lirih.

Namun dalam keheningan berikutnya, dahinya berkerut. Setelah lebih dari sepuluh hari berendam dan menyerap cairan merah, ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Cairan itu… berkurang.

Warnanya yang dahulu pekat kini tampak lebih samar.

Ia merenung sejenak sebelum merogoh pakaian yang disimpan di tepian batu. Dari dalam, ia mengeluarkan sebuah botol kecil transparan seukuran jari. Di dalamnya terdapat dua tetes cairan merah yang jauh lebih pekat daripada yang ada di kolam.

Sejak membawa jimat batu misterius itu di tubuhnya, Lin Zhantian menemukan rahasia tersembunyi: setiap lima hari sekali, pada sebuah lekukan kecil di permukaan jimat, akan muncul setetes cairan merah kental.

Cairan itu sama seperti yang mengisi kolam, tetapi lebih murni, lebih kuat.

Ia menyadari satu hal penting—kolam batu ini tidak dapat mempertahankan cairan tersebut selamanya. Seandainya tidak demikian, selama bertahun-tahun tempat ini pasti telah penuh oleh cairan merah. Nyatanya, hanya dalam sepuluh hari pemakaian saja sudah menunjukkan tanda-tanda menyusut.

“Kelak, jika ingin kembali berlatih di sini, aku harus menambahkan cairan ini sendiri.”

Ia menggenggam botol kecil itu erat-erat. Hatinya terasa berat.

Lima hari hanya untuk satu tetes.

Betapa berharganya benda ini.

Dalam lubuk hatinya, tersimpan pula niat lain—ia ingin suatu hari diam-diam memberikan setetes cairan itu kepada ayahnya, Lin Xiao. Dengan keajaiban yang dimiliki cairan tersebut, mungkin luka lama sang ayah dapat pulih.

Ia menghela napas pelan.

Botol itu disimpan kembali.

Setelah mengenakan pakaian, Lin Zhantian meninggalkan gua dan menuju tempat latihan biasa di kaki gunung. Namun sebelum ia sempat memulai latihan, sebuah suara tergesa-gesa terdengar dari kejauhan.

“Lin Zhantian! Gawat!”

Seorang pemuda bertubuh agak gemuk berlari mendekat, napasnya terengah-engah. Itu adalah Lin Changqiang, sepupu yang masih memiliki hubungan keluarga cukup dekat dengannya.

Lin Zhantian menoleh sekilas, lalu tanpa banyak bicara mengangkat dua batu berat di tanah dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Apa yang terjadi?” tanyanya tenang.

“Qingtan… dia dalam masalah!”

Suara batu jatuh menghantam tanah dengan keras.

Wajah Lin Zhantian seketika mengeras.

“Apa maksudmu?”

Lin Changqiang mengusap keringatnya dan berkata cepat, “Hari ini dia pergi ke hutan belakang gunung dan menemukan Rumput Chiyang. Tapi kebetulan Lin Shan dan kelompoknya melihatnya. Sekarang mereka menghalangi Qingtan dan tidak membiarkannya pergi!”

Nama itu membuat mata Lin Zhantian menyala dingin.

Lin Shan.

Nama yang sudah lama tertanam dalam ingatannya.

Qingtan—gadis kecil yang bukan saudara sedarahnya namun telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarganya. Lembut, patuh, tidak pernah manja. Bahkan ayah mereka yang tegas pun selalu melunak di hadapannya.

Ia tahu mengapa Qingtan sering ke hutan.

Gadis itu ingin mencari tanaman obat agar latihan kakaknya berjalan lebih lancar.

Dulu ia hampir celaka karena itu.

Dan kini, ia mengulanginya lagi.

“Antar aku ke sana,” ucap Lin Zhantian singkat.

“Kau sendiri? Bagaimana kalau kita panggil Paman Ketiga?”

Ia menggeleng.

“Masalah generasi muda tidak perlu melibatkan orang tua.”

Sorot matanya berubah tajam.

“Jika kita terlambat dan Qingtan diganggu, jangan harap kau bisa bermain dengannya lagi.”

Lin Changqiang meringis, lalu segera berbalik memimpin jalan.

Langkah Lin Zhantian ringan namun cepat. Di balik wajah tenangnya, amarah membara seperti api di dalam kawah gunung.

Kali ini berbeda.

Ia bukan lagi pemuda lemah di Tingkat Ketiga.

Ia telah menembus Tingkat Keempat.

Dan Lin Shan…

Kali ini, ia tidak akan membiarkan penghinaan terulang.

Dalam hati terdalamnya, tekad terpatri seperti ukiran pada baja.

“Lin Shan… kali ini aku akan membuatmu merasakan arti diinjak hingga hina.”

1
REY ASMODEUS
bagusss
REY ASMODEUS
aku suka permulaan untuk sebuah nama : DENDAM , tapi setelah itu ? apa tujuanmu wahai Lin zhatian?
anggita
ikut ng👍like aja👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!