NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kekuatan yang tak terduga

Satu tahun berlalu Pagi itu, matahari baru saja mengintip di cakrawala Aethelgard. Ferdi sudah berada di sudut ruangan, mengenakan sepatu bot kulitnya yang kasar. Wajahnya datar, matanya sedingin es, mencerminkan wataknya yang keras dan tak suka banyak bicara. Baginya, pagi hari adalah waktu untuk bekerja, bukan untuk berbincang hal-hal yang tidak perlu.

Di meja makan, Vani sedang sibuk dengan tumpukan kantong koin perak dan buku catatan kecil. Jemarinya bergerak lincah menghitung keping demi keping, sementara mulutnya tak henti bergumam.

"Ferdi, dengar tidak? Harga benih jagung di pasar pusat sedang naik lima persen. Kalau kau masih boros memakai pupuk sihir, tabungan kita untuk musim dingin akan menipis!" omel Vani tanpa mengalihkan pandangan dari koin-koinnya.

Ferdi hanya diam. Ia berdiri, mengambil cangkul besarnya, lalu menatap Vani sekilas. "Aku tahu apa yang kulakukan, Vani. Fokus saja pada koinmu."

"Aku tidak bisa cuma fokus kalau suamiku sendiri keras kepala!" balas Vani, suaranya naik satu nada. "Setiap koin ini berharga, tahu? Kau pikir mengelola rumah tangga ini mudah? Belum lagi piring-piring porselen yang baru kubeli, jangan sampai kau pecahkan seperti minggu lalu!"

Ferdi tidak membalas. Ia melangkah ke pintu, namun langkahnya terhenti saat melihat Silvia, putri kecil mereka yang berumur satu tahun, sedang merangkak di dekat meja makan.

Silvia menengadah, matanya yang keemasan menatap sebuah apel merah ranum yang terletak di piring porselen di tengah meja. Meja itu terlalu tinggi baginya. Ia mencoba meraih taplak meja, menariknya dengan tangan mungilnya.

"Nda... nda... hmmm!" Silvia merengek, wajahnya mulai memerah karena kesal.

Ferdi bersandar di pintu, melipat tangan di dada. Alih-alih membantu, ia ingin melihat apa yang akan dilakukan putrinya jika keinginannya tidak terpenuhi. Ia ingin tahu, apakah darah "sang raja" di dalam tubuh Silvia akan membuatnya menyerah atau melawan.

"Ferdi! Jangan cuma menonton! Ambilkan dia apelnya!" perintah Vani sambil tetap menghitung uang.

"Biarkan dia berusaha sendiri," jawab Ferdi pendek.

"Kau ini memang ayah yang egois! Kasihan dia—"

Kalimat Vani terputus. Udara di dalam ruangan tiba-tiba berdesir tajam. Rambut keriting Silvia berdiri seolah ditarik oleh kekuatan gaib. Di tangan mungilnya, muncul percikan api hitam yang dijalin dengan cahaya emas yang menyilaukan.

Srak!

Apel di atas meja itu bergetar hebat, lalu tiba-tiba melayang di udara. Buah itu terbang rendah, meluncur tepat ke arah tangan Silvia. Namun, karena kendalinya belum sempurna, sisa energi itu meledak kecil saat apel tersentuh tangan Silvia.

KRAK!

Piring porselen di atas meja retak menjadi dua, dan vas bunga di sampingnya pecah berkeping-keping.

Ledakan Amarah dan Logika Keuangan

Vani melompat dari kursinya, matanya melotot menatap pecahan porselen di lantai. "PIRINGKU! FERDI, LIHAT APA YANG DILAKUKAN ANAKMU PADA PIRING MAHALKU!"

Ferdi tetap tenang, meski di dalam hati ia takjub melihat kekuatan Silvia. "Dia mendapatkan apelnya. Itu yang penting."

"Penting kepalamu?!" Vani menghampiri Ferdi dengan wajah memerah, jarinya menunjuk-nunjuk dada Ferdi yang bidang.

"Kau tahu berapa banyak jagung yang harus kujual untuk membeli piring itu? Itu porselen impor dari Benua Azure! Dan kau cuma diam menontonnya menghancurkan barang-barang hanya karena kau ingin 'melihat usahanya'?"

"Aku bisa menggantinya, Vani. Berhentilah cerewet soal barang pecah belah," jawab Ferdi dengan nada dingin yang menusuk.

"Menggantinya pakai apa? Pakai sihir kegelapanmu?" omel Vani semakin kencang. "Uang tidak tumbuh di pohon, Ferdi! Kau egois sekali,

tidak mau tahu susahnya aku memutar otak untuk mengelola keuangan kita. Sekarang lihat, dinding kita jadi gosong, piring pecah, dan anakmu baru saja menunjukkan kekuatan yang bisa memanggil dewa ke sini dalam sekejap!"

Ferdi menatap Vani tajam, aura dinginnya keluar. "Aku bekerja di ladang sampai ototku kaku agar kau punya uang untuk dihitung. Jangan pernah bilang aku tidak tahu susah, Vani."

Suasana membeku. Vani terdiam sejenak, namun ia tetap mendengus kesal. Ia mengambil Silvia yang sedang asyik memakan apelnya seolah tidak terjadi apa-apa.

"Pokoknya, hari ini kau tidak dapat jatah roti gandum tambahan. Bersihkan lantai ini sekarang, Pak Tua yang keras kepala!"

Di saat yang sama, jauh di Benua Azure, di puncak Tahta Cahaya, sebuah lonceng kristal raksasa berdentang sendiri. Suaranya menggema, membuat para malaikat pelayan menutup telinga mereka.

Dewa Agung Zephyrus berdiri dari singgasananya, wajahnya tampak sangat pucat.

"Getaran ini... frekuensi murni dari dua elemen yang mustahil bersatu. Siapa yang berani memicu energi terlarang ini?"

Seorang panglima berbaju zirah perak masuk dengan terburu-buru. "Lapor, Yang Mulia! Sensor sihir kami menangkap lonjakan energi di wilayah selatan, dekat hutan perbatasan Aethelgard. "Energinya sangat singkat, tapi sangat kuat!"

"Selatan?" Zephyrus mengepalkan tangannya hingga bergetar.

"Kirim pasukan pengintai elit. Cari setiap gubuk, setiap petani, dan setiap anak yang lahir dalam setahun terakhir. Jika itu adalah benih dari si penghancur Ferdi dan wanita itu, habisi sebelum mereka tumbuh menjadi ancaman bagi kita!"

Sore harinya, Ferdi duduk di teras rumah kayu, kakinya kotor oleh tanah ladang. Ia sedang memangku Silvia yang tampak sudah mengantuk. Vani baru saja keluar membawa sapu, wajahnya masih tampak cemberut karena kejadian pagi tadi.

"Masih marah soal piring?" tanya Ferdi tanpa menoleh.

"Pikir saja sendiri! Aku harus menghemat biaya makan kita minggu depan gara-gara kecerobohanmu mendidik anak," jawab Vani ketus.

Tiba-tiba, Silvia bergerak di pangkuan Ferdi. Tangan mungilnya yang keriting menarik ujung baju Ferdi, lalu ia menatap ayahnya dengan mata emas yang berbinar.

"Pa... pa..." bisik Silvia cadel.

Ferdi membeku. Jantungnya berdetak kencang, sebuah perasaan yang lebih kuat dari rasa bangga saat ia memenangkan perang dulu.

"Vani, kemari," panggil Ferdi, suaranya sedikit gemetar.

"Apa lagi? Kau merusak cangkulmu?" Vani mendekat dengan wajah malas.

"Dengar," kata Ferdi singkat.

Silvia tertawa, memperlihatkan dua gigi kecilnya, lalu berteriak sambil memeluk leher Ferdi.

"Pa-pa! Papa!"

Ferdi menarik sudut bibirnya, sebuah senyum kemenangan yang sangat tipis muncul di wajah dinginnya. "Dia memanggilku lebih dulu."

Vani terdiam. Wajahnya berubah dari kesal menjadi sangat syok. "APA?! Tidak mungkin! Silvia, lihat Mama! Bilang Ma-ma!"

Silvia justru memalingkan wajah ke dada Ferdi dan kembali berteriak, "Papa! Pa-pa!"

"Ini benar-benar tidak adil !" seru Vani sambil menghentakkan kakinya ke lantai kayu.

"Aku yang menyuapinya, aku yang mengganti kainnya, aku yang menghitung setiap keping uang untuk masa depannya! Dan dia memanggilmu pertama kali? Kau pasti diam-diam merayunya dengan buah-buahan saat aku di dapur, kan?"

"Aku hanya diam, Vani. Mungkin dia tahu siapa yang bekerja keras di bawah matahari," goda Ferdi.

"Egois! Kau memang ayah yang curang!" Vani mengomel sepanjang jalan masuk ke dapur, meski sebenarnya matanya sedikit berkaca-kaca melihat kebahagiaan suaminya.

"Awas saja ya, malam ini tidak ada sup hangat untukmu, Papa Ferdi! Makan saja harga dirimu itu!"

Ferdi tertawa kecil—sebuah suara yang sangat jarang terdengar. Di bawah langit senja Aethelgard, sang raja dan keluarganya masih merasa aman, tanpa menyadari bahwa bayangan dewa mulai bergerak mendekat dari balik hutan.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!