NovelToon NovelToon
Gaze Of The Heart

Gaze Of The Heart

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏

Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan yang Bergulir

Seminggu telah berlalu sejak perdebatan panas di kelas Sosiologi itu, namun gema suara Aydan masih terngiang-ngiang di telinga Dayana. Rasa kesal yang awalnya murni karena harga diri yang terluka, kini berubah menjadi rasa penasaran yang menggerogoti. Dayana tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Aydan tentang ibunya, tentang kebebasan, dan tentang integritas.

Siang itu, saat jam istirahat di kelas yang mulai sepi, Dayana menyenggol lengan teman sebangkunya, seorang gadis berkacamata bernama Sarah yang dikenal sebagai database berjalan di sekolah itu.

"Sar," bisik Dayana. "Kau tahu akun media sosial si Aydan rese itu? Aku benar-benar muak melihat gayanya yang sok suci. Aku penasaran, sehebat apa sih ibunya yang dia bangga-banggakan itu? Paling juga cuma akun yang isinya ceramah."

Sarah tertawa kecil sambil menggeser layar ponselnya. "Aydan? Dia itu misterius, Day. Dia jarang posting, tapi pengikutnya ribuan.

Akunnya @Aydan_Alghazi. Tapi jangan kaget ya, dia bukan cuma sekadar anak alim seperti yang kau pikirkan."

Dengan jantung yang berdegup sedikit lebih kencang, Dayana membuka akun tersebut di ponselnya.

Ekspektasi Dayana hancur seketika saat melihat grid foto di profil Aydan. Tidak ada foto selfie dengan wajah sok keren atau pamer kemewahan. Foto-foto di sana memiliki estetika yang sangat kuat, dominasi warna gelap, siluet, dan sudut pandang yang bercerita.

Dayana mulai menggulir layar. Foto pertama yang menarik perhatiannya adalah foto Aydan di atas motor sport berwarna hitam legam. Di sana, Aydan mengenakan baju balap lengkap, helmnya tergeletak di atas tangki motor. Ia tampak sedang duduk di tepi lintasan sirkuit, menatap senja dengan latar belakang aspal yang masih basah.

“Ternyata dia benar-benar pembalap,” batin Dayana. Ia melihat foto-foto lain di arena balap, Aydan yang sedang menikung tajam hingga lututnya nyaris menyentuh tanah, dan foto piala yang difoto dari kejauhan tanpa keterangan yang pamer. Di sana terpancar sisi maskulinitas yang liar namun terkendali.

Guliran layar Dayana berlanjut ke foto-foto yang lebih lama. Di sana, wajah Aydan tampak sedikit lebih muda. Ia tidak lagi berada di sirkuit, melainkan di sebuah lingkungan yang sangat asri dengan bangunan-bangunan kayu yang sederhana, Pesantren.

Ada foto Aydan sedang duduk di antara anak-anak kecil, tampaknya ia sedang mengajari mereka sesuatu. Ada juga foto Aydan yang sedang mencangkul di kebun pesantren bersama beberapa santri lain, wajahnya berlumuran keringat namun terlihat jauh lebih tenang daripada saat di sekolah.

Dayana tertegun. Pria yang kemarin mematikan argumennya dengan logika tajam itu ternyata punya sisi yang begitu rendah hati. Di satu sisi ia adalah penakluk lintasan balap, di sisi lain ia adalah pelayan di sebuah pesantren. Kontradiksi ini mulai membuat Dayana merasa... kecil.

Hingga akhirnya, Dayana sampai pada sebuah foto yang baru saja diunggah beberapa bulan lalu. Judul fotonya singkat, “Rumah.”

Di foto itu, Aydan berdiri di samping seorang wanita yang sangat anggun. Wanita itu mengenakan khimar berwarna mauve yang menutupi dada dengan sempurna, persis seperti yang Aydan deskripsikan. Wajah wanita itu, Ameera, memancarkan kedamaian yang luar biasa. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, kecantikannya justru terlihat lebih mahal karena tidak diumbar.

Dayana memperbesar foto itu. Ia menatap mata Ameera, lalu beralih ke mata Aydan. Mereka memiliki sorot mata yang sama, jernih dan tak tergoyahkan.

Dayana kemudian menemukan sebuah unggahan video pendek. Video itu merekam momen ulang tahun pernikahan orang tua Aydan. Di sana ada Liam, sang ayah, yang sedang membacakan sebuah puisi untuk Ameera. Mereka tampak begitu harmonis, begitu suci dalam cinta yang legal.

Yang membuat Dayana terkesiap adalah saat ia menemukan sebuah foto lama di bagian paling bawah akun tersebut, sebuah foto yang tampaknya sengaja disimpan sebagai pengingat. Foto Ameera saat masih sangat muda, sebelum berhijab, yang sedang memegang sebuah trofi di sebuah acara pesta.

Di bawah foto itu, Aydan menulis keterangan:

“Ibuku membuktikan bahwa berlian yang ditemukan di lumpur tetaplah berlian setelah dibasuh dengan air tobat. Dia tidak kehilangan kebebasannya saat menutup diri; dia justru membebaskan dirinya dari pandangan dunia yang dangkal.”

Dayana meletakkan ponselnya di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar. Rasa benci yang tadi ia bawa seolah menguap, berganti dengan rasa sesak yang aneh di dadanya.

Selama ini, Dayana menganggap kecantikan adalah senjata untuk mendapatkan perhatian. Ia menganggap kebebasan adalah tentang seberapa banyak orang yang memujanya. Namun melihat profil Aydan, melihat sosok Ameera, Dayana sadar bahwa ia selama ini hanya sedang berteriak minta diperhatikan, sementara orang-orang seperti keluarga Aydan berbisik dalam keheningan namun suaranya sampai ke langit.

"Gimana, Day? Keren kan?" tanya Sarah, memecah lamunan Dayana.

"Dia... dia beda," hanya itu yang sanggup diucapkan Dayana.

Siang itu, saat Aydan masuk ke kelas setelah dari masjid, Dayana tidak lagi menatapnya dengan pandangan menantang. Ia justru menunduk, persis seperti cara Aydan melakukannya. Ada rasa malu yang tiba-tiba menyerang saat ia menyadari bahwa seragamnya yang ketat terasa sangat tidak nyaman di bawah bayang-bayang foto Ameera yang ia lihat tadi.

Aydan berjalan melewati mejanya, tetap dengan wajah dinginnya. Namun kali ini, Dayana menyadari bahwa kedinginan Aydan bukan karena sombong, tapi karena ia sedang menjaga sesuatu yang sangat berharga di dalam hatinya agar tidak tercemar oleh dunia luar.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
😂😂😂😂😩
💗 AR Althafunisa 💗
Nyesel kan kamu Ay 😩😭
💗 AR Althafunisa 💗
Sudah kuduga pasti salah paham 😌
💗 AR Althafunisa 💗
ninggalin jas lab, perasaan dipake ya 😅
ros 🍂: Mohon Maaf Lupa author lupa🤭😭
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
Aamiin Allahumma Aamiin...
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 😍
💗 AR Althafunisa 💗
dan sejarah pun terulang 😁
💗 AR Althafunisa 💗
🥺🥺🥺🥺
💗 AR Althafunisa 💗
Ceritanya bagus 👍😍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Ini cerita nya bagus koq pembacanya ga ada ya 🥺
Titik Sofiah
lanjut Thor 😍
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...
💗 AR Althafunisa 💗
Aku baca novel ini seperti kembali pulang 🥺🥺🥺
ros 🍂: Terharu aku kak 😭😍
total 1 replies
Sweet Girl
Naaah kesempatan... kamu bisa belajar sama Liam...
Selvia Sihite
aku suka alurnya, keren, tidak betele tele, semangat 💪
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
falea sezi
lanjut
falea sezi
baru nyimak moga bagus ampe ending dan g ribet atau bertele tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!