Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: di Atas Takhta Besi Tua
Seoul tidak pernah benar-benar tidur, ia hanya berpura-pura mati di bawah cahaya neon yang berkedip. Sejak "The First Breach" terjadi sepuluh tahun lalu, kota ini telah berubah menjadi organisme yang sakit. Di permukaan, gedung-gedung pencakar langit di Gangnam masih berdiri angkuh, memamerkan layar holografik pahlawan-pahlawan Hunter kelas S yang tersenyum palsu. Namun, jika kau turun ke saluran pembuangan, atau masuk ke gang-gang sempit di Distrik Guro yang terlupakan, kau akan mencium bau yang sebenarnya: bau besi, bau belerang, dan bau ketakutan yang membusuk.
Arkan berdiri di puncak menara transmisi yang sudah lama tidak berfungsi. Angin malam bertiup kencang, merobek kesunyian dengan siulan tajam saat melewati celah-celah logam yang berkarat. Hoodienya yang berwarna hitam legam berkibar liar, seolah-olah pakaian itu sendiri adalah bagian dari kegelapan yang hidup.
Di mata manusia biasa, Arkan hanyalah bayangan yang tidak signifikan. Namun, bagi mereka yang mampu merasakan energi kehidupan, Arkan adalah pusat badai. Matanya, yang biasanya ia sembunyikan di balik kacamata saat di sekolah, kini bersinar dengan warna merah delima yang pekat warna darah yang paling murni.
"Sepuluh tahun," gumam Arkan. Suaranya rendah, terseret angin, namun memiliki resonansi yang mampu menggetarkan molekul udara di sekitarnya. "Manusia masih saja membangun istana di atas tumpukan bangkai, seolah-olah besok matahari tidak akan meledak."
Arkan memejamkan mata. Seketika, dunianya berubah. Ia tidak lagi melihat cahaya lampu kota atau papan iklan yang bising. Melalui kemampuan Sanguine Perception, dunia di matanya berubah menjadi peta transparan berwarna merah tua. Ia bisa merasakan detak jantung jutaan orang di Seoul. Ia bisa mendengar aliran darah yang mengalir di nadi mereka, merasakan adrenalin yang terpompa, hingga mendeteksi sel-sel yang rusak karena penyakit.
Bagi Arkan, Seoul adalah sebuah sistem peredaran darah raksasa, dan ia adalah satu-satunya entitas yang memegang kendali atas aliran tersebut.
Tiba-tiba, fokusnya terkunci pada sebuah titik di sektor industri terbengkalai, sekitar tiga kilometer dari posisinya. Di sana, detak jantung manusia terasa kacau cepat, dangkal, dan penuh dengan rasa sakit. Di sekeliling detak jantung manusia itu, terdapat detak jantung lain yang dingin, lambat, dan haus darah.
"Shadow-Stalkers," desis Arkan.
Tanpa gerakan ancang-ancang yang berarti, Arkan melangkah bebas dari tepi menara. Gravitasi menariknya jatuh dari ketinggian enam puluh meter. Namun, tidak ada rasa takut di wajahnya. Saat tubuhnya melesat membelah udara, Arkan memanipulasi tekanan darah di dalam jantungnya, menciptakan medan penolak yang membungkus tubuhnya. Ia mendarat di aspal jalanan bawah tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, bahkan debu di sekitarnya tidak bergerak.
Ia berjalan menuju sebuah gudang distribusi logistik yang sudah tertutup karat. Pintu besi raksasa di depannya digembok dengan rantai berat, namun Arkan hanya menempelkan telapak tangannya pada logam dingin itu.
Deg.
Satu denyutan energi sanguine dikirimkan. Rantai baja itu tidak hanya putus; molekulnya bergetar begitu hebat hingga besi itu hancur menjadi bubuk halus dalam sekejap. Arkan melangkah masuk ke dalam kegelapan yang pekat.
Di dalam gudang, bau busuk daging manusia yang mulai membusuk menyengat hidung. Di bawah cahaya bulan yang masuk dari atap yang bocor, terlihat pemandangan neraka. Sekelompok Shadow-Stalkers monster setinggi dua meter dengan kulit hitam berminyak dan cakar sepanjang belati sedang mengerumuni tumpukan mayat. Ada sekitar tiga puluh ekor, dipimpin oleh seorang Alpha yang memiliki tanduk melengkung di kepalanya.
Di pojok ruangan, seorang wanita muda tergeletak lemas. Kakinya patah, dan darah mengalir deras dari lukanya. Para monster itu sengaja membiarkannya hidup untuk "pencuci mulut".
Sang Alpha menyadari kehadiran Arkan. Ia mengeluarkan desisan yang mengandung frekuensi mana tingkat tinggi, sebuah serangan mental yang biasanya mampu membuat Hunter kelas B langsung pingsan karena pendarahan otak.
Arkan hanya terus berjalan. Serangan frekuensi itu memantul dari auranya seolah-olah tidak ada apa-apanya.
"Kau mengganggu jam renunganku, mahluk menjijikkan," ucap Arkan.
Monster-monster itu melompat secara bersamaan dari segala arah atas, samping, dan bayangan bawah tanah. Mereka bergerak lebih cepat dari peluru. Namun, bagi Arkan yang persepsi waktunya telah sinkron dengan kecepatan denyut jantungnya yang dipercepat, gerakan mereka tampak seperti siput yang merangkak di lumpur.
"Sanguine Art Internal Rupture."
Arkan tidak bergerak dari posisinya. Ia hanya mengepalkan tangan kanannya dengan perlahan.
DUAR! DUAR! DUAR!!!
Suara ledakan tumpul terdengar bersahutan. Satu per satu monster yang sedang melayang di udara itu meledak. Bukan karena serangan fisik luar, melainkan karena darah di dalam tubuh mereka dipaksa memuai hingga melampaui batas elastisitas pembuluh darah mereka. Darah monster yang berwarna ungu kehitaman menyembur ke segala arah, namun sebelum cairan itu menyentuh pakaian Arkan, ia membeku di udara.
Darah monster itu kini menuruti perintah Arkan. Ribuan tetesan darah itu memadat, berubah menjadi jarum-jarum kristal yang bercahaya merah tua.
"Kembalilah ke asalmu," perintah Arkan.
Jarum-jarum darah itu melesat kembali ke arah monster yang tersisa dengan kecepatan hipersonik. Setiap jarum mencari titik vital—mata, jantung, dan pangkal otak. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, tiga puluh monster itu telah menjadi tumpukan daging tak bernyawa. Hanya tersisa sang Alpha yang gemetar hebat, menyadari bahwa predator di depannya bukanlah manusia.
Arkan berjalan mendekati Alpha tersebut. Ia mencengkeram leher monster itu, mengangkat tubuh seberat dua ratus kilogram itu hanya dengan satu tangan.
"Kalian merayap dari Abyss, mengira dunia ini adalah ladang makanan," Arkan menatap langsung ke mata kuning monster itu. "Tapi kalian lupa satu hal. Di mana pun ada darah yang mengalir, di situlah aku berkuasa. Dan aku... aku sangat tidak suka berbagi makanan."
Arkan menarik esensi kehidupan dari Alpha tersebut. Cairan ungu ditarik keluar secara paksa dari pori-pori monster itu, berkumpul di telapak tangan Arkan membentuk sebuah bola energi yang padat. Tubuh Alpha itu menciut, mengering menjadi mumi dalam hitungan detik sebelum akhirnya hancur menjadi abu.
Arkan menghancurkan bola energi itu hingga menjadi debu mana yang murni. Ia menoleh ke arah wanita yang terluka di pojok ruangan. Dengan satu gerakan tangan, darah yang mengalir dari kaki wanita itu berhenti seketika, dan luka-lukanya mulai menutup secara ajaib. Arkan tidak menyembuhkannya secara total, ia hanya memastikan wanita itu tidak mati sebelum tim medis menemukannya.
Ia meletakkan sebuah koin perak kuno dengan ukiran tetesan darah di tengahnya sebuah tanda peringatan bagi siapa pun yang mencoba menyelidiki tempat ini.
"Tidurlah. Kau akan lupa wajahku saat bangun nanti," bisik Arkan.
Ia menghilang ke dalam bayangan, kembali ke apartemen kecilnya yang terletak di pinggiran kota yang kumuh.
Apartemen Arkan adalah tempat yang sunyi. Tidak ada foto keluarga, tidak ada hiasan dinding yang mencolok. Hanya ada tumpukan buku sejarah kuno, perangkat komputer yang sudah dimodifikasi secara ekstrem, dan botol-botol berisi cairan merah yang ia simpan di dalam lemari pendingin khusus.
Ia melepas hoodie-nya, menampakkan tubuh yang atletis namun penuh dengan tanda-tanda merah yang menyerupai tato sirkuit di sepanjang lengannya pembuluh darah yang telah bermutasi sempurna karena kekuatan Sovereign.
Arkan duduk di depan komputernya. Ia meretas basis data rahasia Asosiasi Hunter Nasional dengan mudah. Selama bertahun-tahun, ia telah memantau pertumbuhan monster Abyss dan kegagalan manusia dalam mengatasinya. Pemerintah terlalu sibuk memoles citra pahlawan mereka, sementara "Breach" tingkat S diperkirakan akan muncul dalam dua tahun ke depan.
"Aku tidak bisa terus membersihkan sampah sendirian," gumam Arkan. "Aku butuh tangan kanan. Aku butuh prajurit yang tidak takut pada kematian karena mereka sudah pernah mencicipinya."
Ia menjalankan skrip pencarian genetik yang sangat spesifik. Algoritma itu mencari individu dengan "Kesesuaian Sanguine" di atas 90% orang-orang yang memiliki mutasi sel darah unik yang biasanya hanya ditemukan pada pasien kritis yang terkena paparan mana Abyss secara langsung.
Setelah pencarian selama tiga jam, layar monitornya mendadak berkedip merah.
DATA DITEMUKAN,BASTIAN 16 TAHUN
STATUS KRITIS DI RUMAH SAKIT ST. JUDE
DIAGNOSA KANKER TULANG MUTASI ABYSS - STADIUM 4
TINGKAT KESESUAIAN GENETIK 99.4%
Arkan membaca profil Bastian. Seorang yatim piatu, mantan pelari jenius yang kakinya hancur karena serangan monster dua tahun lalu. Sekarang, ia hanya terbaring menunggu maut, dibuang oleh sistem yang menganggapnya tidak lagi berguna karena tidak memiliki potensi mana untuk menjadi Hunter.
"99.4%..." mata Arkan berkilat. "Dia bukan hanya sekadar cocok. Dia adalah wadah yang sempurna."
Arkan menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia bisa merasakan kemarahan Bastian melalui data digital tersebut. Kemarahan orang yang dikhianati oleh dunia. Itu adalah bahan bakar terbaik untuk kesetiaan mutlak.
"Bastian, kau ingin berlari lagi, bukan?" Arkan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung janji dan ancaman sekaligus. "Aku akan memberimu kaki yang tidak akan pernah patah. Aku akan memberimu kekuatan untuk menginjak-injak mereka yang pernah meremehkanmu. Tapi harganya... kau harus mati untuk dunia ini."
Arkan mematikan komputernya. Ia berdiri di balkon apartemennya, menatap langit malam Seoul yang kini tertutup awan mendung. Di kejauhan, sirine mobil polisi dan Hunter mulai terdengar menuju gudang yang baru saja ia bersihkan.
Ia tahu, esok hari ia harus kembali ke SMA Gwangyang. Kembali menjadi "Arkan si Murid Beasiswa" yang pendiam, yang selalu menunduk saat berjalan di koridor, dan yang menjadi sasaran empuk bagi orang-orang seperti Rian.
"Pensiun ini sungguh membosankan," gumamnya sambil membetulkan letak kacamata palsunya. "Tapi setidaknya, aku punya sesuatu untuk dikerjakan besok malam."
Arkan membiarkan kegelapan malam menelannya. Legenda pahlawan bayangan dengan koin perak akan tumbuh subur di forum-forum internet besok pagi, namun tidak ada satu pun dari mereka yang akan menyadari bahwa sang penguasa darah sedang duduk di barisan belakang kelas mereka, mengerjakan tugas matematika dengan tenang.
Dunia sedang berputar menuju kehancuran, dan Arkan adalah satu-satunya orang yang memegang tuas remnya atau mungkin, dialah yang akan mempercepat putarannya hingga semuanya hancur dan lahir kembali di bawah kakinya.