Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.
Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.
[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Duet Maut dan Sultan Asrama
[Tribun VIP - Sektor B]
Kevin mengetatkan rahangnya hingga terdengar bunyi gemeretak. Tangannya meremas sandaran kursi dengan kuku yang memutih.
Di sebelahnya, Tiara duduk dengan tatapan kosong, matanya terpaku pada sosok Raka yang berdiri gagah di tengah panggung, bermandikan cahaya sorot dan tepuk tangan ribuan orang.
"Cih..." Kevin meludah ke samping, berusaha terdengar meremehkan. "Norak. Kampungan."
Dia menoleh ke Tiara, lalu merangkul bahu gadis itu dengan kasar, seolah ingin menegaskan kepemilikan. "Beb, jangan mau dibegoin sama akting dia. Paling itu cuma Honda Civic. Enam ratus juta doang. Gue juga bisa beli dua biji kalau gue mau. Mobil gue BMW, jauh lebih berkelas dari kaleng krupuk Jepang itu."
Tiara menoleh perlahan, menatap Kevin. Tatapannya berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi binar kekaguman saat melihat Kevin dan barang-barang mewahnya. Yang ada hanya keraguan.
"Tapi Vin..." suara Tiara bergetar pelan. "Dia nyumbangin semuanya. Enam ratus juta. Kamu... kamu pernah nyumbang segitu?"
Kevin tersedak ludahnya sendiri. "Y-ya... gue kan investor. Duit gue diputer buat bisnis. Orang pinter tuh duitnya diputer, bukan dibuang kayak orang gila!"
Kevin mencoba membela diri, tapi dalam hati, egonya hancur lebur.
Dia melihat ke panggung lagi. Di sana, Vania Winata Dewi Nasional yang poster wajahnya ditempel di kamar tidur Kevin sedang menatap Raka dengan tatapan memuja. Bukan tatapan sopan idola ke fans, tapi tatapan cewek ke cowok yang dia kagumi.
Kevin menelan ludah pahit. Dia menoleh lagi ke Tiara di sebelahnya.
Dulu, dia merasa menang karena berhasil merebut Tiara dari Raka. Tiara cantik, modis, primadona kampus. Tapi sekarang, saat disandingkan dengan Vania di panggung sana... Tiara terlihat biasa saja. Bahkan mid. Kosmetik Tiara terlihat tebal dan cakey, sementara Vania terlihat glowing alami. Aura Tiara terasa murahan, sementara Vania elegan.
"Sialan..." batin Kevin panas. "Si Raka meluk Vania sepuluh kali. Gue cuma dapet ampasnya."
Tiba-tiba, Tiara yang dia rangkul terasa tidak "wangi" lagi. Kemenangannya terasa hambar. Raka bukan cuma menang mobil, dia menang di segala aspek kehidupan malam ini.
[Panggung Utama]
Sementara itu, di panggung, atmosfer kebencian telah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh gelombang kekaguman.
Raka Adiyaksa bukan lagi "Musuh Publik". Dia adalah "Pahlawan Nasional". Netizen yang tadi menghujatnya di kolom komentar kini berbalik arah 180 derajat.
[Live Chat Stream]:
"RESPEK ABANGKU MENYALA 🔥🔥🔥"
"Siapa yang naro bawang di sini woy 😭😭😭"
"Gue tarik kata-kata gue tadi. Bang Raka lo ganteng banget sumpah."
"Definisi Sultan sesungguhnya: Memberi tanpa mikir."
Vania bertepuk tangan paling keras, matanya berbinar menatap Raka. Cowok ini baru 21 tahun, masih mahasiswa, tapi mentalitasnya sudah seperti filantropis kelas dunia.
"Luar biasa," puji Vania di mikrofon, suaranya tulus. "Jakarta! Sekali lagi tepuk tangan buat Mas Raka!"
PROK PROK PROK!
Suara tepuk tangan menggema seperti hujan badai. Raka hanya mengangguk sopan, sedikit membungkuk ala ksatria Eropa, membuat cewek-cewek di barisan depan histeris.
"Mas Raka," panggil Vania lembut. "Sesuai janji, nanti abis acara selesai, jangan pulang dulu ya. Kita ke backstage buat urus administrasi donasinya. Biar transparan."
"Siap, Bos," jawab Raka santai.
"Nah, karena Mas Raka udah nunjukin hati yang luar biasa..." Vania melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka. Tatapannya menantang namun hangat. "Gimana kalau aku kasih hadiah spesial lagi? Aku pengen ngajak kamu nyanyi satu lagu bareng aku. Mau?"
Stadion kembali riuh. "MAUUUU!!!!" teriak penonton mewakili Raka.
Raka tertawa. "Waduh, suara saya pas-pasan, Mbak. Nanti rating konsernya turun loh."
"Nggak apa-apa. Kalau sumbang, nanti aku tutupin pake suara aku," canda Vania. "Gimana? Lagu 'Akhir Cerita Cinta'? Atau lagu duet aku 'Ruang Rindu'?"
Raka berpikir sejenak. "Boleh. 'Ruang Rindu' aja. Biar pas sama suasana hati tas saya yang duduk sendirian di sana."
Penonton tertawa mendengar candaan sarkas itu.
Musik intro lagu 'Ruang Rindu' (Letto - Cover Version) mulai mengalun lembut. Piano dan biola mendominasi.
Vania mulai menyanyi bait pertama dengan suara emasnya yang membuat merinding. "Di daun yang ikut mengalir lembut... terbawa sungai ke ujung mata..."
Lalu dia menyodorkan mikrofon ke Raka.
Raka menarik napas. Dia bukan penyanyi profesional, tapi skill [Transformasi Fisik Adonis] ternyata juga memperbaiki kualitas pita suaranya. Resonansi suaranya menjadi lebih bulat dan stabil.
"Dan aku mulai takut terbawa cinta... menghirup rindu yang tak sudah..."
Suara Raka keluar. Berat. Husky. Maskulin. Memang tidak seindah penyanyi pro, tapi nadanya masuk (on pitch) dan penuh perasaan.
"WHOAAAAA!!!" Penonton bersorak kaget. Ternyata si Sultan juga bisa nyanyi!
Vania tersenyum lebar, terkejut sekaligus senang. Dia kemudian melakukan harmonisasi suara di bagian chorus.
Di atas panggung GBK, di bawah sorot lampu yang dramatis, Raka dan Vania bernyanyi saling berhadapan. Mata mereka terkunci satu sama lain. Chemistry di antara mereka meluap-luap, seolah dunia milik berdua dan 80.000 orang lainnya cuma ngontrak.
Bagi Raka, ini adalah momen surealis. Kemarin dia nyanyi di kamar mandi kostan pake gayung. Sekarang dia duet sama Diva Indonesia di GBK.
Hidup emang plot twist, batinnya.
[Backstage - Ruang Tunggu VVIP]
Satu jam kemudian. Konser telah usai.
Raka duduk di sofa kulit empuk di ruang tunggu khusus artis. Di sekelilingnya, kru sibuk membereskan kostum dan peralatan. Aroma parfum mahal dan sisa-sisa hairspray memenuhi ruangan.
Pintu terbuka. Vania masuk, sudah berganti pakaian menjadi lebih santai kaos oversized putih dan celana jeans, tapi tetap terlihat stunning. Dia membawa dua botol air mineral dingin.
"Capek?" tanya Vania sambil melempar satu botol ke Raka.
Raka menangkapnya dengan satu tangan. Hap. Refleksnya meningkat tajam. "Lumayan. Capek senyum ke kamera."
Vania duduk di sofa seberangnya, menatap Raka lekat-lekat. Dia menghela napas panjang, seolah melepaskan beban.
"Raka... serius deh," ucap Vania, nadanya berubah serius. "Makasih banget ya. Tadi pas undian error itu, aku panik setengah mati. Kalau kamu ngamuk atau nuntut panitia, karir aku bisa hancur malem ini juga. Reputasi promotor juga bakal abis."
"Santai, Van. Namanya juga musibah," jawab Raka sambil membuka tutup botol.
"Nggak, ini bukan cuma soal musibah," Vania mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kamu nyelamatin muka kita semua dengan cara yang... classy banget. Donasi itu brilian."
Vania menggigit bibir bawahnya, ragu sejenak, lalu berkata tegas. "Gini aja. Mobil Civic itu... kamu bawa pulang aja. Sayang banget mobil 600 juta dilepas gitu aja. Soal donasi ke yayasan, biar aku yang talangin pake uang pribadi aku. Anggap aja ucapan terima kasih aku."
Raka berhenti minum. Dia menatap Vania. Gadis ini baik. Terlalu baik. Dia rela keluar duit 600 juta pribadi supaya Raka nggak rugi.
Raka meletakkan botolnya di meja. Dia tersenyum tipis, tatapannya tenang namun mengintimidasi dalam artian positif.
"Van, dengerin gue," kata Raka pelan. "Lo pikir gue donasi itu cuma buat gaya-gayaan? Atau buat pencitraan?"
"Y-ya nggak sih... tapi kan sayang..."
"Gue donasi karena gue mau," potong Raka. Dia bersandar santai, memancarkan aura 'Sultan' yang kental. "Dan soal mobil itu... gue serius nggak butuh. Di garasi gue udah ada yang lebih bagus."
Bohong dikit nggak apa-apa lah, kan emang bener ada McLaren, batinnya.
Vania terdiam. Dia mencoba mencari kebohongan di mata Raka, tapi nihil. Cowok ini benar-benar tidak peduli dengan uang 600 juta. Dia ini siapa sih sebenernya? Anak konglomerat mana yang nyamar jadi mahasiswa biasa?
"Oke..." Vania akhirnya menyerah sambil tersenyum kagum. "Kalau kamu maksa. Yayasan aku bakal gunain uang itu sebaik-baiknya. Nanti laporannya aku kirim personal ke kamu."
Vania mengeluarkan ponselnya iPhone 15 Pro Max terbaru dengan case lucu. "Boleh minta WhatsApp? Biar gampang koordinasinya. Sekalian... siapa tau mau main bareng lagi?"
Raka mengangkat alis. "Modus ya?"
"Dih! Geer!" Vania tertawa, memukul lengan Raka pelan. Wajahnya memerah. "Cepetan, keburu manajer aku dateng terus ngomel."
Raka mengeluarkan ponsel Android-nya yang layarnya sedikit retak. Mereka bertukar nomor.
[Asrama Putra Mahasiswa]
Jam 23.45 WIB.
Raka memutuskan untuk tidak langsung ke villa barunya di Pondok Indah. Terlalu mencolok kalau dia tiba-tiba menghilang malam ini. Dia memilih pulang ke asrama kampusnya yang sederhana di daerah pinggiran Depok/Jakarta Selatan.
Begitu Raka membuka pintu kamar 303...
Tiga sosok manusia langsung melompat dari tempat tidur tingkat masing-masing seolah ada gempa bumi.
"BANGSAT! INI DIA ORANGNYA!"
Doni, sohib Raka yang tadi menelepon soal akun jualan Tiara, langsung menerjang dan mencengkeram bahu Raka. Matanya melotot horor, rambutnya acak-acakan, dan dia cuma pakai celana kolor batik.
"KA! LO KESAMBET APAAN, SETAN?!" teriak Doni sambil mengguncang tubuh Raka.
Dua teman sekamar lainnya, Budi dan Asep, juga ikutan mengerubungi Raka dengan wajah shock berat.
"Ka, sumpah Ka, gue nonton live-nya tadi sambil makan indomie, sampe mie-nya keluar lagi dari idung gue saking kagetnya!" cerocos Budi. "Itu mobil Civic Turbo, Ka! Enam ratus jeti! Bisa buat bayar UKT kita sampe lulus S3! Bisa buat buka warnet! Bisa buat nikah dua kali!"
"Lo kenapa tolak rezeki sih, Anjir?!" Asep menepuk jidatnya frustrasi. "Hati gue sakit, Ka! Ginjal gue bergetar liat lo buang kunci mobil itu!"
Raka melepaskan cengkeraman Doni sambil tertawa santai. Dia berjalan ke kasurnya yang spreinya sudah agak pudar, lalu melempar tas butut "pembawa hoki"-nya ke lantai.
"Berisik lu pada. Tetangga sebelah lagi skripsian tuh, jangan teriak-teriak," kata Raka sambil melepas kemeja flanelnya.
"Gimana nggak teriak!" Doni masih histeris. "Lo sadar nggak sih lo baru aja bakar duit setengah miliar?! Lo lagi banyak utang pinjol apa gimana sampe stress gini?"
Raka menatap ketiga sahabatnya yang menatapnya seperti menatap orang gila.
Dia duduk di tepi kasur, mengambil sebatang rokok, lalu menatap mereka dengan wajah datar yang sangat punchable tapi keren.
"Don, Bud, Sep..." panggil Raka pelan.
"Apa?!" jawab mereka serempak.
"Emangnya..." Raka memberi jeda dramatis, menyalakan korek api. Ctek.
"...Honda Civic enam ratus juta itu... mahal ya?"
Hening.
Angin malam berhembus masuk lewat ventilasi. Suara cicak terdengar di dinding.
Doni, Budi, dan Asep mematung. Mulut mereka terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Otak mereka korslet mencoba memproses tingkat kesombongan yang baru saja dilontarkan teman mereka yang biasanya ngutang gorengan itu.
"Anjing..." bisik Doni akhirnya.
"Lo beneran gila, Ka. Fix gila."
Raka hanya tersenyum misterius, lalu merebahkan tubuhnya di kasur tipis asrama. Di saku celananya, kunci kartu The Sultan Residence Villa No. 1 dan kunci McLaren 720S beradu pelan.
Tunggu aja besok, batin Raka. Kalian bakal lebih jantungan lagi.