Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Pertarungan Putih dan Gelap
Benda-benda berat itu meluncur deras bagai badai, siap menghantam barisan pasukan di sisi timur yang tampak tak berdaya. Jantung para prajurit seakan berhenti berdetak saat mereka melihat puing-puing mematikan itu semakin dekat. Namun, dalam sekejap mata, sosok putih itu muncul di hadapan mereka seperti pahlawan yang turun dari langit. Tanpa ragu sedikitpun, Heras yang kini menjadi Luminar mengangkat kedua lengan kekarnya, membentuk perisai tubuh yang kokoh bagai tembok baja.
DUG! DUG! BRUK!
Suara dentuman keras bergema memekakkan telinga saat puing-puing beton, mobil hancur, dan tiang listrik itu menghantam punggung dan lengan Luminar. Debu beterbangan tinggi hingga menutupi pandangan sejenak, namun sosok itu tidak bergeser sedikit pun dari posisinya. Ia berdiri tegak, bagai benteng tak tergoyahkan yang melindungi para prajurit di belakangnya. Bahkan, Heras bisa merasakan rasa sakit yang tajam di tulang-tulangnya akibat hantaman itu, tapi ia menahannya dengan gigih. "Tidak apa-apa, Heras. Kamu kuat. Kamu harus melindungi mereka," bisiknya dalam hati, menekan rasa sakit itu jauh ke dalam.
Pasukan di sisi timur itu ternganga, mata mereka terbelalak tak percaya. Mulut mereka terbuka lebar, namun tak ada suara yang keluar selaku hembusan napas tertahan. Mereka baru saja diselamatkan dari kepungan bahaya—bukan oleh sesama manusia, melainkan oleh sosok yang sempat mereka anggap monster.
"Dia... dia menahan serangan itu untuk kita?" gumam salah satu prajurit muda bernama Budi, suaranya bergetar hebat, matanya masih terpaku pada punggung putih yang kini perlahan menurunkan tangannya.
"Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri! Dia rela menghadapi hantaman itu demi kita!" seru prajurit lain, Sari, yang suaranya pecah karena terharu dan kaget. "Siapa pun dia, dia bukan musuh. Dia penyelamat kita!"
Keterkejutan itu seketika berubah menjadi riuh rendah yang meledak di seluruh saluran komunikasi mereka. Teriakan bercampur takjub dan kebingungan terdengar tanpa henti, memenuhi saluran radio.
"Itu Luminar! Dia benar-benar menyelamatkan kita!"
"Aku tidak percaya! Monster putih itu melindungi kita dari monster hiu!"
"Lihat punggungnya! Dia tidak terluka parah kan? Dia menahan semuanya sendirian!"
Setelah memastikan puing-puing itu tidak lagi meluncur dan bahaya sejenak mereda, Luminar perlahan menurunkan tangannya. Ia tidak melirik ke arah pasukan yang masih terpaku itu, melainkan perlahan membalikkan tubuhnya. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah monster hiu raksasa yang menjadi sumber malapetaka itu. Langkah kakinya yang berat dan mantap menggetarkan tanah saat ia mulai berjalan mendekati makhluk laut raksasa itu. Setiap langkahnya penuh dengan tekad yang membara.
"Sekarang giliranku," batin Heras berapi-api. Rasa takut yang sempat ada hilang seketika, digantikan oleh semangat juang yang tak tergoyahkan.
Dengan secepat kilat, Heras mengaktifkan salah satu kemampuan andalannya. "Transformasi Ukuran: Penyatu sampai 20 meter!"
Tubuh Luminar yang semula sudah besar, kini membesar lagi, memanjang dan mengembang hingga mencapai batas maksimal kemampuannya saat ini—20 meter. Otot-ototnya semakin terlihat menonjol, memancarkan aura kekuatan yang luar biasa. Meskipun demikian, saat berdiri berhadapan langsung dengan monster hiu itu, Luminar masih terlihat sedikit lebih kecil. Tubuh hiu itu bahkan melebihi 20 meter, dengan kulit yang tebal dan kasar seperti batu karang, serta gigi-gigi tajam yang berkilau mematikan sepanjang hampir satu meter. Namun, Heras tidak merasa gentar sedikit pun. Keyakinan yang kuat membara di dadanya. Ia yakin, ukuran bukanlah segalanya; keberanian dan tekad untuk melindungi adalah kekuatan yang sesungguhnya.
ROAARRR!
Monster hiu itu mengaum marah melihat gangguan dari sosok putih di hadapannya. Suaranya begitu keras hingga membuat tanah di sekitarnya bergetar dan kaca-kaca bangunan yang masih berdiri pecah berantakan. Tanpa aba-aba, ia mengayunkan ekornya yang kuat dan besar dengan kecepatan tinggi, mencoba menghantam Luminar sekuat tenaga.
WUSH!
Angin kencang menerpa wajah Luminar sebelum serangan itu datang. Heras dengan lincah menunduk, menghindari serangan ekor itu hanya dalam hitungan sentimeter. Ujung ekor hiu itu bahkan menyenggol bahunya sedikit, membuat tubuhnya terhuyung ke samping, namun ia segera menyeimbangkan diri.
"Cepat sekali!" batin Heras terkejut, namun ia tidak membuang waktu. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Luminar langsung membalas. Ia melompat tinggi ke udara, tubuhnya melayang dengan anggun namun penuh kekuatan. Ia mengangkat kepalan tangannya yang besar dan keras, mengerahkan seluruh kekuatan fisiknya, lalu menghantamkan itu dengan sekuat tenaga ke sisi tubuh monster hiu yang keras.
BAM!
Suara hantaman itu terdengar memekakkan telinga, bagai guntur yang meledak di siang bolong. Monster hiu itu meringis kesakitan, matanya menyipit tajam, dan tubuhnya yang besar terguncang ke samping. Namun, kulitnya yang tebal dan berlapis-lapis mampu menahan serangan itu tanpa terluka parah. Hanya sebuah lekukan kecil yang terlihat di tempat ia dipukul.
Hiu itu marah besar. Ia membalas dengan membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan rongga mulut yang gelap dan berbau anyir, serta deretan gigi tajam yang siap merobek apa saja. Dengan kecepatan yang tak terduga untuk ukurannya, ia mencoba menggigit tubuh Luminar yang baru saja mendarat.
"Ah, tidak semudah itu!" seru Heras dalam hati. Dengan cepat, ia menahan rahang hiu itu dengan kedua tangannya. Telapak tangannya menekan kuat rahang atas dan bawah hiu, berusaha sekuat tenaga agar rahang maut itu tidak menutup.
NGIIII!
Bunyi gesekan antara gigi hiu yang saling bertemu dan tenaga Luminar yang menahannya terdengar tajam. Otot-otot tubuh Luminar menegang sekuat mungkin, urat-urat tampak menonjol di lengannya. Keringat—atau cairan energi—seolah menetes dari tubuhnya. Perlawanan itu membuatnya harus mengerahkan seluruh kekuatan fisiknya. Napasnya mulai memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Rasanya seperti menahan pintu gerbang neraka agar tidak terbuka lebar.
Pertarungan yang dahsyat pun terus berlanjut. Mereka berguling-guling di antara puing-puing bangunan, menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya. Luminar meninju, menendang, mencengkeram sirip hiu, dan mencoba mencari celah untuk menyerang bagian lemah seperti mata atau insang. Sementara itu, hiu itu mencoba menggigit, membenturkan tubuhnya yang berat, menyapu dengan ekornya, dan bahkan mencoba memukul dengan siripnya yang keras.
Meskipun Heras berjuang dengan sekuat tenaga, ukuran dan kekuatan mentah monster hiu itu membuatnya perlahan mulai kewalahan. Ia berhasil mendaratkan beberapa pukulan keras yang membuat hiu itu meringis, tapi ia juga menerima beberapa serangan balasan. Sebuah goresan dalam mulai terlihat di lengan kirinya akibat sapuan ekor hiu yang tajam, dan bahunya terasa nyeri luar biasa setelah terbentur dinding bangunan yang hancur. Napasnya semakin berat, dan pandangannya sedikit kabur karena kelelahan. Namun, ia tidak mau menyerah. Bayangan warga yang selamat dan pasukan yang ia lindungi tadi memberinya kekuatan tambahan.
Di sisi lain, keempat arah pengepungan—barat, utara, timur, dan selatan—masih terjebak dalam perdebatan panas yang tak kunjung usai lewat saluran komunikasi mereka. Suara-suara emosional saling bersahutan, masing-masing dengan argumen dan ketakutan mereka sendiri.
Pasukan Barat:
— "Kita tidak bisa tinggal diam! Lihat itu! Mereka bertarung sengit sekali! Tapi bagaimana jika sosok putih itu justru berbalik menyerang kita setelah hiu itu kalah? Kita semua tahu monster itu licik!" seru Darto, prajurit senior pasukan barat, suaranya penuh kekhawatiran.
— "Benar, Komandan Darto! Kita tidak bisa mengambil risiko! Kita tidak tahu apa tujuan sebenarnya dari sosok putih itu. Mungkin dia hanya ingin memakan hiu itu dulu, baru giliran kita!" tambah Rian, prajurit muda yang tampak gugup.
— "Tapi lihat kondisinya! Dia mulai terdesak! Jika dia kalah, kita yang akan jadi target berikutnya! Apakah kita harus menunggu sampai semuanya terlambat?" bantah Siti, anggota pasukan barat yang lain, suaranya penuh keraguan namun cemas.
Pasukan Utara:
— "Aku tidak setuju dengan ide menyerang keduanya! Itu terlalu berisiko!" suara Komandan Bayu dari pasukan utara terdengar tegas namun tenang. "Kita tidak tahu kekuatan sebenarnya dari sosok putih itu. Jika kita menyerangnya dan dia marah, kita semua bisa musnah dalam sekejap mata! Dia lebih besar dari bangunan di sekitar kita!"
— "Benar, Komandan! Lebih baik kita tunggu dan lihat dulu perkembangannya. Biarkan mereka saling menguras tenaga. Jika salah satu mati, baru kita bertindak. Itu strategi yang paling aman," dukung Hendra, wakil komandan pasukan utara.
— "Tapi itu tidak adil! Dia baru saja menolong orang-orang di timur! Bagaimana jika dia benar-benar sekutu kita? Meninggalkannya sendirian melawan monster itu sama saja membiarkan sekutu kita mati!" seru Lisa, prajurit pasukan utara yang hatinya tidak tega.
Pasukan Selatan:
— "Tapi lihat kondisi Luminar sekarang! Dia mulai terdesak parah! Dia tergores, dia terhuyung-huyung! Jika dia kalah, monster hiu itu akan bebas mengamuk dan membunuh kita semua tanpa ampun!" suara Komandan Joko dari pasukan selatan terdengar panik namun logis. "Kita harus mengambil keputusan cepat! Apakah kita membantu atau membiarkan mereka saling membunuh?"
— "Aku setuju dengan Komandan Joko! Kita tidak bisa hanya menonton! Tapi aku takut... takut jika kita salah sasaran atau salah menilai," gumam Bambang, prajurit pasukan selatan, suaranya pelan namun terdengar jelas.
— "Kalau begitu, mari kita bersiap siaga! Jika Luminar terlihat benar-benar kritis, kita akan membantu. Tapi jika dia mulai menunjukkan tanda-tanda jahat, kita langsung serang dia!" usul Ani, mencoba mencari jalan tengah.
Sementara itu, Pasukan Timur yang baru saja diselamatkan oleh Luminar memiliki keyakinan yang berbeda dan jauh lebih tegas. Mereka melihat langsung ketulusan sosok putih itu, merasakan langsung perlindungan yang diberikannya. Komandan pasukan timur, Raka, seorang pria berwajah tegas dengan bekas luka di pipinya, menatap tajam ke arah pertarungan di tengah. Matanya tidak lepas dari sosok Luminar yang terus berjuang meski terluka dan terdesak.
"Cukup perdebatan tidak jelas ini!" suara Raka terdengar tegas dan lantang, memotong semua keributan di seluruh saluran komunikasi. "Kita semua melihat dengan mata kepala sendiri apa yang dia lakukan beberapa menit yang lalu. Dia melindungi kita dari serangan hiu itu. Dia menahan puing-puing berat itu dengan tubuhnya sendiri agar kita tidak terluka, bahkan mungkin mati!"
"Tapi Komandan, bagaimana jika itu semua hanya tipuan belaka? Monster terkenal sangat licik dan pandai berpura-pura," tanya Darto dari pasukan barat ragu-ragu, masih mencoba mempertahankan pendapatnya.
"Tipuan?" Raka mendengus kesal. "Apakah kamu menyebut pengorbanan dirinya menerima hantaman benda berat itu sebagai tipuan? Apakah kamu melihat dia menyakiti satu pun warga atau prajurit sejak dia muncul? Lihat dia sekarang! Dia berjuang sendirian melawan monster raksasa itu demi melindungi perumahan ini dan kita semua! Dia terluka, dia kelelahan, tapi dia tidak mundur selangkah pun!"
Suara Raka melembut sedikit namun tetap tegas, "Aku tidak bisa diam melihat sekutu kita kesulitan setelah dia menyelamatkan nyawa kita. Pasukan Timur! Dengarkan perintahku!"
"Siap, Komandan!" seru seluruh prajurit pasukan timur serempak, suara mereka penuh semangat dan keyakinan.
"Kita akan membantu Luminar! Fokuskan serangan kalian pada monster hiu itu! Jangan biarkan satu pun tembakan mengenai Luminar! Targetkan titik lemahnya: mata, insang, dan bagian pangkal ekornya! Gunakan senjata terkuat kalian! Ayo, tunjukkan bahwa kita berterima kasih atas pertolongannya!"
Tanpa menunggu persetujuan penuh dari arah lain, Pasukan Timur segera bergerak. Mereka mengangkat senjata-senjata berat mereka—meriam energi, senapan serbu, peluncur roket, dan busur panah beracun—dan mulai melepaskan serangan bertubi-tubi ke arah monster hiu raksasa yang sedang sibuk melawan Luminar.
DOR! DOR! WUSH! TRING! BOOM!
Sinar energi berwarna-warni, peluru tajam, dan roket melesat menghujam tubuh monster hiu. Monster itu terkejut, aumannya berubah menjadi jeritan kesakitan yang memilukan saat serangan dari samping itu mengenai titik-titik lemahnya. Salah satu roket menghantam tepat di dekat insangnya, membuatnya tersedak dan kehilangan keseimbangan sejenak. Fokusnya terhadap Luminar terpecah seketika, dan rasa sakit itu membuatnya menjadi semakin ganas namun bingung.
Melihat aksi berani Pasukan Timur dan serangan yang berhasil membuat monster itu terganggu parah, Luminar yang sempat kewalahan dan hampir tergigit oleh hiu itu kini mendapatkan napas baru. Heras tersenyum lebar di balik wujud Luminar, rasa lelahnya seakan hilang seketika digantikan oleh semangat baru.
"Terima kasih!" batinnya berseru, matanya berbinar penuh syukur.
Dengan semangat yang baru dan dukungan dari Pasukan Timur, Luminar kembali melancarkan serangan, kali ini dengan lebih ganas dan terkoordinasi. Ia memanfaatkan momen ketika hiu itu terganggu oleh tembakan untuk mendaratkan pukulan-pukulan yang lebih keras dan tepat sasaran. Perdebatan di arah lain pun perlahan mereda, digantikan oleh tatapan takjub dan mungkin rasa malu, saat mereka menyaksikan Luminar dan Pasukan Timur bekerja sama melawan kejahatan, membuktikan bahwa persatuan antara manusia dan sosok misterius itu mampu mengubah takdir pertempuran.