Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.
Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.
Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Tengah Malam
Malam itu, untuk pertama kalinya, apartemen mewah keluarga Fontaine yang biasanya sedingin kuburan terasa sedikit bernyawa Dengan orang tua Juliatte yang sedang berada di Paris untuk urusan diplomatik, Sonia berhasil menyelundupkan diri ke sana dengan tiga tas besar berisi peralatan pesta menginap.
Di dalam kamar Juliatte yang serba putih dan elegan, kedua gadis itu duduk di atas tempat tidur king-size. Wajah mereka tertutup masker lumpur hijau tebal. Sonia mengenakan slip dress satin merah menyala yang sangat berani, sementara Juliatte setelah dipaksa Sonia habis-habisan akhirnya luluh memakai nightgown hitam dengan potongan punggung terbuka yang memperlihatkan kulit porselennya.
"Jules, kau terlihat sangat panas! Kalau aku laki-laki, aku sudah memanjat balkonmu sekarang juga," goda Sonia sambil mengoleskan lip mask.
"Sonia, diamlah. Ini hanya baju tidur," sahut Juliatte, meski ia merasa sedikit lebih bebas tanpa tekanan blazer beludru yang biasa mencekiknya.
Tiba-tiba, Sonia meraih ponselnya dengan mata berkilat nakal. "Aku rindu Jaxie-ku. Aku ingin tahu apakah dia sudah memakai skincare yang kukasih atau belum."
Tanpa aba-aba, Sonia menekan tombol Video Call.
Di seberang sana, di markas The Ravens, Jax sedang duduk di depan tiga monitor kodenya. Di sampingnya, William sedang bersandar sambil memutar-mutar pisau lipat dengan bosan. Begitu ponsel Jax bergetar dengan nama Sonia Sayang, nama yang diganti paksa oleh Sonia sendiri, Jax mendesah berat namun tetap mengangkatnya.
"Sonia, ini jam sebelas mal..." Kalimat Jax terputus.
Layar ponsel menampilkan wajah Sonia dengan masker hijau, namun kamera tidak sengaja menangkap sosok Juliatte di belakangnya yang sedang menyisir rambut, memperlihatkan bahu dan punggungnya yang terbuka di bawah lampu kamar yang temaram.
"Hai, Jaxie! Lihat, aku dan Jules sedang perawatan!" seru Sonia tanpa dosa.
William, yang awalnya tidak tertarik, tiba-tiba menajamkan pandangannya ke layar ponsel Jax. Ia melihat Juliatte. Bukan Juliatte yang angkuh dengan seragam sekolah, tapi Juliatte yang rapuh, cantik, dan sangat sensual dalam balutan sutra hitam.
"Berikan ponselnya padaku, Jax," suara William terdengar dalam dan penuh tuntutan.
"Apa? Tidak, Will..."
William menyambar ponsel itu. Layarnya kini menampilkan wajah William secara close-up. Ia melihat Juliatte yang menyadari keberadaannya dan langsung membeku.
"Fontaine," panggil William. Suaranya serak, jenis suara yang biasanya hanya ia gunakan saat sedang beringas di jalanan, tapi kali ini terdengar jauh lebih berbahaya.
Juliatte mendekat ke arah ponsel Sonia, jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke tenggorokan. "William? Kenapa kau ikut menelepon?"
"Aku hanya ingin memastikan apakah Porselen London ini bisa tidur nyenyak setelah melihat darahku semalam," William menyeringai, matanya menyapu penampilan Juliatte lewat layar. "Hitam cocok untukmu. Jauh lebih baik daripada seragam sekolahmu yang kaku itu."
"William, ini privasi! Matikan panggilannya!" seru Juliatte, wajahnya memerah di balik masker hijaunya.
"Jangan dimatikan!" potong Sonia sambil tertawa. "Will, kau tahu tidak? Jules tadi bilang kalau menatap matamu itu tidak aman bagi jantungnya!"
"Sonia! Tutup mulutmu!" Juliatte mencoba merebut ponsel itu, tapi Sonia menghindar.
William tertawa rendah, suara tawanya terdengar sangat intim lewat speaker ponsel. "Tidak aman, ya? Kalau hanya lewat layar saja jantungmu sudah berantakan, bayangkan apa yang terjadi kalau aku ada di kamarmu sekarang, Fontaine."
"Kau gila, Wilson," bisik Juliatte, namun ia tidak bisa memutus kontak mata dengan pria di layar itu.
"Memang. Dan kau adalah alasan kenapa kegilaanku tidak bisa berhenti," jawab William dengan nada yang tiba-tiba serius.
"Tidurlah. Jangan sampai angka di timbanganmu turun lagi karena kau terlalu banyak memikirkanku."
Pip.
William mematikan sambungan secara sepihak, meninggalkan Juliatte yang terpaku di tengah kamarnya yang sunyi, sementara Sonia berguling-guling di kasur sambil tertawa kegirangan.
"Tuhan, Jules! Dia benar-benar terobsesi padamu! Kau lihat cara dia menatap punggungmu tadi? Dia seolah ingin merobek layar ponsel itu!"
Juliatte tidak menjawab. Ia menyentuh dadanya. Jantungnya tidak lagi sekadar tidak aman. Itu sudah meledak.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍