(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)
Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.
Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.
Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Menembus Kabut Emas
Matahari perak Sembilan Surga mulai turun, namun alih-alih menggelap, langit Surga Hampa justru berubah menjadi lautan kabut emas yang bercahaya. Ini bukan kabut air biasa; ini adalah residu Esensi Dewa yang menguap dari sungai-sungai cahaya di kejauhan. Keindahannya mematikan, karena setiap partikel kabut membawa tekanan yang mampu mencekik meridian siapa pun yang tidak memiliki fondasi yang cukup kuat.
Chen Kai berdiri perlahan dari altar batu di tengah Reruntuhan Kuil Hening. Bangkai kadal kristal di depannya mulai memudar, terurai kembali menjadi partikel debu ungu yang segera tertiup angin. Di dunia ini, segala sesuatu yang mati akan segera diklaim kembali oleh hukum alam yang haus.
Ia menggerakkan bahunya, mendengarkan suara gemeretak tulang yang kini terdengar lebih padat, menyerupai dentingan logam yang saling beradu.
"Bagaimana rasanya, Nak?" suara Kaisar Yao bergema dari dalam Mutiara Hitam, nadanya kini lebih tenang namun tetap waspada. "Satu tetes Esensi Dewa memang sedikit, tapi ia telah menjahit kembali keretakan jiwamu akibat beban sepuluh ribu nyawa di gerbang tadi."
"Berat, Guru," jawab Chen Kai dalam batin. "Setiap langkah terasa seperti aku sedang memikul takdir seluruh benua di bawah sana. Tapi... aku merasa lebih 'nyata'. Qi dunia bawah dulu terasa seperti asap, sekarang aku merasa tubuhku terbuat dari gunung."
"Itulah perbedaan antara Fana dan Dewa," Yao terkekeh. "Tapi jangan sombong. Kau baru saja belajar merangkak. Kota Awan Putih yang disebutkan pria misterius itu... perjalanannya tidak akan mudah. Kau harus melewati 'Lembah Angin Mati' sebelum bisa mencapai pemukiman terdekat."
Chen Kai memungut bungkusan pedangnya. Ia menatap ke arah utara, di mana kabut emas tampak lebih tebal, menyembunyikan puncak-pilar kristal yang menjulang ke angkasa.
"Tetua Bayangan itu memberiku tiga hari," gumam Chen Kai, mengingat kembali pertemuannya. "Kristal Penyeimbang ini hanya bantuan sementara. Aku harus mencapai kemandirian sirkulasi sebelum efeknya habis."
Ia mulai melangkah keluar dari pelataran reruntuhan. Setiap kali kakinya menyentuh lantai marmer transparan, muncul riak energi kecil. Ini adalah pemborosan energi yang harus ia tekan; di Sembilan Surga, efisiensi adalah kunci kelangsungan hidup.
Baru beberapa ratus meter meninggalkan kuil, Chen Kai berhenti. Indra spasialnya—yang kini terintegrasi dengan fragmen Ruang dan gravitasi—menangkap gangguan di balik kabut emas di depannya.
Sret... sret...
Bukan suara binatang. Itu adalah suara kain yang terseret di atas rumput cahaya.
Dari balik kabut, muncul sesosok manusia. Pria itu mengenakan jubah abu-abu yang compang-camping, wajahnya pucat dengan garis-garis biru di lehernya—tanda dari keracunan Esensi Dewa yang tidak dimurnikan. Ia membawa keranjang anyaman yang berisi beberapa kepingan kristal kusam.
Pria itu terhenti saat melihat Chen Kai. Matanya yang cekung membelalak ngeri melihat jubah Chen Kai yang, meskipun kotor, masih memancarkan aura kemegahan seorang penguasa dunia bawah.
"P-pendaki...?" pria itu terbata-bata, suaranya parau. "Kau... kau baru saja naik?"
Chen Kai tidak menurunkan kewaspadaannya. "Siapa kau?"
"Namaku Ah-Gou," pria itu segera menjatuhkan keranjangnya dan bersujud di atas tanah kristal yang tajam. "Hamba hanyalah 'Pencari Sisa' di lembah ini. Tolong, Tuan... jangan bunuh hamba. Hamba tidak memiliki apa pun kecuali beberapa keping Pasir Dao ini."
Chen Kai mengernyit. "Berdiri. Aku tidak tertarik pada sampahmu."
Ah-Gou mendongak, gemetar. Ia melihat rambut perak Chen Kai dan mata dengan lingkaran emas yang redup. Ketakutannya berubah menjadi takjub. "Tuan... Anda selamat dari penyeberangan dengan raga utuh? Rambut itu... Anda pasti seorang penguasa di bawah sana."
"Dunia bawah sudah lewat," kata Chen Kai dingin. "Katakan padaku, ke arah mana Kota Awan Putih?"
"Awan Putih?" Ah-Gou menelan ludah. "Tuan, itu adalah kota para bangsawan dewa! Perjalanan ke sana memakan waktu berbulan-bulan bagi orang seperti hamba. Anda harus melewati 'Pos Penjagaan Sayap' jika ingin masuk melalui jalur resmi."
"Tanya dia tentang Jaring Takdir," bisik Yao tiba-tiba.
"Apa kau pernah mendengar tentang 'Jaring Takdir' di langit kota?" tanya Chen Kai.
Ah-Gou gemetar hebat mendengar nama itu. "Tuan... tolong jangan bicara keras-keras tentang itu! Jaring itu adalah mata para Kaisar Agung. Siapa pun yang memiliki aura yang 'salah' akan langsung dijemput oleh Pembersih Langit."
Ia mendekat sedikit, suaranya menjadi bisikan. "Jika Tuan ingin ke Awan Putih tanpa terdeteksi, Tuan harus memiliki Cincin Penyamar Esensi. Para penyelundup di 'Pasar Debu' biasanya menjualnya. Pasar itu terletak di gua-gua di bawah Lembah Angin Mati."
Chen Kai mencatat informasi itu. Sesuai dengan rencana miliknya, ia tidak bisa langsung menyerbu ke pusat kekuatan. Ia harus membangun fondasi di tempat-tempat tersembunyi seperti Pasar Debu tersebut.
"Bawa aku ke arah Lembah Angin Mati," perintah Chen Kai. "Jika kau jujur, aku akan memberimu perlindungan selama perjalanan."
Ah-Gou tampak ragu, menatap tubuh Chen Kai yang tampak kurus. Namun, ia teringat bagaimana para Pendaki baru biasanya memiliki kekuatan fisik yang luar biasa meskipun meridian mereka hancur.
"Baik, Tuan... tapi kita harus bergerak sebelum 'Angin Merah' bertiup. Di malam hari, esensi di udara menjadi sangat tajam hingga bisa memotong paru-paru manusia."
Mereka mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh pepohonan kaca yang berdenting ditiup angin. Chen Kai memperhatikan bagaimana Ah-Gou berjalan; pria itu tidak melawan gravitasi, melainkan 'menyerah' padanya, membiarkan setiap langkahnya jatuh dengan berat namun stabil.
"Pelajari cara geraknya, Chen Kai," saran Yao. "Manusia ini telah hidup di sini selama bertahun-tahun. Dia mungkin lemah, tapi dia tahu cara bernapas selaras dengan denyut Surga Hampa."
Chen Kai mulai meniru pola napas Ah-Gou. Ia menarik napas dalam tiga hitungan pendek dan menghembuskannya dalam satu hitungan panjang yang lambat.
Perlahan, rasa terbakar di paru-parunya mereda. Tekanan atmosfer yang tadinya terasa seperti musuh, kini mulai terasa seperti pelindung yang membungkus kulitnya.
Langkah sang Raja Hitam kini lebih mantap. Chen Kai tahu, perjalanannya ke Kota Awan Putih bukan sekadar mencari keamanan, melainkan langkah pertama untuk menarik perhatian dunia pada keberadaan takhta yang telah lama hilang.
Dunia dewa mungkin indah, namun di bawah permukaan emasnya, Chen Kai bisa merasakan kegelapan yang sangat akrab—kegelapan yang menantinya untuk ditaklukkan.
dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪