Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Kenikmatan di Atas Awan
Beberapa hari telah berlalu sejak insiden demam Kenzo dan malam yang membara di ranjang utama. Suasana di mansion Aditama nampak lebih tenang, meski ketegangan seksual antara Arlan dan Amara tetap terasa setiap kali mata mereka bertemu. Kenzo pun sudah kembali sehat, pipinya semakin menggembul dan menggemaskan karena asupan ASI Amara yang berlimpah.
Sore itu, Arlan pulang lebih awal. Ia menemukan Amara sedang duduk di karpet ruang tengah, menemani Kenzo yang sedang belajar tengkurap. Arlan melonggarkan dasinya, menatap pemandangan itu dengan binar kepemilikan yang kuat.
"Amara, siapkan paspormu. Kalau belum ada, besok asistenku akan mengurusnya secara kilat," ucap Arlan tiba-tiba sambil meletakkan tas kerjanya.
Amara mendongak, wajah polosnya nampak bingung. "P-paspor? Untuk apa, Tuan?"
"Minggu depan aku ada perjalanan bisnis ke London selama dua minggu. Kau dan Kenzo ikut bersamaku," jawab Arlan enteng, seolah mengajak pergi ke taman kota.
Amara tersentak hingga hampir menjatuhkan mainan Kenzo. "London? Ke... luar negeri, Tuan? Tapi... saya tidak bisa ikut."
Arlan menghentikan langkahnya, ia berbalik dengan alis bertaut. "Apa maksudmu tidak bisa?"
"Saya... saya belum pernah ke luar negeri, Tuan. Saya bahkan belum pernah menginjakkan kaki di bandara, apalagi naik pesawat. Mendengarnya saja saya sudah takut," bisik Amara jujur. Bayangan berada di dalam burung besi raksasa ribuan kaki di atas permukaan laut membuat perutnya mual seketika. "Tolong, biarkan saya dan Kenzo di sini saja bersama Mbak Lasmi. Saya tidak mau ikut, Tuan."
Suasana ruangan seketika mendingin. Arlan melangkah mendekat, auranya berubah menjadi dominan dan menekan. Ia berdiri tepat di depan Amara yang masih terduduk di lantai, membuatnya nampak sangat kecil di bawah bayangan tubuh Arlan yang menjulang.
"Kau berani menolak perintahku, Amara?" suara Arlan rendah, namun mengandung ancaman yang nyata.
"Bukan begitu, Tuan... saya hanya takut. Saya orang desa, saya tidak tahu apa-apa tentang dunia luar," bela Amara dengan suara bergetar.
Arlan berjongkok, mencengkeram dagu Amara dengan jari-jarinya yang kuat, memaksanya menatap mata tajam yang tidak mengenal kata 'tidak'.
"Dengar baik-baik. Tugas utamamu adalah menjaga Kenzo 24 jam sehari. Aku tidak akan membiarkan putraku yang sudah menggembul ini berada jauh dariku selama dua minggu," ucap Arlan sambil melirik Kenzo yang sedang asyik mengoceh sendiri.
Lalu, Arlan mendekatkan wajahnya ke telinga Amara, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Dan yang lebih penting, Amara... aku tidak bisa membiarkan sumber kêñïkmå†åñkµ tertinggal di sini sementara aku kedinginan di London. Kau akan ikut, kau akan berada di pesawat pribadiku, dan kau akan mêlåɏåñïkµ di atas awan. Itu bukan tawaran, itu perintah."
Amara hanya bisa menelan ludah. Ia menatap pasrah pada Arlan yang kini menyeringai tipis melihat ketidakberdayaan pengasuh pribadinya. Perjalanan ribuan mil itu kini terasa seperti sebuah penjara mewah yang sedang menantinya di udara.
***
Jet pribadi Gulfstream milik Arlan Aditama membelah kegelapan malam, melayang stabil ribuan kaki di atas Samudera Hindia. Di dalam kabin yang kedap suara dan super mewah itu, hanya terdengar dengung mesin yang halus. Kenzo sudah terlelap di kamar khusus bayi yang terletak di bagian belakang jet, dijaga oleh seorang perawat profesional yang dibawa Arlan agar Amara bisa "fokus" pada tugas lainnya.
Amara duduk dengan kaku di sofa kulit yang sangat empuk. Ia masih merasa mual dan pening karena ini adalah pertama kalinya ia naik pesawat. Matanya terus melirik ke luar jendela kecil yang hanya menampakkan kegelapan pekat.
"Masih merasa pusing?" suara Arlan memecah keheningan. Pria itu baru saja meletakkan segelas wiski di meja kristal dan kini berdiri di hadapan Amara.
"S-sedikit, Tuan. Rasanya seperti melayang," bisik Amara gugup.
Arlan mengulurkan tangannya. "Ikut aku. Ada tempat yang lebih nyaman agar kau bisa melupakan rasa pusingmu."
Amara ragu, namun ia meraih tangan Arlan. Arlan menuntunnya melewati lorong kecil menuju sebuah pintu otomatis yang terbuka menampakkan sebuah Master Suite yang luar biasa mewah. Di dalamnya terdapat ranjang ukuran king-size yang dipaku mati ke lantai pesawat, dengan pencahayaan temaram berwarna emas yang sangat sensual.
"Ini... di dalam pesawat, Tuan?" Amara terperangah melihat kemewahan di depannya.
"Ini ruang pribadiku. Tempat di mana tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu kita, bahkan para pramugari di depan," Arlan menutup pintu dan menguncinya secara elektronik.
Arlan menarik Amara ke tengah ruangan, tepat di bawah lampu kristal kecil yang bergoyang sangat halus mengikuti turbulensi ringan pesawat. Ia mulai membuka kancing kemeja mahalnya satu per satu sambil terus menatap Amara.
"Buka þåkåïåñmµ, Amara. Aku ingin merasakannya di atas awan. Mereka bilang, sensasi ðrgå§mê di ketinggian tiga puluh ribu kaki jauh lebih dahsyat daripada di daratan," perintah Arlan serak.
"Tuan, bagaimana jika ada guncangan? Saya takut..."
"Jika pesawat ini bergoyang, kau hanya perlu memegangiku lebih erat," Arlan merangsek maju, memerangkap Amara di antara tubuhnya dan dinding kabin yang dilapisi kulit domba. Ia mulai mêñ¢ïµm leher Amara dengan kasar, sementara tangannya dengan lihai membuka ritsleting dress yang dikenakan Amara.
Saat pakaian Amara luruh ke lantai, jet itu tiba-tiba mengalami guncangan kecil—turbulensi udara. Amara memekik kecil dan refleks melingkarkan lengannya ke leher Arlan, membuat †µßµh polosnya menempel sempurna pada dada bidang sang tuan.
"Lihat? Kau sudah mulai memegangiku," Arlan menyeringai. Ia mengangkat tubuh Amara dan membaringkannya di ranjang yang empuk.
Arlan segera bergabung di atasnya, mêñ¢ï¢ïþï setiap inci kµlï† Amara sementara pesawat terus melaju kencang di atas samudera. Di ruang pribadi yang kedap suara itu, suara Ðê§åhåñ Amara berpadu dengan getaran mesin jet, menciptakan simfoni gåïråh yang hanya diketahui oleh langit malam.
Arlan mulai menjelajahi area §êñ§ï†ï£ Amara, memastikan bahwa meski mereka berada di udara, dominasinya atas gadis itu tetaplah mutlak. "Selamat datang di London, Amara... tapi sebelum kita mendarat, aku akan membuatmu merasa terbang lebih tinggi dari pesawat ini."
***
Roda pesawat private jet itu menyentuh landasan pacu Bandara Farnborough, London, dengan mulus. Namun bagi Amara, guncangan di dalam dirinya jauh lebih hebat daripada pendaratan pesawat manapun. Saat mesin mulai mereda dan pintu hidrolik terbuka, udara dingin London yang menusuk segera menyergap masuk, mencoba membuyarkan kabut gåïråh yang menyelimuti kabin selama belasan jam terakhir.
Amara mencoba berdiri dari sofa kabin, namun kedua kakinya terasa seperti jeli. Otot-otot paha bagian dalamnya berdenyut nyeri, sisa dari "gêmþµråñ" tanpa henti yang dilakukan Arlan selama melintasi samudera. Setiap kali pesawat bergoyang karena turbulensi, Arlan justru semakin dalam mêñghµjåmñɏå, membuat rahim Amara terasa tumpul dan sensitif.
"A-akh..." Amara merintih pelan saat mencoba melangkah.
Ia terpaksa berjalan sedikit mengangkang untuk menghindari gesekan pada area kêwåñï†ååññɏå yang masih bengkak dan basah oleh sisa-sisa benih Arlan yang belum sempat ia bersihkan dengan sempurna. Wajahnya merah padam, tangannya gemetar saat mencoba meraih tas bayi.
Arlan, yang nampak sangat segar seolah tidak melakukan aktivitas fisik berat semalaman, keluar dari kamar utama sambil menggendong Kenzo yang sudah bangun dan nampak ceria. Arlan mengenakan trench coat hitam panjang yang membuatnya nampak seperti bangsawan Inggris yang dingin dan berkuasa.
Arlan berhenti di samping Amara, memperhatikan cara jalan gadis itu yang payah. Sebuah kekehan rendah dan maskulin lolos dari bibirnya.
"Masih belum bisa merapatkan kakimu, Amara?" goda Arlan dengan suara bariton yang berat. Matanya melirik nakal ke arah pangkal paha Amara yang tersembunyi di balik roknya.
"T-Tuan... ini semua karena Tuan tidak mau berhenti tadi," bisik Amara malu, ia memegangi sandaran kursi agar tidak jatuh.
"Itu karena kau terlalu ñïkmå† saat berada di atas awan. Aku jadi lupa waktu," Arlan mendekat, menatap Amara yang nampak sangat kepayahan. "Berikan tas bayinya padaku. Dengan cara jalanmu yang seperti itu, kau bisa menjatuhkan Kenzo jika kau yang menggendongnya."
Arlan menyambar tas bayi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mendekap Kenzo yang menggembul mengenakan jaket bulu kecil. Amara hanya bisa menunduk pasrah. Ia mengikuti langkah tegap Arlan dengan susah payah, berjalan tertatih-tatih di belakang tuannya.
Setiap langkah yang ia ambil di sepanjang garbarata bandara terasa seperti siksaan yang manis. Amara menyadari bahwa orang-orang di bandara mungkin melihatnya aneh karena cara jalannya yang tidak biasa, namun Arlan justru nampak bangga. Pria itu seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia telah menaklukkan pengasuh pribadinya hingga gadis itu tidak sanggup lagi berdiri tegak.
"Ayo, cepat sedikit. Mobil jemputan sudah menunggu di depan," ujar Arlan tanpa menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kemenangan saat mendengar rïñ†ïhåñ kecil Amara yang berusaha mengejarnya dengan kaki yang masih terbuka lebar.