Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANGAN SANG CEO
"Maksud Kyai... saya jadi kuli di masjid? Penjaga kebersihan?" Hafiz mengulang kalimat itu dengan nada tak percaya yang bergetar.
"Saya ini mantan CEO, Kyai! Saya punya tiga gelar master!" serunya, egonya yang sempat remuk mendadak mencoba bangkit tegak kembali.
Kyai Abdullah hanya tersenyum tipis, tenang seolah sedang menghadapi anak kecil yang sedang tantrum karena mainannya diambil.
"Gelar Mastermu tidak bisa menyapu debu di rumah Allah, Hafiz. Di sini, yang kamu butuhkan bukan strategi bisnis, tapi kerendahan hati," jawab Kyai Abdullah tenang.
Hafiz mendengus sinis, "Jadi ini harganya? Perlindungan Kyai dibayar dengan harga diri saya yang harus jadi tukang pel?" Hafiz menatap Kyai dengan sorot mata menantang.
Tiba-tiba, suara denting nampan terdengar dari arah pintu. Zahra berdiri di sana dengan wajah yang masih menjaga jarak, menatap Hafiz dengan dingin.
"Kalau Mas merasa harga diri Mas lebih tinggi daripada tempat suci ini, silakan keluar. Jalanan masih sangat luas untuk Mas lari," ucap Zahra tanpa ekspresi.
Hafiz terbungkam seketika. Kata-kata Zahra seperti siraman air es yang langsung mematikan api kesombongannya yang baru saja mau menyala.
Bayangan pria-pria berjas safari semalam masih menghantui pikirannya dengan sangat jelas.
Jika ia keluar sekarang, ia mati di tangan pembunuh bayaran Robi.
"Baik... saya terima," gumam Hafiz akhirnya, bahunya merosot layu. "Saya akan jadi tukang sapu."
Kyai Abdullah mengangguk puas. "Alhamdulillah. Zahra, ambilkan sarung dan baju koko untuk Hafiz. Bajunya sudah tidak layak dipakai lagi."
Satu jam kemudian, Hafiz berdiri di depan cermin kecil yang buram di kamar mandi masjid yang lembap.
Ia mengenakan baju koko putih yang sedikit kekecilan dan sarung kotak-kotak yang melilit pinggangnya dengan sangat kikuk.
"Gila. Gue benar-benar jadi marbot," bisiknya pada bayangan di cermin, merasa seolah jiwanya baru saja dicabut paksa.
Ia melangkah keluar menuju pelataran masjid dengan langkah kaki yang terasa berat, seperti mengenakan pemberat berton-ton.
Kyai Abdullah sudah menunggunya dengan sebuah sapu lidi panjang dan ember plastik biru yang sudah agak pecah di pinggirnya.
"Lantai masjid ini harus selalu bersih sebelum jam sholat. Mulailah dari sudut sana, sapu semua daun keringnya," Kyai Abdullah menunjuk sudut pelataran.
Hafiz memegang gagang sapu lidi itu seperti memegang barang beracun yang menjijikkan. Rasanya aneh, kasar, dan sangat menghina.
Ia mulai mengayunkan sapu itu dengan asal-asalan. Namun bukannya bersih, daun-daun itu justru terbang liar ke arah yang salah.
"Cara memegangnya jangan terlalu kaku, Hafiz. Ikuti arah angin, jangan melawannya," tegur Kyai Abdullah dari jauh sambil tersenyum.
Hafiz menggeram frustrasi. Baru lima menit menyapu, punggungnya yang lebam akibat pukulan semalam mulai terasa berdenyut hebat dan panas.
Keringat mulai bercucuran, membasahi dahi dan meresap ke dalam lukanya yang baru saja diobati, menimbulkan rasa perih yang menusuk.
Srak! Srak!
Suara sapu lidi itu terdengar sangat menyedihkan di telinga Hafiz. Pikirannya melayang pada jam tangan Patek Philippe-nya yang kini entah di mana.
Biasanya jam segini, ia sedang duduk di kursi kulit Italia yang empuk sambil menyesap kopi seharga ratusan ribu rupiah.
Sekarang? Ia justru menghirup bau tanah di tempat kumuh.
"Astaga... tangan gue," keluh Hafiz tiba-tiba sambil melepaskan gagang sapu lidinya.
Ia melihat telapak tangannya yang selama ini dirawat dengan krim mahal. Kini, kulit di antara ibu jari dan telunjuknya mulai memerah dan melepuh.
Lecet itu terasa sangat perih saat terkena keringatnya sendiri. Tangan yang biasa memegang gelas sampanye mahal itu kini terluka hanya karena sebatang sapu.
"Kenapa? Sakit? Baru segitu saja sudah mau menyerah?" Suara Zahra terdengar dari arah pintu samping masjid.
Wanita itu sedang membawa tumpukan mukena bersih untuk ditaruh di lemari. Ia berhenti sejenak, melihat tangan Hafiz yang gemetar.
"Cuma lecet kecil. Bukan apa-apa bagi pria seperti saya," jawab Hafiz gengsi, mencoba menyembunyikan tangannya.
Zahra meletakkan mukenanya, lalu berjalan mendekat namun tetap menjaga jarak aman sekitar dua meter dari posisi Hafiz berdiri.
"Masih mau mengeluh soal harga diri? Tangan Mas terluka karena bekerja, itu lebih mulia daripada tangan yang terluka karena kesombongan atau berkelahi," ucap Zahra pelan.
Hafiz menatap mata Zahra dengan tajam. Ada ketegasan di sana, tapi juga ada secercah empati yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
"Lo nggak tahu apa-apa soal hidup gue, Zahra! Gue kehilangan triliunan rupiah dalam satu malam!" balas Hafiz dengan nada pahit.
"Mas tidak kehilangan semuanya. Mas masih punya nyawa untuk bertaubat. Itu modal yang lebih besar dari semua ase Mas yang hilang," sahut Zahra tenang.
Hafiz terdiam seribu bahasa. Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalanya sembari ia kembali memaksakan diri mengayunkan sapu lidi itu.
Siang harinya, matahari mulai membakar kulit pundaknya. Hafiz beralih ke tugas berikutnya: mengepel lantai bagian dalam masjid yang luas.
Lantai marmer itu terasa sangat dingin di telapak kakinya yang telanjang. Ini adalah pertama kalinya ia berjalan tanpa alas kaki kulit buatan Italia.
Ia mencelupkan kain pel ke dalam ember, memerasnya dengan tangan yang perih karena lecet yang mulai pecah dan mengeluarkan cairan bening.
"Akh!" rintihnya pelan saat air sabun mengenai luka di tangannya yang terbuka lebar.
Ia harus berlutut untuk menggosok noda-noda hitam membandel di sudut pilar masjid. Posisi ini sungguh sangat merendahkan baginya.
Sepanjang hidupnya, orang-oranglah yang selalu berlutut di depannya untuk memohon proyek atau sekadar meminta maaf.
Kini, ia bersujud di lantai bukan untuk sholat dengan khusyuk, tapi untuk menggosok kotoran kaki jamaah.
"Mungkin ini yang dibilang Kyai... membersihkan sampah di hati gue yang busuk," gumamnya sinis, walau matanya mulai berkaca-kaca menahan haru.
Setiap kali ia merasa ingin menyerah, bayangan pengkhianatan Robi muncul kembali di pelupuk matanya. Amarah itu menjadi bahan bakarnya untuk terus bergerak.
Ia berhenti sejenak, menyeka keringat dengan ujung baju koko putih pemberian Kyai yang mulai kusam.
"Kenapa hidup jadi sehancur ini?" bisiknya pada pilar masjid yang membisu.
Rasa haus mencekik tenggorokannya, namun ia terlalu malu untuk meminta minum lagi ke rumah Kyai setelah bentakan sombongnya tadi pagi.
Tak jauh dari sana, ia melihat Zahra sedang membimbing anak-anak kecil belajar mengaji di teras masjid.
Suara lantunan ayat suci yang keluar dari mulut anak-anak itu terasa seperti alunan musik yang sangat asing namun menenangkan.
Hafiz memperhatikan Zahra dari kejauhan; wanita itu tampak begitu sabar menghadapi anak-anak.
Ia kembali menunduk, memeras kain pelnya dengan tenaga yang tersisa hingga urat-urat di tangannya menonjol.
Hari semakin sore, dan tugas Hafiz hampir selesai. Seluruh lantai masjid kini mengkilap, jauh lebih bersih dari sebelumnya.
Kyai Abdullah datang memeriksa pekerjaan Hafiz, ia mengusap jenggotnya sambil mengangguk-angguk kecil.
"Pekerjaan yang bagus untuk seorang pemula. Bagaimana tanganmu?" tanya Kyai sambil meraih tangan Hafiz.
Hafiz mencoba menarik tangannya, namun Kyai memegangnya dengan kuat dan melihat luka lecet yang sudah berdarah itu.
"Ini adalah luka perjuangan, Hafiz. Jangan malu memilikinya," ucap Kyai sembari mengeluarkan botol kecil berisi minyak zaitun.
Kyai mengoleskan minyak itu ke tangan Hafiz. Rasanya sejuk, perlahan mematikan rasa perih yang sejak tadi menyiksa.
"Besok akan lebih mudah. Tubuhmu hanya perlu terbiasa dengan kerja keras," pungkas Kyai Abdullah.
Hafiz hanya mengangguk kecil, merasakan kehangatan yang tulus dari perlakuan pria tua itu.
Ia berjalan menuju tempat wudhu untuk membersihkan diri sebelum waktu sholat Maghrib tiba.
Saat ia sedang membasuh mukanya, suara deru mesin mobil yang sangat kencang dan kasar membelah kesunyian.
Di depan gerbang, sebuah mobil sport mewah berwarna merah menyala berhenti dengan mendadak.
Hafiz terpaku. Pintu mobil itu terbuka perlahan, menyingkap sesosok wanita yang sangat ia kenal.