NovelToon NovelToon
MAWAR DI TANGAN GAARA

MAWAR DI TANGAN GAARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:799
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: TANAH BASAH DAN ATAP YANG BOCOR

Malam itu, gerbang besi kediaman Wijaya menutup dengan suara dentuman yang bergema di telinga Juliet seperti suara palu hakim yang menjatuhkan vonis. Ia berdiri di pinggir jalan raya yang sepi, hanya ditemani rintik hujan yang tersisa dan seorang pria yang baru saja mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.

Di tangan kiri Gaara, ia mendekap mawar Juliet Rose yang akarnya masih terbungkus gumpalan tanah basah. Tangan kanannya menggenggam erat jemari Juliet.

"Kau gemetar," bisik Gaara. Ia melepaskan jaket hitamnya yang lembap dan menyampirkannya ke bahu Juliet yang terbuka.

Juliet menatap ke arah rumah megah di belakangnya. Lampu-lampu kristal yang biasanya terlihat hangat kini terasa seperti mata monster yang mengawasinya. "Aku tidak punya apa-apa lagi, Gaara. Hanya baju yang melekat di badan... dan mawar itu."

Gaara menatap mawar di pelukannya, lalu beralih ke mata Juliet. "Kau punya kebebasanmu sekarang, Juliet. Itu jauh lebih mahal daripada seluruh koleksi berlian Adam."

Mereka berjalan menyusuri trotoar, menjauh dari kawasan elit Menteng menuju area yang lebih padat. Juliet, yang biasanya bepergian dengan mobil mewah ber-AC, kini harus merasakan perihnya kerikil di balik sandal tipisnya dan bau asap knalpot angkot yang lewat. Namun, entah kenapa, udara malam ini terasa lebih ringan di paru-parunya.

Mereka sampai di sebuah gang sempit di daerah pinggiran yang becek. Lampu jalannya berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang menakutkan bagi Juliet. Gaara membimbingnya masuk ke sebuah rumah petak kecil dengan dinding bata yang belum diplester sempurna.

"Ibu? Aku pulang," suara Gaara melembut saat membuka pintu kayu yang berderit.

Ibu Gaara, Bu Ratna, terbangun dari dipan kayunya. Matanya yang cekung melebar saat melihat putranya pulang bersama seorang gadis cantik yang basah kuyup.

"Gaara? Siapa ini, Nak?"

"Ini Juliet, Bu. Dia... dia akan tinggal bersama kita untuk sementara."

Juliet membungkuk sopan, meski ia merasa sangat canggung. "Malam, Bu. Maaf saya merepotkan."

Bu Ratna tersenyum lemah, sebuah senyum yang tulus meski gurat kelelahan tampak jelas di wajahnya. "Masuklah, Nak. Jangan di pintu, nanti masuk angin. Gaara, ambilkan handuk kering untuk Nona Juliet."

Rumah itu hanya terdiri dari satu ruangan utama yang berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus tempat tidur Bu Ratna, dan sebuah sekat kain yang menutupi dapur kecil serta kamar mandi. Sangat jauh dari kemewahan kamar Juliet yang memiliki walk-in closet seluas rumah ini.

Gaara memberikan handuk berwarna kusam tapi bersih kepada Juliet. "Maaf, hanya ini yang ada. Kau bisa ganti baju di balik kain itu. Aku punya kaos bersih yang mungkin terlalu besar untukmu, tapi setidaknya kering."

Juliet menerima handuk itu. Saat ia berganti pakaian di balik sekat kain, ia mendengar suara air yang menetes dari atap. Tik... tik... tik...

Ada ember plastik di pojok ruangan untuk menampung bocoran air hujan. Juliet menatap pantulan wajahnya di cermin kecil yang retak di dapur. Ia mengenakan kaos oblong hitam milik Gaara yang aromanya sangat khas—aroma sabun batang dan matahari. Ia merasa aneh, tapi sekaligus merasa aman.

Setelah keadaan sedikit tenang, Gaara duduk di lantai semen sambil menyiapkan pot tanah liat tua untuk memindahkan mawar yang ia bawa. Juliet duduk di sampingnya, memperhatikan setiap gerakannya.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Juliet lirih. "Vina pasti akan menyebarkan video itu. Ayahku... dia tidak akan tinggal diam."

Gaara menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap tanah di tangannya. "Biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau. Video itu mungkin akan merusak namamu di kalangan sosialita, tapi itu juga akan membuktikan siapa teman sejatimu."

Gaara merogoh saku jaketnya yang ia berikan pada Juliet tadi, mengambil sebuah flashdisk kecil yang selama ini ia sembunyikan.

"Besok, aku akan menemui seorang jurnalis senior yang pernah dibantu oleh Ayahku dulu. Aku akan menyerahkan semua bukti penggelapan pajak dan pencurian hak cipta yang dilakukan Pak Wijaya. Jika namamu hancur karena Vina, maka nama Ayahmu akan hancur karena hukum."

Juliet tertegun. "Kau benar-benar akan menghancurkannya?"

"Dia yang menghancurkan dirinya sendiri saat dia memutuskan untuk mencuri masa depan orang lain, Juliet," jawab Gaara tegas. "Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya terjadi."

Tiba-tiba, suara gedoran keras terdengar dari pintu depan. Juliet tersentak dan refleks memegang lengan Gaara.

"Buka! Polisi!"

Wajah Gaara menegang. Ia berdiri dan menyembunyikan Juliet di belakang tubuhnya. Ia membuka pintu dan mendapati dua orang pria berseragam polisi bersama seorang pria yang sangat Juliet kenal: Adam.

Adam masuk dengan wajah penuh kemenangan, meski matanya menyiratkan rasa jijik melihat kondisi rumah Gaara. "Sudah kubilang, kau tidak bisa lari dariku, Juliet."

"Adam! Apa yang kau lakukan di sini?!" teriak Juliet.

"Aku melakukan tugasku sebagai tunangan yang baik. Aku melaporkan penculikan. Pria ini telah menculikmu dari rumah dan membawamu ke tempat kumuh ini," ucap Adam sambil menunjuk Gaara.

"Aku tidak diculik! Aku pergi atas kemauanku sendiri!"

Adam tertawa sinis, lalu menoleh pada polisi. "Lihat? Dia sepertinya sudah dicuci otak atau diberi obat oleh pria ini. Tolong bawa pria ini ke kantor polisi sekarang."

Salah satu polisi melangkah maju untuk memborgol Gaara. Gaara tidak melawan, ia hanya menatap Adam dengan tatapan dingin yang tajam.

"Jangan sentuh dia!" Juliet mencoba menghalangi, tapi Adam menarik lengannya dengan kasar.

"Ikut aku pulang, Juliet! Ayahmu sudah menunggumu. Kita akan melupakan kejadian memalukan ini dan berangkat ke Australia lusa!"

"Tidak! Aku tidak mau!"

Gaara menatap Juliet sejenak sebelum polisi menyeretnya keluar. "Juliet, ingat apa yang kukatakan. Jangan takut pada duri. Lawan!"

Juliet berteriak saat polisi membawa Gaara masuk ke mobil patroli. Di tengah kekacauan itu, Vina muncul dari balik mobil Adam dengan ponsel di tangannya, masih merekam semuanya.

"Oh, adegan yang sangat mengharukan," sindir Vina. "Besok pagi, seluruh Jakarta akan tahu bahwa putri Pak Wijaya harus diseret dari gubuk kotor tukang kebunnya."

Adam menarik Juliet menuju mobil mewahnya. "Masuk, Juliet! Sekarang!"

Juliet meronta, namun tenaga Adam terlalu kuat. Ia dipaksa masuk ke dalam mobil. Saat mobil mulai melaju, Juliet melihat ke jendela belakang. Ia melihat Bu Ratna berdiri di depan pintu rumahnya yang reot, menangis tersedu-sedu menatap kepergian anaknya.

Di dalam mobil, Adam menggenggam tangan Juliet dengan sangat kencang, hampir membuat pergelangan tangannya memar. "Kau milikku, Juliet. Tidak ada tanah kotor yang bisa mengambilmu dariku."

Juliet hanya terdiam. Air matanya mengalir deras, namun matanya menatap tajam ke depan. Di dalam saku kaos Gaara yang ia kenakan, ia merasakan sesuatu yang keras. Flashdisk.

Gaara sempat memasukkan flashdisk itu ke sakunya saat polisi masuk tadi.

Juliet menghapus air matanya. Ia menyadari bahwa perang ini belum berakhir. Adam dan ayahnya mungkin memenangkan pertempuran malam ini dengan membawa tubuhnya kembali, tapi mereka telah melakukan kesalahan besar. Mereka telah membawa "bom" itu masuk ke dalam rumah mereka sendiri.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!