Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 – Astra Tingkat Alpha
Helios Guard kini berada dalam status siaga penuh. Kota masih berdarah akibat ledakan dan serangan makhluk buatan Eclipse. Warga yang selamat berlindung di gedung-gedung yang tersisa. Sirene terus meraung, menandakan bahwa ancaman belum berakhir.
Raka berdiri di atap markas sementara Kayla dan Damar mengawasi radar. Cahaya biru di tubuhnya berdenyut stabil, aura Alpha kini menyelimuti seluruh tubuhnya.
“Raka,” Kayla memulai, matanya serius, “kamu sudah resmi mencapai Alpha. Ini artinya…”
Raka menatap langit kota yang masih gelap.
“…Aku bisa mengendalikan energi Astra dengan kekuatan maksimal tanpa kehilangan kontrol,” ia menyelesaikan kalimatnya. Napasnya panjang dan mantap.
Damar menatap layar radar. “Tapi ada efek samping. Tubuhmu bekerja lebih cepat, energi lebih liar. Kalau tidak hati-hati, kau bisa habis sebelum Eclipse menyerang lagi.”
Raka mengangguk pelan. “Aku tahu risikonya. Tapi kalau aku tidak siap sekarang, kota ini… tidak akan selamat.”
---
Uji Alpha
Di ruang latihan Helios Guard, Raka mulai menguji batas Alpha-nya.
Ia memusatkan energi biru ke tangannya, kemudian melemparkannya ke dinding target. Bola energi itu menghantam dengan kekuatan dahsyat, membuat dinding retak dan serpihan logam beterbangan.
Kayla segera menyesuaikan medan gravitasi, menahan ledakan supaya tidak merusak lantai.
“Raka, jangan terlalu keras! Ini masih latihan!”
Raka tersenyum tipis. “Kalau ini latihan, aku ingin rasanya seperti perang nyata.”
Damar menggeleng. “Gila… tapi efektif.”
Energi biru Raka kini membentuk pusaran besar di sekeliling tubuhnya. Denyutannya selaras dengan jantungnya, dan aura Alpha mengembang hingga ke seluruh ruangan. Kayla dan Damar berdiri di luar pusaran, tapi mereka tetap bisa merasakan getaran energi yang memaksa mereka menahan diri.
Raka menarik napas dalam dan menembakkan pusaran energi ke target kedua—tabung logam yang sebelumnya tak tersentuh. Ledakan dahsyat menghancurkan semuanya.
“Kau sudah resmi Alpha,” kata Kayla. “Sekarang kau harus belajar menahan dan mengalihkan energi ini. Kalau tidak…”
“…Aku bisa menghancurkan lebih dari target ini,” Raka menyelesaikan. Matanya menyala biru terang, sorotnya tajam dan tegas.
---
Pelatihan Mental
Raka menutup mata dan fokus. Cahaya biru di sekujur tubuhnya menenangkan detak jantungnya. Ia mengingat kembali semua pelatihan: gravitasi Kayla, energi pelindung Damar, dan serangan makhluk Eclipse.
“Alpha bukan sekadar kekuatan,” gumamnya pelan. “Ini… tanggung jawab.”
Ia memproyeksikan energi ke udara, menciptakan bola cahaya besar. Bola itu memutar, membentuk pusaran yang stabil. Energi tidak lagi liar, tapi terkendali sepenuhnya.
Kayla terkagum. “Kamu… benar-benar berbeda sekarang.”
Damar menambahkan, “Level ini akan membuatmu jadi simbol kota. Tapi juga sasaran utama Eclipse.”
Raka menatap mereka berdua. “Kalau itu artinya aku bisa melindungi kota, aku tidak peduli.”
---
Kesiapan Serangan Eclipse
Di luar markas, langit malam kembali retak. Titik cahaya merah berkedip di beberapa lokasi. Eclipse mulai bergerak. Makhluk-makhluk buatan muncul, lebih banyak dan lebih kuat dari sebelumnya.
Raka memusatkan energi birunya. Cahaya Alpha kini menyelimuti tubuhnya sepenuhnya. Aura biru terang memancar hingga beberapa meter dari tubuhnya.
“Ini waktunya,” gumamnya. “Kalau Eclipse ingin perang, aku akan tunjukkan siapa yang menjaga kota ini.”
Kayla mengatur medan gravitasi di sekeliling gedung, sementara Damar memantau posisi musuh.
“Raka, kita akan koordinasikan serangan,” Damar berkata.
Raka mengangguk. “Aku sudah siap. Bawa mereka ke jalur yang kita inginkan, dan biarkan Alpha-ku melakukan sisanya.”
Cahaya biru di tubuh Raka berdenyut semakin cepat, stabil namun bertenaga dahsyat. Ia menatap menara Eclipse di kejauhan, di mana Adrian berdiri mengamati kota.
“…Pertempuran besar sebentar lagi,” Raka bergumam pelan. “Dan aku tidak akan mundur.”
---
Kekuatan Alpha Menyala
Raka menarik napas panjang. Tubuhnya kini memancarkan energi murni, menandakan bahwa level Alpha-nya bukan sekadar angka—tapi manifestasi penuh dari potensi manusia dan Astra yang bersatu.
Di markas, Kayla menatapnya dan tersenyum tipis.
“Sekarang… kita siap.”
Damar mengangguk.
“Siap menghadapi Eclipse sepenuhnya.”
Raka menatap langit kota. Cahaya birunya menandai hadirnya pahlawan baru. Pahlawan yang bukan sekadar pewaris eksperimen—tapi simbol perlawanan bagi semua orang.
Dan jauh di menara Eclipse, Adrian tersenyum, mengetahui bahwa level Alpha Raka sudah tercapai.
“Tapi… ini baru permulaan,” bisiknya.