Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VONIS YANG MEMATAHKAN
Keesokan harinya, aroma antiseptik yang tajam menyambut langkah Arumi saat ia menyusuri lorong rumah sakit yang masih lengang. Di sampingnya, Bisma berjalan dengan raut wajah serius, membawa map rekam medis yang cukup tebal. Tujuan mereka satu: ruang perawatan intensif tempat Ariya terbaring pascaoperasi darurat yang melelahkan kemarin.
Baru saja jemari Arumi hendak menyentuh gagang pintu kayu ek tersebut, langkahnya mendadak terkunci. Ia mematung, telinganya menangkap gelombang suara yang meninggi dari dalam ruangan.
"Loh, kok berhenti, Rum? Ada apa?" Bisma mengerutkan dahi, menatap Arumi dengan tatapan penuh tanya.
Arumi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat jari telunjuk, menempelkannya di depan bibir dengan gestur yang tegas. "Ssst..." bisiknya nyaris tak terdengar.
Bisma tertegun, namun ia segera menangkap isyarat itu. Keduanya berdiri diam dalam keheningan lorong, membiarkan percakapan dari dalam ruangan mengalir keluar melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
Di dalam ruangan, suasana terasa jauh dari kata tenang. Seorang wanita muda dengan riasan wajah yang mencolok duduk di kursi samping ranjang Ariya. Ia adalah Lusi, tunangan Ariya, yang sejak tadi terus merapikan selimut dengan gerakan yang tampak dipaksakan.
"Mas Arya? Kenapa kamu bisa jadi begini sih, Mas?" Lusi mengeluh, suaranya melengking kecil. "Untung saja kemarin aku cepat datang. Kalau tidak, mungkin saat ini wajah tampanmu sudah terinfeksi oleh wanita sombong itu. Benar-benar keterlaluan dia!"
Ariya yang masih tampak pucat dengan perban di beberapa bagian tubuhnya, perlahan membuka mata. Dahinya berkerut dalam, mencoba memproses informasi yang masuk ke kepalanya yang masih terasa berdenyut.
"Wanita sombong?" gumam Ariya pelan, suaranya parau dan lemah. "Siapa yang kamu maksud, Lusi? Aku tidak mengerti."
Lusi mendengus, mengibaskan tangannya di udara seolah sedang mengusir lalat. "Ah, sudahlah! Tidak usah membahas dia. Menyebut namanya saja sudah membuat mood-ku hancur berantakan!"
Ariya menghela napas panjang, kelopak matanya kembali memberat. "Ya sudah, terserah kamu saja kalau begitu."
"Eh, kok malah mau tidur sih, Mas? Dengar dulu!" Lusi mengguncang bahu Ariya pelan, membuat pria itu meringis menahan nyeri di dadanya. "Kita harus membahas acara pernikahan kita dua minggu lagi. Ingat loh Mas, undangan sudah tersebar luas ke semua kolega Papa. Tidak mungkin kita membatalkannya sekarang. Mau ditaruh di mana muka keluargaku?"
Mendengar desakan itu, Ariya hanya bisa memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Tenanglah, Lusi. Tidak ada yang akan menunda pernikahan kita. Kamu jangan khawatir berlebihan seperti itu."
Wajah Lusi seketika cerah, namun hanya sekejap sebelum keraguan kembali muncul. "Benarkah? Tapi bagaimana kalau nanti kamu belum sembuh total? Aku tidak mau ya duduk sendirian di pelaminan seperti temanku waktu itu. Jadi, kamu harus janji, di hari pesta nanti kamu harus sudah gagah dan bisa berdiri tegak. Janji ya, Mas?"
Ariya menutup matanya rapat-rapat, rasa lelah yang luar biasa mulai menggerogoti kesadarannya. "Iya, Sayang. Sekarang biarkan aku istirahat sebentar. Badanku terasa sangat lemas."
"Ih, Mas Ariya! Aku kan masih ingin mengobrol tentang konsep pelaminannya! Masa kamu malah tidur!" Lusi mengerucutkan bibirnya, tampak kesal karena diabaikan.
Seorang wanita paruh baya yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan, Heny, ibu Ariya akhirnya angkat bicara. "Sudahlah, Lusi. Biarkan calon suamimu istirahat dulu. Bukankah kamu ingin dia sehat saat hari pernikahan nanti?"
"Benar apa yang dikatakan Tante Heny, Lusi. Biarkan Ariya memulihkan tenaganya," timpal Rina, ibu Lusi, yang duduk di sofa panjang bersama Heny.
Lusi menoleh ke arah ibunya dengan wajah merengut. "Ih, Mama kok malah ikut-ikutan membela Tante Heny sih! Aku kan cuma ingin memastikan semuanya sempurna!"
Rina mendesah pelan, menatap Heny dengan perasaan tidak enak. "Maaf ya, Jeung Heny. Maklum, Lusi ini masih terlalu muda dan sangat bersemangat. Kadang tingkahnya memang masih seperti anak-anak kalau sedang manja."
Heny tersenyum lembut, meski gurat kelelahan jelas terpahat di wajahnya. "Tidak apa-apa, Jeung Rina. Saya sangat memahaminya."
"Duh, kenapa para ibu ini malah jadi seperti sedang arisan?" Lusi mencela dengan nada tidak sopan. "Bisa tidak sih membiarkan kami berdua saja di sini? Pusing aku melihat kalian berbisik-bisik begitu."
Wajah Rina memerah mendengar ucapan putrinya. "Lusi! Kamu ini bicara apa? Jaga kesopananmu!" bentak Rina dengan suara yang tanpa sengaja meninggi.
Suara bentakan itu rupanya memicu reaksi mendadak dari tubuh Ariya. Pria itu tiba-tiba tersentak. Napasnya memburu, dan wajahnya yang semula tenang berubah menjadi penuh ketakutan.
"Akh! Ma... Mamah!" Ariya mengerang keras, tangannya mencengkeram sisi ranjang dengan kuat. "Kenapa kakiku... kenapa kakiku tidak terasa apa-apa?"
Heny langsung berhambur ke samping ranjang putranya. "Kamu kenapa, Nak? Ada yang sakit? Bagian mana yang sakit?"
"Tidak terasa, Mah! Aku tidak bisa merasakan kedua kakiku! Seperti hilang!" teriak Ariya panik, matanya membelalak menatap selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Sabar, Nak! Mamah panggilkan dokter sekarang!" Heny berbalik dengan tergesa-gesa. Namun, sebelum ia mencapai pintu, daun pintu itu sudah terbuka lebih dulu.
Arumi dan Bisma melangkah masuk dengan ekspresi profesional yang terkontrol, seolah mereka tidak mendengar drama yang baru saja terjadi di dalam.
"Assalamu’alaikum, Tante," sapa Arumi tenang dengan senyum tipis yang sopan.
"Arumi! Wa’alaikumussalam," sahut Heny dengan nada lega yang luar biasa. "Nak, kebetulan sekali kamu datang! Tolong, periksa Ariya. Dia bilang dia tidak bisa merasakan kakinya!"
Arumi mengangguk tenang, mencoba meredam kepanikan di ruangan itu. "Iya, Tante. Kami memang datang untuk melakukan observasi rutin pagi ini. Oh iya, perkenalkan, ini Dokter Bisma. Beliau yang menangani operasi Dokter Ariya kemarin."
Bisma mengangguk sopan dan menjabat tangan Heny singkat. "Saya Bisma, Tante. Kami akan melakukan yang terbaik."
Tanpa membuang waktu, Bisma mendekati ranjang dan mulai melakukan pemeriksaan fisik pada bagian tungkai Ariya. Ia menggunakan palu refleks dan alat uji sensorik, sementara Arumi mencatat setiap respons—atau ketiadaan respons—dari tubuh pasien.
Ariya menatap Bisma dengan pandangan yang tajam dan menuntut. "Apa yang terjadi, Bis? Kenapa kakiku tidak bisa digerakkan sama sekali? Jawab jujur!"
Bisma menghela napas, meletakkan alat-alatnya kembali ke atas nampan. "Begini, Ar. Kondisi kaki yang tidak bisa digerakkan pascatrauma hebat sering kali dipicu oleh adanya gangguan pada tulang belakang. Kamu lebih tahu dari siapa pun di sini bahwa trauma tulang belakang bisa mengakibatkan penekanan saraf atau iritasi."
Ariya terdiam, namun rahangnya mengeras.
"Dalam kondisi ringan," lanjut Bisma, "pasien mungkin hanya merasa kesemutan atau lemas. Namun, pada kasus yang lebih berat, kontrol fungsi otonom bisa terganggu. Jika penekanan saraf itu cukup fatal, hal itu bisa menyebabkan paraplegia, atau kelumpuhan pada anggota gerak bawah."
Ruangan itu mendadak sunyi senyap, seolah oksigen baru saja disedot keluar.
"Jadi maksudmu... aku lumpuh?" tanya Ariya dengan suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman.
Lusi yang berdiri di ujung ranjang menutup mulutnya dengan tangan, matanya melotot. "Apa? Mas Ariya lumpuh? Lumpuh total?"
Bisma menggeleng cepat, mencoba memberikan titik terang. "Ini masih diagnosa awal, Ar. Masih ada tahap observasi dan rehabilitasi. Kami akan berusaha semaksimal mungkin agar kamu bisa kembali berjalan. Kita belum bisa memastikan ini permanen atau tidak."
"Omong kosong!" Ariya tiba-tiba berteriak, suaranya menggelegar hingga membuat Heny tersentak kaget. "Aku ini dokter! Aku tahu bahasa halus kalian! Keluar dari sini! Aku tidak percaya pada kalian berdua!"
Lusi yang hendak melancarkan protes tertahan oleh kemarahan Ariya yang meledak-ledak. Namun, Arumi tidak tampak gentar sedikit pun. Ia justru melangkah maju, menatap langsung ke dalam mata Ariya yang penuh amarah.
"Anda tidak perlu berteriak pada kami, Dokter Ariya," ujar Arumi dengan nada dingin yang menusuk. "Kami di sini menjalankan tugas profesional kami. Jika Anda ingin menyerah pada keadaan sebelum mencoba, itu hak Anda. Tapi jangan pernah melampiaskan frustrasi Anda pada rekan sejawat yang mencoba membantu."
Arumi kemudian menoleh pada Bisma dan menarik lengan jas pria itu. "Ayo, Bisma. Kita keluar. Biarkan pasien menenangkan diri dan menerima kenyataan ini dulu."
Arumi berbalik dengan langkah mantap, meninggalkan Ariya yang masih terpaku dalam kemarahannya yang sunyi, dan Lusi yang mulai terisak karena membayangkan pernikahan impiannya hancur berantakan.
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra