"Besok kamu harus menikah dengan putra dari keluarga He! Pokoknya Papa tidak mau tahu, setuju atau tidak kamu tetap harus menikah dengannya." Zhu Guan
"Tidak! Lian tidak mau Pa. Sampai kapanpun Lian tidak mau menikah dengan lelaki lumpuh itu. Lebih baik Yiyue saja yang Papa nikahkan dengan lelaki itu, jangan aku Pa!" Zhu Lian
"Kenapa harus aku? Bukankah kakak yang harus menikah, tapi kenapa semua orang menumbalkanku untuk menggantikannya?" Zhu Yiyue
Seorang pengusaha yang sedang terlilit hutang, tak ada opsi lain selain menuruti keinginan keluarga He yang merupakan keluarga konglomerat. Dengan teganya dia menumbalkan salah satu putrinya sebagai penebus hutangnya. Tanpa memikirkan perasaan putrinya, dia justru mendorong putrinya ke sebuah jurang keputusasaan.
Mampukah Yiyue menerima takdirnya sebagai alat penebus hutang? Menikah dengan seorang lelaki yang tak dia kenal, terlebih lelaki itu adalah Tuan Muda lumpuh yang terkenal sangat dingin seperti kulkas tujuh pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMDTML 27
"Aaarrggghh ... sial!" umpat seorang lelaki paruh baya, tak lain adalah Tuan Jinmao.
Lelaki itu dengan kasar mendaratkan bobot tubuhnya tepat di kursi kebesarannya. Terlihat jelas kekesalan yang ada di raut wajah keriputnya saat mengetahui jika putra sulungnya menolak keinginannya.
Tuan Jinmao menghela napas beratnya. "Kenapa anak itu keras kepala sekali? Sedari dulu tak pernah menuruti apa kataku, dia selalu bersikap semaunya," gumam Tuan Jinmao sambil memijit pelipisnya yang terasa pening.
"Ada apa Dad?" tanya lelaki tampan yang tengah duduk di atas sofa ruangan mewah itu.
Lelaki itu adalah Qiaoran, sedari tadi dia berada di ruang kerja Daddy nya. Tujuannya menunggu kedatangan sang Daddy karena ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
"Qiaoyan masih belum mau menandatangani berkas pengalihan saham miliknya itu. Dia begitu keras kepala sekali, sampai-sampai tak pernah mau menuruti ucapan Daddy," jawab Tuan Jinmao lirih.
Qiaoran tersenyum menyeringai, kedua netranya menatap lurus ke layar laptop di hadapannya. Sudut bibirnya kembali terangkat dengan seringai licik di raut wajahnya saat dia telah menemukan sebuah ide untuk melancarkan rencananya.
"Lalu apa rencanamu son?" tanya Daddy Jinmao. "Kita harus secepatnya memaksa dia untuk menandatangani berkas itu," kekeh Tuan Jinmao yang begitu antusias untuk melancarkan misinya.
Lelaki paruh baya itu sudah tidak sabar untuk menguasai seluruh saham milik Qiaoyan. Mengingat putra sulungnya sudah lumpuh dan tidak berhak untuk memiliki saham tersebut, begitulah pikir Daddy Jinmao. Padahal faktanya saham itu pemberian dari sang Ibu untuk cucu pertamanya. Sebenarnya Qiaoran pun juga memiliki saham sendiri, tapi tak sebanyak milik Qiaoyan. Hal itu lah yang membuat kesenjangan diantara mereka.
Qiaoran tersenyum licik. "Daddy tenang saja, aku yang akan membuat Qiaoyan menandatanganinya," balas Qiaoran dengan yakin.
Daddy Jinmao mengangguk. "Kau memang anak Daddy yang selalu bisa diandalkan.
"Pasti Dad, apapun akan aku lakukan demi kelancaran rencana kita."
Daddy Jinmao beranjak dari tempatnya, sebelum kemudian dia berjalan menghampiri putranya yang duduk di atas sofa. "Lalu apa rencanamu?" tanya Daddy Jinmao penasaran.
"Minggu depan aku akan mengadakan seminar pertemuan dengan dewan direksi. Aku akan mengundang si lumpuh itu, bagaimana caranya dia harus datang pada pertemuan nanti. Jika tidak, maka aku anggap bahwa seluruh warisan Oma akan jatuh ke tanganku," ucap Qiaoran.
"Good! Daddy setuju dengan idemu ini."
"Tapi, apa itu akan berhasil?" tanya Daddy Jinmao lagi. Terlihat jelas keraguan di raut wajah lelaki paruh baya itu.
"Pasti Dad. Apa Daddy lupa jika semua warisan Oma, kita lah yang memegangnya selama ini sejak dia mengalami kecelakaan dan berakhir lumpuh," jawab Qiaoran mengingatkan.
"Rencanamu bagus Son." Daddy Jinmao tertawa renyah sambil menepuk bahu putranya dengan penuh bangga.
Qiaoran tersenyum licik, dia bersumpah akan mengambil semua yang kakaknya miliki, termasuk gadis yang notabenenya kakak iparnya.
'Kau lihat saja nanti kak, cepat atau lambat aku akan mengambil semua milikmu termasuk Yiyue. Dia akan menjadi milikku selamanya, dia adalah gadisku kak dan hanya lelaki normal sepertiku yang boleh memiliki gadis menggemaskan itu,' batin Yiyue.
🥕🥕🥕
Di tempat yang berbeda, tampak limosin yang dibawa Fan Zhi baru saja tiba di villa mewah milik Qiaoyan. Seperti biasa Yiyue membantu suaminya untuk duduk di kursi roda. Bukan tak percaya pada sang asisten suaminya, hanya saja Yiyue ingin merawat suaminya dengan kemampuan yang dia milikinya.
Dengan telaten Yiyue mendorong kursi roda Qiaoyan menuju kamar mewah mereka yang berada di lantai atas. Sebuah kamar yang berukuran raksasa dilengkapi dengan fasilitas bak hotel bintang lima.
"Tuan, ayo mandi dulu!" seru Yiyue pada suaminya. "Nanti aku akan membuat makan malam spesial untuk kita." Lanjutnya sambil tersenyum manis.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama di dalam bathup. Aku rasa itu menyenangkan," goda Qiaoyan sambil mengedipkan matanya pada istri kecilnya.
Seketika Yiyue bergidik ngeri mendengar ucapan suaminya yang terang-terangan menggodanya. Dia tak menyangka jika suami jahilnya sudah mulai lagi.
Yiyue menggeleng cepat. "Tidak Tuan. Lebih baik kau saja yang mandi dulu," tolak Yiyue halus, takut jika suami kulkasnya itu kembali murka.
"Setelah kau mandi baru aku mandi," lanjut Yiyue.
Qiaoyan terkekeh melihat wajah merah istrinya. Tentu saja hal itu membuat Qiaoyan suka dan terlihat menggemaskan.
Perlahan Yiyue mulai membuka baju suaminya, Qiaoyan pun menurut begitu saja tanpa ada bantahan apapun darinya. Qiaoyan yang dingin pun kini berganti dengan Qiaoyan yang manja pada istrinya. Semuanya istri kecilnya yang merawatnya.
Usai membuka baju, Yiyue pun mendorong kursi roda Qiaoyan ke dalam kamar mandi. Dengan telaten Yiyue memandikan suami kulkasnya, tanpa ada rasa risih lagi dalam benaknya. Tangan mungilnya menggosok seluruh tubuh besar suami kulkasnya itu.
Qiaoyan hanya menatap wajah cantik istrinya dengan tersenyum. Sungguh dia sangat kagum sekali dengan sang istri yang begitu telaten dalam merawatnya. Terlebih sang istri masih berumur sembilan belas tahun, tapi jiwanya sudah seperti orang dewasa saja. Bahkan dirinya yang lebih tua pun kalah dengan Yiyue yang pikirannya sudah dewasa.
Selain cantik, baik, menggemaskan, Yiyue juga sosok gadis yang rajin dan pintar. Qiaoyan tak menyangka jika dirinya akan mendapatkan sosok istri yang mau merawatnya dengan baik dan tulus.
"Jangan menatapku seperti itu Tuan. Jika sudah jatuh cinta nanti akan susah berpaling," goda Yiyue yang sekilas menatap wajah tampan suaminya.
Tangan mungilnya masih setia menggosok punggung lebar suaminya.
Qiaoyan tersenyum menunduk, kemudian kembali menatap wajah istrinya yang telah membuatnya candu.
"Sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu istriku," sahut Qiaoyan dengan lembut juga menyematkan kata istriku pada sang istri.
BLUSH
Seketika wajah Yiyue pun merona mendengar panggilan dari suami kulkasnya itu. Yiyue tak menyangka jika suaminya itu mendadak jadi lelaki yang tiba-tiba suka menggodanya. Bukankah biasanya dia yang suka menggoda suaminya? Sungguh hal itu begitu aneh tapi nyata.
Tak berselang lama Yiyue pun selesai memandikan suaminya, lalu membantu suami kulkasnya itu memakai baju. Yiyue benar-benar istri yang begitu telaten dalam merawat suaminya yang begitu manja padanya. Selain itu, dia juga telah menjadi sosok istri yang berbakti pada suami. Tanpa ada rasa jijik sedikit pun ketika dia merawat suami kulkasnya itu.
"Selesai." Yiyue tersenyum setelah dia selesai membantu suaminya memakai baju. "Tampan sekali suamiku ini." Lanjutnya sambil mengacak gemas rambut legam Qiaoyan.
Qiaoyan hanya diam tersenyum, membiarkan sang istri mengacak rambutnya.
"Tuan, tunggu disini dulu ya. Aku mau turun, sekalian masak buat makan malam," ucap Yiyue memberitahu.
Qiaoyan tersenyum mengangguk. "Iya sayang, jangan lama-lama."
.
.
.
🥕Bersambung🥕